Analisis: Ketertinggalan Indonesia di Sisi Infrastruktur, Pajak dan Kemiskinan
Berita Tentang Indonesia

Analisis: Ketertinggalan Indonesia di Sisi Infrastruktur, Pajak dan Kemiskinan

Mobil, bus dan motor mencoba bergerak dalam kemacetan di kawasan bisnis Jakarta. (Foto: Shutterstock/Asia Travel)

Indonesia berusaha untuk menjadi negara dengan perekonomian hingga triliunan dolar, yang merupakan keinginan negara-negara di Asia Tenggara. Namun dalam beberapa hal, negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini, masih jauh tertinggal. Berikut analisis mengenai beberapa tantangan besar yang harus dimenangkan Indonesia dari sisi keuangan, pengentasan kemiskinan, dan infrastruktur.

Oleh: Financial Tribune

Mobil, bus dan motor mencoba bergerak dalam kemacetan di kawasan bisnis Jakarta

Mobil, bus dan motor mencoba bergerak dalam kemacetan di kawasan bisnis Jakarta. (Foto: Shutterstock/Asia Travel)

Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangganya dalam hal pembangunan infrastruktur, dan menghadapi kekurangan dana yang merupakan tekanan bagi keuangan negara, dan masih memiliki 28 juta masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Hal ini terjadi bahkan setelah reformasi dimana nilai ekonomi melonjak dua kali lipat selama satu dekade terakhir hingga mencapai $932 miliar, dimana pemerintah Presiden Joko Widodo memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini mencapai 5 persen, seperti yang dilaporkan Bloomberg.

Ukuran bukanlah segalanya. Bahkan setelah delapan kali pemotongan suku bunga sejak awal tahun lalu, perekonomian masih berjuang untuk meningkat: pertumbuhan kredit tetap diredam, sementara bank sentral memperkirakan inflasi rendah akan terus berlangsung untuk sementara. Gambaran ini menjadi lebih rumit dengan banyaknya perbedaan yang tumbuh di seluruh penjuru negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau tersebut, dengan suku bunga yang berbeda-beda dari negatif hingga lebih dari 7 persen.

“Indonesia memiliki perekonomian yang besar dengan banyaknya potensi, namun triknya adalah bagaimana menuju titik dimana perekonomian dapat tumbuh secara berkelanjutan dalam taraf yang lebih tinggi. Hal itu lebih penting dibandingkan ukuran ekonomi secara keseluruhan,” ujar Euben Paracuelles, seorang ekonom di Nomura Holdings Inc. di Singapura. “Dari sudut pandang itu, pekerjaan mereka sesuai untuk mereka.”

Pertumbuhan berkelanjutan sangat penting untuk menarik para investor dari luar negeri, yang kembali ke Indonesia 20 tahun setelah krisis keuangan Asia. Cadangan devisa mencapai rekor tertinggi yanitu $129 miliar, sementara arus masuk pasar obligasi mendekati tingkat rekor tersebut.

Tingkat Global S&P pada bulan Mei bergabung dengan dua perusahaan lainnya dalam memberikan status investasi Indonesia, dengan mengutip pendekatan yang lebih hati-hati dalam pendanaan. Mata uang berada stabil pada tahun ini, setelah tahun lalu meningkat 2.3 persen terhadap dolar pada tahun 2016.

Masuknya Indonesia ke dalam kelompok negara dengan perekonomian triliunan dolar, “menunjukkan bagaimana Indonesia mampu meningkatkan perekonomiannya menjadi negara dengan perekonomian kelas menengah,” ujar Perry Warjiyo, Wakil Gubernur Bank Indonesia. “Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, hal ini juga menunjukkan bahwa landasan ekonomi Indonesia sudah sangat kuat dan elastis.”

Hal-hal berikut menunjukkan tantangan yang saat ini dihadapi oleh presiden dan pemerintahannya dalam menyesuaikan kuantitas dengan kualitas.

Infrastruktur

Jokowi meningkatkan anggaran dana untuk pembangunan jalan, rel kereta, dan pelabuhan, dimana ia menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 5.4 persen pada tahun 2018, yang merupakan tercepat dalam lima tahun. Namun defisit infrastruktur yang besar—yang diperkirakan oleh Bank Dunia mencapai $1.5 triliun—menghambat usahanya. Pemberi pinjaman global mengatakan bahwa tambahan $500 miliar dibutuhkan dalam lima tahun ke depan. Setelah beberapa tahun kekurangan investasi, tingkat pertumbuhan belanja pemerintah per kapita di Indonesia berada jauh di belakang Vietnam, China, India, dan Malaysia, menurut Bank Dunia. Investasi publik tumbuh setengah dari perekonomian dari tahun 2005 hingga 2015, dan kualitas infrastuktur Indonesia tertinggal dari negara-negara lain di Asia Tenggara dan dari negara berkembang lainnya.

Tekanan Keuangan

Pendapatan pajak Indonesia sebagai bagian dari PDB masih berada pada titik terendah di Asia Tenggara, dimana Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi memperkirakan bahwa jumlahnya sekitar 12 persen pada dua tahun yang lalu. Lalu menurun menjadi 10.3 persen, yang disebut oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada bulan Juli sebagai “sangat rendah dan tidak dapat diterima”. Ia bertekad untuk meningkatkan rasio tersebut hingga 16 persen pada tahun 2019.

Ketertinggalan itu menambah beban defisit keuangan, dimana pemerintah terus menjaga defisit di bawah 3 persen dari PDB. Presiden melakukan pemotongan dana belanja pada bulan Juli, ketika tahun ini defisit berubah dari 2.9 persen dari PDB, menjadi 2.4 persen.

Pemerintah mengumpulkan lebih dari $11 miliar dari pembayaran dalam amnesti pajak yang berakhir pada tahun ini, dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengakui aset yang sebelumnya tidak dilaporkan ke kantor pajak.

Pengentasan Kemiskinan

Walaupun terdapat kemajuan dalam mengurangi kemiskinan, hampir 28 juta masyarakat Indonesia masih tergolong miskin. Tingkat kemiskinan mencapai 10.6 persen pada bulan Maret, berada 0.2 persen lebih rendah dibanding satu tahun sebelumnya.

Sejumlah besar masyarakat masih rentan, dimana lebih dari 60 juta masyarakat pada tahun lalu berisiko kembali pada kemiskinan, menurut Bank Dunia pada awal bulan ini. Walau jumlah pendapatan rata-rata meningkat hingga 24 persen dalam setahun hingga bulan Februari, namun masyarakat dengan pendapatan lebih tinggi mengalami peningkatan jumlah pendapatan yang lebih cepat dibandingkan masyarakat dengan pendapatan yang lebih rendah.

 

Analisis: Ketertinggalan Indonesia di Sisi Infrastruktur, Pajak dan Kemiskinan
2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Indonesia di Ambang Bahaya dengan Ambisi Infrastruktur Senilai Rp4,800 Triliun - Mata Mata Politik

  2. Pingback: Sri Mulyani: Perekonomian Indonesia Dapat Tumbuh Melampaui Harapan - Mata Mata Politik

Beri Tanggapan!

To Top