Ahok, Sosok yang Terus Menarik Perhatian
Berita Politik Indonesia

Ahok, Sosok yang Terus Menarik Perhatian

Ahok, Sosok yang Terus Menarik Perhatian

Terdapat tiga alasan mengapa Ahok menjadi sosok yang terus menarik perhatian. Pertama, karir politiknya yang panjang telah menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang tidak gentar; Kedua, tuntutan terhadap Ahok, meski tidak dapat disangkal merusak secara politis, masih diperdebatkan secara luas; Dan yang ketiga dan yang terpenting, pria yang menjadi tokoh politik paling banyak dibicarakan di Twitter tahun lalu tersebut, bisa mendapat keuntungan dari pergantian generasi di kalangan pemberi suara dalam pemilu Indonesia.

Oleh: Ary Hermawan (The Straits Times)

Menengok ke belakang, tampak bahwa Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama telah menjadi Kim Kardashian dalam perpolitikan Indonesia.

Hampir satu tahun setelah kekalahannya dalam pemilihan gubernur ibu kota Jakarta, dan tuduhan penistaannya yang kontroversial, mantan gubernur DKI Jakarta tersebut belum benar-benar keluar dari sorotan publik.

Jadi tidak mengherankan, ketika berita tersebar bahwa Ahok telah menggugat cerai istrinya, Veronica Tan, pengguna Twitter Indonesia menjadi gila.

The Jakarta Post jelas bukan tempat untuk bergosip tentang kehidupan pribadi Ahok, namun perhatian terus-menerus yang diberikan kepadanya, dapat memberikan gambaran sekilas mengenai apa yang akan dihadapi oleh salah satu politisi paling populer di Indonesia tersebut, dan mengapa potensi kembalinya Ahok bisa mengubah perpolitikan Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Banyak yang berpendapat bahwa karir politik Ahok telah berakhir ketika ratusan ribu orang turun ke jalan di Jakarta untuk menuntut penahanannya atas penistaan agama. Itu adalah penilaian yang sesuai, mengingat seluruh kecemasan yang diutarakan berkali-kali oleh para analis asing seperti mantra, mengenai perubahan dramatis Indonesia menuju konservatisme.

Tapi saya berpendapat bahwa Ahok masih menjadi salah satu dari sedikit orang yang patut diperhatikan di Indonesia. Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa.

Pertama, karir politiknya yang panjang telah menunjukkan bahwa ia tidak gentar; Kedua, tuntutan terhadap Ahok, meski tidak dapat disangkal merusak secara politis, masih diperdebatkan secara luas; Dan yang ketiga dan yang terpenting, pria yang menjadi tokoh politik paling banyak dibicarakan di Twitter tahun lalu tersebut, bisa mendapat keuntungan dari pergantian generasi di kalangan pemberi suara dalam pemilu Indonesia.

Ahok, Sosok yang Terus Menarik Perhatian

Mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang dikenal sebagai Ahok, dapat memperoleh keuntungan dari pergantian generasi di antara pemberi suara dalam pemilu Indonesia, jika ia memutuskan untuk kembali terjun di dunia politik. (Foto: Reuters)

Ahok telah membangun karir politik yang gemilang sejak terpilih pada tahun 2005 sebagai bupati Bangka Belitung. Popularitasnya memuncak saat dilantik sebagai Gubernur Jakarta pada tahun 2014 untuk menggantikan Joko “Jokowi” Widodo, dimana ia menawarkan jenis kepemimpinan baru yang membuat lawan-lawan politik terlihat tidak relevan dan tidak kompeten di mata pemberi suara.

Memang benar, ia kalah dalam pemilu gubernur, namun kekalahannya terjadi setelah serangkaian demonstrasi yang dipenuhi dengan gagasan sektarian penuh kebencian, dan bahkan ancaman kematian. Ahok—terlepas dari segala kekurangannya—tidak mundur, terlepas dari seluruh intimidasi yang ia hadapi.

Politisi China-Kristen tersebut akan berjuang melawan stigma penista agama, namun banyak yang menyadari bahwa dia adalah korban hukum draconian kuno (hukum digunakan sebagai alat penekan).

Tuntutan terhadap Ahok ditantang tidak hanya oleh para aktivis hak asasi manusia, tapi juga sejumlah ilmuwan Muslim yang percaya bahwa Ahok tidak melakukan kesalahan apa pun.

Ahok menerima tuntutan terhadapnya dan menghentikan usaha hukum untuk melawan tuntuan tersebut. Hal ini bukan berarti bahwa ia mengakui kesalahan, namun hal ini bisa mengirim pesan yang benar kepada para pemberi suara Muslim, bahwa dia ingin mengakhiri masalah ini.

Meski begitu, Ahok masih memiliki kesempatan untuk kembali ke dunia politik. Dan mengingat kemungkinan perubahan perilaku akibat pergantian generasi di antara para pemberi suara Indonesia, Ahok bisa mengalahkan banyak pesaingnya.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) pada Agustus lalu, para kaum milenial mencari wajah baru dalam dunia politik.

Presiden Jokowi, Prabowo Subianto, dan Ridwan Kamil sekarang masih merupakan kandidat presiden paling populer di antara pemilih berusia antara 17 dan 29 tahun, survei tersebut menunjukkan.

Ahok menempati urutan ketujuh, setelah Ibu Tri Rismaharini, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jenderal Gatot Nurmantyo.

Dari tujuh besar tersebut, hanya Ahok dan Ridwan Kamil yang lahir setelah tahun 1965, dan memiliki banyak pendukung online, dan banyak dipandang sebagai politisi yang berasal dari kalangan luar.

Pada saat ini, Ridwan Kamil tampaknya siap meraih sebagian besar suara kelompok milenial, namun mengadu antara Ahok dan Ridwan Kamil satu sama lain tidaklah adil, dimana Ridwan Kamil mencalonkan diri sebagai gubernur di Jawa Barat, sementara Ahok dipenjara.

Survei CSIS tersebut mungkin akan menunjukkan hasil yang berbeda jika dilakukan setelah Ahok menyelesaikan hukumannya dan melancarkan kampanye politik.

Dengan asumsi bahwa dia diberi remisi Hari Natal dan Hari Kemerdekaan, dan dianggap memenuhi pembebasan bersyarat, Ahok dapat dibebaskan pada bulan Agustus tahun ini.

Dia memiliki kesempatan untuk melampaui kemampuan Ridwan Kamil, dimana Ahok telah membangun basis politik yang siap untuk menghadapi lawan-lawan politiknya. Pendukung Ridwan Kamil tidak begitu militan dan terorganisasi seperti “Ahoker”, yang telah memperkuat dan membentuk sebuah partai politik untuk mengikuti pemilihan legislatif tahun 2019.

Partai yang dimaksud, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), secara terbuka dan agresif berusaha merebut suara kaum milenial. Partai tersebut, tentu saja, dipenuhi oleh politisi pemula tanpa pengalaman sedikit pun, dan tidak memiliki sosok simbolis untuk mengumpulkan dukungan.

Ini adalah angan-angan untuk percaya bahwa para pemula politik di PSI akan dapat menggoyahkan politik tahun depan, namun Ahok dapat mengubah kesempatan mereka, jika politisi independen tersebut memutuskan untuk memanfaatkannya sebagai kendaraan politiknya.

Namun, kaum milenial dikenal tidak dapat diprediksi dan sulit untuk merasa puas. Tidak ada jaminan bahwa mereka bisa lebih progresif dan kurang sektarian, namun faktanya adalah bahwa para pemilih lama yang memberi suara untuk partai-partai lama dan para politisi lama mereka akan segera pergi, dan pergantian generasi membuat para pemberi suara untuk memilih partai baru.

Partai-partai lama menyadari perubahan perilaku dalam pemungutan suara, namun tidak semua dari mereka berusaha menyesuaikan diri. Hal ini menjadi alasan bahwa pada tahun 2024, Ahok dan para pendukungnya bisa lebih siap daripada yang lain dalam menarik perhatian kelompok milenial, yang pada saat itu akan menjadi pemilih yang dominan.

JAKARTA POST/ASIA NEWS NETWORK

Keterangan foto utama: Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama saat tiba di pengadilan. (Foto: AFP)

Ahok, Sosok yang Terus Menarik Perhatian

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top