Vladimir Putin
Eropa

Kebijakan Luar Negeri Vladimir Putin: Gas, Senjata, dan Pragmatisme

Berita Internasional >> Kebijakan Luar Negeri Vladimir Putin: Gas, Senjata, dan Pragmatisme

Rusia akan berkonfrontasi dengan Barat karena Rusia berharap dapat mewujudkan integrasi Eurasia dan memperluas jejaknya secara global. Rusia bisa jadi kekurangan sumber daya modal dan merk global dari para pesaingnya, tetapi Vladimir Putin dengan ambisius berupaya memulihkan peran Perang Dingin Rusia sebagai pemain global dan pendukung integrasi Eurasia. Dipersenjatai dengan pragmatisme alih-alih komunisme, Putin memperkuat “zona kepentingan” tradisional Rusia dan memenangkan teman-teman baru dengan menggunakan energi, persenjataan, dan dosis anti-Barat yang kuat sebagai instrumen kebijakan yang efektif.

Baca juga: Putin: Rusia Kembangkan Rudal Hipersonik Tak Terkalahkan

Oleh: Alexander Kruglov (Asia Times)

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba di Moskow, Rusia pada bulan Januari 2019 untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan itu akan tampak seperti KTT lain antara dua orang kuat yang memiliki banyak kesamaan, jika bukan karena fakta bahwa pertemuan itu terjadi dengan latar belakang memburuknya hubungan Amerika Serikat-Turki dan gelombang baru ekspansionisme Rusia yang melanda Asia dan Timur Tengah.

Erdogan, kesal dengan sanksi Amerika, jelas merasa nyaman bersama “teman lamanya.” Omzet perdagangan Rusia-Turki telah meningkat tajam dan akan segera naik menjadi US $ 100 miliar, menurut Putin, sementara arus turis Rusia ke Turki telah mencapai rekor angka enam juta. Tapi pertemuan itu bukan hanya tentang ekonomi. Bagi Putin, ini adalah kesempatan lain untuk menunjukkan visinya yang semakin tegas tentang aliansi Eurasia yang berpusat di Rusia dalam menghadapi kepentingan Amerika dan Barat.

Turki, anggota NATO yang selama bertahun-tahun Perang Dingin berkonfrontasi dengan Soviet, masih mengakomodasi aset Amerika di pangkalan udara Icirlik dan mengendalikan akses dari Laut Hitam ke Mediterania melalui Selat Bosporus. Semua ini membuat Turki layak dirayu.

Pembelian sistem pertahanan udara S-400 Rusia oleh Turki telah menyebabkan kecemasan Amerika, yang mencoba menggagalkannya dengan menawarkan rudal Patriot sebagai gantinya. Kontrak S-400 senilai US$2,5 miliar yang ditandatangani pada bulan Desember 2017 dan empat baterai diperkirakan akan dikirim mulai bulan Juli 2019.

“AS telah berusaha memaksa Turki untuk meninggalkan kerja sama industri pertahanan dengan Rusia,” kata Ruslan Mamedov, seorang ahli Timur Tengah di Russian International Affairs Council. “Tapi Turki bertekad untuk membuat keputusan sendiri.”

Tentu saja, Rusia memiliki perdebatan sendiri dengan Turki. Dalam konflik Suriah, tujuan-tujuan Rusia, menopang Suriah dan mempertahankan pengaruh di Suriah dan sekitarnya, hampir tidak selaras dengan Turki. Kemudian ada juga Armenia, di mana Rusia mengerahkan 5.000 tentara dan persenjataan di dua pangkalan di perbatasan Turki, yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi Erdogan.

Namun Rusia dan Turki jelas menjalin hubungan baik. Persahabatan kedua pemimpin tersebut telah memainkan peran, dengan adanya ketegangan dengan Barat memainkan peran lainnya.

Rusia bisa jadi kekurangan sumber daya modal dan merk global dari para pesaingnya, tetapi Putin dengan ambisius berupaya memulihkan peran Perang Dingin Rusia sebagai pemain global dan pendukung integrasi Eurasia. Dipersenjatai dengan pragmatisme alih-alih komunisme, Putin memperkuat “zona kepentingan” tradisional Rusia dan memenangkan teman-teman baru dengan menggunakan energi, persenjataan, dan dosis anti-Barat yang kuat sebagai instrumen kebijakan yang efektif.

Berteman dengan Iran dan Arab Saudi

Turki hanyalah salah satu prioritas Kremlin di Timur Tengah. Di Suriah, Rusia memastikan pemerintahan Bashir Assad bertahan dan berupaya mempercepat rekonstruksi. Suriah adalah sekutu regional terbesar Rusia dan gerbang masuk angkatan lautnya menuju Mediterania.

Negara-negara Teluk juga memainkan peran. Contoh kasus: pemulihan hubungan yang luar biasa antara Putin dengan Arab Saudi. Selama beberapa dekade, Arab Saudi memiliki hubungan yang sulit dengan Rusia, tetapi Putin bersahabat dengan bangsawan-bangsawan Saudi, termasuk putra mahkota Mohammed bin Salman yang kontroversial.

Tahun 2007, Putin mengunjungi Riyadh pada kunjungan resmi pertama untuk seorang pemimpin Rusia dan bertemu Raja Abdullah di sana. Sepuluh tahun kemudian, tahun 2017, Raja Salman melakukan kunjungan bersejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Moskow, membawa delegasi sebanyak 1.500 orang.

Tapi hubungan baik yang sebenarnya muncul ketika Putin dan penguasa Arab Saudi duduk berdampingan di upacara pembukaan Piala Dunia di Moskow. Saudi sekarang bekerja sama erat dengan Rusia di berbagai bidang, seperti keamanan regional, perdagangan, transportasi, serta yang terpenting yaitu penjualan energi dan senjata.

Dengan pasar minyak dunia menjadi prioritas utama bagi kedua belah pihak, diskusi tentang kemungkinan partisipasi Aramco Saudi dalam proyek LNG Arktik 2 Novatek serta investasi Saudi dalam proyek-proyek Rusia telah menjadi berita utama. Penawaran senjata bernilai sekitar $3 miliar dilaporkan telah tercapai. Proyek-proyek tersebut memiliki visi pembuatan senjata lokal di kerajaan dan kemungkinan transfer teknologi dari rudal anti-tank, peluncur roket, bahkan rudal S-400 Rusia.

Ketika negara-negara Teluk berselisih dengan Qatar, memutuskan hubungan termasuk hubungan udara dengan Qatar, utusan dan diplomat Kremlin mengalir masuk dan meyakinkan Qatar bahwa Rusia tetap teguh. Hubungan keduanya meningkat setelah Piala Dunia 2018. Dengan Piala Dunia berikutnya di Qatar tahun 2022, sekelompok “tentara” Qatar berkeliling Rusia untuk belajar.

Mereka terutama terkesan oleh zona pendukung dan sistem pelacakan pribadi “kartu identitas pendukung” yang telah direncanakan untuk mereka tiru. Turis Rusia sekarang menikmati masuk bebas visa ke Qatar. Ini adalah manuver yang secara mengesankan pragmatis oleh Putin, mengingat bahwa Qatar sebelumnya mendukung separatis Chechnya melawan Rusia.

Hubungan kuat Rusia dengan Timur Tengah juga diamankan oleh tenaga nuklir. Pemerintah Rusia telah membantu membangun pembangkit listrik tenaga nuklir Akkuyu di Turki, Dabaa di Mesir, dan Bushehr di Iran. “Rusia sebenarnya adalah negara pertama yang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Timur Tengah,” tambah Mamedov.

Tidak seperti biasanya, Rusia juga menikmati hubungan damai dengan dua pesaing terberat di kawasan itu. “Peran Rusia di kawasan ini akan terus tumbuh,” kata Vladimir Fitin, seorang ahli Timur Tengah di Russian Institute of Strategic Studies, sebuah lembaga think-tank pro-pemerintah. “Hubungan Rusia dengan saingan utama kawasan itu, Arab Saudi dan Iran, akan terus meningkat pada tahun 2019.”

Hubungan Iran-Rusia menjadi sorotan selama kunjungan Putin ke Iran pada bulan November 2018. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang ditemui Putin, mendesak peningkatan kerja sama untuk mengisolasi Amerika.

Dalam pembicaraan trilateral, Presiden Iran Hassan Rouhani, Putin, dan Presiden Azerbaijan Heidar Aliyev menandatangani “Deklarasi Teheran” yang memiliki visi pembangunan Koridor Transportasi Utara-Selatan Internasional yang akan menghubungkan Moskow ke Teluk Persia. Tanggal pembukaan resmi untuk rute vital ini belum diumumkan, tetapi proyek ini diharapkan akan dimulai pada pertengahan tahun 2020.

Memandang ke timur

Rusia juga memprioritaskan hubungan kuat dengan China, yang menyediakan mitra sejahtera di tengah memburuknya hubungan dengan Barat.

Kesepakatan minyak dan gas dengan China adalah sebuah prioritas. Alexander Lomanov, Ketua Peneliti di Russian Far East Institute, mencatat bahwa ikatan itu “sangat stabil dan pada kenyataannya, tidak boleh ada perubahan yang tajam” tahun ini, menandai peringatan 70 tahun pendirian Republik Rakyat China dan pembentukan hubungan diplomatik China-Rusia.

Baca juga: Apa yang Sesungguhnya Diinginkan Putin di Suriah?

Bagi Rusia, salah satu cara efektif untuk mempertahankan “zona kepentingan” adalah melalui Organisasi Kerja Sama Shanghai. Namun, karena sumber daya modalnya yang besar, China mungkin memiliki suara yang lebih kuat di organisasi itu. Sebagai lindung nilai, Rusia mempertahankan hubungan dengan musuh-musuh China dan rival regionalnya, India dan Vietnam.

Penjualan senjata adalah alatnya. Vietnam telah mengakuisisi kapal selam Rusia, sementara India dilaporkan mempertimbangkan pembelian pesawat jet tempur Su-30 Rusia untuk dirakit di dalam negeri. Kesepakatan Su-30 diperkirakan bernilai lebih dari US $ 1 miliar.

Menjangkau cakrawala jauh

Di Afrika, Rusia membutuhkan strategi jangka panjang untuk bersaing dengan kehadiran China dan Uni Eropa yang kuat. Selama Perang Dingin, hampir setengah dari Afrika, negara-negara dengan rezim komunis atau pro-Soviet, berada di orbit Rusia. Hari-hari itu sudah lama berlalu. Posisi Rusia di benua itu secara dramatis melemah.

Sekarang, Kremlin bekerja untuk menebus tiga dekade yang hilang. Kementerian Luar Negeri Rusia berpikir dengan ambisius. Musim panas ini, mereka berencana untuk membawa lebih dari 50 pemimpin Afrika ke Moskow untuk pertemuan puncak pan-Afrika, mirip dengan KTT Afrika yang diadakan secara teratur oleh China dan Uni Eropa. Menurut media Rusia, para kontraktor militer swasta Rusia kini bekerja di setidaknya 10 negara Afrika.

Lebih jauh lagi, berbagai kontraktor Rusia dilaporkan memberikan keamanan bagi Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang diperangi secara global. Venezuela menunjukkan bagaimana Rusia mempertahankan “kepentingan vital” di Amerika Latin. Rusia telah menyuarakan dukungan kuat untuk Maduro, sebagai peringatan terhadap intervensi Amerika.

Baca juga: Perundingan Damai Perang Dunia II: Pertemuan Abe dan Putin Kembali Sia-Sia

Ini lebih dari sekadar retorika. Pesawat-pesawat Rusia terlihat di bandara Caracas pada bulan Januari 2019, menunjukkan bahwa Rusia sedang mengangkut barang dan orang. Terdapat laporan yang belum dikonfirmasi tentang cadangan emas Venezuela yang disimpan di Rusia dan dibawa ke Dubai, di mana emas dikonversi menjadi uang tunai, kemudian dikembalikan ke Caracas.

Semua ini menandai ekspansi agresif jejak global Kremlin, sebuah ekspansi yang tampaknya tidak dibatasi oleh hubungan buruk antara Rusia dengan Uni Eropa dan Amerika.

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin tengah berupaya memperluas pengaruh negaranya. (Foto: Reuters/Dmitri Lovetsky)

Kebijakan Luar Negeri Vladimir Putin: Gas, Senjata, dan Pragmatisme

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top