Rusia dan China
Global

Mengapa Dunia Saat Ini Lebih Terancam oleh AS daripada China atau Rusia

Berita Internasional >> Mengapa Dunia Saat Ini Lebih Terancam oleh AS daripada China atau Rusia

Penduduk negara-negara besar rupanya kini menganggap Amerika Serikat sebagai ancaman yang lebih besar bagi mereka dibanding Rusia dan China. Rusia dan China mungkin sangat tidak populer di beberapa tempat, tetapi di peringkat internasional, mereka masih bisa menyeimbangkan sentimen-sentimen itu. Dalam kasus China, investasi finansial yang signifikan di luar negeri mungkin telah membantu, sementara manuver militer Rusia sejauh ini jarang meluas ke luar Eropa dan sebagian Timur Tengah.

Baca juga: Amerika Hadapi Pertentangan dari Rusia dan China Terkait Sanksi Korut

Oleh: Rick Noack (The Washington Post)

Jika tahun 2017 adalah tahun ketika para pengamat politik Amerika Serikat (AS) berjuang untuk memutuskan ke mana negara itu mengarah, 2018 adalah tahun ketika mereka sampai pada kesimpulannya: bukan ke arah yang benar.

Jauh lebih banyak orang di seluruh dunia sekarang percaya bahwa negara mereka lebih terancam oleh kekuatan dan pengaruh AS di bawah Presiden Trump, daripada ancaman dari penantang global lainnya, Rusia atau China, menurut survei baru Pew Research Center yang dirilis pada Minggu (10/2).

Sementara 45 persen responden di 26 negara besar yang diwawancarai antara bulan Mei dan Agustus tahun lalu mengatakan bahwa Amerika Serikat merupakan “ancaman besar bagi negara kami,” hanya 36 persen yang mengatakan hal yang sama tentang Rusia dan 35 persen tentang China.

Pada tahun 2013—di bawah Presiden Barack Obama—hanya 25 persen responden global yang berpandangan seperti itu tentang Amerika Serikat, sementara 34 persen menganggap China sebagai ancaman besar bagi negara mereka saat itu. Data untuk Rusia tidak tersedia tahun itu.

Selama tahun pertama Trump menjabat, persetujuan global kepemimpinan AS mulai turun secara signifikan, di mana 38 persen mengatakan bahwa mereka memandang Amerika Serikat sebagai ancaman—dibandingkan dengan 33 persen mengatakan hal yang sama tentang Rusia dan 34 persen tentang China.

Sementara posisi China tampaknya tetap tidak berubah sejak saat itu, persentase orang yang sekarang menganggap Amerika Serikat sebagai ancaman hampir dua kali lipat dalam waktu hanya setengah dekade.

Peningkatan tiba-tiba Amerika Serikat sebagai ancaman besar yang dirasakan di negara-negara lain, kemungkinan disebabkan oleh sejumlah faktor yang berbeda. Yang paling menonjol adalah Trump. Perang dagang dan penghinaannya terhadap aliansi tradisional telah meresahkan mitra dan sekutu AS di Eropa dan bagian lain dunia, di mana “kekuatan dan pengaruh AS”—seperti yang disebut oleh survei Pew itu—telah menjadi sangat terkait dengan Trump sendiri.

Sementara 49 persen orang Jerman mengatakan bahwa mereka menganggap “kekuatan dan pengaruh AS” menjadi kekhawatiran utama dalam keamanan, hanya 30 persen mengatakan hal yang sama tentang Rusia. (Rasio orang Jerman yang takut akan kekuatan AS sebenarnya sekarang lebih tinggi daripada rasio orang Rusia yang mengkhawatirkan Amerika Serikat.)

Di Inggris—yang membanggakan diri karena memiliki hubungan khusus dengan Amerika Serikat—37 persen masih mengatakan bahwa mereka takut bahwa para pemimpin Washington juga dapat mengancam negara mereka.

Dukungan masih tinggi di negara-negara dengan pemilih konservatif yang besar, termasuk Polandia dan Hungaria, serta Israel, di mana Trump mendapat tepuk tangan tahun lalu karena memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Di Amerika Latin, kebijakan imigrasi garis keras Trump dan desakannya untuk membangun tembok di perbatasan AS dengan Meksiko membuatnya mendapatkan hanya sedikit teman. Di ketiga negara Amerika Latin yang disurvei—Brasil, Argentina, dan Meksiko—lebih dari setengah populasi mengatakan bahwa Amerika Serikat merupakan ancaman besar.

Permusuhan terhadap Amerika Serikat juga tinggi di negara-negara yang terkena dampak langsung oleh tindakan diplomasi Trump sejauh ini. Terlepas dari KTT Trump dengan Kim Jong-un, sebagian besar orang di Korea Selatan dan Jepang mengatakan bahwa kekuatan dan pengaruh AS berbahaya.

Survei Pew dilakukan pada saat negosiasi antara Amerika Serikat dan Korea Utara masih berlangsung, sehingga data mungkin tidak sepenuhnya menangkap opini publik di kedua negara pada akhir tahun lalu. Tetapi bagi seorang presiden yang mengatakan bahwa “semua orang berpikir” bahwa dia harus mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian untuk perannya dalam perundingan Korea Utara, data Pew mungkin mengecewakan.

Survei ini dilakukan pada saat Trump juga tampaknya menepati janjinya untuk menarik pasukan dari Suriah dan Afghanistan—yang secara efektif melepaskan diri dari konflik internasional—meskipun ada peringatan dari sekutu bahwa waktunya mungkin tidak tepat. Retorika dan serangan Trump terhadap sekutu dan musuh yang tak terduga, juga tampaknya membuatnya menjadi target permusuhan publik yang lebih besar daripada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara-negara besar lainnya.

Baca juga: China dan Rusia di Balik Panggilan Telepon Pribadi Presiden Trump

Kampanye penahanan brutal China terhadap hingga 1 juta warga Uighur dan minoritas lainnya, tampaknya kurang berpengaruh dalam survei tersebut, mungkin karena pelanggaran HAM China sejauh ini terbatas pada kelompok-kelompok tertentu. Hanya 22 persen orang Swedia yang mengatakan bahwa mereka menganggap China sebagai ancaman besar.

Aneksasi Krimea oleh Rusia pada tahun 2014 dan upayanya untuk ikut campur dalam pemilu di Barat telah membuat marah (beberapa) pemimpin negara-negara yang terkena dampak, tetapi kekhawatiran atas niat Moskow jauh lebih sedikit dirasakan di tempat lain.

Rusia dan China mungkin sangat tidak populer di beberapa tempat, tetapi di peringkat internasional, mereka masih bisa menyeimbangkan sentimen-sentimen itu. Dalam kasus China, investasi finansial yang signifikan di luar negeri mungkin telah membantu, sementara manuver militer Rusia sejauh ini jarang meluas ke luar Eropa dan sebagian Timur Tengah.

Sebagai perbandingan, permusuhan dan skeptisisme terhadap Amerika Serikat relatif merata di seluruh dunia, kemungkinan mencerminkan jejak besar negara tersebut di berbagai kawasan dan perasaan yang kuat pada Trump.

Trump mungkin bisa senang dengan kenyataan bahwa Amerika Serikat sebenarnya tidak dianggap sebagai ancaman terbesar di dunia oleh warga dari 26 negara yang disurvei. Alih-alih, perubahan iklim menjadi yang teratas tahun lalu, diikuti oleh kelompok ISIS.

Baca juga: China dan Rusia: Sahabat Baru Berkat Ketakutan Amerika

Namun, persepsi Trump tentang ancaman global tampaknya tidak selaras dengan pandangan dunia itu. Salah satu langkah awal Trump adalah menarik diri dari kesepakatan iklim Paris yang bertujuan untuk menurunkan emisi yang diyakini sebagian besar berada di balik perubahan iklim, disusul oleh klaim kemenangannya baru-baru ini atas ISIS dan penarikan pasukan AS yang melawan ISIS.

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Trump terlihat selama KTT G20 di Buenos Aires pada 30 November 2018. (Foto: Reuters/Marcos Brindicci)

 

Mengapa Dunia Saat Ini Lebih Terancam oleh AS daripada China atau Rusia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top