Apakah Penderitaan Yaman Akhirnya Berakhir?
Timur Tengah

Apakah Penderitaan Yaman Akhirnya Berakhir?

Separatis bersenjata Houthi mengayunkan senjata mereka ketika mereka berkumpul di ibu kota Sanaa pada tanggal 13 Desember. (Foto: AFP/Getty Images/Mohammed Huwais)
Berita Internasional >> Apakah Penderitaan Yaman Akhirnya Berakhir?

Gencatan senjata terbaru memberikan setitik harapan bahwa penderitaan di Yaman akhirnya berakhir. Tetapi para pejabat dan pengamat khawatir bahwa perang bisa pecah lagi. Gencatan senjata ini bukanlah situasi akhir. Para pihak harus memenuhi kesepakatan yang telah dibuat, agar gencatan senjata ini tidak gagal lagi seperti yang sebelumnya sering terjadi.

Oleh: Colum Lynch (Foreign Policy)

Baca Juga: Perang Lain di Yaman: Kuasai Internet untuk Lumpuhkan Lawan

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, pada Kamis (13/12) mengumumkan gencatan senjata antara pihak-pihak Yaman yang berseteru di kota pelabuhan Laut Merah, Hodeida, yang menawarkan sedikit kabar baik tentang konflik yang telah membuat negara termiskin di Timur Tengah itu menghadapi bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

Namun para pengamat mempertanyakan apakah kesepakatan yang dibuat di Rimbo, Swedia itu, menandai titik balik yang sesungguhnya, dalam konflik empat tahun yang telah menyebabkan kematian puluhan ribu orang—sebagian besar warga sipil—dan membawa negara itu ke jurang kelaparan. Banyak yang khawatir ini bukanlah awal yang sebenarnya, setelah lebih dari empat tahun upaya diplomatik yang putus asa telah melihat dua utusan PBB mengundurkan diri karena kegagalan mereka.

“Ini jelas merupakan langkah positif,” kata Gerald Feierstein, mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Yaman, dan mengatakan bahwa terlalu dini untuk mengetahui apakah para pihak memiliki kemauan politik untuk melaksanakan perjanjian mereka. “Kita harus sedikit berhati-hati untuk tidak merusak situasi.”

“Saya tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa ini adalah kesepakatan akhir,” tambahnya. “Itu bisa keluar dari jalur.”

Perjanjian itu dilakukan seiring Arab Saudi—yang memimpin perang udara yang didukung AS terhadap kelompok separatis Syiah yang dikenal sebagai Houthi—menghadapi tekanan internasional dan kongres yang semakin meningkat untuk mencapai kesepakatan damai.

Pada Kamis (13/12), Senat Amerika Serikat—yang kesal atas pembunuhan Arab Saudi terhadap kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi—memilih resolusi yang menyerukan diakhirinya keterlibatan militer AS di Yaman. Resolusi tersebut—yang kemungkinan tidak akan disahkan di DPR—sebagian besar bersifat simbolis, mengingat perlawanan di antara Partai Republik di DPR dan oposisi langsung di Gedung Putih. Tapi itu menggarisbawahi sejauh mana posisi Arab Saudi di Washington telah berkurang.

“Hubungan saat ini dengan Arab Saudi tidak bekerja untuk Amerika,” Senator Lindsey Graham mengatakan kepada para wartawan pada Rabu (12/12). “Saya tidak akan membiarkan ini, sampai banyak hal berubah di Arab Saudi.”

Namun, para pengamat Yaman seperti Feierstein mengatakan bahwa perjanjian yang diperantarai oleh PBB—yang menuntut lebih banyak konsesi dari Houthi daripada dari Riyadh—mungkin tidak terlalu berpengaruh pada perubahan suasana di Washington, dibandingkan dengan serangan militer yang dipimpin Saudi selama sebulan terhadap Houthi di Hodeida.

Feierstein mencatat bahwa Arab Saudi dan sekutu militernya yang paling penting, Uni Emirat Arab, berpegang pada “strategi dua cabang” di musim panas, dalam upaya untuk memaksimalkan tekanan militer pada Houthi untuk memaksa mereka berkompromi selama perundingan damai. “Mungkin strategi itu telah terbayarkan,” katanya.

Di bawah ketentuan pengaturan tersebut, Houthi telah setuju untuk menarik pasukan mereka dari kota Hodeida dan pelabuhan Hodeida, Salif, dan Ras Isa. Perserikatan Bangsa-Bangsa akan memimpin “komite koordinasi pengerahan” untuk memantau gencatan senjata dan mengawasi pengerahan kembali para pejuang ke pinggiran kota. Para pihak juga sepakat untuk membentuk komite gabungan—di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa—untuk mengurangi ketegangan di kota Taiz, menyalurkan pendapatan pelabuhan ke bank sentral, dan menerapkan kesepakatan pertukaran tahanan.

Tewasnya Amal Hussain, Gadis Kecil Simbol Bencana Kelaparan Yaman

Amal Hussain, yang meninggal pada usia 7 tahun. “Hati saya hancur,” tutur ibunya. (Foto: The New York Times/Tyler Hicks)

Organisasi-organisasi pemberi bantuan bereaksi dengan harapan yang waspada terhadap pengumuman gencatan senjata itu.

“Jika para pihak mematuhi apa yang mereka sepakati, ini akan berdampak besar,” kata Joel Charny, Direktur Komite Pengungsi Norwegia, yang menjalankan operasi bantuan di Yaman. “Namun begitu sering kami melihat perjanjian seperti ini gagal di lapangan karena pihak-pihak tidak dapat menepatinya.”

Yaman sedang mengalami salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana 20 juta orang—lebih dari dua pertiga penduduk negara itu—membutuhkan bantuan internasional, dan sekitar 10 juta orang tidak tahu di mana mereka akan mendapatkan makanan mereka berikutnya, menurut PBB.

Pelabuhan di Hodeida adalah pusat perdagangan terpenting di Yaman, di mana lebih dari 80 persen dari seluruh impor makanan, bahan bakar, dan barang industri lainnya masuk ke negara itu.

Perjanjian pada Kamis (13/12) menandai pencapaian diplomatik penting bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana utusan khususnya Martin Griffiths memediasi perundingan itu.

Guterres—yang melakukan perjalanan ke Swedia untuk menyaksikan perjanjian itu—menyambut baik kesepakatan itu dan menjanjikan dukungannya untuk melihatnya diimplementasikan. Ketua PBB tersebut mengucapkan selamat kepada pihak-pihak Yaman untuk membuat “kemajuan nyata”, tetapi memperingatkan ada “masalah yang tertunda” yang perlu diselesaikan. Putaran pembicaraan baru direncanakan pada akhir Januari tahun depan.

“AS akan memainkan peran utama di pelabuhan tersebut,” kata Guterres, yang menghadiri hari terakhir perundingan sepekan antara perwakilan pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan separatis Houthi. “Ini akan memfasilitasi akses kemanusiaan dan arus barang.”

Perang Yaman dimulai pada Maret 2015, ketika Arab Saudi memimpin sebuah koalisi militer dalam upaya untuk melancarkan serangan terhadap pemberontakan oleh etnis Houthi, yang merebut kekuasaan beberapa bulan sebelumnya di ibu kota Sanaa. Amerika Serikat—sekutu kunci Arab Saudi—telah memberikan pengisian bahan bakar dan memberikan bantuan kepada angkatan udara Saudi.

Konflik itu telah memecah Washington, di mana para pemimpin Kongres dari kedua belah partai mempertanyakan nilai-nilai dari mendukung perang yang dipimpin Saudi, yang telah menimbulkan penderitaan besar pada rakyat Yaman, dan Presiden Trump dan penasihat keamanan nasionalnya menggarisbawahi perlunya mendukung sekutu penting di saat krisis.

Keretakan ini semakin dalam setelah eksekusi Saudi terhadap jurnalis Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul.

Krisis ini telah meningkatkan tekanan oleh Kongres terhadap Arab Saudi dan sekutu-sekutunya untuk mencapai kesepakatan dengan Houthi. Namun para ahli Yaman mengatakan bahwa terdapat tekanan domestik yang relatif kecil pada pihak yang bertikai untuk meletakkan senjata mereka dan dan menahan jet tempur mereka.

“Perang lebih mudah daripada perdamaian bagi para pihak,” kata Gregory Johnsen, seorang akademisi Yaman dari Amerika yang baru-baru ini menjabat sebagai anggota panel pengawas pelanggaran sanksi PBB di Yaman. Karena Saudi sebagian besar bertempur di udara, tidak ada “kantong mayat” yang dikembalikan ke Riyadh, dan kelompok Houthi merasa bahwa mereka bertempur dalam “perang nyata” yang dapat mereka menangkan jika mereka hanya menunggu pasukan Saudi.

Baca Juga: Tewasnya Amal Hussain, Gadis Kecil Simbol Bencana Kelaparan Yaman

“Kepemimpinan Houthi sebagian besar terisolasi dari kekurangan makanan dan obat-obatan dalam perang ini,” kata Johnsen. “Pemimpin Houthi tidak ditargetkan dan dibunuh. Warga sipil Yaman-lah yang membayar harganya.”

Colum Lynch adalah reporter diplomatik senior yang berbasis di PBB.

Keterangan foto utama: Separatis bersenjata Houthi mengayunkan senjata mereka ketika mereka berkumpul di ibu kota Sanaa pada tanggal 13 Desember. (Foto: AFP/Getty Images/Mohammed Huwais)

Apakah Penderitaan Yaman Akhirnya Berakhir?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top