Teknologi Masa Depan
Amerika

Amerika dan China Berlomba Ciptakan Teknologi Masa Depan

Berita Internasional >> Amerika dan China Berlomba Ciptakan Teknologi Masa Depan

Persaingan antara Amerika Serikat dan China berlangsung juga di bidang teknologi. Keduanya berlomba untuk menciptakan teknologi masa depan yang paling baru dan paling maju. AS menuduh China menerapkan praktik-praktik yang tidak adil—termasuk subsidi industri, pencurian kekayaan intelektual, dan pemindahan teknologi secara paksa ke China sebagai imbalan atas akses ke pasarnya—untuk mencapai tujuannya dalam mengembangkan nilai yang lebih tinggi, ekonomi inovatif pada tahun 2025.

Baca juga: Ambisi Teknologi Beijing: Xi Jinping Perkuat Kebijakan ‘Made in China 2025’

Oleh: James Politi (Financial Times)

Pada pertengahan November, kementerian perdagangan Amerika Serikat menerbitkan pemberitahuan singkat tapi memiliki implikasi yang besar. Di dalam pemberitahuan itu, pemerintahan Donald Trump menyajikan daftar teknologi yang akan diluncurkan—termasuk robotika, genomik, kecerdasan buatan, dan komputasi kuantum—yang rencananya akan dikontrol ekspornya untuk mencegah agar tidak jatuh ke tangan asing, jika dianggap vital bagi keamanan nasional.

Langkah itu langsung dianggap sebagai konfrontasi terhadap China, di saat presiden Donald Trump dan Xi Jinping sudah berada di dalam perang dagang di mana mereka saling memberlakukan tarif terhadap barang satu sama lain. Di balik itu ada kekhawatiran yang meningkat di antara para pejabat Amerika Serikat dan eksekutif bisnis bahwa China akan memenangkan perlombaan pengembangan teknologi masa depan, dan itu perlu dihentikan—karena alasan ekonomi, strategi, dan militer—jika Amerika ingin mempertahankan dominasi globalnya di abad ke 21.

Trump melakukan perang dagang dengan China dengan tujuan untuk memperluas lapangan pekerjaan dan memotong defisit perdagangan. Tetapi persaingan teknologilah yang terbukti paling sulit terselesaikan saat ia mencoba memulai gencatan senjata dengan Xi sebelum 2 Maret, batas waktu yang mereka tetapkan selama pertemuan G20 Desember di Argentina.

“Persaingan teknologi menjadi pusat perang dagang dan saya berharap itu akan terus berlanjut terlepas dari adanya kesepakatan atau tidak,” kata Ely Ratner, mantan pejabat pemerintahan Obama dan wakil presiden eksekutif di Pusat Keamanan Amerika Baru di Washington. “China kemungkinan akan mengatasi beberapa kekhawatiran AS tetapi sangat tidak mungkin untuk menyerah kepada pemerintahan Trump… tentang dukungan yang dipimpin oleh negara untuk sektor teknologinya, sehingga akan terus menjadi sumber perselisihan,” tambahnya.

AS menuduh China menerapkan praktik-praktik yang tidak adil—termasuk subsidi industri, pencurian kekayaan intelektual, dan pemindahan teknologi secara paksa ke China sebagai imbalan atas akses ke pasarnya—untuk mencapai tujuannya dalam mengembangkan nilai yang lebih tinggi, ekonomi inovatif pada tahun 2025.

Kekhawatiran di Washington, bagaimanapun juga, melampaui masalah komersial. AS khawatir bahwa entitas China juga dapat menggunakan kemajuan mereka dalam teknologi untuk mengumpulkan intelijen, mengeksploitasi celah dalam rantai pasokan pertahanan AS dan meretas infrastruktur penting.

Ancaman kontrol ekspor baru—yang masih harus melalui proses birokrasi yang cukup panjang sebelum ditetapkan dan diimplementasikan—hanyalah sebagian kecil dari seluruh masalah. Selain itu ada juga undang-undang baru yang memperketat pengawasan investasi asing di AS. Ini akan mempersulit perusahaan China untuk secara langsung mengakuisisi produsen teknologi canggih AS.

AS telah meminta perusahaan-perusahaan domestik dan pemerintah internasional untuk berhenti melakukan bisnis dengan Huawei, perusahaan teknologi dan telekomunikasi China, menjelang perlombaan global untuk mengembangkan teknologi 5G. Para kritikus menuduh Huawei sebagai kendaraan untuk memata-matai AS. Perusahaan itu membantah kritik tersebut. Jaksa AS meningkatkan upaya mereka untuk menindak entitas China yang dicurigai mencuri rahasia dagang. Pejabat kementerian kehakiman telah mengisyaratkan bahwa surat dakwaan sedang menunggu.

Bulan ini, Mark Warner, senator Demokrat dari Virginia, dan Marco Rubio, senator Republik dari Florida, memperkenalkan undang-undang untuk membuat kantor di cabang eksekutif AS yang dirancang untuk mencegah pencurian IP yang disponsori negara. “Jelas bahwa China bertekad untuk menggunakan setiap alat di gudang senjata untuk melampaui Amerika Serikat secara teknologi dan mendominasi kami secara ekonomi,” kata Warner, wakil ketua komite intelijen di Senat.

“Kami membutuhkan strategi teknologi pemerintah untuk melindungi daya saing AS dalam teknologi dan penggunaan ganda dan mengatasi ancaman China dengan memerangi transfer teknologi dari Amerika Serikat,” tambahnya.

Pemerintah China mengatakan AS tidak berhak menghalangi aspirasi ekonominya. China berpendapat bahwa AS menuntut karena kehilangan daya saing, kecerdikan, dan pengaruh terhadap saingannya di Pasifik.

Di antara pertengkarang kedua negara ini, yang terperangkap di tengah adalah Silicon Valley. Banyak perusahaan teknologi AS khawatir bahwa China menggunakan taktik yang tidak adil dan bahkan ilegal. Tetapi ada juga kekhawatiran yang merajalela bahwa pendekatan pemerintahan Trump dapat menjadi bumerang.

Baca juga: Di China, Teknologi Pengenalan Wajah akan Mengawasi Anda

Ketika pemberitahuan kontrol ekspor dirilis, pelobi teknologi AS di Washington bersusah payah untuk menjelaskan bahwa mereka berisiko kehilangan akses ke pasar besar untuk produk baru mereka, dan kehilangan kemampuan untuk berbagi informasi dengan para peneliti China, yang dapat membantu mereka mengembangkan lebih banyak produk mutakhir. Banyak analis kebijakan setuju bahwa AS mungkin berada dalam bahaya untuk melangkah terlalu jauh.

“Adil dan pantas bagi negara-negara untuk mempertahankan perhiasan mahkota ekonominya dari eksploitasi atau pelanggaran asing,” tulis Ryan Hass dan Zach Balin dari Brookings Institution dalam sebuah laporan bulan ini. Namun AS perlu “untuk menghindari tindakan yang merugikan dirinya sendiri”. Gambaran besarnya, menurut mereka, adalah di mana AS dan China meningkatkan jarak masing-masing dan seluruh dunia dalam hal inovasi, sebagian dengan saling memanfaatkan satu sama lain.

Argumen-argumen sepertinya akan terpengaruh oleh perang teknologi yang terjadi antara AS dan China. Ini tidak mungkin selesai dalam waktu dekat, terlepas dari menang atau tidaknya Trump di pemilu berikutnya pada tahun 2020.

“Menurut saya masalah ini tidak akan hilang jika ada presiden baru pada 2021,” kata Ratner.

Keterangan foto utama: Sentuhan humanoid: robot yang digunakan untuk membantu mengajar anak-anak di taman kanak-kanak China (Foto: Reuters/Aly Song)

Amerika dan China Berlomba Ciptakan Teknologi Masa Depan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top