Apakah Rudal “Pembunuh Guam” Milik China Segarang Namanya?
Global

Apakah Rudal “Pembunuh Guam” Milik China Segarang Namanya?

Berita Internasional >> Apakah Rudal “Pembunuh Guam” Milik China Segarang Namanya?

Ketika proyektil jarak menengah DF-26 sedang dibanggakan oleh China, para ahli mengatakan Angkatan Laut Amerika Serikat diperlengkapi dengan baik untuk menangani sistem anti-kapal tersebut. Rudal DF-26 jelas dirancang untuk menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diterima pada pasukan angkatan laut Amerika Serikat di Pasifik Barat. Namun demikian, kapasitasnya untuk menenggelamkan kapal induk masih dipertanyakan oleh banyak analis. 

Baca Juga: Iran Luncurkan Rudal Jelajah Baru pada Peringatan 40 Tahun Revolusi

Oleh: Emanuele Scimia (Asia Times)

Rudal balistik jarak menengah DF-26, yang juga dikenal sebagai “pembunuh Guam” terus dibanggakan dengan heboh di China.

Pakar militer China yang dikutip oleh China Military, situs internet resmi berbahasa Inggris untuk Tentara Pembebasan Rakyat China, telah menekankan bahwa uji tembak langsung baru-baru ini oleh pasukan roket China telah menunjukkan kemampuan proyektil untuk mengubah arah di tengah penerbangan dan menabrak kapal perang yang bergerak. Menurut mereka, ini adalah respons terhadap keraguan Barat tentang kemampuan China untuk menyerang kapal induk atau kapal jenis lain.

Rudal DF-26 jelas dirancang untuk menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diterima pada pasukan angkatan laut Amerika Serikat di Pasifik Barat. Namun demikian, kapasitasnya untuk menenggelamkan kapal induk masih dipertanyakan oleh banyak analis. Menenggelamkan sebuah kapal pengangkut barang memang sangat sulit, bahkan untuk sistem persenjataan A2/AD (anti-access/area-denial) milik China yang keberadaannya kian mengancam.

Kampanye hubungan masyarakat

Dengan jangkauan maksimum 4.000 kilometer, DF-26 akan memiliki kemampuan untuk menyerang fasilitas dan aset angkatan laut AS di pulau Guam, Pasifik. Rudal tersebut konon dapat membawa muatan konvensional dan nuklir, serta menyerang sasaran di darat dan laut.

Menurut laporan berbagai media China, uji coba rudal DF-26 telah dilakukan “di suatu tempat” di barat laut China. Dengan menggunakan gambar dari program China Central Television (CCTV) yang ditayangkan pada tanggal 8 Januari 2019, Hans M Kristensen, direktur Proyek Informasi Nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika, telah melakukan geolokasi konvoi tujuh peluncur DF-26 ke jalan raya di Provinsi Mongolia Dalam, di mana Pasukan Roket Tentara Pembebasan China memiliki area pelatihan rudal.

Kristensen mengatakan kepada Asia Times bahwa sulit untuk menilai apakah klaim China tentang kemampuan anti-kapal DF-26 itu kredibel, mengingat bahwa faktor-faktor yang diselidiki dalam uji coba China terhadap rudal semacam itu masih belum diketahui, seberapa realistis rudal itu, serta kapasitas apa yang dimiliki militer AS untuk mencegat serangan DF-26.

Kristensen secara umum merasa skeptis tentang klaim publik mengenai kemampuan senjata tersebut. Menurutnya, mereka cenderung menjadi bagian dari kampanye hubungan masyarakat yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti musuh dan meyakinkan pandangan domestik.

“Serangan DF-26 yang sukses terhadap sebuah kapal yang bergerak tergantung pada banyak mata rantai yang rentan, beberapa di antaranya mungkin dapat terganggu oleh tindakan balasan Amerika atau dihadapkan dengan kondisi atmosfer yang tidak terduga dalam pertempuran yang realistis,” katanya.

Sulit menenggelamkan

Dalam sebuah wawancara dengan Asia Times pada bulan November 2017, mantan Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat John F Lehman meremehkan pentingnya senjata anti-kapal. Menurutnya, sistem persenjataan ini bisa membuat kapal induk tidak bisa beroperasi tetapi tidak dapat menenggelamkannya, kecuali jika dihantam oleh rudal bersenjata nuklir.

Selain itu, pemerintah AS memiliki beberapa kekhawatiran tentang persenjataan anti-kapal China modern. Menurut US Missile Defense Review yang dirilis bulan Desember 2018, China meningkatkan gudang persenjataan rudal balistik jarak medium dan menengah yang mampu melakukan serangan secara presisi terhadap berbagai pangkalan dan aset angkatan laut AS di wilayah Pasifik Barat, termasuk kapal induk.

Namun, banyak yang melihat keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menangguhkan keikutsertaan negaranya dalam Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) 1987, yang mencegah Amerika Serikat dan Rusia untuk memproduksi dan menggunakan rudal jarak medium dan jarak menengah berbasis darat, sebagai respons terhadap ancaman strategis China, karena rudal DF-26 tepat berada di dalam kategori INF.

“Jika DF-26 dapat menghantam, tidak ada keraguan bahwa hulu ledak konvensional dapat menimbulkan kerusakan yang cukup besar pada kapal induk,” kata Kristensen. “Tetapi kapal induk sangat sulit untuk tenggelam, sebuah fakta yang ditunjukkan oleh kinerja mereka selama Perang Dunia II dan banyak kecelakaan serius selama bertahun-tahun.”

Meski demikian, pakar dari Denmark tersebut menunjukkan bahwa sebuah kapal induk tidak harus harus tenggelam, karena serangan itu akan cukup menyebabkan kerusakan pada dek penerbangannya sehingga tidak akan dapat meluncurkan pesawat. “Hulu ledak nuklir tentu saja akan mengubah semua itu, tetapi kemudian serangan presisi tidak akan menjadi masalah sebesar itu,” tambahnya.

Joshua Pollack, rekan peneliti senior di James Martin Center for Nonproliferation Studies, juga percaya bahwa menenggelamkan kapal induk tidaklah mudah. “Senjata manuver yang cukup akurat dapat menembus permukaan atas kapal dan meledak di bawah geladak. Apakah serangan itu dapat menenggelamkan sesuatu sebesar kapal induk masih menjadi pertanyaan masuk akal,” tuturnya.

Namun, menurutnya, ini mungkin masalah yang salah, bahkan saat ini sulit untuk mengetahui apakah DF-26 dirancang untuk menenggelamkan kapal besar dalam mode anti-kapal atau hanya untuk menonaktifkannya.

Dia mencatat bahwa satu atau lebih ledakan udara, mungkin dengan submunisi, “dapat membunuh pesawat dan personel di geladak penerbangan, merusak geladak penerbangan itu sendiri sehingga tak dapat digunakan lagi, atau merusak ‘pulau,’ menara di atas geladak penerbangan tempat anjungan dan kontrol penerbangan berada.”

Bagi analis AS, serangan udara yang bertujuan melumpuhkan sebuah kapal induk bahkan mungkin lebih menarik daripada upaya menenggelamkannya, suatu tindakan yang dapat menghancurkan simbol kebanggaan nasional dan membunuh lebih dari 6.000 awak kapal.

Baca Juga: Citra Satelit Tunjukkan Kemungkinan Program Rudal Balistik di Arab Saudi

Tenggelamnya korvet Cheonan

Pollack bersikeras bahwa ada terlalu banyak variabel baginya, seperti akurasi, muatan, dan kemampuan penetrasi, untuk menebak apa kemungkinan tujuan pendekatan China.

Misalnya, ia mengatakan terdapat teknik untuk menenggelamkan kapal permukaan dengan meledakkan bahan peledak di bawahnya. “Gelombang kejut dapat memecahkan lunas kapal, tetapi lebih buruk lagi, akan diikuti oleh gelembung gas yang naik ke permukaan dan meledak, menghasilkan semburan air dengan keras ke atas yang akan memotong kapal dari bawah,” jelasnya.

Terdapat spekulasi bahwa Korea Utara menggunakan metode ini untuk menenggelamkan korvet Cheonan milik Korea Selatan pada tahun 2010. Pollack mencatat bahwa serangan seperti itu tampaknya memerlukan penempatan peledakan yang cukup akurat. “Saya tidak tahu apakah rudal balistik dapat memberikan serangan yang berhasil terhadap sasaran bergerak dengan cara ini,” menurut Pollack.

Secara keseluruhan, tampaknya para pengamat Barat percaya bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat diperlengkapi dengan baik untuk menangani sistem anti-kapal China. “Tanpa adanya kapal induk tidak akan menghilangkan kemampuan Amerika untuk menyerang sasaran di China atau kelompok-kelompok pertempuran angkatan laut China,” kata Kristensen. “AS memiliki banyak senjata serangan lainnya, bahkan kini semakin siap, yang mampu menyerang sasaran militer China di laut dan darat.”

Keterangan foto utama: Rudal DF-26 pada parade kemenangan Perang Dunia II di Beijing tahun 2015. (Foto: Asia Times)

Apakah Rudal “Pembunuh Guam” Milik China Segarang Namanya?

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top