Bashar al-Assad
Timur Tengah

Amerika Menarik Diri, Suriah Jadi Rentan terhadap Rusia dan Iran

Home » Featured » Timur Tengah » Amerika Menarik Diri, Suriah Jadi Rentan terhadap Rusia dan Iran

Selama ini Amerika Serikat sangat terlibat dalam Perang Sipil Suriah dan juga pembebasan beberapa bagian negara itu dari tangan ISIS. Tapi kini, setelah hampir semua bagian negara berhasil direbut kembali, AS tampaknya sungkan untuk melanjutkan keterlibatan mereka, terutama untuk pemulihan negara yang sudah porak poranda akibat konflik tersebut. Para ahli mengatakan, keengganan AS ini bisa membuat Suriah rentan terhadap pengaruh musuh AS, seperi Rusia dan Iran.

Oleh: Lara Seligman (Foreign Policy)

Baca Juga: Perundingan Damai: PBB, Turki, Iran, dan Rusia Bicarakan Konstitusi Suriah

Seiring koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) hampir mengakhiri perjuangannya melawan ISIS di Suriah timur laut, para analis memperingatkan, keengganan Washington untuk memberikan sumber daya untuk menstabilkan kawasan itu dapat memungkinkan Rusia dan Iran untuk memberikan pengaruh yang lebih besar atas negara tersebut.

Pasukan koalisi mendekati kubu terakhir pejuang ISIS di kota Hajin, dekat perbatasan Irak. Setelah para militan tersebut disingkirkan, tantangan berikutnya adalah menyediakan makanan dan layanan bagi warga sipil, membersihkan ranjau di kota tersebut, memulangkan jutaan pengungsi, dan memberlakukan kembali aturan hukum di wilayah yang luas di negara ini.

Tetapi Presiden Donald Trump telah mengindikasikan bahwa Amerika Serikat tidak akan memainkan peran yang luas dalam rekonstruksi Suriah.

Trump memerintahkan Departemen Luar Negeri pada awal tahun ini untuk membekukan sekitar $200 juta dana yang dialokasikan untuk pemulihan Suriah. Dan Kongres telah gagal memasukkan ketentuan yang didukung Senat dalam RUU kebijakan pertahanan tahun ini, yang akan memberikan Pentagon $25 juta per tahun dan meningkatkan otoritas untuk mendukung upaya stabilisasi di sana.

“Ada cukup banyak yang mendukung untuk membantu stabilisasi,” kata Will Todman, seorang rekan pengamat di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Timur Tengah. “Ini membantu mencegah kembalinya kondisi yang sama yang menyebabkan munculnya ISIS… dan itu memberi AS pengaruh dan mungkin lebih banyak suara atas masa depan Suriah.”

Todman mengatakan, keengganan Trump untuk ikut membantu, akan memberikan Amerika Serikat “sangat sedikit pengaruh di Suriah.”

Perkiraan biaya pembangunan di Suriah lebih dari $250 miliar. Menurut PBB, 13,1 juta warga Suriah dalam keadaan yang sangat membutuhkan, 6,6 juta di antaranya terlantar di dalam negeri. Sebanyak 5,6 juta orang lainnya telah melarikan diri dari Suriah sejak tahun 2011, mencari perlindungan di Lebanon, Turki, Yordania, dan negara-negara lain.

Tetapi para ahli lain berpendapat, untuk memiliki peran signifikan di Suriah ke depannya, Amerika Serikat harus memberikan lebih banyak sumber daya dan pasukan—tanpa mendapatkan banyak imbalan.

“Ini semua memang menjadi tweet yang hebat, tetapi ketika berbicara tentang membahayakan nyawa pasukan dan warga negara Amerika, Anda harus bertanya: Apa kepentingan strategis AS?” menurut Luke Coffey, Direktur Douglas and Sarah Allison Centre for Foreign Policy di Heritage Foundation.

Karena itu, Coffey mengatakan, Amerika Serikat hanya memiliki pengaruh di sebagian kecil Suriah, di timur laut, di mana Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS beroperasi (kelompok ini sebagian besar terdiri dari Suriah Kurdi dan para pejuang Arab).

Turki sangat terlibat di barat laut dekat Provinsi Idlib, sementara bagian lain negara itu didominasi oleh pasukan pemerintah Rusia dan Suriah.

Todman mengatakan, tidak jelas apa keuntungan yang akan didapat Rusia dan Iran dengan memperkuat kekuasannya atas Suriah. Negara ini telah dilanda konflik bertahun-tahun, dan baik Rusia maupun Iran tidak memiliki sumber daya atau keinginan untuk mendanai rekonstruksi.

Baca Juga: Konflik Suriah: Bagaimana Rezim Assad, Rusia, dan Iran Lancarkan Pembantaian di Idlib

“Pendanaan rekonstruksi adalah… pada dasarnya cara memberi penghargaan kepada (Presiden Bashar al-Assad), meskipun AS telah secara konsisten menyerukan penggulingannya sejak awal konflik,” katanya. “Melakukan hal itu juga akan membantu membuat Suriah menjadi aset strategis yang lebih berharga bagi musuh seperti Rusia dan Iran.”

Pemerintahan Trump sedang dalam proses meninjau peran AS dalam kegiatan stabilisasi di seluruh kawasan saat ini, menurut salah satu staf Komite Angkatan Bersenjata.

Kekhawatiran atas peran Departemen Pertahanan dalam stabilisasi, sebagian berasal dari pengalaman AS di Irak dan Afghanistan, menurut Melissa Dalton, seorang rekan pengamat senior di Pusat Studi Strategis dan Internasional serta Wakil Direktur Program Keamanan Internasional wadah pemikir tersebut.

“Ada kekhawatiran yang sedang berlangsung (tentang) perpanjangan misi di Suriah,” kata Dalton. “Hanya saja, terdapat rekam jejak Departemen Pertahanan yang buruk dalam misi stabilisasi yang lebih luas, dan sayangnya tidak benar-benar melihat hasil yang stabil.”

Coffey mengatakan, setelah koalisi pimpinan AS menarik beberapa pasukan yang tersisa di Suriah timur laut, beban pembangunan kemungkinan akan diberikan kepada pemerintah lokal, rezim Suriah, dan Pasukan Demokratik Suriah.

Pasukan Demokratik Suriah kemungkinan akan menengahi kesepakatan dengan Assad tentang bagaimana memimpin bagian timur negara itu, menurut Dalton. Tapi semakin banyak AS melepaskan peran kepemimpinannya dalam mengatur kesepakatan itu, semakin sedikit pengaruh Pasukan Demokratik Suriah terhadap Assad dan para sekutunya, Iran dan Rusia.

“Kenyataan yang sangat mengerikan adalah, bahwa Assad telah menang dalam perang sipil ini,” kata Dalton.

Lara Seligman adalah koresponden Pentagon di Foreign Policy.

 

Amerika Menarik Diri, Suriah Jadi Rentan terhadap Rusia dan Iran

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top