Krisis Maritim Baru Rusia-Ukraina adalah Tantangan Besar bagi Eropa
Eropa

Krisis Maritim Baru Rusia-Ukraina adalah Tantangan Besar bagi Eropa

Berita Internasional >> Krisis Maritim Baru Rusia-Ukraina adalah Tantangan Besar bagi Eropa

Ada banyak hal yang harus dilakukan Eropa untuk melawan serangan terbaru Rusia terhadap Ukraina. Mereka bisa mengirimkan kapal tunda, mereka bisa membuka jalur perdangan yang lebih bebas, atau mengirimkan kapal lain ke perairan Krimea untuk menunjukkan dukungan. Yang jelas, mereka harus lebih menunjukkan dukungan terhadap Ukraina.

Oleh: Carl Bildt dan Nicu Popescu (Foreign Policy)

Baca Juga: Bentrokan Laut Ukraina-Rusia, Trump Mungkin Akan Batalkan Pertemuan G20 dengan Putin

“Krimea, Ukraina, Moldova.” Pada akhir Agustus 2008, dengan pasukan Rusia yang menguasai sejumlah besar Georgia, Menteri Luar Negeri Prancis Bernard Kouchner menyuarakan ketakutannya tentang target-target Rusia berikutnya. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menanggapi dengan menuduh rekannya memiliki “imajinasi yang gila.” Kalau dilihat lagi, imajinasi Kouchner mungkin tidak begitu gila.

Pada Minggu (25/11), kapal perang Rusia menembaki konvoi angkatan laut Ukraina dan menabrak kapal tunda, sebelum menyitanya dan dua kapal perang Ukraina. Mereka telah melakukan perjalanan dari pelabuhan Ukraina, Odessa, di Laut Hitam, ke pelabuhan Ukraina Mariupol di Laut Azov. Kapal-kapal Ukraina tersebut mencoba melewati Selat Kerch yang memisahkan Krimea, yang dikuasai Rusia, dari Rusia. Ini menandai fase baru dalam front ketiga yang muncul—maritim—antara Ukraina dan Rusia, yang cenderung membuat Eropa sibuk selama beberapa tahun ke depan.

Pada perjalanan terakhir ke kota-kota dan desa-desa Ukraina melalui Laut Azov pada awal bulan ini, kami melihat bagaimana situasi di daratan telah menjadi relatif tenang; kedua belah pihak telah menggali dan membentengi garis depan. Menyerang daratan saat ini akan sangat mahal dalam hal tenaga kerja bagi kedua pihak.

Namun di laut situasinya sangat berbeda. Di sana, dua krisis baru keamanan Eropa sedang terjadi. Satu krisis berkaitan dengan kebebasan navigasi, krisis lainnya berkaitan dengan kelangsungan ekonomi Ukraina timur secara keseluruhan.

Sejak Rusia mencaplok Krimea pada tahun 2014—kemudian membangun jembatan dari Rusia ke Krimea—Rusia telah berhasil mengendalikan kedua sisi selat.

Hal ini telah secara signifikan meningkatkan kemampuan militer Rusia di Laut Azov, dan dalam beberapa bulan terakhir mulai diam-diam mencekik kebebasan navigasi semua kapal yang memasuki pelabuhan Ukraina di Laut Azov.

Serangan pada akhir pekan itu menunjukkan tren baru ini. Amerika Serikat (AS) dan segelintir negara-negara Eropa saat ini sedang berusaha dengan serius untuk mendukung kebebasan navigasi di Laut China Selatan. Tapi ketika berbicara tentang Laut Hitam dan Laut Azov, bahkan angkatan laut Eropa dengan pemerintahan yang lebih berani di belakang mereka, merasa lebih mudah untuk melawan sensitivitas China di sisi lain dunia daripada melawan sensitivitas keamanan Rusia di Eropa.

Adapun terkait keamanan ekonomi Ukraina, sebagian besar ekonominya di timur tergantung pada perdagangan melalui pelabuhan di Laut Azov. Pelabuhan Ukraina di Laut Hitam terletak lebih jauh, infrastruktur aksesnya buruk, dan transportasi lebih mahal.

Wilayah ini sudah menghadapi masalah ekonomi yang mendalam; infrastruktur dan rantai produksinya telah dihancurkan sebagian oleh perang, dan ekspor yang masuk melalui pelabuhan Mariupol turun 58 persen dalam beberapa tahun terakhir. Investasi asing telah menghilang. Dan bulan lalu saja, terjadi 13.500 pelanggaran gencatan senjata hanya pada bentangan Mariupol di garis depan.

Selama beberapa bulan hingga saat ini, Rusia secara perlahan mencekik navigasi komersial Ukraina ke dan dari Laut Azov. Awal tahun ini, penjaga perbatasan Rusia mulai berhenti dan memeriksa kapal komersial di pelabuhan Ukraina. Penundaan seperti itu dapat menghabiskan biaya kapal sebanyak $10.000 hingga $12.000 per hari pada setiap pelayaran.

Hal ini membuat ekspor Ukraina kurang kompetitif di pasar internasional, impor lebih mahal, dan konsumen lokal lebih miskin—di wilayah yang sudah miskin dan mengalami trauma akibat perang dan sejumlah besar pengungsi internal.

Semua ini merupakan eskalasi besar dalam tekanan ekonomi di Ukraina. Rusia telah memberlakukan segala macam sanksi terhadap Ukraina sebelumnya. Tapi sekarang bukan hanya masalah membatasi ekspor Ukraina ke Rusia, tetapi upaya bersama untuk merugikan perdagangan Ukraina dengan Eropa dan Timur Tengah.

Ini bukan masalah kecil, karena Ukraina mengekspor lebih banyak ke negara-negara Arab daripada ke Rusia. Secara efektif memblokir Selat Kerch, sama seperti Denmark yang mencegah kapal-kapal Rusia menyeberangi selat Denmark, mengurung mereka di Laut Baltik.

Jadi, selain menonton dan mengungkapkan kekhawatiran besar, apa yang bisa dilakukan Eropa dan Amerika? Cukup banyak, sebenarnya. Pertama, mereka dapat menunjukkan dukungan diplomatik dan simbolis untuk kebebasan navigasi di dan sekitar Laut Azov. Mengirimkan kapal non-militer ke laut tersebut akan membantu mempertahankan prinsip ini. Dan, tidak, Rusia tidak akan menyerang atau menabrak kapal negara ketiga.

Kedua, Eropa dan Amerika dapat mengadopsi strategi pengimbangan ekonomi untuk Ukraina. Beberapa langkah ini bisa murah dan simbolis, seperti menyumbang beberapa kapal tunda, seperti yang ditabrak dalam insiden terbaru.

Baca Juga: Presiden Ukraina Minta Trump Sampaikan Pesan ‘Tajam’ untuk Putin

Selain simbolisme, mereka dapat berinvestasi dalam membangun kembali jalan dan jalur kereta api yang dapat menghubungkan bagian timur Ukraina ke bagian lain negara itu. Dan mereka dapat melonggarkan pembatasan mereka pada akses ke pasar Eropa untuk barang-barang seperti madu, gandum, jagung, dan jus anggur. Meskipun memiliki area perdagangan bebas dengan Ukraina, namun Uni Eropa mempertahankan kuota pada beberapa ekspor Ukraina yang kompetitif.

Terakhir, sudah waktunya untuk memindahkan Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) ke lepas pantai. OSCE telah menjadi aktor utama dalam memantau konflik di seluruh daratan Eurasia, dari Balkan ke Tajikistan. Saat ini OSCE memiliki misi pemantauan di bagian timur Ukraina. Namun, mengingat bahwa masalah keamanan Eropa berikutnya mungkin akan terjadi di wilayah maritim, organisasi tersebut harus mulai memantau Lautan Azov juga— dengan drone dan kapal.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluh pekan lalu bahwa Ukraina berusaha menggambarkan—bahkan membingkai—Moskow sebagai pihak yang agresif di Laut Azov, untuk memaksa Barat meningkatkan sanksi terhadap Rusia.

Jika ini adalah ketakutan nyata Rusia, Moskow harus menjadi yang pertama untuk mengundang pengawas internasional ke Laut Azov untuk melihat fakta yang sebenarnya. Apa pun yang kita pikirkan tentang Rusia atau perilaku Ukraina di sekitar masalah Laut Azov, kehadiran internasional yang cukup dalam front ketiga Ukraina—setelah Krimea dan Donbass—bisa mengurangi risiko eskalasi di masa depan di Laut Azov.

Carl Bildt adalah wakil ketua European Council on Foreign Relations, dan mantan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Swedia.

Nicu Popescu adalah Direktur Wider Europe Program di European Council on Foreign Relations (ECFR).

Keterangan foto utama: Seorang tentara Ukraina berpatroli di kapal yang tertambat di Mariupol, Ukraina, di Laut Azov pada 27 November. (Foto: AFP/Getty Images/Sega Volskii)

Krisis Maritim Baru Rusia-Ukraina adalah Tantangan Besar bagi Eropa

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top