14 Tahun Berlalu, Apa yang Telah Kita Pelajari dari Tsunami Aceh?
Berita Politik Indonesia

14 Tahun Berlalu, Apa yang Telah Kita Pelajari dari Tsunami Aceh?

Berita Internasional >> 14 Tahun Berlalu, Apa yang Telah Kita Pelajari dari Tsunami Aceh?

Tsunami kembali menghantam Indonesia, tepatnya di area sekitar Selat Sunda, pada tanggal 22 Desember 2018. Empat belas tahun sebelumnya, di akhir bulan yang sama, Indonesia juga dihantam oleh tsunami yang dianggap sebagai yang paling mematikan dalam sejarah, Tsunami Aceh. Apa saja yang sudah terjadi sejak hari itu?

Oleh: Maani Truu (SBS)

Baca Juga: ‘Bencana Dapat Lebih Banyak Likes’: Pemburu Selfie di Tengah Bencana Tsunami Banten

Ketika jumlah korban tewas akibat tsunami terakhir mencapai 400 orang dan penyelamat sedang mencari ratusan korban lain yang masih hilang di antara puing-puing, hari ini menandai 14 tahun dari tsunami Hari Boxing tahun 2004 yang mematikan.

Di Hari Boxing (Boxing Day: tanggal 26 Desember–satu hari setelah Natal–diperingati sebagai hari libur nasional di Australia -red) 14 tahun yang lalu, dunia mengalami apa yang diyakini sebagai tsunami paling mematikan dalam sejarah, dengan hampir 230.000 orang tewas di seluruh Indonesia, Sri Lanka, India, Maladewa, Thailand, Myanmar, Malaysia, Somalia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, dan Kenya.

Bangkai kapal di Sungai Aceh dekat Peunayoung pada 26 Desember 2004 (atas) dan pemandangan lingkungan yang sama pada 16 Desember 2014 (bawah). (Foto: EPA)

Sebagian besar korban tewas ada di Indonesia, dengan 167.540 orang terdaftar tewas atau hilang, dan 26 warga Australia tewas di Thailand. Menurut Pusat Pengetahuan Ketahanan Bencana Australia, total biaya kerusakan di kawasan ini diperkirakan sebesar US$10 miliar.

Sampai tahun 2016, 400 mayat masih belum teridentifikasi di Thailand.

Bagaimana tsunami itu terjadi?

Pukul 7.59 pagi waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 SR melanda pantai di pulau Sumatra—itu adalah gempa bumi terkuat ketiga yang tercatat di dunia sejak tahun 1900.

Gempa itu terpicu ketika bentangan lempeng tektonik India sepanjang 1200 kilometer, 30 kilometer di bawah dasar laut, terdorong ke atas hingga 20 meter di bawah lempeng Burma, menaikkan dasar laut beberapa meter dan menggerakkan 30 kilometer kubik air.

Dalam 20 menit, tsunami telah mencapai Sumatra dan Kepulauan Nicobar di Indonesia, dengan gelombang setinggi 30 meter tercatat di wilayah Aceh. Gelombang itu membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mencapai Thailand dan Sri Lanka, dan tiga jam untuk mencapai Maladewa.

Apa yang berubah sejak tragedi itu?

Pada tahun 2004, wilayah tersebut tidak memiliki sistem peringatan tsunami Samudra Hindia yang terkoordinasi dan kesadaran akan tsunami—dan cara mengatasinya—relatif rendah.

Sejak itu, kesadaran dan infrastruktur telah meningkat, tetapi beberapa pengguna media sosial menggunakan peringatan dan tragedi baru-baru ini untuk menunjukkan masalah yang berkelanjutan dengan sistem peringatan tsunami Indonesia.

Setelah bencana pada tahun 2004 itu, jaringan sensor dasar laut, gelombang suara yang sarat data, dan kabel serat optik dimaksudkan untuk dikembangkan menggunakan bantuan senilai $3 juta dari US National Science Foundation.

Tetapi karena adanya dugaan “perselisihan antar-lembaga” dan perselisihan tentang pendanaan, proyek itu belum bergerak lebih jauh dari tahap prototipe dan belum akan dikerahkan.

Setelah tsunami Sulawesi yang mematikan pada bulan September tahun ini, kurangnya peringatan menimbulkan pertanyaan apakah sistem baru itu, jika selesai lebih awal, bisa menyelamatkan nyawa. Tsunami itu menewaskan lebih dari 2000 orang.

“Bagi saya, ini merupakan sebuah tragedi bagi perkembangan sains Indonesia, dan tentu ini juga merupakan tragedi bagi masyarakat Indonesia sebagaimana yang bisa dilihat pada penduduk Sulawesi saat ini,” kata pakar manajemen bencana Louise Comfort dari University of Pittsburgh setelah tragedi itu.

“Hal ini sangat memilukan, ketika sebenarnya ada jaringan sensor yang bisa dirancang dengan baik yang bisa memberikan informasi penting.”

Pemerintah Indonesia, bagaimanapun, membantah klaim bahwa pihaknya mengeluarkan peringatan keselamatan yang tidak memadai, setelah gempa kuat yang memicu gelombang tsunami itu.

Sistem peringatan Indonesia saat ini terdiri dari sensor dasar laut yang mampu mendeteksi perubahan tekanan yang dapat mengindikasikan tsunami yang masuk dan sejumlah pelampung yang menerima data dan mengirimkannya ke satelit.

Tetapi gempa bumi di dekat Sumatra pada tahun 2016 mengungkapkan bahwa 22 pelampung ini tidak berfungsi dan belum ada sejak tahun 2012.

Baca Juga: Tsunami Banten: Sistem Peringatan Baru Akan Dibangun Tahun Depan

Kemana sekarang?

Setelah tragedi hari Sabtu lalu (22/12), Presiden Indonesia Joko Widodo memerintahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geologi (BMKG) negara itu untuk mengembangkan sistem “yang dapat memberikan peringatan dini kepada masyarakat.”

Tetapi para ahli mengatakan bahwa, tidak seperti tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi, hanya sedikit yang bisa dilakukan untuk mengingatkan orang bahwa gelombang datang secara tepat waktu.

Puing-puing di depan Masjid Baitulrahman pada 26 Desember 2004 (kiri), dan pemandangan yang sama pada 16 Desember 2014 (kanan), di Banda Aceh, Indonesia. (Foto: EPA)

Kepala humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, menge-tweet pada hari Sabtu (22/12) bahwa walaupun Indonesia saat ini tidak dapat mendeteksi tsunami yang disebabkan oleh tanah longsor bawah laut dan letusan gunung berapi, sistem peringatan gempa bumi “bekerja dengan baik”.

“Kurang dari 5 menit setelah gempa, BMKG dapat memberi tahu publik,” katanya di Twitter.

Sistem yang ada dapat mendeteksi dan memantau gempa bumi bawah laut tetapi tidak dapat mendeteksi tanah longsor dan letusan gunung berapi, yang juga dapat memicu gelombang besar.

Pemerintah Indonesia telah mengumumkan akan mulai bekerja pada sistem peringatan baru yang mampu mendeteksi tanah longsor di bawah laut, BBC melaporkan.

Iyan Turyana, juru bicara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, mengatakan kepada BBC bahwa sistem baru akan mengatasi kekurngan dalam sistem saat ini dan mampu mendeteksi tanah longsor.

Keterangan foto utama: Rumah yang hancur terlihat dari sebuah helikopter penyelamat setelah tsunami menghantam Selat Sunda, di Banten, Indonesia. (Foto: AAP)

14 Tahun Berlalu, Apa yang Telah Kita Pelajari dari Tsunami Aceh?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top