Pilpres 2019: Bagaimana Keluarga Kristen Prabowo Tenangkan Kekhawatiran Minoritas
Berita Politik Indonesia

Pilpres 2019: Bagaimana Keluarga Kristen Prabowo Tenangkan Kekhawatiran Minoritas

Berita Internasional >> Pilpres 2019: Bagaimana Keluarga Kristen Prabowo Tenangkan Kekhawatiran Minoritas

Calon presiden Indonesia ini mencapai keseimbangan antara Islam dan Kristen melalui sekutu politik dan ikatan keluarga. Walau salah satu basis pendukungnya adalah kelompok Islam konservatif bahkan garis keras, Prabowo berasal dari keluarga yang sangat plural dan sebagian besar tidak beragama Islam. Hal itu telah menjadi jaminannya dalam menenangkan kelompok minoritas yang khawatir kemenangannya di Pilpes 2019 akan mengubah Indonesia menjadi kekhalifahan.

Oleh: John McBeth (Asia Times)

Baca Juga: Baca Juga: Waspada Perang Boneka Asing dalam Pilpres 2019

Walau tampak aneh, seseorang bertanya pada Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) baru-baru ini, apakah calon presiden oposisi Prabowo Subianto akan membentuk kekhalifahan Islam jika ia mengalahkan Joko Widodo pada Pilpres 2019 bulan April mendatang.

Pertanyaan itu ditujukan kepada adik laki-laki Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, yang sebagai seorang Kristen Protestan seringkali harus membela ikatan calon kandidat yang didukung kelompok-kelompok Muslim itu dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berbasis syariah.

“Saya akan memberitahu Anda, apa jaminan bahwa Prabowo tidak akan membentuk kekhalifahan? Saya adalah jaminan itu,” pengusaha berusia 64 tahun itu dikutip sebagai tanggapannya. “Kakak perempuan dan kakak ipar saya yang Katolik, mereka juga penjamin.”

Sebagai negara mayoritas Muslim dengan status negara sekuler, agama masih menjadi masalah yang ada di mana-mana dalam kehidupan politik, terlebih lagi bagi keluarga yang berada di antara kedua agama.

Kakak perempuannya Bianti (70 tahun), suaminya, mantan Gubernur Bank Sentral, Soedradjat Djiwandono (80 tahun), dan adik perempuan Bianti, Yani (68 tahun), juga seorang Kristen, bekerja untuk Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo.

Soedradjat—yang putranya, Tommy Djiwandono (46 tahun), adalah bendahara Gerindra—mengatakan kepada para pemilih Kristen di Timor Barat pada tahun 2014: “Ada yang mengatakan bahwa karena partai-partai Muslim mendukung Prabowo, itu akan berbahaya bagi agama minoritas. Saya katakan tidak mungkin bagi Prabowo untuk mendiskriminasi agama tertentu karena dia berasal dari keluarga yang sangat pluralis.”

Hashim Djojohadikusumo (kanan), pengusaha kaya dan penasihat calon Presiden Indonesia Prabowo Subianto. (Foto: AFP/Romeo Gacad)

Prabowo (67 tahun), selalu menjadi orang yang pragmatis. Kembali pada tahun 1997-1998, ia menyamar menjadi apa yang disebut jenderal “hijau” dan pemimpin Muslim konservatif, dalam perebutan kekuasaannya dengan komandan angkatan bersenjata Jenderal Wiranto sebelum dan setelah pengunduran diri Presiden Suharto.

Bahkan, itu sampai ke titik di mana Hashim dengan marah bertanya kepada para wartawan mengapa mereka mengkarakterisasi Prabowo—Kepala Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) saat itu—sebagai radikal Islam, ketika keluarga dan anggota keluarganya lainnya dibesarkan sebagai orang Kristen.

Namun, sekutu-sekutu yang sama itu membantu dalam kembalinya politik Prabowo ketika ia kembali dari pengasingan di Yordania, tempat ia tinggal selama tiga tahun setelah disingkirkan oleh militer dalam pergolakan setelah jatuhnya Suharto pada tahun 1998.

Ketika ia gagal dalam upaya untuk memenangkan pencalonan presiden untuk Partai Golkar yang bangkit kembali pada tahun 2004, Prabowo dan saudara lelakinya yang kaya membentuk Gerindra, yang memenangkan 4,46 persen suara nasional pada upaya pertamanya lima tahun kemudian, dan sejak itu menjadi partai peringkat ketiga di Indonesia.

Pada tahun 2013, aliansi awal Prabowo dengan dua partai berbasis syariah di negara itu, PKS dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sekali lagi membuat Hasyim harus meyakinkan pendeta Kristen bahwa saudaranya dapat mengendalikan pengikut mereka yang lebih ekstremis.

Bagaimanapun, Hashim adalah bagian dari jemaat Jakarta di Gereja Kristen Indonesia Yasmin, yang gereja Bogornya ditutup oleh para pemimpin kota pada tahun 2010 dan tetap tertutup, yang bertentangan dengan perintah Mahkamah Agung. Jika Prabowo menjadi presiden, ia berjanji bahwa gereja itu akan dibuka kembali.

Prabowo juga berjanji untuk tidak memilih pasangan calon wakil presiden dari PKS atau PPP untuk Pemilihan Presiden 2014, di mana ia akhirnya memilih mantan Menteri Ekonomi Hatta Rajasa ketika Partai Amanat Nasionalnya (PAN) terlambat bergabung dengan oposisi, setelah gagal membuat perjanjian dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Jokowi.

Calon Presiden Prabowo Subianto setelah mendaftarkan pencalonannya untuk Pemilu 2019, di Jakarta, 10 Agustus 2018. (Foto: Andalou via AFP Forum/Eko Siswono Toyudho)

Lima tahun kemudian, tidak ada yang berubah. PKS tetap menjadi mitra oposisi, tetapi sekali lagi Prabowo mengabaikan ketua partai, Sohibul Iman dan delapan calon PKS lainnya, dan memilih pengusaha Sandiaga Uno sebagai calon wakil presidennya.

“PKS benar-benar tidak punya tempat untuk pergi,” kata seorang analis politik, dan menekankan penolakan Pemimpin PDI-P nasionalis Megawati Sukarnoputri untuk menerima partai tersebut dalam koalisi Jokowi. “Prabowo membuat mereka berada di tempat yang dia inginkan. Mereka terjebak dengannya.”

Prabowo adalah orang yang berbeda di keluarganya karena seorang Kristen kemungkinan tidak akan pernah berharap untuk menjadi presiden di negara mayoritas Muslim, di mana bahkan seorang Gubernur Jakarta Kristen-China menemukan bahwa pekerjaannya terlalu ‘panas’ untuk ditangani, setelah ia dituduh melakukan penistaan, ​​dan para politisi Kristen lainnya berjuang untuk mendapatkan suara di wilayah Muslim.

Mendiang ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo—seorang menteri keuangan, perdagangan, atau penelitian di lima Kabinet Sukarno dan Suharto—adalah seorang Muslim, dan tampaknya telah menjadi rencana besarnya untuk meminta putranya yang ambisius untuk menggunakan karier militernya sebagai batu loncatan ke jabatan politik tertinggi di Indonesia.

Tetapi istri Soemitro, Dora Marie Sigar, seorang siswa perawat bedah yang ditemuinya dan dinikahinya ketika belajar di Eropa pasca-perang, adalah seorang Protestan dari Sulawesi Utara, salah satu dari sedikit provinsi di Indonesia di mana umat Kristen masih menjadi mayoritas.

Pendidikan Kristen mungkin telah diberikan sebelumnya kepada keluarga itu yang tinggal di pengasingan di Eropa antara tahun 1958 dan 1967 setelah Soemitro—seorang anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI)—menjadi terlibat dalam apa yang disebut Pemberontakan Permesta terhadap pemerintah Sukarno.

Setelah kehebohan pada tahun 2017 tentang jatuhnya Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama—di mana Prabowo dan sekutu Islamnya mendukung kandidat saingannya Anies Baswedan—Prabowo telah memfokuskan kampanye presidennya pada ekonomi dan dengan rajin menghindari menyerang Jokowi dengan alasan agama, mungkin membuat lebih mudah bagi saudara-saudaranya untuk mendukungnya.

Pilpres 2019

Presiden Indonesia Joko Widodo berdoa di acara Nuzulul Quran di Istana Merdeka, 5 Juni 2018. (Foto: NurPhoto via AFP Forum)

Sebagian besar pengamat Indonesia percaya bahwa untuk semua klaim bahwa ia tidak Islami, Jokowi—penduduk asli Jawa—sebenarnya lebih saleh daripada saingannya itu. Pada perayaan ulang tahun Prabowo tahun lalu, para tamu yang kaget mendengarnya memberi tahu seorang ulama Muslim yang diundang untuk mempercepat doa sebelum makan malam karena semua orang lapar.

Kritikus Jokowi juga menuduhnya sebagai komunis, yang sekarang terasa aneh setelah Hasyim mengatakan kepada PGI: “Kami menerima dukungan dari siapa pun kecuali iblis. Kami bahkan akan menerima dukungan dari cucu dan cicit dari PKI (Partai Komunis Indonesia) selama Prabowo tidak dituntun ke palu dan arit.”

Satu-satunya anak Prabowo, Didit Hediprasetyo—seorang putra berusia 34 tahun dari mantan istrinya, Titiek Suharto, salah satu dari tiga putri mendiang presiden Suharto—bekerja sebagai perancang busana di Paris dan tidak menunjukkan minat mengikuti ayahnya ke dunia politik.

Putra Hashim, Aryo Djojohadikusumo (35 tahun) dan putrinya Rahayu Saraswati (33 tahun), keduanya menjadi anggota Parlemen saat ini, seperti halnya putra Bianti, Budisatrio Djiwandono (38 tahun), yang mengambil alih kursi di Kalimantan Timur dari seorang anggota parlemen Gerindra terpilih ketika ia meninggal pada tahun 2017. Semuanya beragama Kristen.

Aryo tidak maju lagi saat ini, tetapi Rahayu pindah dari Jawa Tengah ke pemilih Jakarta Selatan, untuk mengejar karier politik yang menjanjikan. Seperti yang digambarkan oleh seorang teman mengenai sosok yang pernah menjadi artis itu: “Dia berbicara dengan baik, bijaksana, dan bersedia untuk mengangkat masalah yang bertentangan dengan omong kosong populis.”

Para Djojohadikusumo tidak selalu sejalan seperti yang kerap mereka iklankan. Selama krisis keuangan 1997-1998, Soedradjat—Gubernur Bank Sentral—menyebabkan keretakan yang tajam dalam keluarga itu dengan menutup 16 bank milik swasta, termasuk yang sebagian dimiliki oleh Hashim, atas permintaan Dana Moneter Internasional (IMF).

Tetapi menjelang pemilihan umum bulan April mendatang, mereka tampaknya sangat akrab. Dan jika Prabowo gagal lagi dalam pemilihan presiden tahun ini, Gerindra mungkin masih menjadi kekuatan besar yang akan memasuki kampanye presiden dan legislatif berikutnya pada tahun 2024.

Itu, dalam jangka panjang, bisa menjadi warisan abadi keluarga.

Baca Juga: Rusia Bantah Tuduhan ‘Propaganda’ Pilpres 2019

Keterangan foto utama: Calon presiden Indonesia Prabowo Subianto berbicara tentang membela Islam di Jakarta, 2 Desember 2018. (Foto: NurPhoto via AFP/Anton Raharjo)

Pilpres 2019: Bagaimana Keluarga Kristen Prabowo Tenangkan Kekhawatiran Minoritas

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top