2018: Tahun Paling Mematikan di Indonesia Sejak Lebih dari 1 Dekade Lalu yang Disebabkan Bencana Alam
Berita Politik Indonesia

2018: Tahun Paling Mematikan di Indonesia Sejak Lebih dari 1 Dekade Lalu

Berita Internasional >> 2018: Tahun Paling Mematikan di Indonesia Sejak Lebih dari 1 Dekade Lalu

Rangkaian bencana yang melanda Indonesia pada 2018 dimulai pada bulan Januari ketika sebuah gempa bumi mengguncang Jakarta pada 23 Januari, dengan pusat gempa berada di Lebak, provinsi Banten. BNPB telah mencatat 2.426 bencana alam sejak itu. Setidaknya 4.231 orang meninggal atau dinyatakan hilang akibat bencana alam.

Oleh: The Straits Times

Baca Juga: Warga Miskin di Indonesia Tanggung Beban Terberat Saat Tsunami

Setidaknya 4.231 orang meninggal atau dinyatakan hilang selama bencana alam di seluruh kepulauan Indonesia tahun ini, menjadikannya tahun paling mematikan di negara ini dalam satu dekade, kata badan nasional penanggulangan bencana (BNPB).

Rangkaian bencana yang melanda Indonesia pada 2018 dimulai pada bulan Januari ketika sebuah gempa bumi mengguncang Jakarta pada 23 Januari, dengan pusat gempa berada di Lebak, provinsi Banten. Gempa terjadi pada sore hari ketika sebagian besar penduduk kota sedang bekerja dan sekolah. Panik pun terjadi. Orang-orang meninggalkan gedung dan kemacetan parah terjadi.

BNPB telah mencatat 2.426 bencana alam sejak itu, termasuk gempa berkekuatan 7,4 SR (skala Richter) yang mengguncang Sulawesi Tengah pada bulan September dan gempa berkekuatan 6,4 SR yang mengguncang pulau Lombok dan Bali pada bulan Juli.

Jumlah aktual bencana tahun ini lebih rendah dari 2.862 yang tercatat pada 2017, tetapi jumlah korban jauh lebih tinggi dari pada 2017—ketika 378 nyawa hilang—dan pada 2016, yang mencatat 578 kematian dari 2.306 bencana.

“Tahun ini adalah tahun bencana bagi Indonesia. Dengan jumlah 4.231, ini adalah korban tewas terbesar yang kita lihat sejak 2007,” kata juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta baru-baru ini.

Ketua Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan Indonesia tidak memiliki program untuk meningkatkan kesadaran bencana meskipun Indonesia duduk di Cincin Api Pasifik, membuatnya rentan terhadap gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Data dari Survei Geologi Amerika Serikat menunjukkan bahwa dari 1 Januari hingga 24 Desember, negara itu mengalami 221 gempa bumi yang berukuran lebih dari 5 SR. Jumlah gempa bumi yang berukuran lebih dari 2,5 SR adalah 1.807 pada periode yang sama.

Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan bahaya hidrometeorologis—bahaya yang bersifat atmosfer, hidrologi, atau oseanografi—menyumbang 97 persen dari bencana, dengan topan tropis dan banjir yang paling umum terjadi. Bahaya hidrologi juga termasuk kekeringan, gelombang panas dan badai.

Namun, bahaya geologis seperti gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi tanah memakan korban paling banyak. Bahaya-bahaya ini hanya menyumbang 3 persen dari total 2.426 bencana yang tercatat hingga pertengahan Desember, tetapi merenggut 3.969 nyawa.

Angka-angka tidak termasuk korban dari tsunami Selat Sunda baru-baru ini, yang dipicu oleh letusan gunung berapi Anak Krakatau dan tanah longsor bawah laut, yang melanda Banten dan Lampung pada Sabtu lalu. Korban tewas terbaru adalah 426, dengan puluhan orang masih hilang.

Gempa bumi di Sulawesi Tengah dan Lombok menyebabkan kematian terbanyak. Pada 6 Agustus, gempa berkekuatan 7 SR melanda pulau Lombok. Bencana itu berdampak pada perekonomian pulau itu, sementara perumahan menjadi yang paling parah terkena dampak.

Di Kabupaten Lombok Utara, yang mengalami kerusakan terparah karena dekat dengan pusat gempa, hampir 75 persen rumah hancur. Banyak rumah runtuh karena banyak rumah itu tidak tahan gempa, mengubur orang-orang di bawah reruntuhan.

Tsunami yang dipicu oleh gempa menewaskan sejumlah besar orang ketika terjadi di Palu pada 28 September. Gelombang itu menghantam ketika ratusan orang berkumpul di dekat laut untuk menghadiri festival budaya tahunan.

Pakar tsunami Abdul Muhari mengatakan Indonesia masih tertinggal dari negara lain dalam membangun dan memelihara sistem peringatan dini tsunami. Dia menambahkan bahwa di Jepang, yang juga sering menghadapi gempa bumi dan tsunami , satu hingga lima seismograf ditempatkan di setiap sub-distrik, dan menambah pelampung pendeteksi tsunami di perairannya.

Setelah tsunami Palu, Sutopo mengungkapkan bahwa peralatan deteksi langsung tsunami di Indonesia tidak tersedia.

“Tidak ada pelampung pendeteksi tsunami yang beroperasi di negara kami saat ini, yang diperlukan untuk mendeteksi gelombang seperti itu lebih awal. Sebagian besar dari pendeteksi itu rusak karena vandalisme,” katanya.

Kekhawatiran yang sama muncul kembali setelah tsunami Selat Sunda.

Setelah berita tsunami tersebar, perdebatan tentang apakah itu tsunami atau gelombang pasang mendominasi media sosial.

Awalnya BMKG mengumumkan bahwa ada gelombang pasang di Selat Sunda, membantah klaim tsunami. Beberapa jam kemudian, BMKG mengkonfirmasi bahwa tsunami telah terjadi, dan kemungkinan besar disebabkan oleh kombinasi gelombang pasang tinggi dari bulan purnama dan tanah longsor di bawah air.

BMKG juga mengatakan dalam pernyataannya bahwa seismometer di sekitar gunung berapi Anak Krakatau telah rusak akibat letusan. Anak Krakatau itu telah aktif sejak Juni.

Sutopo mengatakan tidak ada peringatan tentang tsunami Selat Sunda karena tsunami itu bukan disebabkan oleh gempa tektonik, mengatakan bahwa Indonesia tidak dilengkapi dengan sistem peringatan dini untuk tsunami yang dipicu oleh gempa karena getaran vulkanik.

Serangkaian bencana alam adalah kenyataan serius bagi Indonesia, yang bercita-cita untuk mempromosikan tempat-tempat wisatanya untuk meningkatkan ekonominya.

Lombok dan Bali menderita kerugian yang signifikan setelah banyak gempa bumi dan letusan dari Gunung Agung antara tahun 2017 dan 2018.

Tsunami Selat Sunda melanda pantai Banten dan Lampung, tujuan wisata populer selama musim liburan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada 19 November telah memperingatkan kelompok manajemen pariwisata dan pemerintah daerah tentang peningkatan aktivitas 20 gunung berapi di seluruh negeri.

Anak Krakatau telah berada di bawah pengamatan 24 jam, bersama dengan Gunung Sinabung dan Gunung Siputan, keduanya di Sumatera Utara.

Otoritas pusat telah memperkirakan bahwa bahaya hidrometeorologis akan tetap menjadi bencana alam yang paling mungkin terjadi tahun depan.

“Puncak musim hujan akan terjadi pada Januari tahun depan,” kata Willem. “Mungkin tidak ada El Nino dan La Nina yang kuat di tahun depan, jadi musim hujan dan kemarau akan normal.”

Dengan pemilu legislatif dan presiden berlangsung pada April nanti, Willem mengatakan BNPB siap untuk meminimalkan dampak dari setiap peristiwa alam, terutama selama tanggal-tanggal penting.

Baca Juga: Erupsi Penyebab Tsunami Pangkas Dua Pertiga Tinggi Anak Krakatau

Keterangan foto utama: Kakak beradik, Sakinah, 49 tahun, dan Zulfina, 55 tahun, dengan barang-barang yang berhasil mereka selamatkan dari rumah mereka yang hancur di lingkungan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, setelah tsunami yang dipicu oleh getaran yang melanda pada bulan September. (Foto: Reuters)

2018: Tahun Paling Mematikan di Indonesia Sejak Lebih dari 1 Dekade Lalu

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top