berita jamal khashoggi
Timur Tengah

Hilangnya Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi adalah Tamparan bagi Amerika

Berita Internasional >> Hilangnya Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi adalah Tamparan bagi Amerika

Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi dilaporkan hilang, dan dibunuh di dalam konsulat Saudi di Turki. Washington harus mengeksplorasi langkah-langkah pembalasan yang memberikan kerugian nyata pada Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman. Khashoggi, bagaimanapun juga, lebih dari sekadar seorang pria—dia mewakili harapan terbaik untuk reformasi lebih lanjut di Arab Saudi dan untuk pemeriksaan yang bertanggung jawab terhadap kekuasaan dan keangkuhan putra mahkota kerajaan yang sembrono.

Baca juga: Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi Dicintai karena Memilih untuk Berkata Jujur

Oleh: Will Inboden (Foreign Policy)

Arab Saudi adalah salah satu sekutu terpenting Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Arab Saudi juga merupakan monarki tirani yang menghukum perbedaan pendapat, menindas rakyatnya sendiri, dan telah mendukung penyebaran bentuk Islam yang tidak toleran di seluruh dunia.

Dua kenyataan ini ada dalam ketegangan yang tidak nyaman satu sama lain dan merangkum tantangan strategis yang telah melanda kebijakan AS terhadap kerajaan tersebut selama beberapa dekade terakhir.

Hubungan AS-Saudi telah mengalami banyak ketidaksepakatan dan krisis sebelumnya, yang paling akut adalah embargo minyak OPEC tahun 1970-an dan setelah serangan 9/11, ketika diketahui bahwa 15 dari 19 pembajak adalah warga Saudi. Namun, yang sering terjadi, para pemimpin AS dan Saudi telah mampu menjalani hubungan ini tanpa tergelincir atau terjatuh.

Tapi sekarang jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi hilang, dan ketegangan mulai terasa lagi. Seperti yang telah banyak dilaporkan, Khashoggi berasal dari keluarga Saudi terkemuka dan telah mempertahankan keberadaannya yang tidak mudah sebagai orang kepercayaan dan kritikus rezim yang berkuasa, termasuk yang terbaru adalah sebagai komentator Washington Post yang tinggal di pengasingan di Amerika Serikat. Sampai ia hilang pada Selasa (2/10) lalu, dalam apa yang seharusnya menjadi kunjungan rutin ke konsulat Saudi di Istanbul.

Yang paling mengkhawatirkan—dan mengerikan—adalah laporan dari sumber-sumber Turki anonim yang mengatakan bahwa pembunuh bayaran Saudi membunuh Khashoggi.

Hingga tulisan ini ditulis, tidak ada yang dikonfirmasi, namun harapan yang tersisa untuk kemunculannya semakin musnah oleh meningkatnya kemungkinan bahwa pembunuhannya diperintahkan oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Jika Khashoggi mati, pembunuhannya adalah kekejian dan penghinaan terhadap dukungan AS untuk Keluarga Saud. Tidak hanya Khashoggi adalah suara reformasi yang damai dan bertanggung jawab, tetapi sebagai penduduk AS, ia hidup di bawah perlindungan de facto Amerika Serikat.

Penculikannya dari Turki—sekutu NATO (meskipun yang bermasalah)—hanya semakin memperkaya plot Saudi terhadapnya. Kontributor Foreign Policy John Hannah memperingatkan bulan lalu, bahwa ego dan kesalahan yang dilakukan oleh Mohammed bin Salman membayangi agenda reformasinya yang mengagumkan. Kemarahan terbaru ini hanya menegaskan bahwa putra mahkota tersebut sekarang lebih lalim daripada seorang reformis.

Terlepas dari apakah Gedung Putih Trump mengakuinya atau tidak, hilangnya Khashoggi sekaligus merupakan kekejaman, tragedi, dan tamparan memalukan bagi Amerika Serikat.

Tantangan bagi Amerika Serikat adalah bagaimana menanggapi dengan kemarahan yang pantas dan memberikan langkah-langkah pembalasan yang efektif terhadap Riyadh, tanpa menggagalkan seluruh hubungan AS-Saudi dan melukai banyak kepentingan regional Amerika Serikat lainnya.

Sayangnya, pemerintahan Trump telah menyia-nyiakan sebagian besar pengaruh negara tersebut dan modal moralnya, melalui dukungan tanpa syarat untuk perang Saudi di Yaman, penolakan untuk mengatasi banyak penindasan hak asasi manusia Arab Saudi lainnya, dan kegagalan untuk berdiri bersama sekutu Kanada melawan reaksi berlebihan Mohammed bin Salman terhadap teguran ringan Ottawa setelah penangkapan Arab Saudi terhadap blogger perempuan yang mendorong reformasi.

“Terdapat cara yang lebih baik bagi kerajaan untuk menghindari kritik Barat,” tulis Khashoggi di Washington Post pada saat itu. “Hanya dengan membebaskan para aktivis hak asasi manusia, dan hentikan penangkapan yang tidak perlu yang telah mengurangi citra Saudi.”

Sikap diam AS dalam menghadapi perilaku semacam itu mungkin telah mendorong Mohammed bin Salman untuk berpikir bahwa ia dapat bertindak melawan Khashoggi dengan bebas dari hukuman.

Walau beberapa kebijaksanaan konvensional yang basi menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak dapat secara bersamaan mendukung prinsip-prinsip martabat manusia sementara juga mempertahankan hubungan yang stabil dengan sekutu otokratis yang memiliki kepentingan lain yang sama, namun terdapat banyak contoh sebaliknya.

Pemerintahan Reagan mengawetkan aliansi dan kemitraan AS dengan negara-negara seperti Korea Selatan, Filipina, Taiwan, dan Chili, sementara juga mendorong mereka—kadang-kadang dengan tenang dan kadang-kadang keras—di sepanjang jalan menuju transisi demokratis.

Atau ambil contoh Arab Saudi sendiri. Ketika saya bekerja untuk Departemen Luar Negeri AS selama pemerintahan George W. Bush, pada tahun 2004 Amerika Serikat menetapkan Arab Saudi sebagai “negara dengan perhatian khusus” untuk intoleransi dan penindasan agama yang mewabah.

Ini menyusul perselisihan internal yang panjang di dalam departemen, di mana Biro Urusan Timur Dekat menyuarakan pernyataan yang dapat diprediksi, bahwa sanksi terhadap sekutu dekat akan menjadi kontraproduktif dan merugikan kepentingan AS lainnya, sementara tidak mengarah pada peningkatan dalam kebebasan beragama.

Sebaliknya, setelah keputusan Bush untuk memaksakan penetapan itu, Saudi mengambil langkah-langkah yang tenang tetapi bermakna untuk memungkinkan lebih banyak kebebasan untuk beribadah oleh komunitas non-Muslim, sambil mengurangi fitnah anti-Semitisme dan anti-Kristen dalam buku pelajaran mereka.

Sementara itu, kerja sama AS-Arab yang penting yang terus berlanjut di bidang-bidang seperti kontraterorisme, energi, dan keamanan regional, relatif tidak terganggu oleh penetapan tersebut. (Selama salah satu perjalanan saya ke Riyadh pada tahun 2003 untuk negosiasi dengan Saudi, saya bertemu dengan Khashoggi, yang saat itu seperti sekarang adalah seorang jurnalis yang berpikiran reformis.)

Baca juga: Arab Saudi Tahan Seorang Warga Mesir karena Sarapan dengan Lawan Jenis

Hilangnya Khashoggi—walaupun mengerikan—juga dapat membawa peluang untuk memperbaiki hubungan AS-Turki. Hubungan Washington dengan Ankara—yang terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir—dalam beberapa bulan terakhir mengalami terjun bebas terkait isu-isu mulai dari penahanan ilegal Turki terhadap pendeta AS Andrew Brunson dan tahanan lainnya, hingga hubungan Turki yang semakin berkembang dengan Rusia.

Akan dibutuhkan beberapa diplomasi cekatan, tapi mungkin pemerintahan Trump dapat menjalin kesepakatan yang tenang dengan Ankara yang mencakup pembebasan Brunson dan pembatalan pembelian rudal S-400 dari Rusia, sebagai imbalan untuk kolaborasi kuat dengan Amerika Serikat dalam melawan Arab Saudi atas Kasus Khashoggi.

Terlepas dari itu, Amerika Serikat harus mengeksplorasi beberapa tindakan pembalasan yang memberikan kerugian nyata terhadap Riyadh. Pilihan yang patut dipertimbangkan termasuk mengusir Duta Besar Saudi untuk sementara waktu, menerapkan larangan visa pada pejabat senior Saudi lainnya yang terlibat dalam penargetan Khashoggi, dan bahkan penangguhan atau pengurangan penjualan senjata AS dan kerja sama keamanan lainnya dengan Saudi.

Khashoggi, bagaimanapun juga, lebih dari sekadar seorang pria—dia mewakili harapan terbaik untuk reformasi lebih lanjut di Arab Saudi dan untuk pemeriksaan yang bertanggung jawab terhadap kekuasaan dan keangkuhan putra mahkota kerajaan yang sembrono.

Will Inboden adalah Direktur Eksekutif William P. Clements, Jr. Center for History, Strategy, and Statecraft di University of Texas-Austin. Dia juga menjabat sebagai profesor di LBJ School of Public Affairs dan sarjana terkemuka di Robert S. Strauss Center for International Security and Law.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Poster-poster yang mengadvokasi wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, digantung di atas barikade polisi di depan konsulat Arab Saudi di Istanbul pada tanggal 8 Oktober. (Foto: Getty Images/Chris McGrath)

Hilangnya Jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi adalah Tamparan bagi Amerika

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top