AS dan Taliban
Timur Tengah

Amerika dan Taliban Setuju untuk Menyusun Kerangka Kerja Perdamaian

Berita Internasional >> Amerika dan Taliban Setuju untuk Menyusun Kerangka Kerja Perdamaian

Komentar dari utusan khusus Zalmay Khalilzad telah memunculkan harapan untuk terobosan dalam konflik yang telah melanda Afghanistan selama 17 tahun. Ia mengatakan, AS dan Taliban telah menyusun kerangka kerja kesepakatan menuju pembicaraan damai dengan pemerintah Afghanistan. Namun masih belum ada kesepakatan tentang jadwal penarikan pasukan AS atau gencatan senjata, masalah-masalah besar di mana upaya-upaya negosiasi sebelumnya telah gagal.

Baca juga: Serangan Besar Tunjukkan Kekuatan Taliban di Awal Pembicaraan Damai

Oleh: Al Jazeera

Amerika Serikat dan Taliban telah menyusun kerangka kerja kesepakatan yang dapat membuka jalan bagi pembicaraan damai dengan pemerintah Afghanistan, menurut perunding utama AS. Namun, masih terdapat beberapa halangan utama, termasuk gencatan senjata dan penarikan pasukan asing.

Komentar oleh utusan khusus Zalmay Khalilzad kepada The New York Times yang diterbitkan pada hari Senin (28/1) adalah sinyal yang paling jelas dari seorang pejabat AS bahwa pembicaraan antara Amerika dan Taliban sedang berlangsung, memicu harapan akan terobosan dalam konflik yang telah melanda Afghanistan selama 17 tahun. Khalilzad telah memimpin upaya diplomatic selama berbulan-bulan untuk meyakinkan Taliban untuk bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, tetapi kelompok itu terus menolak, menganggap pihak berwenang di Kabul sebagai “boneka.”

Kesibukan kegiatan memuncak dalam pembicaraan enam hari berturut-turut yang belum pernah terjadi sebelumnya di Qatar pekan lalu, dengan AS dan Taliban mengutip adanya kemajuan.

“Kami memiliki rancangan kerangka kerja yang harus disempurnakan sebelum menjadi kesepakatan,” tutur Khalilzad, yang tiba di Kabul pada hari Minggu (27/1) untuk menyampaikan perkembangan kepada pihak berwenang Afghanistan mengenai perundingan, seperti dikutip oleh the New York Times.

Dia mengatakan kepada media Afghanistan bahwa Amerika dan Taliban “setuju terhadap kesepakatan secara prinsip mengenai beberapa masalah yang sangat penting” dan mengatakan bahwa rakyat Afghanistan harus “mengambil kesempatan,” menurut komentar yang dikeluarkan oleh kedutaan AS di Kabul.

Para ahli dengan cepat memuji perkembangan itu sebagai tonggak sejarah, mencatat bahwa hal itu mengindikasikan keinginan kedua pihak untuk menemukan jalan keluar dari konflik.

Penjabat Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan menggambarkan perundingan itu “menggembirakan.”

Namun masih belum ada kesepakatan tentang jadwal penarikan pasukan AS atau gencatan senjata, masalah-masalah besar di mana upaya-upaya negosiasi sebelumnya telah gagal.

Pada hari Sabtu (26/1), juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa tanpa jadwal penarikan, kemajuan pada masalah lain menjadi “tidak mungkin.”

Niat baik

Khalilzad membenarkan bahwa Taliban menyetujui satu masalah besar bagi AS: tempat perlindungan yang aman. “Taliban telah berkomitmen, untuk kepuasan kami, untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mencegah Afghanistan menjadi wadah bagi kelompok atau individu teroris internasional,” katanya.

Dia tidak memberikan perincian lebih lanjut, tetapi pernyataan itu memberi bobot pada laporan pekan lalu bahwa Taliban telah setuju untuk menentang Al Qaeda dan ISIS di Afghanistan. Namun, keberadaan ISIS masih terus bertumbuh dan kuat di Afghanistan, di mana mereka berperang dengan Taliban di beberapa daerah.

Analis Michael Kugelman dari Wilson Center di Washington, DC mengatakan langkah seperti itu telah lama menjadi permintaan utama AS, tetapi mencatat bahwa hal itu lebih merupakan “isyarat perdamaian” alih-alih konsesi.

“Taliban tidak pernah menjadi teman ISIS, dan Al Qaeda telah menjadi bayangan dari wujudnya sebelumnya,” katanya kepada kantor berita AFP. Meski begitu “itu menandakan, setidaknya pada titik ini, bahwa pemberontak bersedia untuk bernegosiasi dengan niat baik dan menyetujui permintaan utama AS.”

Jaminan yang jelas

Pihak berwenang Afghanistan telah memperingatkan bahwa kesepakatan apa pun antara Amerika Serikat dan Taliban akan membutuhkan dukungan pemerintah Afghanistan.

“Saya menyerukan kepada Taliban untuk menunjukkan kemauan Afghanistan mereka, menerima permintaan rakyat Afghanistan akan perdamaian, dan mengadakan pembicaraan serius dengan pemerintah Afghanistan,” kata Presiden Ashraf Ghani dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Senin (28/1).

Keinginan jelas Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika juga sangat membebani diskusi. Ghani memperingatkan agar tidak terburu-buru melakukan perjanjian, dengan menyebut kekerasan menyusul penarikan Soviet pada tahun 1989. “Kami menginginkan perdamaian, kami ingin mewujudkannya dengan cepat tetapi kami ingin melakukannya dengan sebuah rencana,” katanya.

Ghani juga mengatakan semua pasukan asing pada akhirnya akan meninggalkan negara yang dilanda perang tersebut, menambahkan bahwa keselamatan adalah hal utama bagi warga Afghanistan. “Tidak ada orang Afghanistan yang menginginkan pasukan asing tetap di negara mereka tanpa batas waktu. Tidak ada orang Afghanistan yang ingin menghadapi serangan bunuh diri di rumah sakit, sekolah, masjid, dan taman,” kata Ghani.

Baca juga: Taliban Afghanistan Siap untuk Menang

Warga sipil terus membayar dampak yang mengerikan untuk pemberontakan Taliban, dengan beberapa perkiraan menunjukkan konflik Afghanistan menyusul perang Suriah untuk menjadi yang paling mematikan di dunia tahun 2018. Kantor Ghani mengatakan Khalilzad telah meyakinkan pemerintah bahwa perundingan di Qatar tetap fokus untuk membawa gerilyawan ke meja perundingan dengan pemerintah Afghanistan. Istana presiden mengatakan bahwa Khalilzad membenarkan belum ada kesepakatan yang telah dibuat tentang penarikan pasukan atau gencatan senjata.

Pasukan tempur NATO meninggalkan Afghanistan pada tahun 2014, tetapi ribuan pasukan tetap memiliki peran dalam pelatihan, dukungan, dan anti-terorisme. Trump mengatakan dia ingin menarik setengah dari 14.000 pasukan Amerika yang tersisa, menurut pejabat AS. Para pejabat Taliban dan AS telah sepakat untuk melanjutkan negosiasi, meskipun belum ada tanggal yang diumumkan secara terbuka.

Keterangan foto utama: Pertemuan baru-baru ini antara Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, perwakilan khusus Amerika Serikat, dan Taliban relatif berhasil. (Foto: AFP)

Amerika dan Taliban Setuju untuk Menyusun Kerangka Kerja Perdamaian

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top