Analisis: China Mampu Bertahan dalam Perang Dagang Lebih Lama dari Perkiraan Trump
Asia

Analisis: China Mampu Bertahan dalam Perang Dagang Lebih Lama dari Perkiraan Trump

Seorang pria memantau harga saham di sebuah rumah pialang di Beijing. Shanghai Composite Index—saham-saham utama China—turun 23 persen tahun ini, menjadikannya bursa utama dengan kinerja terburuk di dunia. (Foto: AP/Andy Wong)
Home » Featured » Asia » Analisis: China Mampu Bertahan dalam Perang Dagang Lebih Lama dari Perkiraan Trump

Para analis melihat bahwa China mampu bertahan dalam perang dagang, lebih lama dari perkiraan Trump. Donald Trump selalu menganggap bahwa Amerika Serikat memiliki posisi ekonomi yang jauh lebih kuat daripada China, dan juga perekonomian China sedang ambruk. Namun, para analis melihat bahwa Trump salah perhitungan. Ekonomi China sedang melambat, tetapi tidak akan hancur. Trump memiliki pengaruh yang lebih rendah daripada yang dia perkirakan.

Oleh: David J. Lynch (Washington Post)

Presiden Donald Trump bersikeras pada Kamis (13/8), bahwa dia “tidak dalam tekanan untuk membuat kesepakatan dengan China,” yang menandakan kesiapan untuk meningkatkan perang dagang dengan Beijing.

“Mereka berada di bawah tekanan untuk membuat kesepakatan dengan kami,” Trump berkicau di Twitter, mengacu pada China. “Pasar kami melonjak, mereka ambruk.”

Pernyataan Presiden tersebut berusaha untuk mengecilkan harapan bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengulurkan tangan untuk merekonsiliasi konflik perang dagang, di tengah undangan Menteri Keuangan Steven Mnuchin kepada para pejabat China untuk kembali berdialog.

Baca Juga: Presiden Jokowi dan Kelompok Avengers-nya akan Bertarung dalam Infinity War Perang Dagang

Pandangan Trump bahwa orang-orang China menderita sementara Amerika membaik, membantu menjelaskan keyakinannya bahwa Beijing pada akhirnya akan menyerah. Tetapi harapan presiden itu bahwa kesulitan keuangan akan mendorong Presiden China Xi Jinping untuk menyerah dalam putaran baru perundingan diplomatik, salah tempat, kata para analis.

“Ada banyak pemikiran yang terlalu berlebihan di pihak Amerika,” kata Jeff Moon, mantan perunding perdagangan AS. “Setiap ekonomi (negara) punya masalah. Kami memiliki defisit satu triliun dolar. Itu tidak berarti bahwa ekonomi kami berada dalam bahaya fundamental. Ini salah perhitungan besar.”

Indeks Komposit Shanghai—Indeks saham utama China—turun 23 persen tahun ini, menjadikannya terburuk di dunia—dan memicu perubahan besar.

Tetapi tidak seperti di Amerika Serikat, pasang surut pasar saham China relatif mempengaruhi hanya sedikit orang, yang berarti aksi jual tidak mungkin diterjemahkan ke dalam tekanan bagi para pemimpin China.

perang dagang trump

Presiden China Xi Jinping tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalah pada Donald Trump. (Foto: AP)

Kurang dari 10 persen populasi orang dewasa China memiliki saham, menurut Fraser Howie, penulis tiga buku terkait sistem keuangan China yang berbasis di Singapura. Di Amerika Serikat, angkanya lebih dari setengahnya, menurut Gallup.

Selain itu, harga saham China bergerak dengan sedikit perhatian terhadap apa yang terjadi dalam ekonomi riil. Pada tahun 2008, misalnya, saham turun lebih dari 65 persen bahkan ketika ekonomi tumbuh hampir 10 persen.

“Adalah salah untuk berpikir bahwa pasar sepenuhnya sama dengan memenangkan perang dagang,” kata Howie.

Demikian juga, goyangan apa pun dalam ekonomi China sejauh ini sangat sederhana. Meskipun China telah melambat dari tingkat pertumbuhan dua digit yang tercatat pada awal dekade ini, namun ekonominya tumbuh dengan tingkat tahunan 6,7 persen pada kuartal kedua.

“Sejauh Trump melihat itu dan berpikir bahwa dia mampu mengancam China, dia salah,” kata ekonom Andrew Polk, mitra di Trivium, perusahaan penasihat yang berbasis di Beijing. “Ekonomi China memiliki masalah tersendiri. Ekonomi China melambat, tetapi tidak akan hancur. Trump memiliki pengaruh yang lebih rendah dari yang dia kira.”

Juru bicara Departemen Luar Negeri China Geng Shuang, mengatakan pada konferensi pers pada Kamis (13/9), bahwa para pejabat telah menerima undangan Gedung Putih untuk melakukan perundingan, dan kedua belah pihak sedang mengerjakan rinciannya.

“China selalu menganggap bahwa eskalasi konflik perang dagang tidak ada dalam kepentingan siapa pun,” kata Geng.

Pada Jumat (14/9) pagi di Beijing, halaman depan harian China Daily yang didukung pemerintah menulis: “Tawaran AS untuk perundingan perdagangan disambut baik.”

Presiden Trump telah memberlakukan tarif senilai $50 miliar atas komoditi impor China—sebagian besar barang-barang industri—dan mengatakan bahwa dia akan segera memberlakukan retribusi tambahan senilai $200 miliar. Konsumen Amerika akan merasakan dampak dari langkah itu, seiring harga naik untuk lemari es, AC, perabotan, dan pakaian buatan China.

Trump mengatakan bahwa tarif tersebut bertujuan untuk memaksa China meninggalkan sejumlah praktik perdagangan yang tidak adil, termasuk memaksa perusahaan AS untuk menyerahkan rahasia dagang mereka dengan imbalan akses ke pasar China.

Pemerintah China telah membalas AS dengan memberlakukan tarif yang setara, menargetkan produk pertanian Amerika di negara-negara bagian yang sangat penting secara politik, menjelang pemilihan kongres pada bulan November mendatang, serta perusahaan multinasional Amerika yang memiliki pabrik di China.

Pada Kamis (13/9), kelompok bisnis AS terbesar di China memohon Trump untuk menghentikan perang dagang. Hampir dua pertiga dari 430 perusahaan AS di China mengatakan bahwa pajak yang dibebankan Trump pada musim panas ini telah merusak bisnis mereka, menurut survei oleh Kamar Dagang Amerika di Beijing dan Shanghai.

Hampir setengah dari responden—di bisnis ritel, makanan, dan manufaktur—melaporkan bahwa biaya produksi mereka telah naik, sementara 42 persen mengatakan bahwa penjualan menurun. Hanya enam persen, sementara itu, yang mengatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan memindahkan pabrik mereka ke wilayah AS, yang menjadi tujuan pemerintahan Trump.

Perang Dagang

Sebuah kapal kontainer berlabuh di pelabuhan di Qingdao, di Provinsi Shandong, China timur. (Foto: AP/Chinatopix)

“Pemerintahan AS mengambil risiko terjebak dalam aksi saling balas dalam pemberlakuan tarif yang tidak ada habisnya, yang tidak menguntungkan siapa pun,” kata William Zarit, Presiden Kamar Dagang Amerika di Beijing.

Sebagian besar tarif yang dikenakan telah melanda perusahaan AS, bukan China, menurut ekonom Mary Lovely dari Syracuse University. Dia menemukan, misalnya, bahwa 87 persen bagian komputer dan elektronik yang dikenakan pajak oleh Trump, diproduksi oleh perusahaan-perusahaan Amerika.

Ketidakpastian perang dagang ini telah berkontribusi terhadap lingkungan investasi China. Tapi kerugian tahun ini di pasar saham China yang mirip kasino juga bukan hal baru—pasar turun hampir setengahnya selama periode enam bulan yang berakhir pada awal tahun 2016.

Terlepas dari kekhawatiran perdagangan, terdapat sejumlah pertimbangan domestik yang telah melukai saham China.

Pasar China sangat terkait dengan jumlah uang yang tersedia untuk berinvestasi. Tahun ini, para pejabat China telah memperketat kredit dalam upaya untuk menghentikan ketergantungan ekonomi pada pertumbuhan yang didorong oleh utang. Itu berarti memungkinkan lebih banyak perusahaan China untuk gagal dalam utang perusahaan mereka—sebuah perubahan dari tahun-tahun sebelumnya ketika bank-bank milik negara akan membuat mereka tetap selamat.

Runtuhnya beberapa jaringan peminjaman online juga membuat takut para investor China.

Pasar telah dirugikan oleh kekhawatiran tentang penggunaan saham mereka oleh perusahaan China, sebagai jaminan untuk pinjaman, yang membuat harga saham rentan jika mereka mengalami kesulitan keuangan dan terpaksa menjualnya. Lembaga keuangan China memiliki hampir $220 miliar dalam bentuk pinjaman pada akhir Juli, turun sekitar delapan persen dari puncak baru-baru ini pada bulan Januari, menurut Bloomberg.

Baca Juga: Korea Selatan dan Indonesia Perkuat Ikatan untuk Hindari Efek Perang Dagang

“Pasar China telah turun hampir 25 persen,” kata Trump di Gedung Putih pekan lalu. “Pasar mereka telah turun. Saya tidak suka melihatnya. Tetapi saya dapat memberi tahu Anda, bahwa Amerika Serikat telah mendapatkan sekitar $10 triliun. Dan China ingin berada di posisi kami. Mereka ingin berada di posisi kami.”

Namun penekanan berulang presiden tersebut tentang kesengsaraan keuangan China, berkontribusi pada reaksi nasionalis yang dapat memperpanjang perselisihan, di mana China menyimpulkan bahwa Trump mencari lebih dari sekadar arena bermain untuk perdagangan.

“Cara kita melakukannya membuat para pemimpin China lebih sulit membuat konsesi,” kata David Loevinger, mantan pejabat keuangan di Kedutaan Besar AS di Beijing. “AS memiliki strategi satu arah—terus meningkatkan ambang rasa sakit sampai pihak lain mengaku kalah.”

Beberapa penasihat utama presiden melihat kemerosotan pasar keuangan sebagai cerminan masalah ekonomi yang lebih luas di China.

Jajak Pendapat: Ekonomi Amerika Akan Melambat akibat Perang Dagang

Kontainer pengiriman ditumpuk dalam penyimpanan di Terminal Wando Welch yang dioperasikan oleh Otoritas Pelabuhan Carolina Selatan di Mount Pleasant, Carolina Selatan, AS, pada tanggal 10 Mei 2018. (Foto: Reuters/Randall Hill/File Photo)

“Apa yang dikatakan pasar saham ini kepada Anda?” kata Lawrence Kudlow, Direktur Dewan Ekonomi Nasional, pada CNBC pekan lalu. “China bergerak lebih rendah dalam perekonomian mereka. AS bergerak lebih tinggi. Kami adalah tempat paling menarik di dunia.”

Memang benar bahwa ekonomi AS cukup kuat. Tingkat pengangguran sebesar 3,9 persen mendekati titik terendah selama setengah abad, sementara ekspansi yang dimulai pada Juni 2009 tidak menunjukkan tanda-tanda kehilangan tenaga. Optimisme di antara pemilik usaha kecil baru-baru ini mencapai rekor dalam 45 tahun.

“Ekonomi sangat bagus, mungkin yang terbaik dalam sejarah negara kami (ingat, itu adalah ekonomi, bodoh!),” Trump menyombongkan diri pada awal pekan ini di Twitter.

Perlambatan bertahap China terjadi seiring pemerintah berupaya untuk melakukan pergeseran dari pertumbuhan berdasarkan investasi besar di bidang infrastruktur dan ekspor, menjadi ekonomi yang didukung oleh konsumsi domestik, menurut William Overholt, seorang rekan pengamat senior di Pusat Asia Harvard University.

Ketidakpastian yang timbul dari kebijakan perdagangan Trump akan menyebabkan perlambatan global dalam pertumbuhan tahun depan, menurut BNP Paribas. Perkiraan terbaru bank tersebut—yang dirilis minggu ini—menyerukan bahwa ekonomi China tumbuh pada tingkat tahunan 6,1 persen tahun depan versus 1,8 persen untuk Amerika Serikat.

Banyak analis menunjukkan penurunan dalam penjualan ritel dan investasi sebagai indikasi bahwa ekonomi China sedang terjun bebas. Tapi Nicholas Lardy—seorang pakar tentang ekonomi China di Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional—mengatakan bahwa dia ragu ekonomi benar-benar melambat.

Pemerintah China mengubah cara mereka mengumpulkan dan melaporkan data ekonomi utama, termasuk penjualan ritel dan investasi, sehingga sulit untuk menarik kesimpulan.

Tapi China mengimpor hampir 19 persen lebih banyak barang pada bulan Agustus daripada di bulan yang sama pada tahun lalu.

“Permintaan dalam ekonomi cukup kuat,” kata Lardy.

Kepercayaan pemerintah bahwa China sedang dilukai juga melebih-lebihkan ketergantungan negara tersebut terhadap perdagangan, katanya.

Sejak krisis keuangan tahun 2008, China telah mengurangi ketergantungannya pada perdagangan hingga sepertiganya, menurut Lardy.

Danielle Paquette di Beijing berkontribusi untuk laporan ini.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Seorang pria memantau harga saham di sebuah rumah pialang di Beijing. Shanghai Composite Index—saham-saham utama China—turun 23 persen tahun ini, menjadikannya bursa utama dengan kinerja terburuk di dunia. (Foto: AP/Andy Wong)

Analisis: China Mampu Bertahan dalam Perang Dagang Lebih Lama dari Perkiraan Trump

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top