Pilihan Cawapres Jokowi yang Picu Kontroversi
Titik Balik

Alih-alih Menguntungkan, Ma’ruf Amin Jadi Beban Jokowi di Pilpres

Presiden Indonesia Joko Widodo (kedua dari kiri) dan wakil presidennya untuk Pemilihan Presiden 2019 Ulama Islam Ma'ruf Amin (kedua dari kanan), bertepuk tangan bersama dengan pemimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan mantan presiden Megawati Sukarnoputri (kanan) dan anggota partai koalisi lainnya, saat menyambut para pendukung di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 2018. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)
Berita Internasional >> Alih-alih Menguntungkan, Ma’ruf Amin Jadi Beban Jokowi di Pilpres

Walaupun kehebohan dari penunjukan calon wakil presiden Ma’ruf Amin—yang akan mendampingi petahana Presiden Joko Widodo pada Pilpres bulan April mendatang—telah berlalu, tapi banyak orang masih bertanya-tanya apakah keberadaan seorang Ma’ruf, ulama yang sering dianggap konservatif, akan menjadi penghalang atau justru pendongkrak elektabilitas Jokowi.

Oleh: Mata Mata Politik

Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memilih Ma’ruf Amin sebagai pasangannya menimbulkan spekulasi bahwa langkah tersebut memang dirancang untuk meningkatkan kredensial Islamnya. Ma’ruf adalah salah satu tokoh Muslim paling berpengaruh di Indonesia, sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan telah menjadi pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama (NU) hingga ia mengundurkan diri untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

Ma’ruf diharapkan akan menambah suara bagi Jokowi dari komunitas Islam, menarik banyak pemilih nahdliyyin (anggota NU), dan juga menarik dukungan yang sangat penting dari kelompok-kelompok Islam, di samping ‘melindungi’ Jokowi dari ‘serangan’ berbau agama dari kelompok-kelompok Islam konservatif seperti yang menimpa mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun, seperti yang diklaim para pengamat, citra Ma’ruf sebagai ulama Islam konservatif mungkin akan merugikan Joko Widodo.

Sebagai ketua MUI, Ma’ruf mendukung fatwa kontroversial yang dianggap telah merugikan hak-hak minoritas, termasuk perempuan, kaum LGBT, dan kelompok minoritas Muslim Ahmadiyah. Perannya yang menonjol dalam persidangan penistaan agama Ahok hanya meningkatkan citra anti-HAM-nya.

Baca Juga: Ma’ruf Amin Jadi Senjata Rahasia Jokowi Terkait Agama dan Ekonomi

Seperti yang dijelaskan Greg Fealy—Associate Professor di Departement of Political and Social Change  di Coral Bell School of Asia Pacific, Australian National University—dalam tulisannya, Ma’ruf menggunakan pengaruhnya di MUI untuk mempromosikan agenda konservatif—terkadang sektarian—untuk menarik pujian dari kaum Islamis. Namun sayangnya, dia kerap mendapat kecaman dari kaum Muslim progresif, yang sebagian besar merupakan pendukung Joko Widodo.

Seperti yang dijabarkan pengamat politik Sian Troath dalam tulisannya, ini berarti bahwa keputusan Jokowi untuk memilihnya sebagai calon wakil presiden membuat marah pendukung Jokowi yang peduli dengan hak asasi manusia. Penunjukan Ma’ruf juga tampaknya tidak secara signifikan meningkatkan popularitas Jokowi, seperti yang diharapkan.

Bagi sebagian orang, pilihan Jokowi atas Ma’ruf sebagai pasangan calon dipandang sebagai langkah politik yang cerdas untuk melindungi dirinya dari politik identitas yang telah begitu menonjol dalam pemilihan gubernur Jakarta 2016, untuk memastikan bahwa pemilihan akan berpusat pada ekonomi. Inilah peran yang digambarkan Ma’ruf sendiri mengenai penunjukannya.

Menurut pandangan Troath, hal ini juga mendorong spekulasi tentang tesis inklusi-moderasi—gagasan bahwa termasuk aktor-aktor politik pemberontak dalam lembaga-lembaga demokratis akan membuat mereka memoderasi pandangan dan tujuan mereka yang lebih ekstrem.

Mengenai apakah citra konservatif Ma’ruf—terlepas dari upayanya untuk membuat dirinya terlihat lebih moderat—akan merugikan Jokowi, pendapat para pengamat politik masih terpecah. Fealy menjelaskan, pengamat masih belum sepakat antara apakah Ma’ruf akan menjadi dorongan atau hambatan bagi prospek Jokowi di Pilpres. Namun ada pandangan umum adalah bahwa Prabowo memiliki cawapres yang lebih baik daripada Jokowi.

Cawapres Prabowo, pengusaha muda sukses nan dinamis Sandiaga Uno, memiliki kualitas yang cenderung menarik bagi pemilih muda dan kelas menengah ke atas.

Sebuah survei yang meneliti elektabilitas para cawapres, dilakukan oleh lembaga survei LSI pimpinan Denny JA, menunjukkan hasil yang tak meyakinkan bahwa Ma’ruf memang sebuah aset elektoral bagi Jokowi.

Survei tersebut menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi secara tunggal mencapai 54 persen, dibandingkan dengan Prabowo secara tunggal yang hanya 28 persen. Namun ketika nama Ma’ruf dipasangkan dengan Jokowi, elektabilitas presiden turun 1,6 persen, dan elektabilitas Prabowo naik dengan jumlah yang kira-kira sama ketika disandingkan dengan Sandiaga. Walaupun survei tersebut juga menemukan bahwa 53 persen responden Muslim berniat memilih Jokowi-Ma’ruf.

Tak hanya berdasarkan survei, sebagian calon pemilih pun mengaku galau menentukan pilihan sejak Ma’ruf ditunjuk jadi cawapres.  Salah satunya adalah Lini Zurlia, anggota ASEAN Sogie Caucus, jaringan aktivis hak asasi manusia se-Asia Tenggara.

“Padahal saya memilih periode lalu,” kata Lini berbicara dalam diskusi Golput Itu Hak dan Bukan Tindak Pidana, Rabu (23/1), seperti dilansir CNN Indonesia.

Lini mengaku memiliki berbagai alasan yang mendasari kekecewaannya terhadap Joko Widodo, dan salah satunya adalah penunjukan ulama Ma’ruf Amin.

“(Jokowi) Memilih cawapres dari (kalangan) ulama demi bisa meraup suara kelompok sebelah (Prabowo-Sandi -red). (Ma’ruf) Jelas-jelas pernah berperan memicu konflik antarkelompok beberapa waktu lalu,” kata dia.

Tak hanya dari aspek agama dan HAM, keraguan tentang Ma’ruf juga muncul ketika membicarakan aspek ekonomi. Pengamat politik Firman Manan dari Universitas Padjajaran menyatakan keraguannya.

“Agak sulit membayangkan Ma’ruf Amin berperan dalam mengatur ekonomi negara. Dia tidak memiliki kekuatan politik yang signifikan, karena itu tidak memiliki posisi tawar yang tinggi, ” katanya kepada Straits Times.

Baca Juga: Agama dan Ekonomi, Isu Menentukan dalam Pencalonan Kembali Jokowi

“Selain itu, keahliannya tidak di bidang ekonomi makro. Keahliannya terbatas pada hukum ekonomi Syariah.”

Terlepas dari semua pro dan kontra pemilihan Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi, pertanyaan mengenai apakah ulama tersebut akan menguntungkan bagi petahana tampaknya masih akan terus diajukan, hingga waktu memberikan jawabannya.

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo (kedua dari kiri) dan wakil presidennya untuk Pemilihan Presiden 2019 Ulama Islam Ma’ruf Amin (kedua dari kanan), bertepuk tangan bersama dengan pemimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan mantan presiden Megawati Sukarnoputri (kanan) dan anggota partai koalisi lainnya, saat menyambut para pendukung di Jakarta, Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 2018. (Foto: Antara Foto/Puspa Perwitasari)

Alih-alih Menguntungkan, Ma’ruf Amin Jadi Beban Jokowi di Pilpres

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top