Scott Morrison
Australia

Akui Yerusalem Barat Ibu Kota Israel, Scott Morrison Dikecam oleh…Israel

Berita Internasional >> Akui Yerusalem Barat Ibu Kota Israel, Scott Morrison Dikecam oleh…Israel

Perdana Menteri Australia Scott Morrison sedang berusaha untuk membereskan kekacauan yang dibuatnya sendiri, tapi malah menciptakan kekacauan baru. Keputusannya untuk mengumumkan bahwa Australia mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel, tidak hanya dikecam oleh negara-negara pro Palestina, tapi juga oleh Israel sendiri. Hal ini juga menjadikan Morrison olok-olok di dalam negeri.

Baca Juga: Siapakah Scott Morrison, Perdana Menteri Australia yang Baru?

Oleh: Tony Walker (The Conversation)

Perdana Menteri Scott Morrison akan mendapatkan pelajaran yang berharga mengenai kebijakan luar negeri setelah keputusannya beberapa hari terakhir yang berkaitan dengan kota suci.

Sebagaimana kamu menabur, demikianlah kamu akan menuai (Galatia 6: 7).

Ketika Morrison menuruti angan-angan semu yang dimilikinya menjadi sebuah langkah politik untuk menutupi keputusasaan partai Liberal dalam upaya mengamankan kursi di pemilihan umum di Wentworth, dia sama sekali tidak memperhitungkan bagaimana hal tersebut akan berdampak pada kredibilitasnya sendiri dan kebijakan luar negeri negaranya.

Sang Perdana Menteri amatir tersebut membuat keputusan yang sangat disayangkan ketika ia tiba-tiba memutuskan untuk ikut campur dalam perpolitikan di Timur Tengah dengan mengumumkan bahwa Australia akan mempertimbangkan untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem, dan juga akan mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Keputusan yang kedua tersebut berkaitan dengan dokumen setebal 159 halaman yang dirundingkan oleh anggota tetap Dewan Keamanan PBB beserta Jerman. Dokumen tersebut membahas mengenai kesediaan Iran untuk menghentikan aktivitas program nuklir mereka.

Dalam beberapa kesempatan, Morrison menunjukkan bahwa Pemerintah Australia akan melanjutkan komitmennya untuk melaksanakan kesepakatan JCPOA, yang menjadikan mereka berseberangan paham dengan Amerika Serikat (AS). AS telah mengumumkan bahwa mereka akan meninggalkan kesepakatan JCPOA, menuntut bentuk negosiasi lain dengan skema kerjasama yang lebih baik.

Dalam upayanya untuk mencuri dukungan suara dari penduduk Yahudi di Wentworth, upaya marketing Morrison yang dangkal menunjukkan sinyal bahwa keputusannya memberikan dampak yang kurang baik bagi permasalahan kebijakan.

Dia telah menunjukkan bahwa keputusannya yang pertama kali merupakan tindakan yang tergesa-gesa, dan sekarang nampaknya berupaya memperbaiki kesalahannya dengan usaha—yang kelihatannya tidak membuahkan hasil—untuk menyingkirkan jarum yang muncul dari pengumuman kebijakan luar negerinya minggu ini.

Jika kita mencoba lebih jauh merentangkan tafsir Alkitab, kita dapat memahami bahwa dalam kaitannya dengan Timur Tengah, akan lebih mudah bagi seekor unta untuk menghindari tusukan ujung jarum ketimbang bagi para politisi untuk mengubah status quo dalam posisi Australia di perpolitikan Arab-Israel yang menjengkelkan.

Baca Juga: Morrison pada Jokowi: Australia Akan Ambil Keputusan Kedutaan Jelang Natal

Apa yang akan terjadi sekarang—yang kemungkinan besar tidak dapat dihindari—setelah Morrison mengumumkan bahwa Australia akan mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel dan mendirikan kantor perwakilan disana, adalah tanggapan negatif tidak hanya dari negara-negara Muslim, tapi juga dari Israel sendiri.

Seorang Perdana Menteri dari Australia tiba-tiba muncul ke peredaran untuk mendukung negara Israel, hanya untuk mendapatkan kritik dari Israel sendiri yang tidak menyetujui pendapatnya yang memisahkan Yerusalem Barat milik Yahudi dan Yerusalem Timur milik Arab.

Di dalam hukum dasar Israel, konstitusi tersebut menyatakan bahwa wilayah Yerusalem secara keseluruhan dianggap menjadi ibu kota negara tersebut selama-lamanya. Pernyataan tersebut kembali didukung oleh suara anggota Knesset diawal tahun ini.

Reaksi rakyat Israel terhadap pengumuman Morrison adalah dengan menganggapnya sebagai “sebuah langkah ke jalan yang benar”. Bagaimanapun, setelah mereka mengetahui implikasinya, para punggawa publik Israel mulai mengindahkan “pengakuan” Australia terhadap klaim rakyat Palestina mengenai Yerusalem sesuai dengan status terakhir perjanjian damai.

Salah satu reaksi yang umum adalah misalnya, sebuah kicauan dari Tzachi Hanegbi, seorang anggota Knesset dari partai nasionalis Likud yang juga menjadi orang kepercayaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

“#Australia adalah teman baik #Israel dan kami sangat menghargai persahabatan dan hubungan hangat. Tapi tidak ada yang namanya ‘Yerusalem Barat’ dan ‘Yerusalem Timur’. Yang ada hanya Yerusalem, ibu kota abadi dan tak terpecah negara Israel,” tulis Hanegbi di akun Twitter-nya.

Yuli Edelstein, seorang juru bicara Knesset, menyampaikan lebih jauh.

Kami berharap lebih banyak dari negara sahabat seperti Australia [..] Saya berharap bahwa tanggapan kita yang dingin menjadi pertanda yang jelas bagi Australia bahwa pernyataan mereka tidaklah seperti yang kita harapkan.

Sejauh ini, Netanyahu belum memberikan komentar apapun secara terbuka hingga waktu artikel ini ditulis.

Dalam pidatonya pada hari Sabtu (15/12) di acara di Institut Sydney, Morrison menyampaikan keberpihakannya dalam kasus Yerusalem. Dalam prosesnya tersebut, Morrison tidak hanya membuat nasionalis kanan Israel geram, tapi juga menjadikan dirinya sebagai pusat kritik di negaranya sendiri dan di kawasan.

Berikut merupakan cuplikan dari pernyataan Morrison:

Australia sekarang mengakui Yerusalem Barat, yang menjadi tempat beraktivitas Knesset dan institusi pemerintahan lainnya, sebagai ibukota dari Israel [..] lebih lanjut, sebagai bentuk dukungan kami terhadap solusi dua negara, Pemerintah Australia juga telah memutuskan untuk menerima aspirasi rakyat Palestina atas upaya pembentukan negara Palestina dengan ibukotanya di Yerusalem Timur.

Meskipun Morrison menggunakan istilah “menerima” ketimbang “mengakui” dalam pernyataanya mengenai aspirasi masyarakat Palestina, hal tersebut tetap dianggap sebagai sesuatu yang melangkahi Artikel Iman Israel dikarenakan tercantum dalam pernyataan akhir status negosiasi damai.

Kegigihan Israel mengenai Yerusalem yang secara keseluruhan berada di bawah kekuasannya selama-lamanya bertentangan dengan konsensus internasional yang menyatakan bahwa Yerusalem Timur masih menjadi wilayah yang dikuasai Arab semenjak perang enam hari tahun 1967.

Baca Juga: Morrison Cari Bantuan Terkait Perpindahan Kedutaan ke Yerusalem

Australia telah mendukung banyak resolusi PBB hingga sekarang ini, termasuk di antaranya resolusi Dewan Keamanan PBB 242 tahun 1967 dan resolusi 338 tahun 1973 yang memerintahkan Israel untuk mundur dari wilayah berpenduduk dalam perang.

Dalam upayanya untuk mendapatkan suara dari pendukung Israel, Morrison menegaskan kembali pembagian tersebut, yang kemudian membuat geram pemerintah Israel dan mengusik para pendukung Israel di Australia, terlepas dari dukungan yang mereka tunjukkan dalam kejadian baru-baru ini.

Perlu ditekankan bahwa posisi Australia sekarang jauh berbeda dengan posisi Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat telah mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel awal tahun ini tanpa membeda-bedakan Yerusalem timur dan barat.

Dalam pidatonya di Institut Sydney, Morrison mengindikasikan bahwa dia dan para pegawainya telah menunjukkan upaya terbaik mereka untuk memilih kalimat yang dapat menunjukkan konsistensinya terhadap janji untuk meninjau ulang posisi Australia dalam permasalahan Yerusalem.

Pertimbangan ulang tersebut menyertakan juga konsultasi dengan:

…beberapa pembuat kebijakan penting di Australia: mantan pejabat Kepala dari beberapa agensi dan kementerian termasuk pertahanan, hubungan luar negeri, maupun Perdana Menteri dan Kabinet.

Saran yang diberikan kepada Morrison dari kelompok yang dikenal dengan “kelompok referensi pembuat kebijakan penting di Australia” terlihat begitu jelas bahwa mereka tidak terlalu berminat untuk mengubah status quo.

Dengan kata lain, Australia harus mengikuti kebijakan yang telah ditentukan.

Morrison telah memilih untuk mengindahkan saran tersebut setelah dia berkomitmen untuk peninjauan ulang. Dalam prosesnya, Australia secara tidak langsung juga membahayakan dirinya atas tanggapan negatif dari negara tetangga seperti Indonesia, Malaysia, dan negara-negara arab. Di dalam negeri, dia telah menjadikan dirinya sebagai pusat olok-olok karena telah menempatkan posisi kebijakan luar negeri Australia dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Segala situasi ini menjadi berantakan, yang disebabkan oleh keputusan Morrison sendiri hanya untuk keuntungan politik dalam negeri yang bersifat jangka pendek.

Keterangan foto utama: Upaya Perdana Menteri Australia Scott Morrison untuk mendapatkan suara dari komunitas Yahudi menjadi bumerang. (Foto: AFP/Mark Graham)

Akui Yerusalem Barat Ibu Kota Israel, Scott Morrison Dikecam oleh…Israel

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top