Jadi Lokasi KTT Trump-Kim, Vietnam Bisa Jadi Contoh Reformasi bagi Korut
Global

Jadi Lokasi KTT Trump-Kim, Vietnam Bisa Jadi Contoh Reformasi bagi Korut

Para penjaga kehormatan militer Vietnam berbaris selama upacara pengibaran bendera di Ba Dinh Square di depan Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi pada 25 September. (Foto: The Washington Post/Linh Pham)
Berita Internasional >> Jadi Lokasi KTT Trump-Kim, Vietnam Bisa Jadi Contoh Reformasi bagi Korut

Vietnam kemungkinan besar ditunjuk sebagai lokasi KTT Trump-Kim kedua, mengingat Vietnam adalah negara netral dan memiliki hubungan diplomatik dengan Pyongyang dan Washington—membuatnya nyaman untuk menjamu para pemimpin kedua negara. Selain itu, Vietnam juga bisa memberikan keuntungan bagi Korea Utara: Vietnam bisa memberikan contoh bagaimana melakukan reformasi. Saat mengunjungi ibu kota Vietnam, Hanoi, Juli lalu, Menlu AS Mike Pompeo pun menyarankan bahwa Korea Utara perlu mengikuti langkah Vietnam.

Oleh: Adam Taylor (The Washington Post)

KTT pertama antara Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Trump berlangsung di lokasi yang menguntungkan: Singapura.

Tidak sulit untuk melihat alasannya. Di akhir abad ke-20, Singapura mengalami perkembangan ekonomi yang cepat, bertransformasi dari negara miskin menjadi negara dunia pertama—semuanya di bawah kepemimpinan pemimpin otoriter Lee Kuan Yew. Kim—yang berharap untuk tingkat perkembangan yang sama sambil mempertahankan kontrol politik yang ketat—tampak terpesona oleh kemegahan kota tersebut yang berkilau.

Sekarang, KTT Trump-Kim kedua dijadwalkan akan berlangsung pada akhir Februari. Dan meskipun lokasi pastinya belum diumumkan, namun secara luas diperkirakan bahwa KTT kedua ini akan diadakan di Vietnam. “Kami akan melakukannya di suatu tempat di Asia,” Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengatakan pada Rabu (30/1) saat wawancara dengan Fox News. “Saya mengirim tim ke sana.”

CNN melaporkan pada Kamis (31/1), bahwa pemerintah sedang dalam proses menyelesaikan pertemuan puncak di kota pesisir Danang, Vietnam. Para pejabat lokal telah berulang kali mengatakan bahwa mereka terbuka untuk menjadi tuan rumah pertemuan antara Trump dan Kim.

Jika laporan Vietnam akurat, lokasi kedua ini akan membawa banyak bobot simbolis. Vietnam mungkin juga memiliki daya tarik bagi para pemimpin Korea Utara seperti yang dimiliki Singapura—meskipun bagi Amerika Serikat, sejarahnya dengan Vietnam mungkin akan membuatnya agak canggung.

Dalam hal praktis, Vietnam adalah pilihan yang jelas. Vietnam relatif dekat dengan Korea Utara, misalnya, yang berarti bahwa Kim dapat sampai di sana tanpa perlu singgah atau meminjam pesawat untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Vietnam juga netral dan memiliki hubungan diplomatik dengan Pyongyang dan Washington—membuatnya nyaman untuk menjamu para pemimpin kedua negara.

Dan, seperti Singapura, negara ini memiliki kisah yang bisa diceritakan oleh Korea Utara: bagaimana sebuah negara yang dikelola komunis mendapatkan imbalan ekonomi dengan pergi dari musuh Amerika Serikat menjadi mitra yang bersahabat.

Baik Vietnam maupun Korea Utara memiliki warisan konflik Perang Dingin yang brutal melawan pasukan pimpinan AS. Dari tahun 1950-an hingga 1975, Vietnam dan Amerika Serikat beperang, di mana 58 ribu anggota layanan AS dan ratusan ribu warga sipil Vietnam terbunuh.

Namun, hanya dua dekade kemudian, kedua negara itu menormalkan hubungan mereka. Pada tahun 2000, Presiden Bill Clinton menjadi kepala negara AS pertama yang mengunjungi Vietnam sejak perang tersebut; 15 tahun kemudian, Presiden Barack Obama menyambut Nguyen Phu Trong ke Gedung Putih, menjadikannya pemimpin Partai Komunis Vietnam pertama yang mengunjungi Ruang Oval. Jajak pendapat menunjukkan tingkat kepercayaan yang hangat di antara kedua negara.

Baca Juga: Negara Komunis Netral, Kenapa Vietnam Ideal jadi Tuan Rumah KTT Trump-Kim 2

Pemandangan pantai My Khe pada 26 Januari di Danang, Vietnam. (Foto: Getty Images/Linh Pham)

Kota Danang adalah pusat bagi militer AS dan sekutu Vietnam Selatan selama Perang Vietnam, sebelum jatuh ke pasukan komunis pada Maret 1975. Sekarang, itu adalah pusat ekonomi untuk Vietnam tengah, yang menarik jutaan turis asing setiap tahun ke pantai berpasir, hotel mewah, dan—mungkin bukan kebetulan, mengingat Presiden AS saat ini—banyak lapangan golf di kota itu.

Sebagian besar perubahan di Vietnam dapat dikaitkan dengan kebijakan reformasi ekonomi Doi Moi (renovasi) yang diberlakukan pada tahun 1986. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menciptakan “ekonomi pasar yang berorientasi sosialis” dan menyebabkan ledakan di industri swasta, yang mengakibatkan ekonomi yang dipimpin ekspor yang tumbuh, sambil menjaga Partai Komunis tetap berkuasa.

Tentu saja, Kim mungkin berharap untuk mengalami perkembangan serupa—meskipun, mungkin, sedikit lebih cepat. Dan di sana dia mungkin beruntung, karena para pejabat Vietnam tampaknya bersedia membantunya. Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho mengunjungi Vietnam akhir tahun lalu, sebagian untuk mempelajari reformasi Doi Moi.

Saat mengunjungi ibu kota Vietnam, Hanoi, Juli lalu, Pompeo menyarankan bahwa Korea Utara perlu mengikuti langkah Vietnam.

“Mengingat kemakmuran dan kemitraan yang tak terbayangkan yang kami miliki dengan Vietnam hari ini, saya memiliki pesan untuk Ketua Kim Jong-un,” kata Pompeo. “Presiden Trump yakin negara Anda dapat meniru jalan ini. Itu milik Anda jika Anda akan memanfaatkan momen ini. Mukjizat itu bisa menjadi milik Anda; itu bisa menjadi keajaiban Anda di Korea Utara juga.”

Tidak semua orang yakin bahwa Vietnam memberikan model yang jelas untuk Korea Utara. Para pengamat kedua negara mencatat bahwa meskipun Vietnam bukan negara demokrasi, namun negara itu juga tidak dipimpin oleh pemimpin kuat tunggal. Dikelola oleh elit yang terkadang kontroversial, negara ini tidak memiliki pemimpin abadi yang nyata—potensi masalah bagi pemimpin otoriter generasi ketiga dinasti seperti Kim.

Baca Juga: Dapatkah Korea Utara Redakan Konflik Amerika-China?

Pemandangan Hyatt Regency Danang Resort pada 27 Januari. Presiden Trump tinggal di sana dan menggelar acara untuk menandatangani proklamasi untuk menghormati veteran Perang Vietnam selama pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik 2017. (Foto: Getty Images/Linh Pham)

Bagi Korea Utara, pembagian Semenanjung Korea setelah Perang Dunia II juga menghadirkan masalah ekonomi yang unik. “Membuka diri ke Korea Selatan dan modal asing akan membuat lebih banyak orang Korea Utara yang normal di pabrik-pabriknya, mengetahui seberapa terbelakang negara mereka dibandingkan Korea Selatan,” tulis Peter Ward, seorang kolumnis di NK News, tahun lalu.

Namun, mudah untuk melihat mengapa model Vietnam akan menarik bagi Kim. Negara ini lebih sebanding dengan Korea Utara daripada Singapura dalam hal skala dan sejarah; Vietnam tidak terlalu memikirkan masa lalu, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan negara besar lain di kawasan ini jika mereka menjadi tuan rumah Korea Utara.

Dan lagi pula, Vietnam adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang dapat dibenarkan jika mereka mengatakan bahwa mereka mengalahkan Amerika Serikat dalam perang. Bahkan jika Korea Utara akhirnya memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat dan bergabung kembali dengan komunitas internasional, mencontoh reformasi Vietnam akan memungkinkan dinasti Kim mengklaim sesuatu yang diinginkannya selama beberapa dekade: kemenangan.

Keterangan foto utama: Para penjaga kehormatan militer Vietnam berbaris selama upacara pengibaran bendera di Ba Dinh Square di depan Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi pada 25 September. (Foto: The Washington Post/Linh Pham)

Jadi Lokasi KTT Trump-Kim, Vietnam Bisa Jadi Contoh Reformasi bagi Korut

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top