Istri Presiden Interpol yang Hilang Melawan Partai Komunis China, Apa Artinya?
Asia

Istri Presiden Interpol yang Hilang Melawan Partai Komunis China, Apa Artinya?

Berita Internasional >> Istri Presiden Interpol yang Hilang Melawan Partai Komunis China, Apa Artinya?

Grace Meng mungkin adalah pasangan pertama seorang pejabat senior China, yang berbicara menentang Beijing di panggung internasional, tetapi dia kemungkinan tidak akan menjadi yang terakhir. Namun, walau hanya sedikit yang meragukan perasaannya yang tulus untuk suaminya Meng Hongwei dan keluarganya, namun banyak pengamat yakin bahwa Grace Meng secara politis lebih pintar daripada yang terlihat—dan bahwa tanggapannya terhadap suaminya yang hilang dan ditahan, didorong oleh strategi yang ditata dengan hati-hati.

Oleh: Steven Jiang (CNN)

Ketika mantan Presiden Interpol Meng Hongwei menghilang tiba-tiba bulan lalu, istrinya melakukan sesuatu yang tidak terduga: Dia melakukan perlawanan publik terhadap pemerintah Beijing—sebuah langkah yang jarang dilihat dari anggota keluarga pejabat senior China yang dituduh.

Meng Hongwei (64 tahun), menghilang dari pandangan publik setelah melakukan penerbangan dari Prancis ke Beijing pada akhir September. Interpol—organisasi kepolisian internasional—mengatakan pada Minggu (7/10), bahwa mereka telah menerima surat pengunduran diri dari Meng, yang menjabat sejak tahun 2016.

Pada Senin (8/10), Beijing menegaskan bahwa Meng—yang juga seorang Wakil Menteri Keamanan Publik di China—ditahan karena dugaan korupsi.

Dalam wawancara pada Selasa (9/10) yang penuh air mata dengan CNN di Lyon, Prancis—di mana Interpol berkantor pusat—Grace Meng mengatakan bahwa suaminya adalah korban “penganiayaan” politik, dan menyuarakan kekhawatiran besar atas keselamatannya.

Mengulangi pernyataannya sebelumnya, dia mengatakan bahwa dia memutuskan untuk menantang negara China yang kuat dan Partai Komunis yang berkuasa, demi “semua anak-anak China, semua istri China, dan semua ibu dan ayah China.”

Itu adalah kata-kata yang kuat, di tengah-tengah emosi yang memilukan. Wawancaranya harus dihentikan berulang kali ketika dia menangis sambil berbicara tentang suaminya dan anak-anak mereka yang masih kecil. Dia juga menerima panggilan tak henti-hentinya selama wawancara, dari orang-orang yang dia katakan sebagai diplomat China, yang menuntut untuk menemuinya sendirian.

Grace Meng mungkin tampak sebagai pahlawan yang tidak disengaja, secara spontan bereaksi terhadap keadaan yang sama sekali tidak ia persiapkan.

Dalam banyak pernyataan dan wawancara, ia telah memusatkan perhatian pada penderitaan keluarganya. Dia mengatakan kepada CNN betapa takutnya dia terhadap dirinya dan anak kembar pasangan itu, ketika dia terus menerima pesan mengancam dari orang asing.

Tetapi walau hanya sedikit yang meragukan perasaannya yang tulus untuk suami dan keluarganya, namun banyak pengamat yakin bahwa Grace Meng secara politis lebih pintar daripada yang terlihat—dan bahwa tanggapannya terhadap suaminya yang hilang dan ditahan, didorong oleh strategi yang ditata dengan hati-hati.

Grace Meng telah mengklaim basis moral yang tinggi, menggambarkan suaminya sebagai seorang pejabat polisi yang bersih dan berdedikasi, dengan permulaan yang sederhana dan aspirasi untuk melihat aturan hukum di China.

Para pembangkang politik dan aktivis hak asasi manusia berpendapat, bagaimanapun, bahwa seorang pejabat Komunis seperti Meng Hongwei—yang tidak hanya selamat, tetapi berkembang selama puluhan tahun di sebuah pemerintahan yang dikenal mengabaikan hak asasi manusia—kemungkinan bukanlah korban yang tidak bersalah.

Baca Juga: Istri Presiden Interpol yang Hilang Terima Ancaman dan Telepon Mengerikan

Meng Hongwei

Meng Hongwei adalah kepala pertama Interpol yang berasal dari China. (Foto: AFP/Roslan Rahman)

Mengingat perannya yang kuat sejak tahun 2004 sebagai Wakil Menteri Keamanan Publik, banyak aktivis mengatakan bahwa Meng Hongwei tidak asing dengan “penghilangan paksa” dan taktik brutal lainnya yang digunakan terhadap musuh-musuh negara.

Ketika ia menjadi kepala interpol China pertama, beberapa khawatir bahwa Meng Hongwei akan mengubah badan tersebut menjadi alat politik dari kepemimpinan Beijing. (Terlepas dari ironi sekarang, banyak dari aktivis tersebut mengatakan bahwa pemerintah China harus memperlakukannya dengan adil dan tidak menghilangkan hak-hak hukumnya—prospek yang tidak mungkin dalam sistem saat ini yang pernah dia anut.)

Grace Meng melaporkan ke otoritas Prancis bahwa suaminya hilang pada Kamis (4/10) lalu, setelah ia menerima pesan singkat dari suaminya di China yang memintanya untuk “menunggu panggilan saya,” diikuti dengan gambar pisau yang mengkhawatirkan.

Banyak yang percaya bahwa emoji pisau adalah sinyal yang telah diatur sebelumnya, dan mencatat bahwa aplikasi perpesanan instan yang disukai pasangan tersebut adalah WhatsApp—platform yang lama diblokir di China tetapi dianggap jauh lebih aman daripada aplikasi China.

Para pengamat China juga mencatat bahwa Grace Meng menjadi strategis, terkait apa yang dia pilih untuk dicantumkan—dan tidak dicantumkan—dalam pernyataannya.

Meskipun dia telah menolak tuduhan pemerintah terkait korupsi terhadap suaminya, dan dengan tajam menyebut “anti-korupsi” sebagai sebuah istilah “tercemar” di China, dia telah menahan diri dari menyebut Presiden Xi Jinping, yang jaring anti-korupsinya telah menangkap lebih dari satu juta pejabat sejak dia mengambil alih kekuasaan pada akhir tahun 2001.

Para kritikus telah lama menyebut kampanye besar Xi sebagai upaya untuk menghilangkan saingan politik dan mengkonsolidasikan kekuatannya. Xi sekarang dianggap sebagai Pemimpin China yang paling kuat dalam beberapa dekade—dan dapat memerintah China tanpa batas, setelah parlemen negara itu menghapus batas masa jabatan presiden pada awal tahun ini.

Grace Meng juga menekankan bahwa suaminya “dalam kondisi baik” sebelum meninggalkan Prancis, dan menggambarkan dia sebagai perenang dan pelari yang rajin, yang menerima catatan kesehatan yang bersih dalam pemeriksaan fisik baru-baru ini.

Tanpa menggunakan kata “penyiksaan,” pernyataan ini jelas ditujukan pada para penyelidik anti-korupsi China, yang dikenal menyebarkan taktik keras selama interogasi yang panjang, dan terkait dengan sejumlah kematian yang mencurigakan terhadap para pejabat yang ditahan.

Baca Juga: Bagaimana Kasus Aneh Hilangnya Presiden Interpol Jadi Semakin Ganjil

Pengumuman resmi China tentang penahanan Meng Hongwei menyebut soal Kaisar Keamanan Dalam Negeri Zhou Yongkang yang disingkirkan, dan banyak analis melihatnya sebagai tanda kemungkinan hubungan antara keduanya—meskipun jabatan Meng Hongwei terus meningkat melalui jajaran setelah kejatuhan Zhou, yang menerima hukuman seumur hidup pada tahun 2015 karena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam upaya yang jelas untuk menempatkan suaminya di atas pertikaian politik, Grace Meng menulis daftar enam pejabat penting lainnya dalam sebuah pernyataan—di samping Zhou—di mana suaminya telah melayani di bawah mereka, melalui karier panjangnya dalam penegakan hukum.

Dia juga menghindari masalah keamanan nasional, meskipun ada argumen dari beberapa analis bahwa suaminya mungkin telah memberikan dokumen-dokumen rahasia atau informasi yang dapat merusak atau mempermalukan kepemimpinan Beijing.

Media pemerintah China telah menyoroti posisi masa lalu Meng Hongwei sebagai kepala kantor kontraterorisme China, dan menyiratkan bahwa penahanannya dapat dikaitkan dengan keamanan nasional.

Beberapa analis telah mengangkat kasus aktivis Uighur sebagai kemungkinan koneksi. Pada bulan Februari, di bawah pengawasan Meng Hongwei, Interpol mengecewakan pemerintah China dengan mencabut peringatan pencarian orang terhadap Dolkun Isa—seorang pembangkang Uighur terkemuka yang diberikan suaka di Jerman tetapi masih dianggap sebagai teroris oleh Beijing.

Sejak Xi berkuasa, perlakuan China yang semakin keras terhadap kelompok Uighur—kelompok minoritas berbahasa Turki yang sebagian besar beragama Islam di China, di barat jauh—telah mendapat sorotan internasional.

Walau alasan sebenarnya untuk penahanan mendadak Meng Hongwei mungkin masih menjadi misteri untuk waktu yang lama, namun kejatuhan dramatisnya di depan khalayak global hanya memperkuat gagasan yang dipegang oleh kritikus Beijing: Tidak ada lagi yang aman di China di bawah Xi—dan otoritas China dengan sempurna bersedia melanggar aturan atau norma untuk menunjukkan kesetiaan mutlak mereka kepada Xi, secara disengaja atau tidak.

Penilaian semacam itu pada gilirannya dapat menggarisbawahi kekhawatiran atas pengaruh perluasan China dalam organisasi multinasional, terutama “Sinofikasi” dari kelompok-kelompok ini jika mereka dipimpin oleh pejabat pemerintah China—terlepas dari kekayaan politik mereka yang mudah berubah seperti yang ditunjukkan dalam contoh Interpol.

Reaksi mengejutkan Grace Meng terhadap hilangnya suaminya, mungkin telah menjelaskan pertentangan baru. Seiring banyak elit penguasa China merasa semakin tidak aman di bawah Xi, para pengamat mengatakan, mereka mungkin tidak lagi mengundurkan diri hanya untuk bersikap diam, tetapi sebaliknya justru mengadopsi rencana yang semakin canggih yang sering mengandalkan pemerintah dan media Barat—institusi-Institusi yang telah lama secara publik mereka cela atau olok-olok.

Bahkan sebelum kisah terbaru ini, terdapat beberapa contoh penting. Pada tahun 2012, seorang kepala polisi di kota barat daya Chongqing melakukan perjalanan ke konsulat Amerika Serikat (AS) dan berusaha bertemu dengan para pejabat Amerika, yang memicu salah satu skandal politik terbesar dalam sejarah terakhir yang melibatkan pembunuhan, korupsi, dan pengkhianatan. Insiden itu akhirnya menghancurkan masa depan lawan Xi, dan membuka jalan bagi pendakiannya ke puncak.

Tindakan-tindakan Grace Meng di Prancis tidak diragukan lagi telah memaksa pemerintah China untuk melepaskan informasi—bagaimanapun terbatasnya—terkait suaminya, lebih cepat dari yang mereka rencanakan, mengingat banyak tahanan menghilang selama berbulan-bulan atau lebih lama.

Interaksi berkelanjutannya dengan otoritas Prancis dan media internasional menambahkan tekanan lebih lanjut pada Beijing untuk mengungkapkan kartu-kartunya terhadap Meng Hongwei.

Di tengah semua kegilaan ini, satu hal tampak jelas: Grace Meng mungkin adalah pasangan pertama seorang pejabat senior China, yang berbicara menentang Beijing di panggung internasional, tetapi dia kemungkinan tidak akan menjadi yang terakhir.

Keterangan foto utama: Grace Meng tidak mau diidentifikasi karena takut akan keselamatannya. (Foto: AFP)

Istri Presiden Interpol yang Hilang Melawan Partai Komunis China, Apa Artinya?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top