Ma'ruf Amin
Berita Politik Indonesia

Alasan Mengapa Jokowi Perlu Menggandeng Ma’ruf Amin

Berita Internasional >> Alasan Mengapa Jokowi Perlu Menggandeng Ma’ruf Amin

Konservatisme Islam tengah meningkat di Indonesia. Ajang berkumpulnya puluhan ribu umat Islam yang menyebut acara itu sebagai “Reuni 212” menjadi salah satu buktinya. Dan menegaskan keputusan kenapa Jokowi memilih ulama konservatif Ma’ruf Amin sebagai pendampingnya dalam Pilpres 2019.

Baca Juga: Label Halal Jadi Wajib, Taktik Kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin?

Oleh: Sheith Khidhir (The Asean Post)

Indonesia sebagai populasi Muslim terbesar di dunia baru-baru ini dipenuhi aksi oleh puluhan ribu umat Islam di Jakarta. Panitia menyebut gerakan mereka sebagai “Reuni 212,” merujuk pada serangkaian aksi pada akhir tahun 2016 yang ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama, gubernur Kristen-China pertama Jakarta, yang dituduh melakukan penistaan terhadap agama Islam dan kitab suci Alquran.

Aksi tersebut, yang dipadati banyak orang berpakaian putih dan membawa bendera tauhid, juga dihadiri oleh jenderal purnawirawan Prabowo Subianto yang mencalonkan diri sebagai presiden melawan kandidat presiden petahana Joko “Jokowi” Widodo. Pemilihan presiden Indonesia 2019 akan menjadi ajang kedua kalinya mereka bertemu sejak pilpres 2014 di mana Jokowi, seorang Muslim sejak lahir, menang meskipun dibombardir dengan serangkaian kampanye hitam yang bertujuan menyerang kurangnya semangat keagamaannya.

Tahun 2016, Jakarta mengalami ketegangan agama dan politik. Selama tahun yang panas itu, Ahok kehilangan peluangnya untuk terpilih kembali, bersaing dengan kandidat gubernur Muslim saat itu, Anies Rasyid Baswedan. Ia kemudian dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena kasus penistaan agama ketika ia diduga telah salah mengutip satu bagian dari Alquran. Satu hal yang penting dicatat adalah bahwa Ahok merupakan sekutu Jokowi.

Konservatisme di kedua sisi

Para pengamat telah sepakat bahwa konservatisme Islam sedang meningkat di Indonesia dan tampaknya masih belum akan berakhir. Sebagian besar perhatian telah difokuskan pada keputusan Jokowi yang tak terduga untuk menunjuk ulama konservatif dan kontroversial berusia 75 tahun, Ma’ruf Amin, sebagai pasangan calon wakil presiden mendampinginya dalam pilpres 2019 mendatang.

Di sisi lain, Prabowo tampaknya, setidaknya untuk sementara waktu, tengah mengembangkan kepribadian yang lebih moderat dan mudah dijangkau.

Baca Juga: Ma’ruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden, Apakah Pilihan Jokowi Tepat?

Meski demikian, penampilan Prabowo dalam aksi baru-baru ini menimbulkan keheranan tentang strateginya untuk terlihat “moderat.” Banyak pihak yang mempertanyakan apakah ia akan menggunakan apa pun yang dimilikinya, termasuk konservatisme religius yang tumbuh, untuk memenangkanpemilu mendatang.

Bahkan, Ray Rangkuti, seorang analis politik Indonesia, percaya bahwa tokoh-tokoh politik negara semakin bersedia untuk menemukan kesamaan dengan organisasi-organisasi Muslim konservatif dan bahkan ekstremis dalam mengejar keuntungan politik pribadi mereka.

“Agama digunakan oleh para politisi Indonesia sebagai sarana untuk memenangkan pemilihan. Ini bahkan lebih berbahaya daripada politik yang dikendalikan oleh uang,” tambahnya.

Jeffrey Kenney, profesor studi agama di Universitas DePauw, lebih lanjut mengatakan bahwa konservatisme dan niat politik, pada kenyataannya, saling terkait, menambahkan bahwa dalam lingkungan otoriter, pemerintah condong ke arah konservatisme untuk membuktikan legitimasi agama mereka kepada massa, yang cenderung lebih konservatif daripada liberal.

“Pemerintahan seperti itu seringkali tidak sekuler, tetapi konservatisme agama memberikan perlindungan publik yang baik,” katanya kepada The ASEAN Post.

Tapi bukan hanya Prabowo yang perlu diwaspadai Jokowi. Laporan berita baru-baru ini telah mengungkapkan bahwa ulama berapi-api Habib Bahar bin Ali bin Smith, yang dikenal sebagai Habib Bahar Smith atau Habib Bule, telah dilaporkan ke Polisi Metro Jakarta karena memfitnah Jokowi melalui beberapa pernyataan yang sangat meresahkan yang dia buat tentang pemimpin Indonesia dalam sebuah ceramah. Video dari khotbah itu beredar luas baru-baru ini.

Sementara Habib ditangkap, fakta bahwa seorang ulama ultra-konservatif mencemarkan nama Jokowi dalam sebuah khotbah mengisyaratkan kemungkinan bahwa strategi Jokowi untuk mencalonkan diri bersama Ma’ruf belum dapat memuaskan semua kelompok konservatif Islam di Indonesia.

Mencari legitimasi Islam

Sementara taktik kampanye hitam adalah hal biasa selama kampanye menjelang pemilu 2014, para pengamat lokal dan asing telah sepakat bahwa intensitas dan persistensi serangan terhadap Jokowi selama periode kampanye waktu itu tidak seperti yang pernah disaksikan orang Indonesia sebelumnya.

Media sosial dan tabloid dipenuhi dengan rumor dan tuduhan terhadap pria yang pernah dijuluki sebagai “Obama Indonesia.” Tuduhan termasuk klaim bahwa ibu Jokowi adalah seorang aktivis yang diduga berafiliasi dengan organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia.

Beberapa kelompok seperti Forum Ummat Islam bahkan mengatakan bahwa umat Muslim dilarang untuk memilih Jokowi.

Empat tahun kemudian, konservatisme terus mendesis di Indonesia. Sementara para pembela HAM mungkin prihatin dengan keputusan Jokowi untuk mencalonkan diri bersama Ma’ruf Amin, pertanyaannya adalah langkah apa lagi yang bisa dia lakukan?

Bahkan dengan Ma’ruf di sisinya, Jokowi terus menjadi sasaran empuk bagi beberapa kelompok konservatif Islam. Pernah berafiliasi dengan Ahok kemungkinan besar akan menjadi memori segar di banyak ingatan mereka, terutama setelah aksi baru-baru ini memperingati kejatuhan Ahok dan pemenjaraannya. Jokowi nyaris tidak memenangkan pilpres 2014, namun pilpres 2019 akan lebih menantang baginya.

Memutuskan untuk tidak “berjudi” dengan seseorang seperti Ma’ruf sebagai calon pasangan wakil presiden mungkin bisa terbukti lebih membahayakan bagi sang presiden. Sementara itu, Prabowo memandang dengan mata yang selalu waspada.

 

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo dan pasangan cawapres yang mendampinginya Ma’ruf Amin mengambil bagian dalam deklarasi perdamaian untuk kampanye pemilihan umum di Monumen Nasional di Jakarta, tanggal 23 September 2018. (Foto: AFP Photo/Adek Berry)

Alasan Mengapa Jokowi Perlu Menggandeng Ma’ruf Amin

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top