Bom Suriah
Timur Tengah

Amerika Makin Gencar Bom Suriah Setelah Trump Umumkan Tarik Pasukan

Berita Internasional >> Amerika Makin Gencar Bom Suriah Setelah Trump Umumkan Tarik Pasukan

Militer Amerika Serikat meningkatkan pengeboman di daerah-daerah yang dikuasai ISIL di Suriah timur setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penarikan pasukan. Desa-desa yang dikuasai ISIL di sepanjang Eufrat telah menjadi sasaran serangan bom Suriah yang dilaukan AS sejak bulan November 2018 sebagai bagian dari Operation Roundup. Selain target militer, Operation Roundup mengebom area sipil, termasuk rumah sakit.

Baca juga: Perundingan Tentang Akhir Perang Suriah Tidak Membahas Soal Pemulihan

Oleh: Ali Younes dan Trevor Aaronson (al Jazeera)

Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penarikan 2.000 tentara dari Suriah bulan Desember 2018, militer AS menggenjot kampanye pengebomannya terhadap wilayah yang masih dipegang oleh kelompok ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant) di bagian timur negara itu, menurut sumber-sumber di lapangan dan foto-foto yang diperoleh dalam investigasi bersama oleh Al Jazeera dan The Intercept.

Serangan paling sengit dalam sepekan terakhir terjadi di Al Kashmah, sebuah desa di Sungai Eufrat dekat perbatasan dengan Irak, menurut tiga sumber di Suriah timur. Di tengah serangan udara AS dan tembakan artileri oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF/Syrian Democratic Forces) yang didukung AS, warga sipil dan anggota keluarga pejuang ISIL melarikan diri ke desa-desa di selatan, menurut sumber tersebut.

Meski Al Kashmah belum jatuh, orang-orang yang tersisa di sana hanyalah pejuang yang mewakili apa yang telah menjadi garis depan perang melawan ISIL di provinsi Deir Az Zor.

Para pejuang ISIL berkumpul di desa-desa di sepanjang Sungai Eufrat, dari perbatasan dengan Irak ke selatan Hajin, bekas benteng ISIL yang jatuh ke SDF, milisi yang dipimpin Kurdi, pada pertengahan bulan Desember 2018.

Terdapat sekitar 50.000 hingga 60.000 orang yang tetap berada di daerah-daerah itu, menurut seorang aktivis sipil di Deir Az Zor yang mendokumentasikan pelanggaran hak asasi dan meminta untuk tidak disebutkan namanya karena masalah keamanan.

“Warga sipil di daerah-daerah ini tidak memiliki tempat untuk pergi atau bersembunyi dari pengeboman AS terhadap desa-desa mereka,” kata aktivis itu, seraya menunjukkan bahwa warga telah dirugikan di tangan pemerintah Suriah, AS, maupun ISIL.

Pengeboman rumah sakit

Desa-desa yang dikuasai ISIL di sepanjang Eufrat telah menjadi sasaran serangan bom AS sejak bulan November 2018 sebagai bagian dari Operation Roundup. Selain target militer, Operation Roundup mengebom area sipil, termasuk rumah sakit, menurut laporan The Intercept dan Al Jazeera bulan Desember 2018.

Seorang pejuang senior ISIL mengatakan Rumah Sakit Yarmouk adalah fasilitas kesehatan umum terakhir di wilayah itu yang merawat warga sipil setempat. Dia juga mengakui bahwa ISIL mungkin menggunakannya untuk merawat pejuangnya jika perawatan tidak tersedia di rumah sakit lapangannya sendiri.

Kevin Jon Heller, seorang sarjana hukum internasional, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa AS tidak dapat menyerang rumah sakit secara legal hanya karena percaya beberapa pejuang ISIL ada di sana.

“AS tidak dapat menyerang rumah sakit tanpa peringatan terlebih dahulu dan tanpa memberi rumah sakit waktu yang wajar untuk menghentikan ISIS dari menggunakannya atau untuk mengevakuasi personel sipil dan orang-orang yang terluka,” kata Heller, seorang profesor hukum internasional di Universitas Nasional Australia dan Universitas Amsterdam.

Heller mengatakan bahwa pengeboman sebuah rumah sakit di zona pertempuran tanpa mempertimbangkan korban sipil atau mengeluarkan peringatan adalah pelanggaran mendasar hukum humanitarian internasional, komponen hukum internasional yang mengatur pelaksanaan perang dan perlindungan warga sipil.

Para pejuang dan warga sipil di desa-desa dilaporkan telah menggambarkan kampanye pengeboman Amerika Serikat sebagai kebijakan bumi hangus, menggunakan istilah Arab yang berarti “membakar tanah.” (Foto: US Army Photo/AP Photo/Zoe Garbarino)

Keputusan tiba-tiba Trump tanggal 19 Desember 2018 untuk menarik pasukan darat AS yang terlibat dalam perang melawan ISIL di Suriah bahkan mengejutkan Departemen Pertahanan AS. Berbicara kepada wartawan pada hari Rabu (2/1) presiden menolak untuk memberikan batas waktu untuk penarikan, dan sebaliknya mengatakan bahwa itu akan terjadi “selama periode waktu tertentu.”

Namun, meningkatnya intensitas pengeboman, menurut klaim Trump dan yang lainnya bahwa ISIL telah dikalahkan atau perang AS di Suriah, yang sebagian besar dilakukan dari langit, telah berakhir. Masih belum jelas apakah serangan udara AS akan berlanjut setelah pasukan ditarik pergi.

Selama hari-hari terakhir tahun 2018, kampanye AS melakukan pengeboman terhadap desa-desa di sepanjang Sungai Eufrat, terutama berfokus pada Al Kashmah. Pada Malam Tahun Baru, bom-bom itu tanpa henti menyerang Al Kashmah, membuat desa sebagian besar dihancurkan pada pagi berikutnya, menurut seorang pejuang ISIL yang ada di sana. (Al Jazeera mewawancarai anggota ISIL dan SDF, serta seorang pemimpin suku, untuk artikel ini melalui layanan pengiriman pesan, dan al Jazeera telah menyebutkan mereka secara anonim karena mereka semua akan menjadi sasaran oleh berbagai faksi yang bertikai jika berbicara dengan wartawan.)

Koalisi melawan ISIL tampaknya menargetkan kafe internet, menurut dua sumber di lapangan. Kafe internet di desa-desa digunakan oleh warga sipil dan pejuang ISIL. Mereka bukan bagian dari infrastruktur komunikasi taktis ISIL, menurut sumber, tetapi pejuang biasanya menggunakannya untuk berkomunikasi dengan dunia luar, terutama keluarga mereka di negara lain.

“Mereka hanya suka mengganggu dan mengacaukan segalanya,” kata seorang pejuang ISIL dalam sebuah wawancara. “Mereka mengebom tempat-tempat di mana mereka menjual bensin untuk motor atau minyak goreng, atau di mana mereka menyaring air; mereka mengebom semua tempat tersebut. Bukan hanya internet, mereka mengebom segalanya hanya untuk membuat hidup Anda mengerikan.”

Situasi pasca kampanye pengeboman Amerika Serikat di Al Kashmah, dari mana warga sipil telah melarikan diri karena serangan tanpa henti. (Foto: The Intercept)

Risiko jatuhnya korban sipil dari pengeboman di Deir Az Zor cukup tinggi karena telah dipadati keluarga pejuang ISIL dan warga sipil yang melarikan diri dalam beberapa bulan terakhir dari kota-kota yang jatuh ke pasukan pimpinan Kurdi. “Tidak ada bangunan kosong di sini,” kata pejuang ISIL, merujuk pada desa-desa yang dikuasai ISIL yang tersisa di Deir Az Zor.

Para pejuang dan warga sipil di desa-desa dilaporkan telah menggambarkan kampanye pengeboman Amerika Serikat sebagai kebijakan bumi hangus, menggunakan istilah Arab yang berarti “membakar tanah.”

Hari Minggu (30/12), militer AS mengakui bahwa mereka telah membunuh 1.139 warga sipil di Irak dan Suriah sejak dimulainya kampanye melawan ISIL pada tahun 2014. Jumlah itu jauh lebih kecil daripada perkiraan korban sipil yang dikeluarkan oleh kelompok-kelompok pemantauan, seperti Airwars, yang mengatakan bahwa antara 7.308 dan 11.629 warga sipil telah terbunuh.

Menanggapi daftar pertanyaan tentang pengeboman di Suriah, juru bicara Departemen Pertahanan AS Danielle Covington mengatakan bahwa koalisi menentukan “langkah serangan kami terhadap target ISIS secara sengaja dan dengan pertimbangan cermat atas dampaknya terhadap warga sipil. Peningkatan serangan pada akhir Desember 2018 dipilih secara khusus untuk menurunkan kemampuan ISIS dan tidak terkait dengan variabel lain.”

Menyusul pengumuman penarikan pasukan oleh Trump, Kurdi, yang memimpin pasukan darat yang telah bermitra dengan AS dalam memerangi ISIL di Suriah, menghubungi Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk meminta perlindungan. Merasa dikhianati oleh AS, orang-orang Kurdi khawatir tentang kemungkinan serangan oleh Turki, yang telah lama khawatir bahwa populasi minoritas Kurdi sendiri mungkin akan didorong dengan keberadaan negara Kurdi atau wilayah otonom di selatan Turki. (Bulan Maret 2018, Angkatan Bersenjata Turki dan milisi sekutu mengambil alih kota Afrin di Suriah dari Kurdi.)

Selain itu, setelah evakuasi warga sipil dari Al Kashmah, ISIL menegosiasikan gencatan senjata selama tiga hari dengan Kurdi, menurut tiga sumber di lapangan. Hari Senin (31/12), tujuh truk yang membawa makanan dan bantuan kemanusiaan memasuki wilayah-wilayah yang dikuasai ISIL berdasarkan perjanjian, menurut seorang sumber dari ISIL dan SDF.

Gencatan senjata awalnya dijadwalkan berakhir pada tanggal 31 Desember 2018, tetapi para pejabat ISIL sedang membahas kemungkinan perpanjangan selama enam bulan, menurut seorang pejuang ISIL yang akrab dengan perundingan tetapi yang tidak secara langsung menjadi bagian dari upaya tersebut.

Selama gencatan senjata sementara, beberapa pejuang dan pembelot ISIL melarikan diri dari Deir Az Zor ke bagian-bagian lain Suriah, menurut dua sumber yang turut melakukan perjalanan semacam itu.

Gencatan senjata yang abadi akan memungkinkan pasokan yang sangat dibutuhkan untuk menjangkau warga sipil di desa-desa. ISIL juga kemungkinan akan menggunakannya untuk berkumpul kembali. Kurdi akan menerima perlindungan dari perang dua front jika Turki menyerang.

Gencatan senjata antara ISIL dan Kurdi, ditambah dengan perlindungan potensial pemerintah Suriah terhadap Kurdi dari Turki, sebagian besar akan mengurangi sebagian alasan publik Trump untuk menarik pasukan AS dari Suriah. Dalam sebuah tweet, Trump menggambarkan bagaimana Turki dapat “dengan mudah mengurus apa pun yang tersisa” dari ISIL. Dalam tweet berikutnya, Trump berbicara tentang percakapannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan:

Baca juga: Ucapkan Selamat Tinggal pada Kebijakan AS di Suriah

Tetapi prospek bagi Turki untuk menyelesaikan pembersihan terhadap ISIL di Suriah tampaknya semakin tidak mungkin, mengingat aliansi yang bergeser dengan cepat di sana. Sementara itu, militer AS terus menjatuhkan bom di Deir Az Zor, meskipun fakta bahwa Kurdi, yang diharapkan ditinggalkan oleh AS, saat ini tidak melibatkan pejuang ISIL.

“Mereka telah mengkhianati semua sekutu mereka dan membunuh orang-orang di sini, dan akhirnya Negara Islam akan bertahan dan menyebar atau akan jatuh,” kata pejuang ISIL, merujuk pada AS. “Tetapi akan ada orang di sini yang akan mengingat apa yang terjadi di sini, dan mereka akan meneruskan informasi ini hingga menyebar ke seluruh Timur Tengah.”

Keterangan foto utama: Situasi pasca kampanye pengeboman Amerika Serikat di Al Kashmah, dari mana warga sipil telah melarikan diri karena serangan tanpa henti. (Foto: The Intercept)

Amerika Makin Gencar Bom Suriah Setelah Trump Umumkan Tarik Pasukan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top