bencana alam di indonesia
Berita Politik Indonesia

Anak-Anak akan Diajarkan Kesiapan Bencana Alam di Indonesia

Berita Internasional >> Anak-Anak akan Diajarkan Kesiapan Bencana Alam di Indonesia

Setelah tahun 2018 yang penuh bencana alam di Indonesia, pemerintah sedang menggiatkan untuk mengajarkan anak-anak sekolah kesiapan bencana. Hampir setengah juta anak-anak terkena dampak tahun lalu setelah lebih dari 24.000 sekolah hancur oleh gempa bumi yang mengguncang Lombok dan Sulawesi Tengah. Sementara itu, ada 37.000 sekolah yang terletak di lokasi yang rawan bencana.

Baca Juga: Alam Mengutuk Indonesia, tapi Kelalaian yang Timbulkan Bencana

Oleh: Linda Yulisman (Straits Times)

Pemerintah sedang meningkatkan upaya untuk mempersiapkan diri lebih baik terhadap bencana alam di Indonesia, dimulai dengan anak-anak sekolah.

Tahun lalu adalah tahun paling mematikan di Indonesia dalam lebih dari satu dekade. Bencana-bencana seperti tsunami, gempa bumi dan letusan gunung berapi merenggut lebih dari 4.500 jiwa dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

“Mengingat potensi bencana di negara ini, saatnya untuk memiliki pendidikan bencana sebagai bagian dari kurikulum nasional,” kata Presiden Joko Widodo akhir bulan lalu setelah tsunami dipicu oleh letusan tiba-tiba dari gunung berapi Anak Krakatau. Gelombang pembunuh itu merenggut lebih dari 400 nyawa.

Pemerintahan Jokowi percaya bahwa melatih anak-anak dalam kesiapsiagaan bencana di sekolah akan meningkatkan kesadaran mereka dan membekali mereka dengan keterampilan untuk selamat dari bencana.

Setidaknya 37.000 sekolah di seluruh negeri berlokasi di daerah rawan bencana, menurut angka dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sementara itu hampir setengah juta anak-anak terkena dampak tahun lalu setelah lebih dari 24.000 sekolah hancur oleh gempa bumi yang mengguncang Lombok dan Sulawesi Tengah, menurut Sekretariat Nasional Unit Pendidikan Ketahanan Bencana.

“Sebagai negara rawan bencana yang terletak di Cincin Api, kita harus siap untuk menanggapi dan menerima tanggung jawab atas bencana. Saya telah meminta pendidikan bencana dilakukan lebih baik, konsisten dan awal, terintegrasi dalam sistem pendidikan kita,” Jokowi menegaskan dalam rapat kabinet Senin lalu (7/1).

Pemerintah mengatakan akan menggandakan anggaran mitigasi bencana menjadi 15 triliun rupiah (US$1,4 miliar) tahun ini dan juga menghidupkan kembali sistem peringatan dini tsunami yang sudah tidak berlaku di seluruh negeri. Sebagian dari dana ini akan digunakan untuk pendidikan bencana di sekolah.

Baca Juga: Bencana Mematikan di Indonesia Picu ‘Blame Game’ Politik

Dr Eko Yulianto, kepala Pusat Penelitian Geo-teknologi di Institut Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan pendidikan bencana harus fokus pada pembentukan sikap yang berasal dari pengalaman langsung melalui latihan dan praktik daripada belajar dari buku teks. “Dengan pengalaman, siswa akan memupuk kesadaran bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan menyelamatkan diri mereka sendiri,” katanya.

Dia mengatakan ini dapat diberikan selama pelajaran geografi atau olahraga atau melalui kegiatan ekstrakurikuler. Juga bermanfaat adalah kegiatan sederhana seperti mengajar anak-anak cara memperkuat meja kelas dengan alat atau membuat mereka berlatih bersembunyi di bawah meja selama simulasi gempa bumi. Pelajaran ini akan memiliki efek abadi pada anak-anak, tambahnya, menekankan perlunya kesinambungan dan konsistensi dalam melakukan latihan.

Dr Mizan Bisri, seorang peneliti di Masyarakat Jepang untuk Promosi Sains-Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, percaya pengenalan pendidikan bencana akan berdampak besar jika diperluas ke semua sekolah.

“Kita perlu menemukan jenis dan format latihan apa yang layak,” kata Dr Mizan, yang meneliti penelitian kemanusiaan dan pendidikan tata kelola bencana. Dia mencatat bahwa program seperti itu harus terjangkau dan mengajarkan keterampilan dasar seperti waspada terhadap risiko bencana dan evakuasi ke tempat yang lebih aman ketika terjadi bencana.

Sekolah-sekolah dapat mulai dengan latihan bencana dan latihan evakuasi tetapi ini harus dirancang untuk risiko bencana alam di daerah tertentu, tambahnya.

Sejak 26 Desember 2004, bencana tsunami yang meluluhlantakkan provinsi Aceh, Indonesia telah berupaya mengintegrasikan pendidikan bencana ke dalam kurikulum sekolah.

Dengan bantuan organisasi non-pemerintah, negara ini telah mendirikan 25.000 sekolah yang aman dari bencana.

Namun, Dr Mizan mencatat keterbatasan anggaran berarti bahwa banyak sekolah yang ditinggalkan. Namun, ia percaya bahwa latihan rutin dan praktik evakuasi di sekolah akan berkontribusi pada peningkatan kesiapsiagaan bencana.

Dia mengatakan untuk mengatasi bencana, Indonesia perlu mengadopsi praktik tendenko tsunami Jepang yang mengatakan bahwa individu tidak boleh tinggal dan membantu orang lain tetapi menjalankan dan melestarikan hidupnya sebagai gantinya.

“Prasyaratnya adalah mengetahui risiko di lingkungan sekitar dan memilih tempat evakuasi atau tempat berkumpul yang lebih aman daripada rumah, sekolah, atau kantor,” katanya.

Dia menambahkan: “Juga diperlukan untuk mengadakan latihan secara rutin untuk semua kelompok umur. Berdasarkan pengalaman Jepang, cukup untuk melakukannya hanya sekali atau dua kali setahun, asalkan dilakukan secara konsisten.”

Keterangan foto utama: Orang-orang berjalan di jembatan yang rusak setelah dihantam gempa bumi dan tsunami di Palu, 7 Oktober 2018. (Foto: Reuers/Beawiharta)

 

Anak-Anak akan Diajarkan Kesiapan Bencana Alam di Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top