Arab Saudi Deklarasikan Perang terhadap Anggota Kongres Wanita Muslim AS
Global

Arab Saudi Deklarasikan Perang terhadap Anggota Kongres Wanita Muslim AS

Berita Internasional >> Arab Saudi Deklarasikan Perang terhadap Anggota Kongres Wanita Muslim AS

Kerajaan-kerajaan Teluk Arab menggunakan rasisme, kefanatikan, dan berita palsu untuk mengecam politisi-politisi yang mengukir sejarah baru di Washington. Rezim-rezim ini selalu mendapat keuntungan dari pilihan salah yang mereka berikan kepada para pembuat kebijakan di Barat—di negara-negara Muslim, kata mereka, ekstremis adalah satu-satunya alternatif bagi para diktator. Argumen itu dirusak oleh para politisi Amerika yang memiliki agama yang sama dengan rezim itu, tetapi tidak memiliki sinisme mereka tentang demokrasi.

Oleh: Ola Salem (Foreign Policy)

Baca Juga: Hubungan Terselubung Saudi-Israel Terhambat Pasca-Pembunuhan Khashoggi

Sejak pemilu paruh waktu, media konservatif di Amerika Serikat (AS) telah menargetkan secara khusus Ilhan Omar—seorang anggota kongres Demokrat Somalia-Amerika yang akan menjabat, seorang Muslim yang taat dan mengenakan jilbab. Sebagai tanggapan terhadap dorongan Demokrat untuk menghapus larangan penutup kepala di Dewan untuk mengakomodasi Omar, komentator konservatif dan pendeta E.W. Jackson mengeluh dalam sebuah acara radio, bahwa Muslim mengubah Kongres menjadi sebuah “republik Islam.”

Partai Demokrat memiliki beberapa bintang politik dengan latar belakang Arab atau Muslim, yang semuanya telah menjadi objek dari teori konspirasi semacam itu. Tetapi bukan hanya konservatif Amerika yang telah terlibat dalam perang budaya ini. Serangan terorganisasi juga datang dari luar negeri—khususnya, dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pemilu paruh waktu telah memperkuat kecurigaan yang ada di media Timur Tengah, mengenai aktivisme politik Muslim di Amerika Serikat. Akademisi, media, dan komentator yang dekat dengan pemerintah Teluk Persia, telah berulang kali menuduh Omar, Rashida Tlaib (anggota kongres Muslim yang baru terpilih), dan Abdul El-Sayed (yang maju namun gagal untuk menjadi gubernur Michigan), sebagai anggota rahasia Ikhwanul Muslimin yang bermusuhan dengan pemerintah Arab Saudi dan UEA.

Pada Minggu (9/12), media Saudi Al Arabiya menerbitkan sebuah tulisan yang menyiratkan bahwa Omar dan Tlaib adalah bagian dari aliansi antara Partai Demokrat dan kelompok-kelompok Islam untuk mengendalikan Kongres. Artikel itu menuduh keduanya sebagai “anti-Trump dan tim politik serta pilihannya, terutama kebijakan luar negerinya, mulai dari sanksi terhadap Iran hingga isolasi Ikhwanul Muslimin dan semua gerakan politik Islam.”

Dalam contoh lain, sebuah acara bincang-bincang di stasiun MBC milik Saudi, membahas tentang wanita kongres Muslim, dan dampak lebih luas dari Demokrat yang mengambil alih DPR. Tokoh Arab terkemuka Amr Adib memperdebatkan masalah ini dengan ilmuwan politik Mesir Moataz Fattah, yang menyarankan bahwa keberhasilan Trump melawan Islamis akan dirusak oleh kemenangan Demokrat.

Serangan-serangan ini telah menjadi begitu luas di Teluk Persia, di mana tren itu sendiri adalah subjek perdebatan, baik online maupun di televisi.

Kadang-kadang serangan-serangan ini telah dilakukan oleh pejabat pemerintah-pemerintah tersebut, dengan kecemasan yang jelas bahwa upaya pencitraan dan lobi mereka yang mahal dapat diremehkan. Hanya beberapa jam setelah Omar memenangkan pemilihannya, misalnya, seorang staf di Kedutaan Saudi di Amerika Serikat menuduhnya mengikuti ideologi Ikhwanul Muslimin, yang katanya telah merasuki Partai Demokrat.

“Dia akan bermusuhan dengan Teluk dan pendukung politik Islam yang diwakili dalam Persaudaraan di Timur Tengah,” cuit Faisal al-Shammeri, penasihat budaya di Misi Budaya Arab Saudi untuk Amerika Serikat—yang merupakan bagian dari kedutaan—dan penulis untuk Al Arabiya.

El-Sayed—seorang warga negara Amerika yang lahir dari imigran Mesir—memperhatikan serangan dari wilayah itu selama kampanyenya. Media di Timur Tengah memperkuat tuduhan oleh seorang kandidat calon gubernur dari Partai Republik, Patrick Colbeck, bahwa El-Sayed memiliki hubungan dengan Ikhwanul. Surat kabar Mesir Youm7, misalnya, melaporkan bahwa El-Sayed kemungkinan kalah dalam pemilu atas hubungannya dengan kelompok “radikal” Nation of Islam, dan hubungannya dengan aktivis Muslim-Amerika Linda Sarsour, yang “dikenal karena pandangannya yang radikal.”

El-Sayed mengatakan kepada saya bahwa elit politik di tempat-tempat seperti Mesir, Arab Saudi, dan UEA merasa terancam oleh politisi Amerika yang juga Muslim. Bagi rata-rata masyarakat Timur Tengah, ceritanya menginspirasi. (Contoh paling jelas dari Timur Tengah yang mendapatkan inspirasi, ironisnya, adalah kemenangan pertama Presiden Barack Obama, yang menghadapi tuduhan palsu sebagai seorang Muslim.)

Munculnya politisi seperti El-Sayed, Omar, dan Tlaib, juga meruntuhkan argumen inti yang dikemukakan oleh para diktator di Timur Tengah: bahwa rakyat mereka belum siap untuk demokrasi. “Masyarakat tidak akan memiliki akses ke kekuasaan di negara mereka, tetapi mereka akan mendapatkannya jika mereka pergi; ini menghancurkan argumen dari Sisi atau bin Salman,” kata El-Sayed, mengacu pada Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. “Apa yang ironis adalah, tidak mungkin saya ingin menjadi pemimpin di Mesir, tempat ayah saya.”

Sekutu Amerika di kawasan itu juga khawatir bahwa para pemimpin baru Partai Demokrat akan mendorong perubahan politik di negara mereka. Setelah menghabiskan jutaan dolar untuk kampanye pencitraan di ibu kota-ibu kota Barat, negara-negara Teluk Persia merasa terancam oleh para pembuat kebijakan yang memiliki kepentingan dan pengetahuan tersendiri tentang kawasan tersebut.

Dengan demikian, mereka membingkai keberatan-keberatan berprinsip terhadap para pejabat ini atas pelanggaran regional terhadap hak asasi manusia dan norma-norma demokratis, sebagai hal-hal yang bias secara pribadi.

Salah satu komentator—yang dikenal karena mengumandangkan wacana pemerintah dan sering di-retweet oleh para pejabat pemerintah—baru-baru ini menyebarkan desas-desus bahwa Omar adalah keturunan dari “Houthi Yaman”, untuk melemahkan serangan Omar pada perang yang dipimpin Saudi di Yaman.

Serangan paling umum secara online oleh blok pimpinan Saudi terhadap anggota Muslim-Amerika Partai Demokrat adalah, menyebut mereka sebagai anggota Ikhwanul Muslimin, atau lebih umum sebagai ikhwanji–istilah yang mencangkup semua ekstremis. Serangan-serangan ini dimulai jauh sebelum pemilu tahun ini. Pada tahun 2014, UEA bahkan mengumumkan daftar teror yang termasuk Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) karena dugaan kaitannya dengan Ikhwanul Muslimin.

Serangan yang berusaha untuk mengikat Omar dan Tlaib dengan Ikhwanul Muslimin dimulai dengan sungguh-sungguh, setelah CAIR secara terbuka menyambut pemilihan mereka di Kongres. Salah satu akademisi yang berbasis di UEA, Najat al-Saeed, mengkritik media Arab karena merayakan kemenangan dua wanita Muslim pada pemilu paruh waktu, dan menunjukkan dukungan CAIR bagi mereka sebagai bukti hubungan mereka dengan Ikhwanul.

Serangan terhadap Omar juga mencakup rasisme. Meskipun Tlaib dan Omar sama-sama menjadi sasaran fitnah, tapi lebih mudah bagi orang-orang Arab Teluk untuk menghina Omar karena keturunan Afrika-nya. Stereotip negatif tentang orang Afrika—sebagai pekerja migran yang diperlakukan dengan buruk dalam ekonomi minyak Teluk—tersebar luas di seluruh wilayah tersebut.

Hal ini terbukti dalam kampanye media sosial yang diluncurkan bulan lalu terhadap Omar oleh Ahmad al-Farraj, seorang penulis dan peneliti Saudi di Trends Research and Advisory yang berbasis di UEA—sebuah perusahaan yang didirikan oleh mantan pejabat dan konsultan polisi Dubai.

Dia menyerang Omar karena mengkritik Trump yang bungkam terhadap penilaian CIA, bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman kemungkinan mengarahkan pembunuhan mantan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi di Istanbul. “Makhluk menyedihkan yang datang dari dunia yang belum berkembang ini, lebih membenci ras mereka dan membenci Anda daripada musuh mana pun,” Al Farraj menulis tweet kepada lebih dari 60.000 pengikutnya.

Arus deras serangan rasis diikuti dengan respons. Satu orang mengunggah tweet foto Omar disertai dengan keterangan “kapan pun Anda membeli budak, belilah sebatang tongkat bersama budak itu. Budak adalah kotoran yang menyengsarakan.”

Selain banyaknya komentar rasis, Omar dihina berdasarkan dua tuduhan palsu: bahwa ia adalah anggota Ikhwanul Muslimin dan bahwa ia telah menikahi saudara laki-lakinya. Hashtag juga mulai trending dengan puluhan akun anonim yang men-tweet variasi yang sedikit berbeda dari bahasa yang sama, dan menggemakan akun-akun afiliasi pemerintah yang terkenal.

Pola ini adalah ciri khas pasukan troll Twitter yang tampaknya digunakan secara teratur oleh Mohammed bin Salman untuk membungkam para kritikus kerajaan.

Seharusnya tidak mengejutkan bahwa sekutu otoriter Amerika telah menanggapi dengan panik dan takut terhadap suara-suara seperti Tlaib dan Omar. Rezim-rezim ini selalu mendapat keuntungan dari pilihan salah yang mereka berikan kepada para pembuat kebijakan di Barat—di negara-negara Muslim, kata mereka, ekstremis adalah satu-satunya alternatif bagi para diktator. Argumen itu dirusak oleh para politisi Amerika yang memiliki agama yang sama dengan rezim itu, tetapi tidak memiliki sinisme mereka tentang demokrasi.

Baca Juga: Merayu Jared Kushner, Bagaimana Saudi Dapatkan Sekutu di Gedung Putih

Ola Salem adalah seorang jurnalis Inggris-Mesir yang memiliki pengalaman selama satu dekade di Timur Tengah. Dia saat ini adalah kandidat MS di New York University.

Keterangan foto utama: Anggota Kongres Ilhan Omar berbicara kepada sekelompok sukarelawan di Minneapolis, Minnesota, pada 13 Oktober 2018. (Foto: AFP/Getty Images/Kerem Yucel)

Arab Saudi Deklarasikan Perang terhadap Anggota Kongres Wanita Muslim AS

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top