INF
Global

Akhiri INF, Trump Justru Picu Proliferasi Nuklir Global

Seorang aktivis dengan topeng Presiden AS Donald Trump berdiri di sebelah model roket nuklir, selama demonstrasi melawan senjata nuklir pada 18 November 2017 di Berlin, Jerman. (Foto: Getty Images/Adam Berry)
Berita Internasional >> Akhiri INF, Trump Justru Picu Proliferasi Nuklir Global

Trump justru telah memicu proliferasi nuklir global dengan mengakhiri Perjanjian Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF). Sebelum Amerika Serikat mengakhirinya, Perjanjian INF tidak hanya mencegah perlombaan senjata dengan Rusia, namun perjanjian ini juga menghentikan penyebaran senjata nuklir di seluruh dunia.

Baca juga: Perjanjian INF Bubar, Media Rusia Ancam Amerika dengan Perangkat Kiamat Nuklir

Oleh: Sarah Bidgood (Foreign Policy)

Pada tanggal 1 Februari, pemerintahan Trump mewujudkan ancamannya dan memulai proses penarikan resmi dari Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF) tahun 1987 antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, ini adalah keputusan yang picik. Dengan menarik diri dari Perjanjian INF, pemerintahan Trump telah mengakhiri segala konsekuensi dugaan ketidakpatuhan Moskow, dan membiarkannya bebas untuk meluncurkan sebanyak mungkin rudal jarak menengah sebanyak yang diinginkannya.

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perjanjian tersebut, dan bukannya mencoba menegakkannya, mendorong kembali perlombaan senjata nuklir AS-Rusia—dengan potensi konsekuensi yang mengerikan bagi keamanan internasional.

Tetapi ada akibat lain dari berakhirnya Perjanjian INF yang kurang diperhatikan namun sama berbahayanya: Ini akan merusak upaya global untuk mencegah penyebaran senjata nuklir ke negara-negara yang belum memilikinya. Sebagai instrumen pengendalian senjata, Perjanjian INF lebih dari sekadar membatasi kemampuan masing-masing pihak yang terlibat. Selama lebih dari 30 tahun, INF diam-diam menjadi bagian sentral dari rezim nonproliferasi internasional.

Kumpulan traktat, perjanjian informal, dan institusi yang menjaga penyebaran senjata nuklir tetap terkendali tersebut, sering digambarkan dalam istilah arsitektur: bangunan yang ditopang oleh pilar yang dibangun di atas fondasi yang lapuk tetapi tahan lama. Pada kenyataannya, rezim nonproliferasi adalah jaringan yang rumit dan saling terkait yang lebih menyerupai sarang laba-laba: lebih kuat dari beberapa bagiannya, tetapi cenderung terurai jika masing-masing benang mulai putus.

Mungkin bagian terpenting adalah tradisi kerja sama erat yang telah berlangsung lama antara Washington dan Moskow dalam masalah nuklir. Perjanjian INF itu sendiri adalah produk dari upaya bersama mereka, seperti Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir (umumnya dikenal sebagai NPT) tahun 1968, Kelompok Pemasok Nuklir, dan Badan Energi Atom Internasional, beberapa di antaranya.

Kemitraan AS-Soviet mengenai nonproliferasi tetap sakral bahkan pada saat-saat terburuk Perang Dingin, sebagian berkat interaksi rutin antara para pejabat Rusia dan Amerika di sejumlah perjanjian dan kerangka kerja lainnya. Seperti yang ditunjukkan oleh catatan sejarah, hanya berbicara satu sama lain—hampir tanpa mempedulikan hasilnya—telah membangun kepercayaan dan hubungan pribadi yang membuat kerja sama terus berjalan ketika masa-masa sulit.

Dari sudut pandang ini, kehancuran Perjanjian INF tidak hanya merupakan gejala dari krisis mendalam antara kedua kekuatan nuklir tersebut—tetapi juga merupakan kontributornya. Kehancuran perjanjian itu berarti penghapusan saluran resmi untuk interaksi antara Rusia dan Amerika, di saat hanya ada sedikit pilihan lain yang berharga.

Apakah Pelucutan Senjata Nuklir Dipersiapkan untuk Menghancurkan Diri?

1989: Sebuah rudal SS-23 Soviet dihancurkan, di bawah perjanjian INF (Foto: TASS/Getty Images)

Komisi Verifikasi Khusus—mekanisme penyelesaian perselisihan perjanjian—mengadakan 30 pertemuan hingga awal tahun 2000-an, tetapi sangat kurang dimanfaatkan dalam beberapa tahun terakhir. Komisi ini dapat mengatasi tuduhan ketidakpatuhan—dan bisa membantu mengembalikan hubungan ke jalurnya—tetapi peluang ini tidak ada lagi ketika perjanjian itu dihapuskan.

Pentingnya hubungan AS-Rusia terhadap nonproliferasi membuat berakhirnya Perjanjian INF juga akan memengaruhi wilayah rezim lainnya. Seperti yang telah diamati oleh banyak ahli, START Baru— yang sekarang menjadi benteng terakhir dalam kontrol senjata bilateral—mungkin yang paling rentan tertular. Akan berakhir hanya dalam dua tahun, perjanjian tahun 2010 ini dapat diperpanjang hingga lima tahun jika kedua belah pihak setuju.

Didorong oleh penarikannya dari Perjanjian INF, bagaimanapun, pemerintahan Trump mungkin akan mengabaikan kesempatan baik ini untuk kebebasan untuk mengejar fleksibilitas maksimum dalam opsi militernya. Jika ini terjadi, perlombaan senjata nuklir yang mengikuti mungkin akan menyebabkan negara-negara seperti Iran, Arab Saudi, atau bahkan Jerman, untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka. Menghindari hal ini adalah alasan untuk menegosiasikan kedua perjanjian itu pada awalnya.

Perkembangan seperti ini akan sangat berbahaya, di saat tidak ada instrumen yang mengikat secara hukum yang melarang uji coba nuklir. Penarikan AS dari Perjanjian INF atau, lebih tepatnya, alasan AS menarik diri, juga relevan di sini. Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT)—yang harus mengisi kekosongan ini—tidak dapat diberlakukan sebagian karena Amerika Serikat belum meratifikasinya. Para penentang CTBT di Washington sering berargumen bahwa ratifikasi tidak ada dalam kepentingan AS, namun, justru mengutip cerita-cerita lama dari uji coba rahasia Rusia yang tak pernah usai.

Baca juga: Rusia Pamerkan Rudal Jelajah Baru, Klaim Tak Langgar Perjanjian INF

Walau pemerintahan Obama dan Trump setuju bahwa Rusia melanggar Perjanjian INF, namun membatalkan perjanjian itu dan bukannya menggunakan Komisi Verifikasi Khusus untuk menangani tuduhan ini (atau kekhawatiran Rusia tentang kepatuhan AS), memberikan kepercayaan pada mitos bahwa Moskow adalah penipu abadi, di mana verifikasi tidak dapat bekerja. Kisah ini adalah kisah yang sulit untuk tidak diceritakan, bahkan jika pemerintahan baru AS yang mencari ratifikasi CTBT dipilih pada tahun 2020.

Kedua akibat ini melemahkan rezim nonproliferasi dan dapat memberikan kerusakan nyata pada kredibilitas NPT. Sebagai landasan dari rezim nonproliferasi, NPT menjabarkan perjanjian antara negara-negara senjata nuklir dalam perjanjian tersebut, yang setuju untuk menghentikan perlombaan senjata dan mengejar pelucutan senjata, dan negara-negara yang belum memiliki senjata nuklir, yang berjanji untuk tidak memilikinya.

Validitas dari perjanjian ini telah diteliti selama beberapa dekade, terutama oleh mereka yang merasa bahwa laju pelucutan senjata sangat lambat. Persepsi ini akan diperkuat oleh berakhirnya Perjanjian INF, yang bukan hanya tidak memberikan kemajuan dalam pengontrolan senjata, tetapi—di mata banyak orang—menjadi langkah mundur.

Mikhail Gorbachev dan Ronald Reagan menandatangani perjanjian INF pada tahun 1987. (Foto: AFP)

Demikian pula, selama 50 tahun sejak NPT dinegosiasikan, para pihaknya telah menyetujui konsensus tentang kewajiban negara-negara senjata nuklir. Pada tahun 1995, misalnya, pihak-pihaknya mengidentifikasi “pengejaran negara-negara senjata nuklir untuk mengurangi senjata nuklir secara global”, sebagai syarat bagi perpanjangan perjanjian yang tidak terbatas.

Kehancuran Perjanjian INF dan implikasinya terkait dengan langkah-langkah pengendalian senjata lainnya, adalah bukti nyata bahwa komitmen ini tidak terpenuhi juga—kenyataan yang tidak mungkin luput dari perhatian ketika NPT ditinjau pada tahun 2019 dan 2020. Pencabutan Perjanjian INF dapat menyebabkan beberapa pengamat menyimpulkan bahwa komitmen yang dibuat di bawah NPT dapat diabaikan, terutama ketika situasi politik tidak kondusif untuk menegakkan perjanjian itu.

Kesimpulan ini berbahaya, dan itu akan membuat rezim nonproliferasi menjadi lebih lemah. Seiring Barat bergulat dengan program senjata nuklir Korea Utara, lambatnya penyelesaian kesepakatan nuklir Iran, kebutuhan untuk mengimbangi potensi teknologi baru yang tidak stabil, dan persenjataan domain nontradisional seperti ruang angkasa dan dunia maya, kesuksesan akan membutuhkan kepatuhan penuh terhadap instrumen nonproliferasi.

Hal ini tentu memerlukan keterlibatan AS dan Rusia serta kontrol senjata yang kuat, dan dengan Perjanjian INF yang secara efektif mati, itu tidak akan tercapai. Ironi yang menyedihkan adalah, bahwa mengisi celah yang ditinggalkan perjanjian tersebut akan membutuhkan lebih banyak kemauan politik daripada mempertahankannya, dengan sedikit keuntungan yang jelas.

Baca juga: Putin: ‘Rudal Baru Rusia Tak Langgar Perjanjian INF’

Banyak kekhawatiran tentang berakhirnya Perjanjian INF berpusat pada implikasinya untuk proliferasi rudal, hubungan AS dengan NATO, dan apakah perjanjian pengganti yang mencakup China mungkin dapat dinegosiasikan. Meskipun semua ini valid, namun, ada baiknya juga memperkirakan seberapa luas kemungkinan dampak dari berakhirnya perjanjian itu—khususnya yang berkenaan dengan nonproliferasi.

Komunitas internasional, para ahli, dan para pembuat kebijakan harus mulai bersiap-siap untuk menghadapi efek riak dari kehancuran perjanjian itu. Ini memiliki potensi untuk menjadi jauh lebih signifikan—dan lebih luas—daripada yang mungkin mereka kira.

Sarah Bidgood adalah senior research associate dan program manager di Middlebury’s Center for Nonproliferation Studies.

Keterangan foto utama: Seorang aktivis dengan topeng Presiden AS Donald Trump berdiri di sebelah model roket nuklir, selama demonstrasi melawan senjata nuklir pada 18 November 2017 di Berlin, Jerman. (Foto: Getty Images/Adam Berry)

Akhiri INF, Trump Justru Picu Proliferasi Nuklir Global

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top