KTT Trump-Kim
Global

Bisakah KTT Trump-Kim Kedua Akhiri Perang Korea?

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu di Vietnam pada 27 dan 28 Februari. (Foto: AFP)
Berita Internasional >> Bisakah KTT Trump-Kim Kedua Akhiri Perang Korea?

Bisakah KTT Trump-Kim kedua mengakhiri Perang Korea dan menghasilkan perjanjian damai? Kemungkinannya sangat rendah, mengingat kompleksitas masalah ini. Prof Koo dari Universitas Studi Korea Utara mengatakan bahwa kesepakatan itu akan membutuhkan “begitu banyak hal yang mengubah dunia”, dari amandemen Konstitusi kedua Korea hingga membahas kembali peran pasukan AS. Analis Kim Dong-yub juga menambahkan bahwa negosiasi untuk perjanjian semacam itu mungkin membutuhkan lebih dari tiga tahun.

Baca juga: Negara Komunis Netral, Kenapa Vietnam Ideal jadi Tuan Rumah KTT Trump-Kim 2

Oleh: AFP/The Straits Times

KTT kedua antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah meningkatkan harapan agar gencatan senjata terpanjang dalam sejarah ini digantikan oleh perjanjian damai.

Seoul dan Pyongyang secara teknis masih beperang setelah Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata.

Stephen Biegun—utusan khusus AS untuk Korea Utara—mengatakan pekan lalu, bahwa Trump “siap untuk mengakhiri perang ini”, yang memicu spekulasi bahwa akhir resmi konflik ini mungkin sudah dekat, di mana Trump dan Kim akan bertemu di Vietnam bulan ini.

Tetapi para analis mengatakan bahwa perjanjian damai menimbulkan banyak komplikasi, dan akan membutuhkan negosiasi yang meluas.

Bagaimana Situasi Saat Ini?

Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata dan bukannya perjanjian damai, yang membuat kedua negara tetangga ini secara teknis masih dalam keadaan konflik.

Para penandatangan gencatan senjata mencakup Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin AS, yang bertempur bersama pasukan Korea Selatan, serta China dan Korea Utara.

Mengumumkan berakhirnya perang adalah salah satu perjanjian pada pertemuan puncak pertama antara Kim dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in tahun lalu, tetapi sedikit kemajuan yang telah dibuat, di mana AS dan Korea Utara berselisih mengenai persenjataan nuklir Pyongyang.

Dalam pidatonya di Tahun Baru, Kim menyerukan “negosiasi multi-pihak untuk mengganti gencatan senjata saat ini… dengan mekanisme perdamaian dalam kontak dekat dengan para penandatangan perjanjian gencatan senjata.”

Siapa yang Menginginkan Perdamaian, dan Mengapa?

Bagi Pyongyang, sebuah perjanjian damai sangat penting bagi kelangsungan rezimnya, karena itu berarti Korea Utara dan AS bukan lagi musuh, kata Profesor Koo Kab-woo dari Universitas Studi Korea Utara di Seoul.

Moon yang cinta damai dari Korea Selatan—dengan slogan menciptakan Semenanjung Korea yang “bebas perang”—juga merupakan pendukung perjanjian damai.

Tetapi Washington telah waspada, karena perjanjian itu dapat mempertanyakan pembenaran aliansi militernya dengan Seoul dan 28.500 tentara AS yang ditempatkan di Korea Selatan.

“AS khawatir perubahan mendadak terhadap tatanan regional akan berdampak pada kepentingannya sendiri, yang tidak akan baik seiring China melenturkan ototnya,” ujar Prof Koh Yu-hwan, seorang profesor studi Korea Utara di Universitas Dongguk.

Sebuah perjanjian damai akan menjadi berita yang disambut baik bagi Beijing, seiring Beijing mencari “pengurangan peran AS” di Semenanjung itu, Prof Koh menambahkan.

Pertemuan Kim dan Trump di Singapura: Keuntungan Apa yang Akan Didapat Korea Utara dari Amerika?

Kim dan Trump setelah pertemuan awal mereka. (Foto: The New York Times/Doug Mills)

Bisakah Itu Terjadi pada KTT Vietnam?

Kemungkinannya sangat rendah, mengingat kompleksitas masalah ini.

Prof Koo dari Universitas Studi Korea Utara mengatakan bahwa kesepakatan itu akan membutuhkan “begitu banyak hal yang mengubah dunia”, dari amandemen Konstitusi kedua Korea hingga membahas kembali peran pasukan AS.

Kim Dong-yub—seorang analis di Institute for Far Eastern Studies yang berbasis di Seoul—menambahkan bahwa negosiasi untuk perjanjian semacam itu mungkin membutuhkan lebih dari tiga tahun.

Skenario yang lebih memungkinkan adalah, di mana pihak-pihak yang berkepentingan—Korea Utara dan Korea Selatan, AS, dan China—menyatakan akhir resmi perang sebagai pernyataan politik.

“Ini akan membuka jalan bagi perjanjian damai,” kata Go Myong-hyun, seorang analis di Asan Institute of Policy Studies yang berbasis di Seoul.

South China Morning Post melaporkan bahwa Presiden China Xi Jinping akan berada di Danang—tempat potensial KTT Trump-Kim—untuk pertemuan dengan Presiden Amerika itu.

Apa yang Akan Menjadi Dampaknya?

Para analis menawarkan pandangan yang berbeda, tetapi semua sepakat pada satu aspek: Akhir perang tidak diragukan lagi akan memicu perdebatan tentang pasukan AS di Korea Selatan.

Baca juga: Apa yang Dapat Diharapkan dari KTT Trump-Kim Kedua

Pasukan China yang bertempur bersama Korea Utara dalam Perang Korea, menarik diri dari semenanjung itu pada tahun 1956, dan dengan berakhirnya konflik tersebut secara resmi, Washington mungkin berjuang untuk membenarkan kehadiran militernya di Korea Selatan.

Namun perjanjian damai juga akan menambah tekanan pada Korea Utara untuk meninggalkan program senjata nuklirnya—yang telah berulang kali diklaim oleh rezim itu dikembangkan untuk mempertahankan diri terhadap AS.

“Sebuah deklarasi akhir perang mengakhiri hubungan yang bermusuhan secara lisan,” kata Prof Koh. “Dan perjanjian damai akan menyelesaikannya dengan cara yang mengikat secara hukum.”

Keterangan foto utama: Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu di Vietnam pada 27 dan 28 Februari. (Foto: AFP)

Bisakah KTT Trump-Kim Kedua Akhiri Perang Korea?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top