Ada Apa di Balik Pembangunan Pabrik Bahan Peledak Baru Indonesia?
Berita Tentang Indonesia

Ada Apa di Balik Pembangunan Pabrik Bahan Peledak Baru Indonesia?

Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) memberi hormat kepada para pengawal penjaga kehormatan pada saat kedatangan untuk menghadiri KTT Asean dan pertemuan terkait di Filipina pada 12 November 2017. (Foto: Reuters)
Home » Berita Tentang Indonesia » Ada Apa di Balik Pembangunan Pabrik Bahan Peledak Baru Indonesia?

Pembukaan fasilitas tersebut dikatakan sebagai bukti tekad Indonesia untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri. Meskipun demikian, Indonesia masih harus menempuh jalan panjang untuk mencapai kemandirian dalam bidang ini.

Oleh: Prashanth Parameswaran (The Diplomat)

Pekan lalu, pemerintah Indonesia meresmikan sebuah pabrik bahan peledak baru. Ini merupakan wujud lain dari tekad Jakarta untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri yang tetap menjadi prioritas bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo, alias Jokowi.

Seperti yang telah saya catat sebelumnya, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah memberi sinyal tekad untuk membangun industri pertahanan dalam negeri dalam negeri karena berbagai alasan, mulai dari meningkatkan kemandiriannya hingga memberi kontribusi pada kemakmuran ekonomi negara tersebut.

    Baca Juga : Kredibilitas Jokowi Dipertaruhkan: Kemunduran Infrastruktur Cerminkan Banyak Risiko

Upaya untuk memenuhi tujuan ini berlanjut di bawah Jokowi, yang telah mengisyaratkan pendekatan multipel sejak menjabat kembali pada tahun 2014, mulai dari transfer teknologi hingga peningkatan pengelolaan perusahaan pertahanan milik negara.

Pada tanggal 7 Maret 2018, dalam manifestasi lain dari hal ini, perusahaan milik negara di Indonesia PT Dahana meresmikan fasilitas produksi baru di Subang, Jawa Barat. Peresmian fasilitas tersebut, yang dibangun di atas lahan seluas dua hektare, disaksikan oleh beberapa pejabat Indonesia, termasuk Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu serta personil pertahanan dan anggota pemerintah daerah.

Pabrik baru, yang nilainya sekitar $300 juta, akan dibangun, dimaksudkan untuk memproduksi propelan untuk berbagai senjata. Rencana pembangunan pabrik ini pertama kali disusun pada tahun 2013 menjelang akhir masa jabatan pendahulu Jokowi, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang membukukan kemajuan dari beberapa langkah penting termasuk sebuah peraturan baru mengenai industri pertahanan.

Dalam sambutannya pada upacara tersebut, Ryacudu menyebut pabrik baru tersebut sebagai langkah penting dalam memperkuat industri pertahanan negara tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, kementerian pertahanan Indonesia mengatakan pabrik baru tersebut akan membantu mengurangi ketergantungan militer Indonesia pada teknologi propelan dan bahan baku impor. Target produksi tahunan telah direncanakan untuk berbagai bidang termasuk nitrogliserin, propelan roket, dan bubuk spherical.

Meskipun demikian, Indonesia masih harus menempuh jalan yang panjang untuk mencapai kemandirian dalam bidang ini. Hal ini masih sangat bergantung pada impor untuk kebutuhan pertahanannya. Dan bahkan direktur PT Dahana, Budi Antono, mencatat bahwa masih banyak yang harus diselesaikan di beberapa area yang lebih spesifik seperti propelan dan amonium nitrat.

    Baca Juga : Ambisi Pembangunan Infrastruktur Indonesia Memakan Korban Nyawa

Membuat kemajuan dalam bidang ini tidak hanya akan membutuhkan usaha PT Dahana, namun juga bekerja sama dengan perusahaan lain seperti PT Pindad yang merupakan bagian dari usaha untuk National Defence and Hightech Industries (NDHI).

Prashanth Parameswaran adalah Senior Editor di The Diplomat yang berbasis di Washington, D.C., di mana dia kebanyakan menulis tentang Asia Tenggara, urusan keamanan Asia dan kebijakan luar negeri A.S. di Asia Pasifik. Dia juga kandidat PhD di Fletcher School of Law dan Diplomacy di Tufts University.

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) memberi hormat kepada para pengawal penjaga kehormatan pada saat kedatangan untuk menghadiri KTT Asean dan pertemuan terkait di Filipina pada 12 November 2017. (Foto: Reuters)

Ada Apa di Balik Pembangunan Pabrik Bahan Peledak Baru Indonesia?
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top