Amerika Pangkas Bantuan, Badan Pengungsi Palestina PBB Dibiarkan Kesulitan
Amerika

Amerika Pangkas Bantuan, Badan Pengungsi Palestina PBB Dibiarkan Kesulitan

Nikki Haley, Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Jared Kushner, Penasihat Senior Gedung Putih, menghadiri sebuah pertemuan Dewan Keamanan PBB pada tanggal 20 Februari 2018 di New York City. (Foto: Reuters/Lucas Jackson)
Home » Featured » Amerika » Amerika Pangkas Bantuan, Badan Pengungsi Palestina PBB Dibiarkan Kesulitan

Nikki Haley bertaruh bahwa seluruh dunia akan menanggung biaya pemangkasan bantuan Amerika untuk para pengungsi Palestina. Namun itu belum terjadi. Pada bulan Januari, Amerika Serikat mengurangi hampir setengah angsuran pertama dari kontribusi yang dijanjikannya kepada UNRWA, dan menandatangani cek hanya sebesar $60 juta, dan bukannya $125 juta seperti yang diharapkan. 

Oleh: Colum Lynch (Foreign Policy)

Nikki Haley, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, bertaruh bahwa dia dapat memaksa negara lain untuk membantu Amerika menanggung beban keuangan untuk membantu pengungsi Palestina, jika saja AS menghentikan bantuan kemanusiaannya sendiri.

Sejauh ini, pengungsi Palestina belum mendapatkan apa pun.

Dua bulan setelah Amerika Serikat menahan dana sebesar $65 juta yang dijanjikan kepada badan PBB yang melayani lebih dari 5 juta pengungsi Palestina, tidak ada negara lain yang melangkah maju untuk meningkatkan dana talangannya di tahun 2018.

    Baca Juga : 5 Hal yang Perlu Kita Tahu tentang Pertemuan Trump-Kim

Dalam upaya untuk mengatasi pengurangan bantuan AS yang tiba-tiba, para menteri dari hampir 90 negara akan bertemu di Roma pada Kamis (15/3), untuk melakukan sebuah konferensi pendanaan utama terkait bantuan Palestina.

Konferensi tersebut—yang dilaksanakan atas permintaan Sekretaris Jendral PBB António Guterres dan juga dipimpin oleh Menteri Luar Negeri dari Mesir, Yordania, dan Swedia—akan menguji apakah strategi Haley dapat mendorong seluruh dunia untuk memenuhi kekosongan yang diciptakan oleh Amerika, yang mundur dalam pemberian bantuan Palestina.

Konferensi ini juga akan menempatkan delegasi AS dalam posisi yang canggung, untuk membela pemangkasan bantuan AS untuk pengungsi Palestina, termasuk di Suriah, di saat pemerintahan Trump ingin meningkatkan bantuan kemanusiaan di Ghouta Timur dan bagian-bagian Suriah lainnya yang terkepung.

Selama beberapa dekade, Amerika Serikat telah memberikan dana terbesar untuk Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA), yang menyediakan layanan sekolah, perawatan kesehatan, makanan, dan layanan penting lainnya, kepada pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah. Pada tahun 2017, AS memberi lebih dari $360 juta kepada UNRWA.

Pada bulan Januari, Amerika Serikat mengurangi hampir setengah angsuran pertama dari kontribusi yang dijanjikannya kepada UNRWA, dan menandatangani cek hanya sebesar $60 juta, dan bukannya $125 juta seperti yang diharapkan. Washington juga mengamanatkan bahwa tidak satu pun dari uang tersebut dapat digunakan untuk mendukung program pengungsi Palestina di Lebanon dan Suriah. Amerika Serikat kemudian memblokir distribusi bantuan makanan darurat senilai $45 juta untuk Gaza dan Tepi Barat.

Para pengungsi Palestina.

Para pengungsi Palestina. (Foto: DPA/PA Images)

Pemotongan dana AS—yang menghasilkan sekitar 30 persen dari anggaran operasional tahunan badan tersebut—telah memicu krisis keuangan terbesar dalam sejarah badan tersebut selama hampir 70 tahun, menurut juru bicara UNRWA.

Keputusan tersebut diambil sebagai pembalasan atas dukungan Otoritas Palestina terhadap dua resolusi PBB yang mengecam pengumuman Presiden AS Donald Trump pada tanggal 6 Desember 2017, bahwa Amerika Serikat akan memindahkan kedutaan besarnya di Israel ke Yerusalem.

Dampak pemotongan anggaran tersebut berkurang dengan adanya fakta bahwa setidaknya 15 pendonor—termasuk Belanda, Norwegia, Swedia, dan Swis—telah sepakat untuk segera mendistribusikan keseluruhan kontribusi tahunan mereka untuk tahun 2018, sehingga UNRWA dapat menghadapi guncangan keuangan awal dengan lebih baik.  Langkah ini telah menyuntikkan beberapa uang yang sangat dibutuhkan ke badan tersebut.

Kuwait, sementara itu, telah mengalihkan sekitar $900 ribu yang ingin diberikannya pada permohonan bantuan darurat tahun 2017 untuk pengungsi Palestina di Suriah, ke anggaran operasi UNRWA 2018. Tapi saat ini tidak ada janji sumber uang baru untuk menebus pemotongan Amerika.

“Ini bukan uang baru, tapi dana yang sudah dijanjikan dan kemudian diberikan dengan lebih cepat,” Chris Gunness, juru bicara UNRWA, mengatakan kepada Foreign Policy. Beberapa negara, katanya, telah menginformasikan kepada UNRWA bahwa “mereka mempertimbangkan dana tambahan, namun tidak ada yang dikonfirmasi pada tahap ini. Kami berharap sejumlah negara anggota akan mengumumkan dana baru yang substansial pada pertemuan di Roma minggu ini.”

“UNRWA telah menerima $60 juta dari AS, dan saat ini tidak memiliki indikasi bahwa akan menerimanya lagi,” Gunness mengatakan. “Jadi, dengan situasi saat ini, dan untuk tujuan perencanaan UNRWA, badan ini mengasumsikan bahwa akan ada pengurangan tahun ini di aliran dana AS yang mencapai lebih dari $300 juta.”

Gunness mengatakan bahwa badan tersebut harus dapat mempertahankan layanan intinya sampai awal Juni, namun dia mengungkapkan kekhawatiran tentang kemampuannya untuk menjaga agar sekolah tetap buka dari bulan Agustus sampai Desember.

Pejabat di misi AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa—yang berbicara tanpa menyebutkan nama—memberi tahu FP bahwa keputusan oleh para pendonor untuk mempercepat kontribusi mereka, merupakan “langkah positif menuju pembagian beban. Jika negara lain melihat nilai yang ada di UNRWA, mereka bisa diketahui melalui sumbangan mereka.”

Israel telah lama memiliki keraguan tentang UNRWA—yang dibentuk setelah perang Arab-Israel tahun 1948—karena badan tersebut menyediakan jalur kehidupan bagi penduduk Palestina yang terus tumbuh, yang dikhawatirkan akan menuntut hak untuk kembali. Namun badan keamanan nasional Israel telah lama mentolerir badan tersebut—yang membantu lebih dari 700 ribu orang Palestina dan keturunan mereka yang mengungsi akibat konflik—sebagai institusi yang diperlukan atau bahkan sangat dicintai.

Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak Haley—yang mengunjungi Israel pada Juni 2017—untuk mendorong pembubaran UNRWA, dengan alasan kekhawatiran bahwa lembaga bantuan tersebut bersikap bias terhadap Israel. Haley awalnya mundur dan meyakinkan UNRWA bahwa Amerika Serikat akan mempertahankan tingkat pendanaan saat ini untuk operasinya.

    Baca Juga : Mengapa Pertemuan Kim dan Trump Adalah ‘Masalah Besar’ yang Bisa Gagal

Tapi dia berbalik arah setelah Palestina menekan pada bulan Desember untuk diberlakukannya resolusi di Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB, yang menuntut AS agar membatalkan keputusan Presiden Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Karena marah dengan apa yang dilihatnya sebagai penghinaan terhadap Amerika Serikat, Haley mendesak Trump untuk memotong semua bantuan keuangan ke Palestina melalui UNRWA. Haley pada awalnya membujuk penasihat keamanan nasional Trump HR McMaster dan John Kelly, kepala staf presiden, dengan meyakinkan mereka bahwa hal itu akan memberikan pengaruh di PBB, untuk meyakinkan negara lain untuk mengambil bagian yang lebih besar dalam pendanaan program semacam itu, menurut sumber diplomatik yang ditempatkan dengan baik. Mereka memberinya lampu hijau.

Haley juga mendapat dukungan dari Jared Kushner, menantu Trump dan penasihat tingkat tinggi perdamaian Timur Tengah. Keputusan untuk mengurangi pendanaan pada awalnya ditentang oleh Departemen Luar Negeri, Pentagon, dan komunitas intelijen, yang mengkhawatirkan bahwa pemangkasan bantuan dapat mengancam stabilitas, dan mendorong masyarakat Palestina untuk terus-menerus mengalami keputusasaan. Pada akhirnya, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson membujuk Trump untuk memotong hingga hanya sebesar $60 juta—sekitar setengah dari pembayaran angsuran pertama di Amerika Serikat.

Pada saat itu, juru bicara Tillerson, Heather Nauert, mengatakan bahwa Amerika Serikat memberikan “pertimbangan lebih lanjut” terhadap kemungkinan memberikan lebih banyak dana di masa mendatang.

Namun selama pertemuan tertutup pada tanggal 20 Februari dengan Dewan Keamanan PBB, Kushner berusaha untuk menghentikan diskusi mengenai pendanaan AS. “Kami sudah memberi $65 juta,” kata Kushner, menurut seorang dewan diplomat.

Sudah saatnya, Kushner mengatakan, agar negara lain bisa masuk dan berbagi beban.

Colum Lynch adalah reporter diplomatik senior Foreign Policy yang berbasis di PBB, yang memenangkan penghargaan.

Keterangan foto utama: Nikki Haley, Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Jared Kushner, Penasihat Senior Gedung Putih, menghadiri sebuah pertemuan Dewan Keamanan PBB pada tanggal 20 Februari 2018 di New York City. (Foto: Reuters/Lucas Jackson)

Amerika Pangkas Bantuan, Badan Pengungsi Palestina PBB Dibiarkan Kesulitan
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top