Kim Jong-un
Asia

2018, Tahun yang Memuaskan bagi Kim Jong-un

Kim Jong-un dan pejabat Korea Utara merayakan peluncuran rudal Hwasong-14 November lalu yang mendarat di Laut Jepang. (Foto: STR/AFP/Getty Images)
Berita Internasional >> 2018, Tahun yang Memuaskan bagi Kim Jong-un

Tahun 2018 telah menjadi tahun yang memuaskan bagi Kim Jong-un. Pada tahun 2018, ia mengadakan pertemuan puncak dengan dua pemimpin paling kuat di dunia—Donald Trump dan Xi Jinping—dan menciptakan citra yang sangat positif tentang dirinya di komunitas internasional. Kim bagaimanapun juga dianggap telah melakukan lebih banyak dan lebih terbuka dibandingkan para pendahulunya.

Baca juga: Kunjungan Kejutan Kim Jong-un ke China Sebenarnya tentang Trump

Oleh: Benjamin Katzeff Silberstein (Foreign Policy Research Institute)

Kim Jong-un menawarkan beberapa kejutan dalam pidato tahunan Tahun Barunya. Sebagaimana kebiasaan para Pemimpin Korea Utara, dia menyebut tahun lalu sebagai “bersejarah” dan memuji keberhasilan dan kemajuan Partai dan negara.

Di Pyongyang, pada tanggal 31 malam, kerumunan massa memenuhi Lapangan Kim Il-sung di Pyongyang, menyambut Tahun Baru dengan sebuah konser, banyak yang tampaknya merekam dengan ponsel pintar mereka. Kim memang memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan. Pada tahun 2018, ia mengadakan pertemuan puncak dengan dua pemimpin paling kuat di dunia—Donald Trump dan Xi Jinping—dan menciptakan citra yang sangat positif tentang dirinya di antara masyarakat Korea Selatan. (Sebagai contoh ilustrasi, coba lihat topeng wajah Kim Jong-un yang diproduksi oleh perusahaan Korea Selatan.)

Sementara itu, terlepas dari apa yang diklaim Presiden Trump, Kim tidak pernah berjanji untuk menyingkirkan senjata nuklir Korea Utara. Sebaliknya, untuk menunjukkan rasa percaya diri, Kim menyatakan pada musim semi 2018, bahwa setelah berhasil menciptakan penangkal nuklir, negaranya akan mengalihkan perhatian pada pembangunan ekonomi, yang merupakan “kaki” kedua Byungjin—kebijakan ganda Korea Utara.

Selama setahun ketika Kim mungkin telah berbicara lebih banyak dan lebih terbuka tentang perubahan kebijakan ekonomi daripada para pendahulunya, tidak mengherankan bahwa banyak yang membandingkan—sering kali dengan banyak harapan dan antisipasi—Korea Utara saat ini dengan China tepat sebelum “Reformasi dan Pembukaan”—kebijakan reformasi ekonomi yang dimulai oleh Deng Xiaoping pada tahun 1978, dan menunggu Kim mengumumkan perubahan tentunya.

Namun, tahun itu, tidak ada pengumuman besar tentang perubahan kebijakan. Pengumuman untuk “fokus” pada ekonomi oleh Pemimpin Korea Utara itu, bagaimanapun juga, memberikan beberapa implikasi kebijakan langsung.

Korea Utara, bagaimanapun, bukan China, dan sejarah mengajarkan kita sesuatu yang penting tentang alasan bagi para pemimpin dalam mengumumkan perombakan sistemik dan jeda politik. Pertimbangkan latar belakang sejarah, mentalitas geopolitik, dan posisi China pada tahun 1970-an.

Antara tahun 1838 dan 1949, narasi resmi dan propaganda Partai Komunis China menunjukkan bahwa negara itu mengalami “abad penghinaan.” Negara itu dikalahkan oleh Inggris Raya dalam Perang Candu Pertama (1839-1842), diikuti oleh yang sering disebut “perjanjian tidak setara.” Perjanjian ini menciptakan kondisi perdagangan antara China dan sejumlah kekuatan utama dunia—Barat dan Jepang—yang secara luas dianggap tidak adil, tidak setara, dan tidak menguntungkan bagi China.

Untuk kekuatan angkatan laut yang dulu keunggulannya sebagian besar tidak terbantahkan, dan sebuah negara yang menganggap dirinya sebagai pusat planet ini karena kekuatan militernya yang tak tertandingi dan ukurannya yang luas, ini adalah kenyataan pahit yang sulit diterima.

Chiang Kai-shek menyatakan bahwa abad tersebut berakhir dengan kekalahan Kekaisaran Jepang pada akhir Perang Dunia II pada tahun 1945, dan Mao Zedong mengakhirinya dengan kemenangannya dalam perang saudara dan deklarasi Republik Rakyat China pada tahun 1949. China, meski begitu, tidak segera kembali ke status kekuatan besar seperti dulu.

Dekade kekacauan Maois—kelaparan yang disebabkan oleh Lompatan Jauh ke Depan (1958–1962), dan perang saudara saat Revolusi Kebudayaan (1966–1976)—membuat ekonomi China kacau dan posisi internasionalnya lemah akibat puluhan tahun kekacauan dan kemiskinan. Oleh karena itu, setelah kematian Mao, perintah nasional adalah untuk menempatkan China pada jalur menuju kemakmuran ekonomi, dan mulai kembali ke kekuatan dan posisi internasional yang dulu pernah dimiliki.

Seringkali menjadi lebih jelas setelah melihat bagaimana suatu negara dan para pemimpinnya memandang posisi mereka dalam sejarah. Namun, urgensi di mana para pemimpin China mendorong proses “Reformasi dan Pembukaan” sepertinya tidak ada di Korea Utara dan Kim Jong-un ketika menyangkut ekonomi.

Serangan Siber

Para siswa Korea Utara menggunakan komputer di sebuah ruang kelas, dengan potret para mendiang pemimpin negara tersebut Kim Il Sung (kiri) dan putranya Kim Jong Il, tergantung di dinding, di Pyongyang, Korea Utara, 20 September 2012. (Foto: AP/Vincent Yu)

Yang pasti, Semenanjung Korea sama sekali tidak kebal dari tekanan sejarah. Akhir tahun 1800-an—dan beberapa tahun terakhir dari Dinasti Chos (1392-1910)—terjadi perpecahan politik antara konservatisme yang berpandangan ke dalam dan (sering pro-Jepang), progresivisme dan modernisasi yang berwawasan ke luar dengan rasa urgensi yang kuat dan rasa akan ketertinggalan dari negara lain di kawasan itu. Sisa-sisa perbedaan sejarah ini—tentu saja, dijelaskan di sini dengan cara yang sangat disederhanakan—masih terlihat dalam beberapa aspek politik Korea.

Tetapi Korea Utara terutama dipengaruhi oleh tradisi yang berbeda. Sebagian besar pendiri rezim itu menghabiskan tahun-tahun pembentukan mereka di luar Korea. Seperti yang telah diartikulasikan dengan fasih dan meyakinkan oleh Adrian Buzo melalui narasi Guerilla Dynasty, lintasan politik Korea Utara dimulai pertama dan terutama dengan lingkungan perang gerilya China Timur Laut (Manchuria).

Di sana, pendiri negara, Kim Il-sung (1912–1994), bertempur di lingkungan paranoid yang kasar, berbahaya, dan melawan Kekaisaran Jepang, dan beberapa individu pendiri negara lainnya adalah tentara gerilya juga. Propaganda Korea Utara melukiskan gambaran berlebihan dari upaya Kim, yang sebagian besar tidak ada hubungannya dengan kenyataan sejarah.

Kita harus berhati-hati untuk tidak menafsirkan secara berlebihan pengaruh sejarah pada politik saat ini. Meskipun demikian, sulit untuk menyangkal bahwa pengalaman formatif dari banyak pendiri Korea Utara memainkan peran penting untuk ideologi dan ambisi politik negara itu, tidak terkecuali ketika menyangkut keinginan untuk pencegah nuklir.

Baca juga: Kim Jong-un Tiba di China dengan Kereta

Di satu sisi, Kim Jong-un telah memenuhi kewajiban historis Korea Utara. Dengan secara resmi menyatakan pada musim semi 2018 bahwa negara itu sekarang memiliki alat pencegah nuklir yang mampu menyerang benua Amerika Serikat, Kim menutup ambisi lama para pemimpin negara itu untuk menghasilkan senjata nuklir yang kredibel dan bisa dikirim.

Itu bukan berarti bahwa kemakmuran ekonomi dan kekuatan industri tidak penting bagi Kim. Dia telah menunjukkan baik dalam kata maupun dalam perbuatan, bahwa—dengan menjanjikan kemakmuran ekonomi dan standar hidup yang lebih tinggi untuk masyarakat umum, dan meskipun relatif masih sedikit yang diwujudkan—dia bisa dibilang telah melakukan jauh lebih banyak untuk peningkatan ekonomi daripada yang dilakukan ayahnya, Kim Jong-il. Kim Jong-un telah menindak penyelundupan dan penjualan media asing di pasar negara itu, tetapi juga melembagakan sistem pasar dan membiarkannya berkembang.

Namun, penting untuk diingat bahwa Korea Utara memiliki logika sendiri. Kita tidak boleh berasumsi bahwa proses reformasi ekonomi yang luas sama mendesaknya bagi para pemimpin Korea Utara hari ini seperti bagi para pemimpin China pada akhir tahun 1970-an, juga tidak akan terlihat sama jika suatu hari nanti terjadi. Dari sudut pandangnya sendiri, Kim Jong-un sudah memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan dari tahun-tahun ia berkuasa.

Benjamin Katzeff Silberstein adalah Associate Scholar di Foreign Policy Research Institute, dengan fokus utama di Semenanjung Korea dan kawasan Asia Timur.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Kim Jong-un dan pejabat Korea Utara merayakan peluncuran rudal Hwasong-14 November lalu yang mendarat di Laut Jepang. (Foto: STR/AFP/Getty Images)

2018, Tahun yang Memuaskan bagi Kim Jong-un

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top