investasi china
Afrika

Afrika Khawatir Aliran Investasi China akan Surut

Berita Internasional >> Afrika Khawatir Aliran Investasi China akan Surut

Melambatnya pertumbuhan dan meningkatnya utang di dalam negeri dapat memengaruhi kemampuan China untuk mempertahankan investasi besarnya di negara berkembang. Afrika terutama, adalah yang paling mengkhawatirkan hal ini. Dengan adanya investasi China di beberapa negara Afrika yang bernilai lebih dari beberapa pengeluaran domestik negara-negara itu sendiri, para analis khawatir akan prospek investasi yang lebih lemah di masa depan dan memudarnya permintaan untuk ekspor komoditas.

Baca Juga: Monster Tersembunyi di Balik Diplomasi China

Oleh: Richard Partington (the Guardian)

Kekhawatiran atas pertumbuhan China bisa menimbulkan masalah bagi Afrika dan negara berkembang lainnya. Pemerintah China mengucurkan pendanaan atas ledakan investasi di luar negeri dalam beberapa dekade terakhir seiring upayanya untuk menjadi negara adidaya ekonomi terbesar kedua di dunia, sementara membeli sejumlah besar sumber daya alam yang diproduksi oleh negara-negara berkembang.

Skala ekspansi tersebut merupakan bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan China yang bernilai miliaran Dolar AS, kampanye yang didukung negara untuk mempromosikan pengaruhnya di seluruh dunia, sambil memberikan stimulus bagi pelambatan ekonominya sendiri. Proyek pengembangan lintas benua yang diluncurkan oleh Presiden China Xi Jinping pada tahun 2013 tersebut bertujuan untuk meningkatkan hubungan infrastruktur antara Asia, Eropa, dan Afrika, dengan tujuan agar China memperoleh manfaat dari meningkatnya tingkat perdagangan global.

Namun, ketegangan yang memuncak antara China dan Amerika Serikat telah menghambat peningkatan tingkat perdagangan dunia. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan China akan melambat menjadi 6,2 persen tahun ini, dari sekitar 6,6 persen pada 2018, karena meningkatnya sengketa perdagangan yang meletus tahun lalu. Terdapat juga kekhawatiran yang meningkat atas utang yang bertumbuh cepat di China, yang digunakan untuk mendorong ekspansi selama dekade terakhir.

Dengan adanya investasi China di beberapa negara Afrika yang bernilai lebih dari beberapa pengeluaran domestik negara-negara itu sendiri, para analis khawatir akan prospek investasi yang lebih lemah di masa depan dan memudarnya permintaan untuk ekspor komoditas.

Angka-angka dari badan pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Unctad, menunjukkan bahwa pelemahan harga komoditas global pada tahun 2014 dan 2015 menyebabkan arus investasi asing langsung ke Afrika turun dari 55 miliar Dolar AS pada tahun 2015 menjadi 42 miliar pada tahun 2017, menunjukkan bagaimana Afrika mungkin turut terdampak oleh perlambatan ekonomi China.

Richard Kozul-Wright, direktur divisi untuk globalisasi dan strategi pembangunan di Unctad, mengatakan bahwa, “China telah melambat secara bertahap selama dua atau tiga tahun terakhir, bertepatan dengan ekspansi yang berlanjut di luar negeri. Apakah guncangan saat ini terkait dengan perdagangan dan meningkatnya kekhawatiran tentang utang akan memburuk secara signifikan, saya kira kita belum yakin. Itu adalah ketidakpastian besar.”

Craig Botham, ekonom pasar negara berkembang di perusahaan investasi City, Schroders, memperingatkan bahwa permintaan komoditas China yang lebih lemah dapat berdampak negatif pada pasar negara berkembang. “Itu berarti pertumbuhan yang lebih lambat bagi siapa pun yang memiliki hubungan ekspor dengan China.”

Baca Juga: China Timbulkan Kekhawatiran Akan ‘Kolonialisme Baru’ dengan Investasi $60 M di Afrika

Pinjaman luar negeri dari dua bank pembangunan utama China mencapai 675 milyar dolar AS pada akhir 2016, lebih dari dua kali lipat pinjaman dari Bank Dunia, yang memiliki kewenangan untuk mengatasi kemiskinan di negara berkembang, dengan pembangunan Afrika menjadi fokus berbagai institusi China.

Lebih dari empat perlima dari jumlah yang dihabiskan China untuk konstruksi di luar negeri digunakan untuk ekonomi berpenghasilan rendah atau menengah. Menurut Unctad, China memegang saham terbesar keempat dari investasi asing langsung di Afrika senilai 40 miliar dolar AS, di belakang AS pada angka 57 miliar dolar AS, Inggris pada 55 miliar dolar AS, dan Prancis pada 49 miliar dolar AS.

Investasi dikucurkan ke proyek-proyek bantuan hingga infrastruktur, termasuk bantuan untuk mengembangkan lebih dari 18.000 mil jalan raya, 1.200 mil rel, dan meningkatkan kapasitas pelabuhan sekitar 85 juta metrik ton per tahun.

Menurut Deloitte, China adalah negara penyandang dana satu-satunya yang paling terlihat dan pembangun proyek-proyek infrastruktur di Afrika, setelah menghabiskan rata-rata 11,5 miliar Dolar AS per tahun sejak tahun 2012, sekitar sepertiga dari seluruh pengeluaran pemerintah Afrika, yang bernilai rata-rata 30,1 miliar Dolar AS.

Meskipun ada risiko yang dihadapi negara berkembang dari perlambatan ekonomi China, para ahli mengatakan bahwa China kemungkinan akan tetap berpengaruh signifikan. Para pejabat telah berkomitmen pada akhir tahun 2018 untuk menghabiskan 60 miliar dolar AS di Afrika selama tiga tahun ke depan, meskipun terdapat kekhawatiran bahwa proyek ini mungkin membebani negara-negara berkembang dengan utang terlalu banyak, ketika ekonomi dunia mulai goyah.

Razia Kahn, kepala ekonom untuk Afrika dan Timur Tengah di Standard Chartered, mengatakan “[China] akan mengalami kemerosotan yang sangat parah terlebih dahulu” sebelum memengaruhi Afrika. Perkiraan konsensus untuk pertumbuhan PDB China adalah 6,2 persen, yang menurutnya “masih menunjukkan laju pertumbuhan yang sangat sehat.”

Kozul-Wright di Unctad mengatakan bahwa, “Bobot China dalam ekonomi global akan terus tumbuh dan jejaknya akan terus bertambah. Meski tidak dengan cara yang sama seperti 20 tahun terakhir, gagasan bahwa Trump dapat mengembalikan jin [China] ke dalam botol tampaknya agak naif.”

Keterangan foto utama: Staf stasiun bersiap untuk menyambut kereta api di stasiun jalur kereta buatan China di Nairobi, Kenya. (Foto: Reuters/Thomas Mukoya)

Afrika Khawatir Aliran Investasi China akan Surut

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top