Krisis Venezuela
Amerika

5.000 Pasukan ke Kolombia: Gedung Putih Perkeruh Krisis Venezuela

Berita Internasional >> 5.000 Pasukan ke Kolombia: Gedung Putih Perkeruh Krisis Venezuela

Sebuah catatan yang dipegang Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat John Bolton memperkeruh suasana terkait krisis Venezuela. Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan, semua opsi sedang dipertimbangkan terkait sanksi dan ketegangan di negara Amerika Latin itu. Catatan Bolton bertuliskan, “5.000 pasukan ke Kolombia”, negara tetangga Venezuela dan sekutu AS.

Baca juga: Venezuela: Barat Serukan Pemilu Ulang, Maduro Unjuk Kekuatan Militer

Oleh: Kevin Liptak, Ryan Browne, dan Caroline Kelly (CNN)

Gedung Putih kian memperkeruh situasi ketegangan yang ada setelah penasihat keamanan nasional John Bolton pada hari Senin (28/1) terlihat memegang catatan bertuliskan “5.000 pasukan ke Kolombia.”

“Seperti yang telah dikatakan Presiden, semua opsi sedang dipertimbangkan,” kata seorang juru bicara Gedung Putih ketika dimintai penjelasan mengenai catatan tersebut, yang terlihat saat pengarahan dengan wartawan tentang sanksi baru terhadap Venezuela.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menolak untuk mengesampingkan opsi militer di Venezuela ketika pemerintah AS meningkatkan tekanan pada penguasa negara itu, Nicolás Maduro.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan AS mengatakan pada hari Senin (28/1) bahwa tidak ada rencana untuk mengirim pasukan ke Amerika Selatan maupun tidak ada diskusi yang sedang berlangsung di tingkat kebijakan atau operasional. Terdapat sejumlah pasukan AS yang terbatas saat ini di Kolombia sebagai bagian dari misi Plan/Paz Colombia, tetapi jumlah itu berada di angka ratusan, menurut pejabat itu.

Ketika ditanya tentang Venezuela pada hari Senin (28/1), penjabat Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan mengatakan kepada awak media, “Di sini di Departemen Pertahanan, kami tengah memantau situasi dengan seksama.”

Menteri Luar Negeri Kolombia bereaksi terhadap catatan Bolton pada hari Senin (28/1) malam, mengatakan bahwa dia tidak mengetahui pemikiran di baliknya.

“Kolombia tidak tahu alasan di balik catatan tersebut dan tidak mengetahui sejauh mana mereka sebenarnya,” kata Menteri Luar Negeri Kolombia Carlos Holmes Trujillo dalam sebuah pernyataan. “Kolombia akan terus melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat tentang beberapa topik dan bekerja sama dengan AS dalam topik bilateral apa pun.”

Dalam kritik terkuat AS atas Maduro sejauh ini, Bolton dan Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin mengumumkan sanksi pada hari Senin (28/1) pagi terhadap perusahaan minyak yang disponsori negara di Venezuela. Sanksi tersebut akan memblokir aset senilai sekitar US$ 7 miliar dan mencegah aset US$ 11 miliar selama tahun berikutnya, kata Bolton.

Baca juga: Krisis Venezuela dalam 5 Grafik

Maduro menghadapi tantangan dari presiden sementara Venezuela yang memproklamirkan dirinya sendiri, Juan Guaido, ketika negara itu semakin tidak stabil. Maduro yang diperangi menuduh pada hari Minggu (27/1) bahwa Amerika Serikat telah memfasilitasi “kudeta” untuk melemahkannya, merujuk pada laporan bahwa Wakil Presiden AS Mike Pence telah menjanjikan dukungan penuh Amerika kepada Guaido.

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino mengatakan pada hari Senin (28/1) bahwa militer “siap mati” untuk tanah air, setelah atase militer Venezuela di Washington, Kolonel José Luis Silva, membelot pada hari Sabtu (26/1) dan secara terbuka mendukung Guaido.

Keterangan foto utama: Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mendengarkan pernyataan Presiden AS Donald Trump, ketika ia mengumumkan aksi militer terhadap Suriah atas serangan gas terhadap warga sipil Suriah, di Gedung Putih pada 13 April 2018. (Foto: Getty Images/Mike Theiler)

5.000 Pasukan ke Kolombia: Gedung Putih Perkeruh Krisis Venezuela

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top