Orang-orang menonton sebuah laporan berita tentang rencana pertemuan Trump dan Kim di sebuah stasiun kereta api di Seoul pada tanggal 9 Maret 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Jung Yeon-je)
Amerika

3 Masalah Serius dalam Rencana Pertemuan Trump-Kim

Orang-orang menonton sebuah laporan berita tentang rencana pertemuan Trump-Kim di sebuah stasiun kereta api di Seoul pada tanggal 9 Maret 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Jung Yeon-je)
Home » Featured » Amerika » 3 Masalah Serius dalam Rencana Pertemuan Trump-Kim

Tidak baik kalau hanya satu dari dua peserta yang tahu mengenai apa yang dia lakukan. Gagasan mengenai pertemuan Donald Trump dengan Kim Jong Un belum berubah seiring berjalannya waktu. Opini oleh Michael J. Green mengenai tiga masalah yang menghinggapi rencana pertemuan Trump dan Kim.

Oleh: Michael J. Green (Foreign Policy)

Ketika Donald Trump sebagai kandidat presiden pada bulan Mei 2016, mengatakan bahwa dia “tidak memiliki masalah dalam berbicara dengan” pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, saya menulis untuk blog Pemerintah Bayangan Foreign Policy, mengenai gagasan buruk apa yang akan terjadi. Gagasan pertemuan presiden Amerika Serikat (AS) dengan Kim Jong Un belum berubah seiring berjalannya waktu. Berikut adalah tiga alasan yang bisa mengingatkan:

Secara moral tidak menyenangkan

Kim Jong Un memimpin rezim yang paling mengerikan di planet ini, di mana puluhan ribu orang mendekam dalam kamp buruh, dan jutaan lainnya menderita penindasan yang sistematis. Perbandingan yang dibuat antara pertemuan Kim-Trump dengan pertemuan Nixon-Mao atau pertemuan FDR-Stalin, sangat tidak sesuai.

    Baca Juga : Rusia di Era Putin: Dari Negara Buangan Bangkit Jadi Adidaya

Dalam Perang Dunia Kedua, kami membutuhkan pasukan Soviet untuk mengalahkan Hitler, dan pada dekade ketiga dari Perang Dingin, kami membutuhkan pasukan China untuk mengimbangi kekuatan militer Soviet yang berkembang di Eropa dan Timur Jauh. Ini adalah tujuan yang diperlukan dan dapat dicapai yang sesuai dengan kepentingan Soviet dan kepentingan China saat itu, dan membantu mengalahkan kejahatan yang lebih besar.

Yang kita butuhkan dari Korea Utara adalah pelucutan senjata nuklir, di mana rezim tersebut telah menunjukkan bahwa mereka tidak berniat untuk merundingkannya. Fakta bahwa bahkan Presiden China Xi Jinping merasa bahwa Kim Jong Un tidak terlalu menyenangkan untuk diajak bertemu, bisa memberi tahu kita sesuatu.

Pertemuan ini sesuai dengan tujuan jangka panjang Korea Utara, bukan tujuan Amerika

Presiden Trump menyombongkan diri bahwa tidak ada presiden sebelumnya yang cukup berani untuk bertemu dengan seorang pemimpin Korea Utara—tapi ini bukan karena kurangnya usaha Pyongyang, yang hampir memikat Bill Clinton untuk berkunjung pada tahun 2000, dan membuat beberapa tawaran rahasia kepada George W. Bush.

Tujuan Korea Utara sejak tahun 1990-an adalah untuk menunjukkan bahwa senjata nuklir telah memaksa presiden Amerika untuk mengakui legitimasi rezim tersebut. Clinton hampir terjebak pada tahun 2000. George Bush tidak pernah mendekat. Sekarang seorang presiden Amerika telah dikirim. Permainan yang bagus, Pyongyang.

Kim Jong Un akan tahu persis apa yang dia lakukan…

Prospek pertemuan Trump-Kim akan kurang mengkhawatirkan jika presiden tersebut menunjukkan lebih banyak komando di Semenanjung Korea. Pidatonya yang menyatakan bahwa sanksi telah membuat Kim menyerah dan menegosiasikan denuklirisasi, didasarkan pada interpretasi yang murah hati mengenai apa yang dikatakan oleh penasihat keamanan nasional Korea Selatan, yang menurutnya dia dengar dari Pyongyang, dan tidak ada yang keluar dari rezim Korea Utara itu sendiri, yang tetap terikat dengan senjata nuklir.

Fasilitas Nuklir Tertangkap Satelit: Rencana Permainan Kim Jong Un Terungkap?

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan depan), bertemu dengan Direktur Keamanan Nasional Korea Selatan Chung Eui-yong. (Foto: KCNA/AP)

Pemerintah layak mendapat pujian besar atas kampanye sanksi dan tekanan yang telah diorganisir, dan semoga pernyataan Wakil Presiden Mike Pence bahwa kampanye tekanan akan terus berlanjut sampai ada langkah nyata menuju denuklirisasi, akan berhasil. Tapi Kim bisa meraih kemenangan besar hanya dengan meyakinkan Presiden Trump, bahwa Pyongyang bersedia untuk membahas denuklirisasi di seluruh Semenanjung Korea, jika Amerika Serikat terlebih dulu menegosiasikan sebuah perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri Perang Korea.

Maksud sebenarnya Korea Utara di balik langkah yang tampaknya konstruktif ini, adalah untuk membongkar mandat Dewan Keamanan PBB tahun 1950, Pasukan Komando Gabungan Korea Selatan-AS di semenanjung tersebut, dan payung nuklir AS di Korea Selatan (karena itu akan menjadi bagian dari definisi “denuklirisasi” Korea Utara). Beijing, Moskow, dan para pejabat tertentu di sisi kiri politik di Seoul, akan mendorong agenda ini dengan keras, sementara kalangan konservatif di Seoul dan sekutu AS, secara lebih luas lagi akan merasa cemas.

Ada beberapa perangkap serupa lainnya dalam negosiasi dengan Pyongyang. Para pemimpin Korea Utara memiliki pengalaman puluhan tahun untuk memanipulasi pengaturan seperti itu, yang terkait dengan mandat Dewan Keamanan dan persekutuan AS di Asia; Begitu pula beberapa diplomat AS, tapi mereka tidak mungkin berada di pusat panggung.

    Baca Juga : 5 Hal yang Perlu Kita Tahu tentang Pertemuan Trump-Kim

Mungkin pertemuan Trump-Kim akan menghasilkan langkah-langkah nyata untuk Korea Utara menuju pelucutan senjata, tapi saya tidak tahu satu orang pun veteran kebijakan Korea Utara yang berpengalaman, yang berpikir bahwa kemungkinan besar itu terjadi. Atau mungkin pertemuan Trump-Kim akan berjalan sesuai dengan parade militer yang dijanjikan presiden: dimodifikasi dengan lebih tenang di pemerintahan, menjadi serangkaian pertemuan persiapan tingkat rendah yang tidak membahayakan.

Bagaimanapun, mari kita berharap bahwa teater ini tidak mengalihkan perhatian mereka yang ada di pemerintahan, yang melakukan pekerjaan yang diperlukan untuk menahan dan menghalangi Korea Utara, karena kita kemungkinan besar harus bergantung pada strategi tersebut untuk sementara waktu.

Michael J. Green adalah wakil presiden senior untuk Asia di Pusat Studi Strategis dan Internasional, dan seorang profesor di Universitas Georgetown. Dia menjabat sebagai pejabat senior Dewan Keamanan Nasional mengenai kebijakan Asia selama pemerintahan George W. Bush. Ikuti dia di Twitter: @JapanChair.

Keterangan foto utama: Orang-orang menonton sebuah laporan berita tentang rencana pertemuan Trump-Kim di sebuah stasiun kereta api di Seoul pada tanggal 9 Maret 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Jung Yeon-je) 

3 Masalah Serius dalam Rencana Pertemuan Trump-Kim
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top