Jokowi
Berita Politik Indonesia

Jika Jokowi Menang, Analis Perkirakan Pasar Indonesia Meningkat

Presiden Indonesia Joko Widodo. (Foto: Getty Images/Money Sharma)
Berita Internasional >> Jika Jokowi Menang, Analis Perkirakan Pasar Indonesia Meningkat

Jika Jokowi memenangkan Pilpres 2019 pada bulan April mendatang, para analis memperkirakan bahwa pasar Indonesia akan meningkat. Jika Jokowi menang, menurut mereka, akan ada dua tema investasi yang akan mendominasi masa jabatan keduanya: membangun kembali infrastruktur dan mendapatkan bagian lebih besar dari investasi asing langsung di Asia. Dalam masa jabatannya yang kedua, Jokowi juga kemungkinan akan mengejar kebijakan yang tidak populer tetapi perlu seperti reformasi pasar tenaga kerja.

Baca juga: Pengaruh Agama di Pilpres: Moderat dan Konservatif Jadi Dilema Jokowi

Oleh: Assif Shameen (Barrons)

Dengan kenaikan hampir 16 kali lipat, Indonesia telah menjadi pasar dengan kinerja terbaik di Asia selama 20 tahun terakhir hingga Januari 2019, jauh melampaui China dan India. Bursa Efek Jakarta (BEJ) memimpin pasar selama 10 dan 15 tahun.

Tahun lalu, bahkan dengan penurunan dua persen, BEJ mengalahkan Shanghai yang turun 25 persen, dan berada di urutan kedua di belakang India yang mengalami peningkatan tujuh persen. Dan Indonesia bisa saja memperpanjang kepemimpinan jangka panjangnya tahun ini.

Salah satu perkiraan positif adalah adanya kemungkinan terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo dalam beberapa bulan ke depan. Dia adalah kandidat favorit untuk memenangkan masa jabatan kedua, yang melawan mantan jenderal militer konservatif Prabowo Djojohadikusumo, mantan menantu diktator Suharto.

Presiden tersebut—yang dikenal sebagai Jokowi—mengalahkan Prabowo lima tahun yang lalu.

Jika Jokowi menang, akan ada dua tema investasi yang akan mendominasi masa jabatan keduanya: membangun kembali infrastruktur dan mendapatkan bagian lebih besar dari investasi asing langsung di Asia.

“Jokowi adalah pemimpin yang berkomitmen untuk meningkatkan pertumbuhan PDB dan daya saing,” kata Manu Bhaskaran, direktur rumah penelitian independen Centennial Asia Advisors di Singapura. “Dalam masa jabatannya yang kedua, ia kemungkinan akan mengejar kebijakan yang tidak populer tetapi perlu seperti reformasi pasar tenaga kerja.”

Sebagai negara dengan populasi terpadat keempat setelah China, India, dan Amerika Serikat (AS), Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen tahun lalu, setelah pertumbuhan 5,1 persen pada tahun 2017—jauh di bawah pertumbuhan ekonomi sebesar 7,2 persen yang dicapai India dan 6,5 persen oleh China.

“Indonesia dapat dengan mudah mencapai pertumbuhan enam persen selama beberapa tahun ke depan,” bantah Bhaskaran, “tetapi Indonesia benar-benar harus berupaya memberikan hasil yang lebih baik—tujuh persen atau lebih.”

Baca juga: Pilpres 2019: Jokowi Seharusnya Berani Lawan Kritik, bukan Meredamnya

Pasar negara berkembang Indonesia tahun lalu lebih baik daripada negara-negara lain di Amerika Latin. “Kebijakan moneter yang baik diterjemahkan ke dalam ketahanan yang lebih besar terhadap tekanan pasar negara berkembang, dan kebijakan fiskal telah membaik,” katanya.

Berfokus untuk memenangkan masa jabatan kedua, Jokowi telah berada di jalur ekonomi sejak Pilgub tahun 2016 di Jakarta, yang dimenangkan partai oposisi. Pasca-pemilu, Jokowi kemungkinan akan bergerak agresif pada insentif pajak untuk merayu para produsen.

Indonesia—bersama Vietnam, Thailand, dan Malaysia—dipandang sebagai penerima keuntungan utama dari para produsen yang pindah dari China ke lokasi yang lebih murah di tengah perang dagang AS-China. Jokowi telah membantu mendorong melalui pembebasan pajak yang lebih baik bagi investor asing di 19 industri.

“Insentif pajak sebelumnya terlalu kecil untuk membuat dampak,” kata Sriyan Pietersz, ahli strategi untuk Matthews Asia di Singapura. Perusahaan pabrikan kontrak Taiwan Pegatron—yang membuat iPad dan HomePods—dan Lotte Chemical Korea adalah beberapa di antara perusahaan yang memindahkan fasilitas produksinya.

“Pasca-pemilu, kita akan melihat revisi undang-undang investasi yang lebih agresif untuk memfasilitasi relokasi manufaktur dari China, serta pemotongan pajak perusahaan dari 25 persen menjadi sekitar 20 persen hingga 22 persen,” katanya.

Pasar Jakarta dihargai pada kisaran menengah sesuai kebiasaan, diperdagangkan lebih dari 15 kali estimasi pendapatan tahun ini. Para analis memperkirakan pendapatan perusahaan tumbuh 12,5 persen tahun ini setelah pertumbuhan 10,5 persen tahun lalu.

Konsumsi lokal meningkat.

“Rupiah menguat lagi, yang mengarah pada keterjangkauan lebih dari sudut pandang konsumen,” kata Pietersz. “Ada juga peningkatan 30 persen dalam anggaran sosial untuk sektor pedesaan dan kelompok berpenghasilan rendah dalam anggaran tahun ini, yang akan membantu pengeluaran konsumen.”

Investor AS dapat berinvestasi di Indonesia melalui salah satu dari banyak dana yang diperdagangkan di bursa seperti iShares MSCI Indonesia (EIDO).

Baca juga: Jokowi Panaskan Debat Pilpres 2019 dengan Tuduhan Campur Tangan Rusia

Salah satu saham yang paling disukai adalah Astra International, yang memiliki jaringan distribusi mobil terbesar di negara itu, perkebunan kelapa sawit, perusahaan manufaktur, dan bank. Sahamnya diperdagangkan pada 13,7 kali estimasi pendapatan tahun ini dan memiliki hasil dividen tiga persen.

Penghasilan cenderung tumbuh 20 persen tahun ini. Sebagian besar analis memperkirakan bahwa harga akan naik 20 persen hingga 35 persen lebih tinggi dari harga saat ini, yakni Rp8.125.

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo. (Foto: Getty Images/Money Sharma)

Jika Jokowi Menang, Analis Perkirakan Pasar Indonesia Meningkat

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top