Putin di Suriah
Timur Tengah

Apa yang Sesungguhnya Diinginkan Putin di Suriah?

Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Suriah Bashar al-Assad, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu (kanan), dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Suriah Ali Abdullah Ayyoub (kiri), menginspeksi parade militer di Provinsi Latakia, barat laut Suriah. (Foto: AFP/Getty Images)
Berita Internasional >> Apa yang Sesungguhnya Diinginkan Putin di Suriah?

Apa yang sebenarnya diinginkan Presiden Rusia Vladimir Putin di Suriah? Rusia tidak pernah berusaha menjadi pemecah masalah jangka pendek di Timur Tengah. Tujuannya adalah untuk merebut kembali statusnya sebagai pemegang kekuasaan. Konflik Suriah selalu dianggap sebagai alat untuk menunjukkan ambisi yang menegaskan Rusia sebagai kekuatan global. Moskow pun menganggap mundurnya Presiden AS Donald Trump dari Suriah sebagai kemenangan yang sangat menambah modal politiknya.

Baca juga: Rusia Akan Jadi Tuan Rumah KTT Putin-Erdogan-Rouhani Terkait Suriah

Oleh: Dmitriy Frolovskiy (Foreign Policy)

Rusia mendapatkan hadiah terbaik dari pemerintahan Trump tepat sebelum Natal, dan sekarang mereka punya kebebasan untuk menentukan masa depan sekutu Timur Tengahnya yang bermasalah.

Dengan Amerika Serikat (AS) yang sedang bersiap untuk mundur dari keterlibatannya dalam konflik Suriah, strategi Kremlin tidak akan banyak berubah. Itu karena Rusia tidak pernah memikirkan tentang Suriah sejak awal.

Memproyeksikan dampak misi Suriah oleh Rusia di luar Timur Tengah selalu menjadi tujuan Kremlin. Konflik itu selalu dianggap sebagai alat untuk menunjukkan ambisi yang menegaskan Rusia sebagai kekuatan global. Moskow menganggap mundurnya Presiden AS Donald Trump dari Suriah sebagai kemenangan yang sangat menambah modal politiknya. Ini juga dapat memungkinkan Moskow menjangkau para pemimpin Eropa di Prancis dan Jerman, serta kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, dengan membujuk mereka untuk merangkul penyelesaian politik versi mereka sendiri.

Rusia secara resmi meluncurkan serangan udara di Suriah pada September 2015. Pada saat yang sama, upaya Moskow yang keras untuk memperketat cengkeramannya di Ukraina timur disertai dengan gelombang sanksi, dengan cepat membuat modal politik internasional Kremlin anjlok.

Meskipun berusaha keras untuk tampil sebagai pengganggu terbesar di dunia dan memusuhi dunia Barat di setiap kesempatan, namun tujuan Moskow yang sebenarnya adalah untuk mendapatkan pengaruh yang cukup untuk terlibat kembali sebagai pihak yang setara.

Ukraina adalah tujuan yang gagal.

Menurut Mikhail Zygar—mantan editor saluran berita televisi independen Rusia, Rain—Presiden Rusia Vladimir Putin telah memberi tahu George W. Bush pada tahun 2008 di KTT NATO: “Jika Ukraina bergabung dengan NATO, itu akan dilakukan tanpa Krimea dan wilayah timur. Mereka hanya akan hancur berantakan.”

Kremlin tidak pernah berada dalam posisi untuk berkompromi atas satelit Soviet sebelumnya, dan ambisi internasionalnya selalu melampaui “kekuatan regional”—sebuah ejekan yang pernah diucapkan Presiden AS Barack Obama.

Perang Suriah

Tentara Suriah dan Rusia terlihat di pos pemeriksaan dekat kamp Wafideen di Damaskus, Suriah, 2 Maret 2018. (Foto: Reuters/Omar Sanadiki/File Photo)

Ketika Rusia melakukan intervensi di Timur Tengah, Suriah mendapati dirinya berada dalam keadaan ‘state of nature‘ ala Thomas Hobbes, di mana ribuan kelompok saling bertarung dan ISIS muncul sebagai momok terbesar di dunia. Moskow, bagaimanapun, masih menderita karena apa yang disebut sindrom Afghanistan yang terjadi sebelum runtuhnya kekaisaran Soviet.

Momok perang di Afghanistan pada tahun 1980-an masih menghantui Kremlin; hanya sedikit yang ingin berakhir di wilayah bergejolak lain di dunia Islam. Meskipun berharap untuk kemenangan cepat setelah menggulingkan Presiden Afghanistan Hafizullah Amin dan memosisikan kembali kepemimpinan komunis pada tahun 1979, militer Soviet justru berakhir dalam bencana besar dan kehilangan sekitar 15 ribu tentara.

Akibatnya, setiap kampanye militer yang mungkin dilakukan di Suriah disambut dengan sangat hati-hati. Meskipun dengan mengintervensi mereka mempertaruhkan banyak hal, namun manfaat yang mungkin didapat pada akhirnya melebihi risiko yang mungkin diderita di mata ahli strategi Kremlin.

Dari sudut pandang mereka, mengalahkan ISIS dan mengambil peran utama dalam mengarahkan penyelesaian politik di Suriah adalah kesempatan untuk menegaskan status Rusia sebagai kekuatan global.

Kesempatan untuk bertarung bersama dengan negara-negara Barat—dikombinasikan dengan hubungan khusus Moskow dengan rezim Suriah dan Iran, yang melakukan sebagian besar pertempuran di lapangan—berarti bahwa Kremlin dapat hadir sebagai pahlawan yang beperang melawan kejahatan universal dalam bentuk ISIS, sementara juga mendapatkan keunggulan komparatif.

Muncul sebagai kekuatan regional adalah tujuan lain. Berbicara dalam rapat pleno Majelis Umum PBB yang terjadi hanya dua hari sebelum serangan udara tersebut, Putin memberi Rusia “peran sebagai pemecah masalah” dengan menyindir Amerika Serikat dengan pertanyaan: “Apakah Anda setidaknya menyadari sekarang apa yang telah Anda lakukan?”

Moskow merasakan kesempatan untuk mengisi kekosongan di zona konflik yang menyebar, yang baru tumbuh ketika kekecewaan Amerika dengan kebijakan Timur Tengah AS yang mengintervensi semakin dalam.

Peran pemecah masalah telah memberikan keuntungan, tetapi Rusia tidak memasuki Suriah untuk memperbaiki negara tersebut. Putin selalu memiliki tujuan untuk menjadi lebih dari sekadar pemecah masalah; dia ingin Moskow menjadi aktor yang sangat diperlukan.Tindakan Rusia tidak hanya oportunistik dan didikte oleh pemikiran taktis jangka pendek.

Tujuan di Suriah bukan untuk mengambil apa yang tersisa, tetapi untuk melenturkan ototnya dan menunjukkan kekuatan. Pendekatan Moskow ternyata menjadi berkah tersembunyi dalam lingkungan Timur Tengah yang bergejolak.

Ketika seorang pria di Kremlin dan sekelompok ajudan terpilih memutuskan segalanya dalam panggilan telepon, itu adalah cara yang biasa digunakan untuk melakukan bisnis dengan rezim otoriter di seluruh wilayah tersebut.

Setelah tiga tahun pengeboman tanpa henti dan sepanjang KTT tahun sebelumnya di Sochi, Rusia, dan Astana, Kazakhstan, menjadi jelas bahwa Rusia memperjuangkan penyelesaian politik.

rusia di suriah

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) bertemu Presiden Suriah Bashar Al-Assad (kiri) di Sochi, Rusia pada 17 Mei 2018. (Foto: Anadolu Agency/Getty Images/Kantor Pers Kremlin)

Petualangannya di luar negeri sepertinya terbayar. Tindakan Kremlin membantunya untuk mengamankan akses kepada semua pihak yang berkonflik di kawasan itu, dan suaranya sekarang terdengar dari koridor kekuasaan di Teheran dan Kairo hingga istana megah para monarki negara Teluk.

Meskipun jalan menuju penyelesaian politik dan rekonstruksi pascakonflik akan bergelombang, namun terdapat keyakinan bahwa kerangka Astana pada akhirnya akan menghasilkan hasil yang dapat diterima. Dengan demikian, Kremlin merasakan kebutuhan untuk mulai mengurangi kehadiran regionalnya, sementara secara terbuka merangkul kepentingan awal untuk mengincar laba (peningkatan perdagangan dan modal politik regional) yang harus jelas bagi semua pihak di wilayah tersebut.

Bahkan sebelum keputusan Trump untuk menarik diri dari Suriah, Moskow telah memperoleh modal politik yang cukup dan menggunakan kekuatannya untuk menjadi perantara utama—menjadikannya mitra bagi semua orang dan teman bagi siapa pun.

Baca juga: Jika Trump Tarik Pasukan Amerika dari Suriah, Putin yang Akan Diuntungkan

Sekarang, dengan Washington secara sukarela mengeluarkan diri dari Suriah, Moskow tetap waspada tentang kemungkinan kebangkitan aktor-aktor non-negara yang kejam seperti ISIS atau al-Nusra, tetapi ia juga membayangkan mengubah strategi yang dikepalainya menjadi strategi yang lebih oportunistik.

Sekali lagi, Kremlin berusaha untuk menegaskan dirinya sebagai pemegang kekuasaan. Moskow ingin negara-negara di kawasan itu memperlakukannya sebagai kekuatan yang mampu memanfaatkan peluang—baik di bidang energi, ekspor senjata, atau pertanian—serta menjaga keseimbangan keamanan yang menguntungkan.

Walau strategi Rusia di Suriah telah membawa dividen yang nyata, namun pertanyaannya tetap sama: Berapa lama Kremlin bisa bertahan dengan mereka? Dengan Trump berusaha untuk “menghentikan perang tanpa akhir”, pemain lokal seperti Teheran atau Riyadh mungkin mulai merasa lebih leluasa. Moskow dapat segera terjebak di tengah-tengah konflik yang pelik dengan nuansa sektarian, dan Putin tidak punya pilihan selain memihak, yang secara efektif merusak peran perantara.

Dengan peringkat persetujuan Putin jatuh ke level terendah dalam 13 tahun dan ekonomi Rusia mandek, kehadiran Kremlin yang kuat di Timur Tengah saat ini dalam beberapa hal mengingatkan pada awal pemerintahan Mikhail Gorbachev, ketika ekonomi lemah dan masyarakat menuntut perubahan.

Moskow pada waktu itu juga sibuk dengan permainan geopolitik, memerangi fundamentalis Islam di Afghanistan, tetapi keadaan dalam negeri berantakan—dan kita semua tahu bagaimana akhirnya.

Dmitriy Frolovskiy adalah seorang analis politik dan jurnalis independen. Ia juga bekerja sebagai konsultan kebijakan dan strategi di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Suriah Bashar al-Assad, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu (kanan), dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Suriah Ali Abdullah Ayyoub (kiri), menginspeksi parade militer di Provinsi Latakia, barat laut Suriah. (Foto: AFP/Getty Images)

Apa yang Sesungguhnya Diinginkan Putin di Suriah?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top