Dapatkah Korea Utara Redakan Konflik Amerika-China?
Asia

Dapatkah Korea Utara Redakan Konflik Amerika-China?

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kiri) dan Presiden China Xi Jinping bersulang di Aula Besar Rakyat di Beijing pada Juni 2018. Kim telah bertemu Xi empat kali dalam 10 bulan terakhir. (Foto: AP/Kantor Pusat Berita Korea)
Berita Internasional >> Dapatkah Korea Utara Redakan Konflik Amerika-China?

Masalah Korea Utara kemungkinan bisa menjadi jembatan yang dapat meredakan konflik Amerika-China. Jika AS dan China dapat bekerja sama untuk meredakan permusuhan yang telah berlangsung puluhan tahun di Semenanjung Korea, hal itu akan membantu mereka bekerja sama untuk menyelesaikan—atau setidaknya melunakkan retorika mereka—di masalah lain, seperti perdagangan, Taiwan, dan Laut China Selatan.

Oleh: Cary Huang (South China Morning Post)

Baca Juga: Konflik Perang Dingin Baru Amerika-China: Tak Dapat Diprediksi

Ini akan menjadi diplomasi yang saling menguntungkan bagi Amerika Serikat (AS), China, dan Korea Utara, jika mereka dapat bekerja untuk mencapai solusi damai untuk perselisihan yang telah berlangsung selama satu dekade tentang ambisi nuklir Korea Utara.

Kunjungan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un ke China dan KTT-nya dengan Presiden China Xi Jinping pekan lalu—yang keempat dalam 10 bulan terakhir—telah meningkatkan spekulasi bahwa KTT keduanya dalam waktu satu tahun dengan Presiden AS Donald Trump akan segera diselenggarakan.

Ini tampaknya mengikuti preseden tahun lalu, ketika pertemuan Kim dengan Pemimpin China itu secara langsung mendahului KTT bersejarahnya dengan Trump di Singapura pada Juni lalu. Rupanya Trump, Kim, dan Xi semuanya menyambut kemeriahan diplomatik ini karena mereka mendapatkan lebih banyak keuntungan daripada kerugian.

Tantangan terbesar yang dihadapi Kim—yang prioritasnya adalah mempertahankan pemerintahan dinasti keluarganya—adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi negara dari kebangkrutan, di tengah sanksi PBB.

Pertemuan dengan Trump untuk memecahkan kebuntuan dalam perundingan denuklirisasi adalah kunci untuk mencapai tujuan ini. Selama beberapa bulan terakhir, Korea Utara menuntut agar AS meringankan sanksi, dan mengklaim telah membongkar beberapa fasilitas nuklirnya.

Gedung Putih telah menolak itu, berjanji untuk mempertahankan sanksi sampai Korea Utara telah menyelesaikan proses denuklirisasi.

Perjalanan terakhir Kim ke Beijing adalah upaya untuk memenangkan dukungan China untuk mengurangi sanksi PBB untuk meringankan penderitaan ekonomi Korea Utara. Kim mengabdikan sebagian besar pidato Tahun Baru-nya untuk menekankan pergeseran fokusnya dari senjata nuklir ke pembangunan kembali ekonomi Korea Utara.

Pertemuan Kim dan Trump

Presiden AS Donald Trump bersalaman dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di resor Capella di Pulau Sentosa di Singapura pada Selasa, 12 Juni 2018. (Foto: AP Photo/Politico)

Bagi Xi, kunjungan Kim berlangsung pada saat hubungan antara AS dan China rapuh, dan ketika para negosiator dari kedua negara itu mengadakan perundingan mereka di Beijing dalam upaya untuk menghidari perang dagang yang sebenarnya antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

Trump telah lama meminta bantuan Xi dalam berurusan dengan Korea Utara, dan kunjungan Kim menyoroti peran penting China di Semenanjung Korea. China juga memiliki minat kuat dalam menghubungkan Korea Utara dengan perdagangan.

Xi mungkin menggunakan hubungan pribadinya yang erat dengan Kim untuk menjadi pihak yang seolah-olah membantu Trump, dengan membantunya meraih kemenangan dalam kebijakan luar negeri. Media pemerintah sepertinya menyoroti hal ini dengan mengingatkan dunia bahwa kunjungan Kim ini berlangsung atas undangan Xi.

Trump mungkin sama bersemangatnya untuk mencari terobosan di titik kritis ini, di saat ia dihadapkan dengan sejumlah tantangan yang menakutkan di dalam dan luar negeri, seperti penutupan sebagian pemerintahan karena perselisihan terkait tembok perbatasannya, kepergian mendadak Menteri Pertahanan James Mattis, dan keputusan Trump yang kontroversial untuk menarik diri dari Suriah.

Kemajuan pada kebuntuan nuklir Korea Utara mungkin merupakan dorongan besar bagi kampanye Trump untuk masa jabatan kedua sebagai presiden. Trump telah menyatakan kemenangan atas Korea Utara setelah KTT pertamanya dengan Kim. Dia akan membuat Semenanjung Korea menjadi fokus pembicaraan di rapat umum jika kemajuan signifikan tercapai.

Lintasan diplomasi global pada tahun 2019 akan bergantung pada dua peristiwa besar—kemungkinan perang dagang AS-China dan denuklirisasi Korea Utara. Kedua masalah itu terjalin erat dalam hubungan keseluruhan antara rival ekonomi utama dunia dan musuh politik utama.

Jika AS dan China dapat bekerja sama untuk meredakan permusuhan yang telah berlangsung puluhan tahun di Semenanjung Korea, hal itu akan membantu mereka bekerja sama untuk menyelesaikan—atau setidaknya melunakkan retorika mereka—di masalah lain, seperti perdagangan, Taiwan, dan Laut China Selatan.

Resolusi yang berhasil atas masalah Korea dapat meningkatkan status ketiga pemimpin ini di dalam negeri masing-masing dan reputasi mereka di panggung internasional.

Ini akan menjadi pencapaian diplomatik yang hebat yang dapat dibandingkan dengan mediasi Presiden David Carter dari Camp David Accord antara Mesir dan Israel—salah satu alasan mengapa ia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2002. Itulah sebabnya para pemimpin dapat berteman bahkan dengan musuh.

Baca Juga: Akhirnya Ada Tanda-Tanda Kemajuan dalam Perang Dagang Amerika-China

Cary Huang, seorang penulis senior di South China Morning Post, telah menjadi kolumnis veteran China sejak awal tahun 1990-an.

Keterangan foto utama: Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (kiri) dan Presiden China Xi Jinping bersulang di Aula Besar Rakyat di Beijing pada Juni 2018. Kim telah bertemu Xi empat kali dalam 10 bulan terakhir. (Foto: AP/Kantor Pusat Berita Korea)

Dapatkah Korea Utara Redakan Konflik Amerika-China?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top