Kehadiran China di Suriah Pasca-Perang Siap Mendominasi
Asia

Kehadiran China di Suriah Pasca-Perang Siap Mendominasi

Berita Internasional >> Kehadiran China di Suriah Pasca-Perang Siap Mendominasi

China tengah bersiap menjadi pemain utama, ketika Suriah berusaha membangun kembali. Bahkan walaupun itu berarti Negeri Tirai Bambu itu harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Suriah dipandang sebagai tujuan jangka panjang China dalam mewujudkan ambisi Inisiatif Sabuk dan Jalannya.

Oleh: Nicholas Lyall (The Diplomat)

Baca Juga: Abaikan Peringatan Amerika, Italia Lanjutkan Kerja Sama dengan China

Hubungan komersial China dengan Suriah telah menjadi perhatian dunia dalam beberapa bulan terakhir sebagai hasil dari kontroversi Huawei yang masih berlangsung. Namun, fokus ekonomi China pada Suriah telah menguat dengan cepat selama beberapa tahun sebelumnya.

Pijakan industri China yang semakin dominan di Suriah, dikombinasikan dengan pendekatan China yang berhati-hati terhadap rezim Assad sepanjang perang, berarti China akan menjadi pemimpin asing di arena pasca-perang. Hal ini akan menghadirkan potensi dinamika yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut.

Pada Forum Kerjasama China-Liga Arab bulan Juli 2018, China mengumumkan paket pinjaman dan bantuan sebesar US$23 miliar untuk wilayah Arab. Meskipun belum digambarkan dengan pasti, bukan tidak mungkin bahwa sebagian besar dari paket bantuan tersebut akan diinvestasikan di Suriah. Suriah secara tradisional bukan prioritas investasi China, dibandingkan dengan raksasa minyak dan gas Iran dan negara-negara Teluk. Namun, munculnya Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) berarti Suriah telah muncul dari ekonomi yang tidak penting di mata China dan menjadi fokus lokasi yang semakin menarik.

Kawasan Levant atau Syam di Mediterania Timur telah ditetapkan menjadi simpul kritis di koridor ekonomi China-Asia Tengah-BRI, karena menawarkan rute alternatif ke Mediterania sebagai lawan dari jalur Suez. Suriah sedang dipandang dalam jangka panjang sebagai wilayah kunci Levant untuk mencapai tujuan ini.

Tripoli di Lebanon, misalnya, akan menjadi Zona Ekonomi Khusus di dalam BRI, dengan pelabuhan Tripoli direncanakan menjadi pusat peti kemas alih kapal (trans-shipment) utama untuk Mediterania timur, yang akan memberikan rute yang lebih langsung untuk barang-barang China ke Eropa dibandingkan dengan mengandalkan Terusan Suez.

Untuk melayani pelabuhan tersebut, China berencana merekonstruksi jaringan kereta api Tripoli-Homs. Dengan pelabuhan Tripoli yang semakin terintegrasi, perhatian China kini beralih ke mengamankan pelabuhan Suriah secara langsung. Bulan Oktober 2018, China menyumbangkan 800 generator tenaga listrik ke Lattakia, pelabuhan terbesar Suriah. Kejelasan sentralitas Suriah yang semakin meningkat dalam rute darat dari China ke Mediterania berarti bahwa Suriah akan ditetapkan menjadi penerima dana China yang semakin meningkat.

Baca Juga: KPU: Pilpres 2019 Diganggu Serangan Siber dari China dan Rusia

Industri China siap mendominasi

China akan menjadi pemain utama dalam proses pembangunan kembali yang akan terjadi di Suriah pasca-perang. Pertengahan tahun 2017, China menjadi tuan rumah “Pameran Dagang Pertama tentang Proyek Rekonstruksi Suriah,” di mana saat itu China berkomitmen untuk memberikan kontribusi sebesar $2 miliar untuk membangun kembali industri Suriah, berpusat pada rencana untuk membangun kawasan industri yang dapat menampung hingga 150 perusahaan.

Bisnis-bisnis China telah bersiap untuk membuka kantor perwakilan di seluruh Suriah dan telah sering mengirim delegasi ke negara itu, yang mengarah ke berbagai kontrak yang sedang dalam perencanaan atau telah ditandatangani.

Lebih dari 200 perusahaan China, sebagian besar milik negara, hadir di Pameran Perdagangan Internasional Damaskus ke-60 bulan September 2018. Di sana, China menjanjikan berbagai kesepakatan termasuk pembangunan baja dan pembangkit listrik, pembuatan mobil, dan pengembangan rumah sakit. Beberapa keterlibatan utama China termasuk Huawei yang berkomitmen tahun 2015 untuk membangun kembali sistem telekomunikasi Suriah tahun 2020, serta China National Petroleum Corporation yang memiliki saham besar di dua perusahaan minyak terbesar Suriah, Perusahaan Minyak Suriah dan Al Furat Petroleum.

Begitu tingkat stabilitas yang dapat diterima telah tercapai di Suriah, bisnis China akan siap membangun landasan yang luas dan meningkatkan pengalaman industri China dalam situasi pasca-konflik Timur Tengah, berdasarkan kontrak signifikan perusahaan-perusahaan China di Irak setelah perang.

Baca Juga: China: Kamp-Kamp Xinjiang Akan Hilang Secara ‘Bertahap’

China meraih keuntungan dari kebijakan non-interferensi

Selain kekuatan industri yang siap, sentralitas China yang akan datang dalam proses rekonstruksi juga dikaitkan dengan dukungannya terhadap rezim Assad selama perang. Selain memberikan dukungan militer untuk tentara Suriah, berbeda dengan dukungan Barat untuk pasukan perlawanan, China juga memveto proposal yang diajukan di Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap Suriah.

Sejalan dengan paradigma kebijakan luar negeri tradisional China yang tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri negara-negara lain, Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah menjelaskan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa, sementara menjadi adalah kewajiban dunia untuk membantu menyelesaikan krisis Suriah, “menghormati wilayah, kedaulatan, dan kemerdekaan Suriah” juga sama pentingnya.

Dengan memastikan Assad tetap berkuasa, China akan mempertahankan akses utamanya ke peluang investasi berlimpah yang menjadi pusat rekonstruksi yang akan datang. Melalui pendekatan ini, dan fakta bahwa bantuan China tidak akan diberikan dengan syarat ikatan politik yang tak terhindarkan yang menyertai bantuan Barat, China akan menjadi favorit perusahaan Suriah sebagai pemimpin rekonstruksi.

Ada sedikit paradoks yang sedang dimainkan. Sementara posisi China di kepemimpinan proses rekonstruksi telah diamankan dalam jumlah besar dengan kebijakan non-interferensi yang gigih, keengganan untuk terlibat dalam proses politik berarti rezim Assad akan menghadapi sedikit tekanan dari China untuk mengatasi keluhan yang mendasarinya yang telah menyebabkan perang. Dengan demikian, rasa tidak aman itu kemungkinan akan tetap ada, yang akan menyulitkan upaya industri China untuk berekspansi dan menetap di Suriah.

Saat ini, jawaban China untuk masalah ini tampaknya adalah peningkatan kehadiran kontra-terorisme China di Suriah. Pengesahan undang-undang kontra-terorisme negara tahun 2015 sekarang memungkinkan China untuk melakukan operasi-operasi kontra-terorisme bersama di luar negeri, memberikan keleluasaan yang lebih besar untuk bekerja mengatasi kebijakan non-interferensi tradisional.

Hal ini memungkinkan pasukan khusus China, “Night Tigers,” untuk dikerahkan ke Tartus akhir tahun 2017 untuk memerangi kehadiran gerilyawan Uighur yang tumbuh di Suriah. Meskipun ini merupakan indikasi dari langkah China untuk sedikit meningkatkan hubungan militernya dengan Suriah, sebagian besar dalam bentuk penjualan senjata dan kolaborasi pelatihan, sejauh mana hal ini akan mengurangi banyak dari rasa tidak aman yang tersisa masih bisa diperdebatkan.

Baca Juga: Ikuti Langkah China dan Indonesia, Lusinan Negara Lain Cekal Boeing 737 MAX 8

Pembangunan China yang dipimpin publik-swasta dan kolaborasi China-Iran

Terlepas dari desain Rusia, Iran saat ini adalah pemain utama lain di samping China yang ingin mengonsolidasikan saham komersial besar dalam rekonstruksi Suriah. Bersama China, Iran adalah pemasok utama lain bagi pasar mobil Suriah.

Selain mendapatkan tanah pertanian Suriah, entitas Iran telah mengamankan nota kesepahaman untuk menjalankan operator telepon seluler Suriah serta peran kunci dalam salah satu tambang fosfat terkemuka Suriah. Namun, karena dorongan Iran untuk mengonsolidasikan kehadiran komersial ini dipimpin oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), hal ini telah menyebabkan banyak industri swasta Iran menolak untuk terlibat. Kekurangan dana yang dihasilkan dari dorongan komersial Iran ke Suriah berarti jaringan IRGC mungkin terpaksa mencari mitra bisnis, dengan China akan tampil sebagai kandidat utama.

Dinamika yang menonjol untuk dipertimbangkan ke depan adalah pendekatan yang berpusat pada kemitraan publik-swasta (PPP/public-private-partnership) dari China dalam upaya rekonstruksi. Dengan Amerika Serikat dan Eropa tidak memainkan peran dalam proses pembangunan kembali, perkiraan biaya rekonstruksi sebesar $400 miliar diserahkan ke Rusia, Iran, dan China.

Ekonomi Rusia dan Iran tengah terpuruk akibat sanksi, sehingga China menjadi satu-satunya kekuatan yang dapat memimpin upaya rekonstruksi. Namun, harga ini terlalu besar bagi satu negara, bahkan China, untuk dipenuhi sendiri. Dengan demikian, PPP menjulang sebagai kendaraan yang dapat digunakan melaluinya China untuk terlibat dalam pembangunan kembali. Sementara hubungan sektor publik-swasta yang ketat selalu menjadi karakteristik dominan dari ekonomi yang diarahkan negara China, hubungan ini dilaporkan kian aman, ketika Zhongnanhai ingin meningkatkan kehadirannya di perusahaan swasta terbesar di China.

Oleh karena itu, sepertinya China akan semakin mencari dan memanfaatkan kampiun industri pribadinya untuk mengejar tujuan pembangunan luar negeri China. Pembentukan Badan Kerjasama Pembangunan Internasional China baru-baru ini menunjukkan pendekatan yang semakin terkoordinasi dan efisien yang mendorong fokus pembangunan luar negeri China yang dikomersialkan, dengan PPP merupakan vektor potensial utama dalam hal ini.

Rekonstruksi Suriah, dengan banyak BUMN China telah meletakkan pondasi yang siap untuk diperbesar oleh sektor swasta, mungkin merupakan pengaturan utama di mana kita melihat dinamika yang berkembang ini memimpin.

Nicholas Lyall adalah peneliti yang berbasis di Amman, Yordania, di mana ia memimpin proyek penelitian tentang peluang peningkatan peran China di kawasan Levant atau Syam untuk mengatasi tantangan kemanusiaan dan ekonomi di kawasan itu.

Keterangan foto utama: Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem berbicara selama konferensi pers dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Kementerian Luar Negeri China di Beijing, 24 Desember 2015. (Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein)

Kehadiran China di Suriah Pasca-Perang Siap Mendominasi

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top