3 Hal yang Harus Diperhatikan Jelang Pilpres 2019
Berita Politik Indonesia

3 Hal yang Harus Diperhatikan Jelang Pilpres 2019

Berita Internasional >> 3 Hal yang Harus Diperhatikan Jelang Pilpres 2019

Di Indonesia, musim pemilihan telah dimulai. Pemilihan presiden dan legislatif akan diadakan secara serentak pada 17 April 2019, di mana sekitar 187 juta orang Indonesia (dari sekitar 265 juta) akan memenuhi syarat untuk memilih. Jelang Pilpres 2019 ini, ada tiga isu utama yang harus diperhatikan.

Oleh: Global Counsel

Baca Juga: Setelah Bebas dari Penjara, Akankah Ahok Ikut Kampanye Pilpres 2019?

Pemilihan presiden kali ini akan menjadi pengulangan dari pemilihan presiden tahun 2014 antara mantan jenderal Prabowo Subianto dan presiden petahana, Joko Widodo, yang mencalonkan diri untuk periode kedua. Di saat kampanye untuk pemilihan presiden akan berlangsung semakin intensif dalam beberapa bulan ke depan, ada tiga hal yang harus diperhatikan.

Ekonomi akan menjadi masalah utama. Meskipun Jokowi secara umum tetap populer di sepanjang masa pemerintahannya, kerentanan utama pemerintahannya adalah pada ekonomi nasional. Ketika Jokowi mulai menjabat pada tahun 2014, ia berjanji untuk menumbuhkan ekonomi sebesar 7 persen setiap tahun. Sejak itu, Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan sekitar 5 persen.

Selain itu, defisit transaksi berjalan yang melebar di negara ini telah menyebabkan depresiasi dramatis pada rupiah, yang telah turun hampir 9 persen terhadap dolar tahun ini dan mencatat level rendah yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan pada pertengahan tahun 1998. Depresiasi rupiah dan laju pertumbuhan yang stagnan telah memberi Prabowo kesempatan untuk menyerang manajemen ekonomi Jokowi, bahkan jika sebagian dari volatilitas saat ini didorong oleh sentimen pasar negara berkembang eksternal daripada kebijakan Jokowi.

Selain itu, nasionalisme ekonomi akan menjadi tema utama dalam kampanye kedua kandidat. Selama masa jabatannya, Jokowi telah menerapkan kebijakan yang lebih proteksionis, termasuk pembatasan perdagangan dan tarif impor. Prabowo telah menggemakan sentimen serupa dan telah sangat kritis dengan meningkatnya ketergantungan pada investasi asing, terutama dari China.

Islam juga akan menjadi pusat kampanye, tetapi bukan berarti itu akan menjadi masalah besar. Jokowi telah memilih ulama Muslim konservatif Ma’ruf Amin sebagai kandidat wakil presidennya dalam langkah strategis untuk memenuhi berbagai kepentingan politik, termasuk menarik pemilih Muslim konservatif. Ma’ruf memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI), badan ulama Muslim tertinggi di negara itu, dan merupakan mantan pemimpin Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Muslim terbesar di Indonesia.

Walaupun pilihan Jokowi ini telah mengejutkan banyak orang karena reputasi Ma’ruf yang konservatif, pilihan Jokowi ini akan membantu melindunginya dari serangan lebih lanjut yang menuduhnya terlalu sekuler. Yang terpenting, pemilihan Ma’ruf sebagai kandidat wakil presidennya telah menghalangi kampanye Prabowo untuk memonopoli pemilih Muslim konservatif. Ini mungkin akan mengurangi sejauh mana masalah agama menjadi fokus kampanye.

Pemilih muda akan menjadi kunci. Baik Jokowi dan Prabowo harus menyusun strategi yang dapat menangkap 80 juta milenial Indonesia—10 juta di antaranya akan memberikan suara mereka untuk pertama kalinya. Blok ini adalah 40 persen dari total pemilih yang memenuhi syarat di Indonesia. Wakil presiden pilihan Prabowo, pengusaha muda mandiri Sandiaga Uno, menjadi target di sini.

Jokowi telah memilih taipan media dan olahraga Erick Thohir sebagai manajer kampanyenya. Erick Thohir memiliki keterampilan manajemen, dan juga kemampuan untuk melibatkan pemilih yang lebih muda. Dia berhasil memimpin panitia penyelenggara Asian Games baru-baru ini di Indonesia, yang bisa dibilang sukses.

Untuk saat ini, Jokowi diperkirakan akan mendapatkan periode kedua, meskipun Prabowo tidak boleh dikesampingkan. Seperti yang kita saksikan baru-baru ini dalam pemilu Mei 2018 di Malaysia, pemilihan Asia Tenggara dapat menghasilkan pemenang yang tidak sesuai dengan harapan.

Dua puluh lima persen orang Indonesia masih ragu-ragu. Bahkan jika Prabowo kalah dalam pemilihan presiden, partainya Gerindra dan mitra koalisinya dapat memenangkan lebih banyak kursi di pemilihan parlemen, dan periode kedua Jokowi mungkin tidak akan berjalan mulus.

Baca Juga: Petahana Jokowi vs Prabowo: Siapa yang Menangkan Pilpres 2019?

Keterangan foto utama: Prabowo Subianto (tengah) merangkul Joko Widodo selama kampanye 2014. (Foto: AFP)

3 Hal yang Harus Diperhatikan Jelang Pilpres 2019

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top