Pasangan dari Papua menemani anak mereka yang menderita malnutrisi di sebuah rumah sakit di Agats. (Foto: AFP/Getty Images)
Berita Politik Indonesia

Anak-anak Papua Mati Kelaparan di Tengah Lautan Emas

Pasangan dari Papua menemani anak mereka yang menderita malnutrisi di sebuah rumah sakit di Agats. (Foto: AFP/Getty Images)
Berita Internasional >> Anak-anak Papua Mati Kelaparan di Tengah Lautan Emas

Secara tradisional, kehidupan suku Asmat bergantung pada sagu yang diekstark dari pohon palem, dan ikan dari sungai atau lautan. Namun wabah penyakit dan kelaparan nyatanya merongrong di wilayah yang kaya ini, dengan memakan korban 72 orang, kebanyakan anak-anak, di wilayah pinggiran Indonesia di Provinsi Papua, yang merupakan rumah bagi tambang emas terbesar di dunia. Ini ibarat anak-anak Papua mati kelaparan di tengah lautan emas.

    BacaJuga :Isu Sensitif Papua Berpadu dengan Wabah Penyakit, Pemerintah Hanya Peduli Politik?

Oleh: BBC

Krisis campak dan kelaparan telah membunuh setidaknya 72 orang, kebanyakan anak-anak, di wilayah pinggiran Indonesia di Provinsi Papua, yang merupakan rumah bagi tambang emas terbesar di dunia.

Dalam laporan Rebecca Henschke dan Hedyer Affan, krisis tersebut telah menyibak sebuah wilayah yang selama ini tidak diliput para wartawan dan menunjukkan kegagalan serius pemerintah.

Baru dua bulan umurnya, Yulita Atap sudah menghadapi hidup yang sangat keras. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya ingin membunuhnya.

“Tenggelam dalam kesedihan dia kemudian ingin memukul anaknya, mengurbur anaknya bersama dengan ibunya.” kata paman Yulita, Ruben Atap.

“Saya mengatakan, jangan lakukan itu, Tuhan akan marah, dia menjadi lebih tenang dan bersyukur sehingga akhirnya ayahnya memutuskan untuk mengurus Aliita, namun sekarang kita kesusahan untuk menghidupinya.”

Yulita tergeletak lemas di tempat tidur didalam sebuah rumah sakit di wilayah Asmat, sebuah wilayah sebesar Belgia yang dikelilingi hutan. Tulang-tulangnya nampak dari luar, hampir seperti menembus kulitnya, perutnya membuncit, Allita menarik dan menghembuskan nafas ditengah-tengah tidurnya.

Pamannya terus-menerus memperhatikan tubuh mungilnya.

Keluarga Yulita Atap menempuh perjalanan selama dua hari untuk menjangkau rumah sakit. (Foto: BBC)

Pegawai kesehatan pemerintah Indonesia membantu paman Yulita menempuh dua hari perjalanan menggunakan speedboat melewati sungai untuk sampai ke rumah sakit. Sungai itu layaknya jalan raya, mengalir seperti ular ditengah-tengah hutan yang lebat.

Disebelahnya ada keluarga Ofnea Yohanna. ketiga anaknya yang berumur empat tahun, tiga tahun, dan dua tahun mengalami kurang gizi akut.

Dia menikah ketika dia baru berumur 12 tahun. Ketika masih berumur 20-an dia telah memiliki enam anak.

“Kita makan ketika ada makanan, ketika tidak ada makanan kita tidak makan. Sekarang ini kita tidak memiliki perahu untuk memancing,” katanya.

Sementara kita berbicara, anaknya memandang kosong kearah kejauahan, matanya terlihat hampa dan tanpa kehidupan. Dia mengambil sepotong biskuit dari paket, sementara setumpuk nasi putih diatas kertas coklat tergeletak tak termakan disebelahnya.

Ofnea Yohanna terbaring seharian di kasur di rumah sakir Agats. (Foto: BBC)

Ofnea Yohanna terbaring seharian di kasur di rumah sakir Agats. (Foto: BBC)

Suku yang penuh kebanggaan

Secara tradisional, kehidupan suku Asmat bergantung pada sagu yang diekstark dari pohon palem, dan ikan dari sungai atau lautan.

“Asmat, dalam caranya sendiri, merupakan tempat yang sempurna. Semua yang mungkin kamu butuhkan ada disini,” tulis Carl Hoffman dalam bukunya di tahun 2014 mengenai kehilangan dan dugaan kematian sosialita New York, Michael Rockefeller, di Asmat pada 1960an.

“Wilayah tersebut dipenuhi dengan udang dan kepiting dan ikan dan kerang dan sagu, yang intisarinya dapat dibuat menjadi pati putih dan juga menjadi tempat perkembangbiakan larva dari kumbang makara, keduanya merupakan sumber nutrisi,” tulisnya.

    Baca Juga : Siaran Pers: Ikatan Mahasiswa Papua Soroti Gizi Buruk dan Wabah Penyakit di Papua

Michael Rockefeller, anak dari Gubernur New York dan salah satu keluarga terkaya di Amerika, dari dari penjuru dunia ke wilayah Asmat untuk mengumpulkan kerajinan Asmat yang rumit dan mengesankan seperti ukiran di kayu yang sangat besar.

Foto hitam putih Rockefeller dari perjalanannya mengunjungi orang-orang Asmat, pada masa kanibalisme dan pemburuan manusia, mengesankan dunia Barat.

Suku Asmat dari Papua menampilan tarian tradisional. (Foto: AFP/Getty Images)

Suku Asmat dari Papua menampilan tarian tradisional. (Foto: AFP/Getty Images)

Pola Makan yang berganti, tradisi yang memudar

Suku Asmat yang semi-nomad terbiasa menghabiskan berbulan-bulan di hutan untuk membuat sagu dan menemukan makanan yang cukup untuk hidup.

Perubahan budaya mulai terjadi di tahun 1950an dengan datangnya Misionaris Kristen, dan dalam beberapa tahun belakangan pola makan mereka mulai berubah dengan drastis dengan semakin meningkatnya imigran dari pulau lain di Indonesia yang datang kesana.

Kota terdekat Timika, yang dapat ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan udara, digunakan sebagai pusat pertambangan Freeport yang dimiliki Amerika Serikat (AS), penambang emas terbesar di dunia.

Dengan salah satu tradisi keahlian kerajian kayu yang rumit dan terkenal di Pasifik, seni dari Asmat dicari oleh kolektor dari seluruh dunia. (Foto: AFP/Getty Images)

Dengan salah satu tradisi keahlian kerajian kayu yang rumit dan terkenal di Pasifik, seni dari Asmat dicari oleh kolektor dari seluruh dunia. (Foto: AFP/Getty Images)

Timika merupakan wilayah dengan pertumbuhan populasi paling tinggi di Indonesia.

“Orang-orang dengan cepat membeli makanan impor karena hutan-hutan telah digunduli sehingga mereka harus pergi lebih jauh untuk mendapatkan sagu,” kata penstudi kesehatan lokal, Willem Bobi.

“Jadi sekarang hal yang paling mudah ialah membeli makanan instan; dana pemerintah telah disalurkan dan membuat orang-orang kita jadi tergantung.”

Seorang asli Papua, Willem Bobi melakukan perjalanan menelusuri wilayah luas yang tertutup hutan dan mendeskripsikan kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan dalam sebuah buku, The Asmat Medicine Man, yang dipublikasikan tahun lalu.

“Saya tahu krisis seperti ini akan datang. Saya melihat terbatasnya kesediaan air dan kekurangan serius dalam dasilitas kesehatan. Saya melihat sebuah klinik kesehatan yang satu-satunya dokter bertugas telah pergi selama berbulan-bulan namun masih mendapatkan upah.

“Krisis yang kita lihat sekarang telah terjadi berulang kali namun belum pernah seburuk sekarang ini,” kayanya.

“Ini terjadi karena otoritas kesehatan tidak berupaya menghadapi permasalahan ini dengan serius.”

Seorang anggota militer Indonesia memberi makanan kepada seorang anak di rumah sakit lokal di Agats. (Foto: AFP/Getty Images)

Seorang anggota militer Indonesia memberi makanan kepada seorang anak di rumah sakit lokal di Agats. (Foto: AFP/Getty Images)

Pegawai kesehatan dan paramedis memberi vaksin kepada lebih dari 17.300 anak, dan otoritas sekarang mengatakan bahwa wabah campak sudah dapat dikontrol.

Militer mengatakan mereka telah melakukan operasi monitoring yang telah berjalan selama satu tahun di wilayah tersebut untuk menemukan dimana akar permasalahannya.

Bagaimanapun, Kepada tim medis militer memahami bahwa respon pemerintah pusat lamban.

“Mari kita jujur, Mungkin pemerintah lokal dan nasional terlambat menyadari wabah ini,” kata Asep Setia Gunawan, Kepada petugas medis militer, kepada AFP.

Permasalahan sejarah

Papua telah menjadi wilayah sensitif semenjak mereka menjadi bagian Indonesia pada 1960an setelah peristiwa yang menurut beberapa sejarahwan merupakan pungutan suara yang diawasi PBB yang dicurangi.

Hanya 1063 orang yang dipilih untuk ikut dalam pemungutan. Provinsi itu memiliki sumber daya yang sangat kaya, menjadi sumber emas terbesar di dunia, yang menjadi sumber penghasilan pajak terbesar Indonesia.

Pemerintah mengatakan Papua merupakan bagian penting dari Indonesia dan telah diakui oleh PBB. Namun pergerakan separatis kecil, yang memperjuangkan kemerdekaan, masih berlangsung hingga hari ini.

Militer dituduh oleh kelompok HAM telah melakukan pelanggaran HAM yang mengerikan untuk menekan segala macam perlawanan.

Sampai sekarang wartawan luar negeri tidak diperkenankan untuk memberitakan wilayah tersebut. Saya perlu mendapatkan izin khusus dari polisi untuk mengunjungi wilayah ini.

Ada kerusuhan ketika kita berkunjung; seorang perempuan ditembak mati. Polisi mengatakan bahwa dia adalah penduduk desa yang membantu seorang pria kabur dari penangkapan.

Dia dituduh telah menjual bijin beton, yang diduga ia curi dari dermaga kargo perusahan tambang AS Freeport-McMoRan.

Keluarga wanita tersebut mengatakan ia tak bersalah. Sekarang polisi sedang melakukan penyelidikan internal.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad Al Hussein, dalam kunjungannya ke Indonesia minggulalu, mengatakan dia mengkhawatirkan “laporan meningkatknya penggunaan kekerasan oleh penegak keamanan, pelecehan, penangkapan dan penghukuman sewenang-wenang di Papua.”

Dia mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia telah mengundang PBB untuk mengirimkan misi ke provinsi tersebut, sesuatu yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat.

(Sumber: BBC)

Pendanaan baru, permasalahan baru

Dalam upaya untuk meringankan ketegangan, Papua diberi otonomi lebih luas pada 2001, juga ada peningkatan pendanaan pemerintah untuk wilayah tersebut, dengan Pemerintah Indonesia berjanji untuk membawa kemakmuran kepada penduduk Papua.

Namun Ruben Atap, seperti juga penduduk Papua lain yang saya temui, mengatakan bahwa dana tersebut hanya menguntungkan beberapa pihak.

“Pemimpin lokal kita mengambil uang itu dan menggunakannnya untuk diri mereka sendiri. Mereka tidak memikirkan warganya dan melaksanakan keyakinannya.” katanya.

Pegawai kesehatan mengatakan mereka sangat kekurangan sumber daya. (Foto: AFP/Getty Images)

Dalam suasana tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakakan pendanaan otonomi khusus kepada Provinsi Papua akan di re-evaluasi untuk memastikan dana tersebut digunakan untuk pembangunan.

“Ini merupakan pelajaran bagi kita, karena selama ini pendanaan otonomi khusus telah dicairkan dengan cara yang salah oleh pemerintah provinsi – meskipun otonomi khusus telah memiliki tujuan khusus,” katanya minggu lalu.

Bupati Asmat, Elisa Kambu, mengatakan bahwa permasalahannya memiliki cakupan lebih luas.

Dia mengatakan bahwa Pemerintah Pusat “hanya berbicara soal uang, bahwa banyak uang telah digelontorkan ke Papua; uang saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan ini.”

Pengingat

“Kejadian di Asmat merupakan pengingat bagi kita semua,” kata penasihat presiden, Yanuar Nugroho.

Dia mengatakan bahwa wilayah lain di Papua dapat menghadapi permasalahan krisis kesehatan yang sama dan Asmat hanyalah gunung es di permukaan lautan,” katanya.

Anak-anak Papua bermain di sungai di Agats. Pemerintah telah berjanji untuk lebih banyak berinvestasi untuk pelayanan. (Foto: AFP/Getty Images)

Willem Bobi, penstudi kesehatan, berpendapat bahwa solusinya tidak begitu bergantung pada pemerintah.

“Mungkin jika mendapatkan uang tidak terlalu mudah orang-orang akan kembali ke cara lama mereka untuk mendapatkan makanan,” katanya sambil tertawa.

“Namun tentu saja itu akan sangat berat, karena sekarang lebih mudah untuk membeli makanan instan.”

Usulan dari Presiden Joko Widodo untuk merelokasi penduduk Asmat yang tersebar dihutan ke kota, sehingga mereka lebih dekat dengan layanan kesehatan, langsung ditolak oleh pemimpin lokal.

“Tidak semudah itu memindahkan penduduk karena kita memiliki budaya, aturan, hak tanah, dan hubungan dengan wilayah tersebut,” kata sang bupati, Elisa Kambu.

Perempuan Papua menyambut rombongan bermotor Presiden Joko Widodo di Jayapura pada 2015. (Foto: AFP/Getty Images)

Perempuan Papua menyambut rombongan bermotor Presiden Joko Widodo di Jayapura pada 2015. (Foto: AFP/Getty Images)

Presiden Jokowi telah mengunjungi Papua lebih dari enam kali semenjak ia terpilih pada 2014, berusaha keras untuk menunjukkan komitmen Pemerintah Pusat untuk mengembangkan provinsi tersebut, memprioritaskan konstruksi infrastuktur.

Dan ditengah-tengah krisis ini pemerintah telah berjanji untuk berinvestasi lebih di bidang fasilitas kesehatan diseluruh wilayah pinggiran sekaligus juga sekolah-sekolah.

Ruben Atap mengatakan dia berharap suatu saat keponakannya akan pergi ke sekolah.

“Apa yang anda harap ia lakukan setelah ia sembuh?” tanya saya.

Dia tertawa malu-malu.

“Saya tidak tahu akan seperti apa masa depannya, kita hanya mencoba sebaik mungkin untuk membantunya bertahan hidup.”

Keterangan foto utama: Pasangan dari Papua menemani anak mereka yang menderita malnutrisi di sebuah rumah sakit di Agats. (Foto: AFP/Getty Images)

Anak-anak Papua Mati Kelaparan di Tengah Lautan Emas

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top