Ekonomi Dunia
Global

8 Risiko Politik Terbesar Tahun 2019 yang Pengaruhi Ekonomi Dunia

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. (Foto: Getty Images/Shutterstock/CNNMoney)
Berita Internasional >> 8 Risiko Politik Terbesar Tahun 2019 yang Pengaruhi Ekonomi Dunia

Tahun 2018 dipenuhi dengan berbagai masalah yang berdampak besar pada dunia, dan kemungkinan itu akan terus berlanjut sampai tahun 2019. Mulai dari perang dagang, Brexit, Laut China Selatan, hingga Partai Demokrat yang kuasai DPR Amerika Serikat, berikut delapan risiko politik terbesar tahun 2019 yang akan pengaruhi ekonomi dunia.

Baca juga: Perang Dagang Amerika-China: Akankah Mengubah Tatanan Ekonomi Dunia?

Oleh: Enda Curran (Bloomberg News)

Pemerintah negara-negara dunia berperilaku buruk—di mana para pemimpin populis dan otoriter mengabaikan aturan dan hubungan internasional—yang menimbulkan beberapa risiko terbesar bagi perekonomian dunia pada tahun 2019.

Bloomberg Economics mengatakan bahwa tahun depan siklus ini mungkin belum berakhir, “tetapi risiko terus bertambah dan sumber bahan bakar baru dibutuhkan.”

Berikut adalah beberapa masalah politik yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2019 mendatang.

(1) Perang Dagang

Jika ada satu hal yang disetujui Parta Demokrat dan Republik di Amerika Serikat (AS), itu adalah kebangkitan China yang merupakan tantangan bagi AS. Risiko yang bersumber dari China termasuk ancaman terhadap rantai pasokan teknologi, perluasan militer Beijing, dan upaya negara itu untuk merusak sanksi terhadap Korea Utara, menurut U.S.-China Economic and Security Review Commission, sebuah laporan tahunan yang disusun oleh panel kongres bipartisan.

Di sisi lain Pasifik, (Presiden China) Xi Jinping telah mempertaruhkan reputasinya dalam mengelola ambisi kebangkitan China sebagai kekuatan global. Dengan kedua negara tersebut berada dalam posisi yang saling berhadapan, perang dagang Amerika-China tetap menjadi risiko terbesar bagi ekonomi dunia.

Bahkan jika gencatan senjata G20 berlaku, perselisihan bisa mewakili tahap awal perang dingin ekonomi yang berkepanjangan. Jika Presiden AS Donald Trump menindaklanjuti ancaman untuk menjatuhkan tarif atas semua impor dari China, Bloomberg Economics memperkirakan hal itu akan menghantam 1,5 poin persentase pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China tahun 2019.

Itu akan menurunkan pertumbuhan menjadi lima persen, meskipun tanggapan kebijakan utama oleh China akan meringankan serangan itu.

(2) Suasana Politik di Italia

Pemerintah populis Italia terjebak dalam pertikaian dengan Brussels atas rencana anggaran, yang membuat investor dan otoritas Uni Eropa merasa tidak nyaman. Tahun depan bisa menjadi keberhasilan atau kehancuran, tidak hanya bagi pemerintahan populis, tetapi juga kemampuan Uni Eropa untuk menerapkan disiplin anggaran di negara-negara anggota.

Komisi Eropa mengatakan dalam tinjauan tahunan rencana anggaran negara-negara zona euro, bahwa anggaran Italia berada dalam “ketidakpatuhan yang sangat serius” dari batas-batas Uni Eropa.

Ketegangan antara mitra koalisi yang berkuasa—Five Star Movement dan Liga anti-migrasi—bisa menyebabkan runtuhnya aliansi tersebut sebelum atau setelah pemilihan Parlemen Eropa bulan Mei mendatang, yang akan menjerumuskan Italia ke dalam kekacauan politik. Bahkan jika pemerintah bertahan, Italia bisa mendapat tekanan di pasar keuangan. Hasil yang didapat dalam 10 tahun sudah merupakan yang tertinggi dalam lebih dari empat tahun.

(3) Brexit

Lanskap politik Inggris yang terputus telah mengaburkan jalan keluar Inggris dari Uni Eropa, dengan sedikit konsensus tentang bagaimana hal itu pada akhirnya akan tercapai. Di tengah situasi yang berubah-ubah, risiko perubahan pada Perdana Menteri, atau pemerintah, tetap tinggi.

“Brexit no-deal” bisa berarti PDB Inggris akan turun sekitar tujuh persen pada tahun 2030 dibandingkan dengan negara-negara lain di Uni Eropa, menurut Bloomberg Economics.

Brexit yang masih menetapkan Inggris dalam aturan Uni Eropa sekalipun, akan menimbulkan dampak ekonomi. Produksi kemungkinan akan menurun sebanyak tiga persen pada tahun 2030 dalam skenario tersebut.

Pemilu Paruh Waktu

Pemimpin Minoritas Dewan Nancy Pelosi (D-CA) membuat pernyataan sehari setelah Pemilu Paruh Waktu, di mana Senat Partai Republik mempertahankan mayoritas mereka, dan Demokrat mengambil alih kontrol DPR, di Capitol Hill di Washington, DC, pada 7 November 2018. (Foto: Reuters/Mike Theiler)

(4) DPR Amerika Dikuasai Partai Demokrat

Di AS, pengambilalihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) oleh Partai Demokrat dapat melumpuhkan agenda Trump, membuka jalan bagi penyelidikan tanpa batas ke dalam pemerintahannya, kampanye kepresidenannya, dan kerajaan bisnis keluarganya.

Itu berarti dua tahun kebekuan kebijakan, jadi lupakan tentang pemotongan pajak tambahan dan peningkatan belanja infrastruktur, dan bersiap untuk serangan drama periodik dan ancaman penutupan pemerintah.

DPR AS yang dikendalikan oleh Partai Demokrat bahkan dapat meluncurkan upaya untuk mendakwa Trump—meskipun jika sampai sejauh itu, nasib utama Presiden Trump akan berada di tangan Senat yang didominasi oleh Partai Republik.

(5) Pemilihan Umum

Tahun depan akan dilaksanakan pemilihan umum di beberapa negara berkembang, dengan implikasi yang luas untuk sikap kebijakan dan stabilitas pasar mereka. Argentina, India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Nigeria termasuk di antara mereka yang rakyatnya akan menuju ke tempat pemungutan suara.

Seperti yang terjadi pada pemilihan baru-baru ini di Brasil, orang kuat dengan platform non-konvensional terus menarik para pemilih. Pemilih lebih tertarik mengirim pesan kepada pemerintah yang berkuasa ketimbang mengganti pemerintah yang nantinya akan berperilaku sama saja.

Di antara negara-negara maju utama, Kanada dan Australia menghadapi pemilihan umum, meskipun pergeseran kebijakan yang radikal kurang mungkin terjadi di kedua negara ini.

(6) Perdagangan Minyak

Berkurangnya minyak telah mendorong politik Timur Tengah kembali menjadi sorotan. Hubungan AS dan Iran akan menjadi kunci, seperti juga arah pergerakan OPEC dan sekutu-sekutunya pada setiap pengurangan produksi minyak.

Baca juga: Perang Tarif Trump atas China Bisa Picu ‘Perfeksionisme Balas Dendam’ yang Ancam Perekonomian Dunia

Hubungan AS dengan Arab Saudi juga sedang diawasi. Trump mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan pembunuhan kolumnis Saudi yang berbasis di AS Jamal Khashoggi, membahayakan hubungan antara kedua negara tersebut, dan telah memperingatkan para wartawan bahwa jika AS mengacaukan hubungan dengan Arab Saudi, harga minyak akan “melejit tinggi.”

(7) Jalur Perairan Asia

Dengan Korea Utara menghentikan provokasi dan menempuh jalur diplomasi, jalur perairan Asia Timur bisa menjadi titik api terbesar di kawasan ini.

AS telah meningkatkan dukungan untuk Taiwan dan berencana untuk meningkatkan latihan navigasi kebebasan di Laut China Selatan, yang meningkatkan risiko salah perhitungan yang dapat memicu insiden dengan China.

Laut China Timur juga merupakan sumber kekhawatiran abadi.

(8) Serangan ‘Teror’ Tak Terduga

“Risiko terbesar saya tak begitu terkait dengan negara tertentu, risiko terbesar saya adalah serangan teror tak terduga,” Robin Niblett, Direktur Chatham House, mengatakan dalam sebuah wawancara.

Sebuah serangan dapat berbentuk seperti apa pun—termasuk serangan siber—dengan konsekuensi langsung terhadap ekonomi dunia, ketika insiden besar yang terjadi memicu reaksi dari pemerintah, kata Niblett.

Walau terdapat 10.900 serangan teroris pada tahun 2017—yang menewaskan lebih dari 26.400 orang—namun jumlah serangan menurun selama tiga tahun berturut-turut, menurut National Consortium for the Study of Terrorism dari Universitas Maryland.

Dengan bantuan pelaporan dari John Follain dan Rich Miller.

Keterangan foto utama: Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. (Foto: Getty Images/Shutterstock/CNNMoney)

8 Risiko Politik Terbesar Tahun 2019 yang Pengaruhi Ekonomi Dunia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top