Jokowi
Berita Politik Indonesia

Jokowi Tersandung-sandung dalam Upayanya Pikat Pemilih Muslim

Berita Internasional >> Jokowi Tersandung-sandung dalam Upayanya Pikat Pemilih Muslim

Tahun 2014, Presiden Joko Widodo–akrab dipanggil Jokowi–memenangkan pemilihan presiden di Indonesia dengan basis pendukung liberal yang kuat. Dalam Pilpres 2019 kali ini, upaya Jokowi untuk memikat pemilih Muslim konservatif–yang cenderung memilih lawannya Prabowo Subianto–belum membuahkan hasil. Belum lagi, pertimbangannya untuk membebaskan ulama radikal Abu Bakar Baasyir terbukti menjadi blunder. 

Baca Juga: Ada Faktor Pembuktian Kinerja dan Ahok, Elektabilitas Jokowi Sulit Disalip

Oleh: Angus Watson (CNN)

Indonesia minggu ini menyaksikan seberapa jauh Presiden Joko “Jokowi” Widodo akan mendukung kampanye pemilihannya kembali melawan serangan dari garis keras Islam yang menganggapnya tidak cukup alim untuk memimpin.

Ulama jihad Abu Bakar Baasyir saat ini tengah menghadapi pemeriksaan pembebasan bersyarat setelah menjalani dua pertiga dari hukuman 15 tahunnya karena memfasilitasi sebuah kamp pelatihan teror. Abu Bakar Baasyir dikenal sebagai “pemimpin spiritual” dari jaringan teroris lokal yang melakukan bom Bali tahun 2002 yang menewaskan 202 orang. Insting pertama Jokowi adalah bersimpati dengan kesehatan Abu Bakar Baasyir (81 tahun) yang tengah sakit itu. Anggota keluarga mengatakan bahwa Abu Bakar Baasyir tidak bisa lagi berjalan, dan dia sepertinya tidak akan memiliki umur panjang.

Kekhawatiran ini langsung dibantah karena salah tempat dan diejek oleh banyak pendukung liberal Jokowi serta kelompok garis keras yang tidak pernah percaya bahwa ia memiliki kepercayaan agama untuk memimpin negara Muslim terbesar di dunia ini, kata Ian Wilson, seorang pakar Indonesia di Universitas Murdoch Australia.

“Itu adalah langkah politis yang dieksekusi dengan buruk,” kata Wilson. “Jokowi paham bahwa tanggal pembebasan bersyarat Abu Bakar Baasyir akan segera datang, tetapi Jokowi tahu bahwa Abu Bakar Baasyir tidak akan memenuhi persyaratan.”

Ulama radikal Abu Bakar Baasyir berbicara di Pengadilan Negeri Cilacap pada 26 Januari 2016 di Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia. (Foto: Getty Images/Getty Images Asiapac/Ulet Ifanasti)

Saat ditawari kebebasan dengan syarat bahwa ia harus bersumpah setia kepada negara sekuler Indonesia, pengkhotbah radikal itu malah memilih untuk tetap dikurung di sel penjara di Jawa Barat, di mana ia pernah berjanji setia pada Negara Islam (ISIS).

“Abu Bakar Baasyir tidak pernah mengungkapkan rasa bersalah atau penyesalan. Pada dasarnya dia menolak nasionalisme Indonesia,” kata Wilson.

Baca Juga: Rencana Aneh Membebaskan Baasyir Justru Nodai Kampanye Jokowi

Hal ini menyebabkan Jokowi—yang kesulitan menjaga keseimbangan langkahnya di kampanye pemilihan dengan basis liberal di satu sisi dan basis konservatif agama yang semakin tegas di sisi lain—kehilangan pijakannya. “Orang-orang yang dia coba untuk pikat tidak akan pernah mempercayainya,” tambah Wilson.

Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang dikenal sebagai “Ahok” (kiri) dan juru bicara kampanyenya Ruhut Sitompul (kanan) melambai kepada para fotografer setelah persidangannya atas penistaan ​​agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Jakarta pada 13 Desember 2016. (Foto: AFP/Getty Images)

Tetap suci

Di sisi lain dari tindakan penyeimbangan Jokowi adalah tahanan lain—yang sekarang telah bebas.

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, mantan gubernur DKI Jakarta yang beretnis Tionghoa, meninggalkan penjara pada Kamis (24/1), dua tahun setelah mantan sekutu Jokowi itu dipenjara karena penistaan ​​agama.

Ahok, yang beragama Kristen, mendapat masalah dengan undang-undang penistaan ​​agama di tahun 2016 ketika ia mengutip salah satu ayat Alquran untuk meyakinkan umat Islam bahwa tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak dapat memilih orang yang non-Muslim. Setelah itu, muncul protes dengan massa mencapai puluhan ribu orang yang menyerukan agar dia dicabut dari jabatannya, dan dipenjara.

Baca Juga: Top 10 Artikel Mata Mata Politik 2018

Menurut Human Rights Watch, perlakuan terhadap Ahok itu menunjukkan bahwa “non-Muslim … harus sangat berhati-hati sebelum membuat komentar publik tentang keragaman dan pluralisme.”

Bahkan, kondisi menjadi semakin tegang bertahun-tahun setelah kasus Ahok itu.

Di pemilu presiden bulan April nanti, Jokowi akan melawan Prabowo Subianto, seorang mantan jenderal yang telah membuktikan bahwa dirinya bisa memanfaatkan hubungan Presiden dengan Ahok untuk melawan Presiden.

Anggota dari berbagai kelompok Muslim garis keras merayakan hukuman yang dijatuhkan pada Ahok ​​pada 9 Mei 2017 di Jakarta, Indonesia. (Foto: Getty Images/Getty Images Asiapac/Ed Wray)

Setelah kalah dari Jokowi pada tahun 2014, Prabowo kali ini mendapat dukungan dari kelompok agama konservatif yang kritis terhadap pemerintahan saat ini.

Meningkatnya keterlibatan kelompok-kelompok Islam dalam politik sebagian terbantu oleh “pengorganisasian yang efektif oleh kelompok-kelompok radikal dan aliansi antara beberapa anggota militer atau mantan anggota militer dan Islamis,” kata Josh Kurlantzick, rekan senior untuk Asia Tenggara di Dewan Hubungan Luar Negeri yang berbasis di AS.

Baca Juga: Analisis: Mengungkap Otoritarianisme Pemerintahan Jokowi

Muslim garis keras berbondong-bondong bergabung ke rapat umum Prabowo. “Haram bagi kita untuk memilih calon presiden dan legislatif yang didukung oleh partai-partai yang mendukung penista agama itu,” kata pengkhotbah kontroversial, Rizieq Shihab, kepada peserta di salah satu rapat umum pada bulan Desember, menghubungkan Ahok ke Jokowi meskipun Presiden telah menjauhkan diri dari mantan sekutunya itu selama Ahok menghadapi masalah hukumnya.

Jokowi melambai ke kerumunan saat dalam perjalanan ke Istana Presiden setelah pemilihannya pada Oktober 2014. (Foto: Getty Images/Getty Images Asiapac/Ulet Ifanasti)

Pertaruhan Presiden

Dalam upaya nyata untuk mengurangi dukungan konservatif kepada Prabowo, Jokowi telah mengantar unsur-unsur hak beragama Indonesia ke dalam kampanye pemilihan ulangnya. Di antara lingkaran dalam Jokowi yang baru ada ulama konservatif Ma’ruf Amin, yang akan menjadi kandidat wakil presidennya.

Sementara itu, penasihat hukum kampanye Jokowi adalah Yusril Ihza Mahendra—yang juga pernah menjadi penasihat hukum Abu Bakar Baasyir.

“Pemilihan pasangan calon Jokowi jelas merupakan langkah politik yang diperhitungkan,” kata Melissa Crouch, pakar dan professor di Universitas New South Wales. “Jokowi sangat prihatin dengan berbagai tuduhan yang terus beredar tentang dirinya. Banyak yang menuduhnya sebagai komunis, misalnya, padahal dia tidak komunis.”

Sebelum bergabung dengan kampanye, Ma’ruf berjanji setia pada Indonesia yang demokratis. Tetapi pengkhotbah yang terkenal itu terus dikenal karena pandangannya yang tidak toleran terhadap minoritas agama, kata Crouch.

Pakta Jokowi dengan Ma’ruf, yang sikap kontroversialnya termasuk melarang hubungan LGBT, “adalah indikasi bahwa mereka yang secara terbuka mendukung pluralisme, liberalisme dan sekularisme telah diserang selama beberapa tahun sekarang,” tambahnya.

“Kesulitan yang dihadapi pemilih yang ingin menjunjung toleransi dan keragaman adalah bahwa tidak ada pasangan presiden yang mendukung nilai-nilai ini.”

Lima tahun lalu, Jokowi memenangkan kursi kepresidenan karena gelombang dukungan dari para pemilih liberal. “Efek Jokowi” membuat mantan penjual furnitur itu sebagai pemimpin yang sederhana dibandingkan elit militer atau bisnis Indonesia.

Dalam bekerja sama dengan Ma’ruf, menurut Wilson, Jokowi telah menjauhkan banyak pendukungnya sendiri dan gagal meyakinkan pemilih agamis yang lebih cerdas dari yang dibayangkan para politisi.

“Tahun ini mungkin akan ada banyak yang golput,” kata Wilson. “Pendukung sosial liberal Jokowi sangat kecewa. Kekecewaan itu tidak akan diterjemahkan menjadi dukungan untuk Prabowo, tetapi itu meyakinkan mereka bahwa Jokowi tidak dapat dipercaya.”

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo. Dia menghadapi pemilihan ulang yang sulit di tengah meningkatnya tekanan dari pemilih konservatif negara itu. (Foto: Getty Images/Getty Images Asiapac/Feng Li)

Jokowi Tersandung-sandung dalam Upayanya Pikat Pemilih Muslim

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top