Program Magang ke Taiwan
Berita Politik Indonesia

Ada Laporan Kerja Paksa, Indonesia Bekukan Program Magang ke Taiwan

Para Tenaga Kerja Indonesia dan Filipina memperlihatkan tanda-tanda yang bertuliskan "naikkan gaji dasar buruh", selama demonstrasi untuk memperingati Hari Buruh tahunan di Taipei pada tanggal 1 Mei 2016. (Foto: AFP)
Berita Internasional >> Ada Laporan Kerja Paksa, Indonesia Bekukan Program Magang ke Taiwan

Indonesia membekukan program magang ke Taiwan, setelah terdapat laporan bahwa mahasiswa di sana harus melakukan kerja paksa di pabrik selama empat hari seminggu. Laporan itu juga menuduh bahwa para siswa diberi makan makanan yang mengandung daging babi. Pihak berwenang Taiwan dan mahasiswa Indonesia di sana telah membantah tuduhan itu.

Baca juga: Majikan Penyiksa Dibebaskan Lebih Cepat, TKI di Hong Kong Tuntut Penjelasan

Oleh: Radio Free Asia

Indonesia membekukan program magang universitasnya di Taiwan, setelah sebuah laporan media menuduh bahwa ratusan peserta mahasiswa dipaksa bekerja di pabrik dan makan makanan yang mengandung daging babi, kata Kementerian Luar Negeri pada Kamis (3/1).

Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan meminta pihak berwenang Taiwan untuk mengklarifikasi laporan media tersebut, kata Arrmanatha Nasir, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia. Seorang anggota parlemen di Taiwan menuduh bahwa para pelajar Indonesia dipaksa bekerja empat hari seminggu dan bukannya menghadiri kelas.

“Indonesia akan menghentikan pengiriman siswa untuk sementara waktu di bawah skema studi-magang, hingga ada kesepakatan tentang pengaturan yang lebih baik,” kata Arrmanatha dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke BenarNews, layanan berita online yang berafiliasi dengan RFA.

Sementara itu, anggota DPR Martin Hutabarat, mendesak pemerintah untuk menyelidiki tuduhan tersebut.

“Saya pikir pemerintah Taiwan akan secara serius memeriksa kebenaran berita itu demi hubungan baik dengan Indonesia. Pemerintah harus bergerak cepat untuk menemukan kebenaran,” kata Martin kepada BenarNews.

Pada tahun 2016, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen meluncurkan New Southbound Policy (NSP)—sebuah program pertukaran untuk mempromosikan kerja sama antara Taiwan dan 18 negara Asia.

Sekitar 6.000 warga negara Indonesia belajar di Taiwan, termasuk 1.000 peserta program magang yang terdaftar di delapan universitas, menurut Kementerian Luar Negeri.

KDEI telah mendesak pihak berwenang Taiwan untuk mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa kesejahteraan dan kepentingan siswa Indonesia dilindungi.

Pekan lalu, legislator Taiwan Ko Chih-en, mengatakan bahwa enam universitas telah mengirim siswa di bawah program NSP untuk bekerja di pabrik, menurut laporan di Taiwan News, surat kabar berbahasa Inggris tertua di Taiwan.

Ko mengutip sebuah kasus di mana 300 siswa Indonesia yang mendaftar di Universitas Hsing Wu dipaksa bekerja empat hari seminggu di sebuah pabrik tempat mereka mengemas lensa kontak selama 10 jam per shift. Mereka diizinkan menghadiri kelas dua hari seminggu dan memiliki satu hari istirahat, kata laporan itu.

Bagaimana Upaya Baru China untuk Menghapus Taiwan?

Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen. (Foto: AP)

Kunjungan universitas

Kendra Chen—juru bicara Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei di Jakarta—membantah laporan itu dan menyebutnya salah.

“Apa yang ingin kami tekankan di sini adalah bahwa Taiwan selalu menjaga kesejahteraan anggota diaspora Indonesia di Taiwan—baik itu pelajar, pekerja, atau pasangan mereka,” kata Chen kepada BenarNews.

Para pejabat dari Departemen Pendidikan Taiwan dan KDEI mengunjungi Universitas Hsing Wu pada Kamis (3/1) untuk mencari klarifikasi, kata Chen.

“Para siswa Indonesia di sana menyangkal ada masalah seperti yang dikatakan dalam laporan itu. Sebanyak 217 siswa di Universitas Hsing Wu bahkan menandatangani surat bersama dan membuat video untuk menunjukkan dukungan mereka kepada universitas tersebut,” katanya.

Baca juga: Hubungan Indonesia-Saudi Memanas atas Eksekusi Mati TKI

Chen mengatakan bahwa para siswa percaya tuduhan itu dibuat oleh orang-orang dengan niat buruk, dan menambahkan bahwa KDEI Taiwan di Jakarta akan mengadakan konferensi pers pada Jumat (4/1) untuk menyelesaikan masalah ini.

Ko juga menuduh bahwa para siswa diberi makan makanan yang mengandung daging babi—yang dilarang bagi umat Muslim. Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Taiwan untuk menghormati kebebasan beragama.

“Lebih baik menghindari kebijakan yang merugikan dan bertentangan dengan hukum internasional,” kata Muhyiddin Junaidi, pemimpin departemen urusan luar negeri MUI.

Dilaporkan oleh BenarNews, layanan berita online yang berafiliasi dengan RFA.

Keterangan foto utama: Para Tenaga Kerja Indonesia dan Filipina memperlihatkan tanda-tanda yang bertuliskan “naikkan gaji dasar buruh”, selama demonstrasi untuk memperingati Hari Buruh tahunan di Taipei pada tanggal 1 Mei 2016. (Foto: AFP)

Ada Laporan Kerja Paksa, Indonesia Bekukan Program Magang ke Taiwan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top