Yahya Cholil Staquf
Berita Politik Indonesia

Apa Alasan Tokoh NU Kunjungi Israel, Walau Dikecam di Indonesia?

Yahya Staquf, sekretaris jenderal Nahdlatul Ulama yang beranggotakan 60 juta orang berpose untuk sebuah foto di Yerusalem, Senin, 11 Juni 2018.  (Foto: AP/Caron Creighton)
Home » Berita Politik Indonesia » Apa Alasan Tokoh NU Kunjungi Israel, Walau Dikecam di Indonesia?

Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia, tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, dan dukungan di negara ini untuk Palestina kuat. Kunjungan Yahya Cholil Staquf, sekretaris jenderal Nahdlatul Ulama, ke Israel telah memicu reaksi marah di media sosial Indonesia.  Banyak orang Indonesia marah dengan kondisi di Gaza, di mana lebih dari 120 orang Palestina dibunuh tentara Israel selama protes perbatasan Gaza. 

Oleh: Tampa Bay Times

    Baca Juga: Militer Israel Hancurkan Terowongan Hamas Pengubung Gaza-Laut Mediterania

Sekretaris jenderal organisasi Muslim terbesar di Indonesia mengunjungi Israel minggu ini, rela mendapat protes marah di negaranya demi menyebarkan apa yang dia sebut pesan belas kasih antar agama.

Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, sekretaris jenderal Nahdlatul Ulama yang beranggotakan 60 juta orang, berada di Israel sebagai tamu Komite Yahudi Amerika, kelompok advokasi Amerika Serikat (AS) yang mengadakan konferensi besar di Yerusalem.

Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia, tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, dan dukungan untuk Palestina di negaranya kuat. Kehadiran Staquf telah memicu reaksi marah, seperti yang terlihat di media sosial Indonesia.

Namun dalam sebuah wawancara, Staquf (yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden/Wantimpres) mengatakan dia tetap berkomitmen untuk melaksanakan kunjungan tersebut dan berharap kontroversi yang ada dapat lebih memperhatikan pesan toleransinya.

“Beberapa orang di sini kagum dengan keputusan saya untuk datang, karena mereka pikir pasti berbahaya bagi orang ini untuk datang, berpikir bahwa banyak sekali Muslim yang mengancam kematiannya atau yang lain,” kata Staquf kepada Associated Press pada hari Senin (11/6).

Awal pekan ini, Staquf berpidato di konferensi Komite Yahudi Amerika, muncul bersama seorang pendeta Yahudi dalam diskusinya. Jadwal kunjungannya juga termasuk pertemuan di Hebrew University Israel, dan juga berbicara dengan pemimpin Yahudi, Kristen dan Muslim setempat. Tidak ada pertemuan dengan politisi Israel dalam jadwalnya.

Staquf mengatakan konflik Israel-Palestina bukan satu-satunya fokus dari perjalanannya. Sebaliknya, ia melihat kerjasama antar-iman sebagai dasar untuk menyelesaikan banyak konflik, termasuk di Myanmar, di mana 700.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari penganiayaan oleh pasukan keamanan negara itu ke Bangladesh.

Tetapi Staquf tetap sadar akan “besarnya” konflik Israel-Palestina.

“Kami menghadapi masalah peradaban di sini, dan itu terkait dengan agama,” kata Staquf. “Sebagai Muslim, kami ingin melakukan peran kami terkait dengan agama kami.”

Staquf mengatakan ia telah mengidentifikasi bagian-bagian Islam yang dianggapnya bermasalah, termasuk bagaimana umat Islam berinteraksi dengan non-Muslim. Dia mengatakan perlu ada “wacana baru” untuk mengakui bahwa Muslim dan non-Muslim sama dan harus dapat hidup berdampingan dengan damai.

“Unsur-unsur ini bermasalah karena tidak kompatibel lagi dengan realitas peradaban kita saat ini,” katanya.

Di Indonesia, Twitter dan Facebook penuh dengan komentar negatif tentang kunjungan tersebut. Banyak yang marah tentang situasi di Gaza, di mana lebih dari 120 orang Palestina tewas selama protes di sepanjang perbatasan Israel selama dua bulan terakhir.

    Baca Juga: Israel Salahkan Iran Atas Pembantaian Gaza

Israel menuduh penguasa Gaza, militan Hamas, menggunakan demonstran sebagai perisai manusia ketika mencoba untuk melakukan serangan dan mengatakan bahwa mereka membela perbatasan kedaulatan dan komunitas yang ada di dekat perbatasan itu.

Sebuah montase foto Staquf, dan bendera Israel dan NU, telah viral di dunia maya. Keterangan pada montase itu berbunyi: “Ketika Muslim terluka oleh serangan Israel, perwakilan NU pergi ke Israel. Kunjungan ini adalah bentuk pengakuan terhadap negara Israel, menyakiti hati umat Muslim dan warga Palestina.”

Taufiqulhadi, anggota parlemen dari Partai Nasional Demokrat, salah satu partai di koalisi pemerintah, mengatakan “mayoritas orang Indonesia” tidak menginginkan hubungan diplomatik dengan Israel.

Dalam sebuah surat kepada menteri luar negeri Indonesia yang dipublikasikan secara online, Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa pemerintah dapat “menolak” tindakannya jika dianggap membahayakan kepentingan negara. “Tetapi jika ada ‘manfaatnya,’ mari kita mewujudkannya menjadi manfaat yang nyata.”

Keterangan foto utama: Yahya Staquf, sekretaris jenderal Nahdlatul Ulama yang beranggotakan 60 juta orang berpose untuk sebuah foto di Yerusalem, Senin, 11 Juni 2018.  (Foto: AP/Caron Creighton)

Apa Alasan Tokoh NU Kunjungi Israel, Walau Dikecam di Indonesia?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top