Sejarah

5 Kesalahpahaman yang Nyaris Picu Perang Nuklir dan Akhiri Dunia

Berita Internasional >> 5 Kesalahpahaman yang Nyaris Picu Perang Nuklir dan Akhiri Dunia

Dua puluh empat tahun lalu, dunia nyaris berakhir akibat perang nuklir, yang bisa terpicu dari kesalahpahaman semata. Kejadian itu bukan satu-satunya kesalapahaman yang bisa picu akhir dunia. Berikut lima kesalahan yang bisa picu Perang Nuklir. 

Baca Juga: Keluar dari Perjanjian Senjata Nuklir, Trump Tingkatkan Ketegangan dengan China

Oleh: Dylan Matthews (Vox)

Hari ini, 25 Januari 2019, menandai peringatan ke-24 ketika dunia nyaris berakhir akibat perang nuklir. Tanggal 25 Januari 1995, sekelompok peneliti Amerika dan Norwegia meluncurkan roket penelitian Black Brant XII dari pulau Andøya di Lingkar Arktik dalam upaya mempelajari cahaya utara (aurora borealis).

Para ilmuwan telah memperingatkan Rusia, Amerika Serikat, dan 28 negara lain bahwa mereka merencanakan peluncuran, karena mereka tahu ada kemungkinan roket itu keliru dianggap sebagai serangan nuklir pertama. Tetapi seseorang lupa memberi tahu para teknisi radar Rusia. Para teknisi tersebut kemudian mengirim peringatan ke pemerintah Rusia menyarankan bahwa serangan pertama Amerika mungkin akan segera terjadi.

“Dalam beberapa menit, Presiden Boris Yeltsin membawa koper hitamnya yang berisi komando nuklir. Selama beberapa menit yang menegangkan, sementara Yeltsin berbicara dengan menteri pertahanannya melalui telepon, terdapat kebingungan yang menyelimuti,” tutur David Hoffman dari The Washington Post melaporkan beberapa tahun setelah insiden itu. “Hanya sedikit hal yang diketahui tentang apa yang dikatakan Yeltsin, tetapi saat itu mungkin merupakan saat-saat paling berbahaya dari zaman nuklir.”

Itu adalah, tutur Hoffman, pertama kali seorang pemimpin Rusia atau Soviet menggunakan koper nuklir sebagai tanggapan atas peringatan yang sebenarnya. Yeltsin menyimpulkan bahwa itu bukan serangan pertama dan tidak melakukan serangan balasan.

Tidak ada yang tahu pasti apakah serangan kedua Rusia akan mengirim hulu ledak yang berkekuatan cukup untuk memusnahkan dataran Amerika, tetapi kita harus bersyukur kita tidak perlu mencari tahu.

Tetapi, tentu saja, insiden tahun 1995 bukanlah satu-satunya momen di daerah nuklir ketika serangan nuklir nyaris terjadi. Berikut kesalahan nuklir lainnya yang hampir ciptakan perang:

1962

Tanggal 27 Oktober 1962, Vasili Arkhipov, seorang perwira angkatan laut Soviet, berada di kapal selam nuklir dekat Kuba ketika pasukan angkatan laut Amerika Serikat mulai menjatuhkan peledak kedalaman (depth charge), sebuah ledakan ringan yang bertujuan memberi sinyal bagi kapal selam untuk mengidentifikasi dirinya. Dua perwira senior di kapal selam tersebut berpikir bahwa perang nuklir telah dimulai dan bermaksud meluncurkan torpedo nuklir di kapal AS. Tetapi ketiga perwira senior itu harus menyetujui sebelum rudal itu ditembakkan, dan Arkhipov tidak setuju, yang pada akhirnya mencegah serangan nuklir.

1983

Tanggal 26 September 1983, Letnan Kolonel Stanislav Petrov menyaksikan ketika sistem peringatan dini serangan rudal Uni Soviet menampilkan, dalam huruf merah besar, kata “LAUNCH.” Terminal komputer Petrov secara bertahap mengindikasikan bahwa satu, kemudian dua, lalu tiga, dan akhirnya total lima rudal Amerika tengah masuk.

Baca Juga: Donald Trump: Amerika Akhiri Perjanjian Senjata Nuklir dengan Rusia

Petrov menolak melaporkan serangan itu, karena tahu bahwa jika itu terjadi, kemungkinan responnya adalah pembalasan nuklir sepenuhnya. Itu adalah keputusan yang tepat, karena sistem deteksi rudal Minuteman berpikir kemudian menyimpulkan bahwa itu sebenarnya hanya pantulan sinar matahari dari awan.

1958

Angkatan Udara Amerika Serikat juga pernah kehilangan bom nuklir di lepas pantai Georgia pada tahun 1958, di mana bom itu masih ada hingga sekarang. Ada juga senjata nuklir yang tertahan di lapangan di Faro, North Carolina, karena dalam kesempatan lain ketika Angkatan Udara melakukan kesalahan, bom itu nyaris meledak.

1980

Tahun 1980, sebuah rudal balistik antar-benua meledak di Damaskus, Arkansas, yang memiliki hulu ledak nuklir 9-megaton di atasnya, dengan kekuatan ledakan tiga kali lebih banyak daripada gabungan semua bom Perang Dunia II. Hulu ledak tersebut tidak meledak. Jika itu terjadi, sebagian besar wilayah Arkansas tidak akan bertahan seperti saat ini.

Baca Juga: Ancaman Perang Nuklir, Korea Utara kepada Trump: ‘Jangan Main Api!’

Kita dapat hidup dengan aman dengan mengetahui bahwa sebagian besar atau seluruh umat manusia tidak akan tiba-tiba menghilang karena kesalahan perhitungan oleh petugas radar di Rusia atau Amerika Serikat, dan bahwa orang-orang di dekat lokasi rudal tidak akan hangus terbakar secara tidak sengaja karena kesalahan teknisi. Atau kita dapat terus memiliki senjata nuklir. Tetapi kita harus memilih.

Keterangan foto utama: Peluncuran roket Black Brant XII dari Andøya Rocket Range pada tahun 2010, sekitar 15 tahun setelah peluncuran Black Brant XII yang lebih penting secara historis dari jangkauan itu. (Foto: Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA)

5 Kesalahpahaman yang Nyaris Picu Perang Nuklir dan Akhiri Dunia

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top