Presiden Jokowi
Berita Politik Indonesia

5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Calon Petahana Pilpres 2019, Presiden Jokowi

Berita Internasional >> 5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Calon Petahana Pilpres 2019, Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo adalah sosok yang berbeda dari para pemimpin Indonesia sebelumnya. Citranya sebagai “orang biasa” menarik perhatian banyak orang dan mendulang dukungan. Di pemilihan presiden 2019 nanti, Presiden Jokowi kembali maju sebagai calon presiden, untuk periode keduanya.

Baca juga: Jokowi dan Prabowo Janjikan Kampanye Pilpres 2019 yang Damai

Oleh: Asia Media Centre

Presiden Indonesia Joko Widodo, yang akrab disebut Jokowi, kembali maju dalam pemilihan presiden April 2019 nanti. Dia berjuang untuk jabatan periode keduanya, melawan saingan yang sama dengan pemilihan terakhir yang dimenangkannya, Prabowo Subianto.

Berasal dari luar elit politik dan militer, Jokowi adalah presiden Indonesia ketujuh. Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang pria yang pernah menghiasi halaman depan majalah Time, sebagai sosok pembawa harapan di Indonesia tersebut:

Presiden pertama dari luar elit politik dan militer

Jokowi adalah pria yang membangun kesuksesannya sendiri dari kalangan kelas menengah. Dia lulus dengan gelar sarjana kehutanan sebelum membangun namanya sendiri dalam bisnis perabotan.

Jokowi memasuki dunia politik pada tahun 2005, ketika dia terpilih sebagai walikota Surakarta (juga dikenal dengan Solo), sebuah kota di Jawa. Kampanyenya untuk menjadi presiden membuat banyak orang bersemangat, terutama karena daya tariknya sebagai orang biasa, kebiasaannya menggunakan media sosial, dan fokusnya pada pengembangan infrastruktur dan melawan korupsi.

Sejak terpilih, Presiden Jokowi dikenal dengan program blusukan, alias kunjungan mendadak. Caranya untuk berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat Indonesia.

Jokowi juga dikenal sebagai penggemar berat musik heavy metal. Dalam kunjungannya baru-baru ini ke Indonesia, Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen menghadiahi Jokowi vinyl grup band Metallica, Master of Puppets.

Dia mengawasi reformasi infrastruktur terbesar Indonesia

Sejak terpilih, Jokowi telah mengejar proyek infrastrukturnya yang ambisius.

Kebutuhan infrastruktur Indonesia sangatlah besar—sekitar US$600 miliar, untuk dekade selanjutnya. Kebutuhan infrastruktur ini tersebar di seluruh penjuru negara kepulauan, membuat kesetaraan menjadi isu besar, karena kondisi politik dan sosial yang berbeda-beda.

Dari dana sebesar US$327 miliar yang dihabiskan untuk rencana lima tahun pertama, Jokowi masih perlu mencari dana sebesar US$159 miliar lagi. Baru 26 proyek, dari total 265, yang berhasil diselesaikan.

Dia ingin Indonesia memberi lebih banyak bantuan

Jokowi telah berusaha mengubah Indonesia dari penerima bantuan menjadi pemberi. Hal ini didorong oleh keinginannya menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia, terutama sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Sebagai cara untuk menyiapkan dana bantuan internasional dengan bujet satu triliun rupiah, Indonesia juga berkontribusi menjaga perdamaian di Afghanistan. Tahun lalu, Indonesia mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh, setelah terjadinya krisis pengungsi.

Dia memiliki pendekatan yang keras dan kontroversial soal narkoba

Sementara Presiden Filipina Rodrigo Duterte mendapat perhatian besar atas perangnya melawan obat-obatan terlarang, pemerintahan Jokowi juga melakukan pendekatan keras yang sama. Selaian eksekusi judisial terhadap para tahanan narkoba, juga ada laporan tentang polisi yang menembak mati tersangka.

Baca juga: Opini: Dikepung Massa, Akankah Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Dalam sebuah pidato pada bulan Juli 2017, Jokowi mengatakan: “Bertindak tegas, terutama kepada penjual narkoba asing yang memasuki negara dan menolak ditangkap. Tembak mereka, karena kita sedang berada pada posisi darurat narkoba saat ini.”

Pemerintahannya berjuang mempertahankan toleransi di tengah meningkatnya kereligiusan

Walaupun Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, mereka adalah negara sekular.

Indonesia mengakui beberapa agama resmi: Islam, Protestan, Katolik, Buddha, dan Hindu. Namun, kelompok Islam konservatif telah memberikan tantangan terhadap promosi Indonesia tentang keberagaman agama.

Pengaruh dari kelompok-kelompok tersebut telah menarik perhatian internasional, setelah tuntutan penistaan agama terhadap Gubernur Petahana Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ahok saat ini mendekam di penjara.

Jokowi telah menentang meningkatnya sentimen garis keras ini. Dia menarik dukungan dari kelompok Muslim aliran utama. Jokowi juga menetapkan dekrit presiden untuk melarang organisasi masyarakat yang menyangkal ideologi dasar Indonesia yang sekuler, Pancasila.

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo memberi hormat saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-73 di istana kepresidenan di Jakarta pada 17 Agustus 2018. (Foto: AFP/Sonny Tumbelaka)

5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Calon Petahana Pilpres 2019, Presiden Jokowi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top