Filipina
Asia

Mengapa Penangkapan Wartawan di Manila Akan Bergema ke Seluruh Dunia

Berita Internasional >> Mengapa Penangkapan Wartawan di Manila Akan Bergema ke Seluruh Dunia

Maria Ressa adalah salah satu wartawan paling penting di Filipina. Pada hari Jumat (8/2), petugas berpakaian sipil dari Biro Investigasi Nasional Filipina menangkapnya dengan surat perintah penangkapan atas “pencemaran nama baik di dunia maya” di kantornya, tepat sebelum jam 5 sore, yang merupakan batas waktu untuk memproses pembayaran jaminan. Penangkapan wartawan Rappler ini dianggap sebagai salah satu ujian terhadap demokrasi Filipina yang tengah merosot.

Oleh: Emili Rauhala (The Washington Post)

Baca Juga: Kurang Bukti, Dubes Indonesia Tolak Kaitan WNI dengan Bom Filipina

Maria Ressa tahu mereka akan menangkapnya.

Selama lebih dari setahun, jurnalis yang tinggal di Manila ini telah berhadapan dengan pihak berwenang Filipina, membagi waktunya antara mengejar tenggat waktu, ceramah, dan tampil di sampul majalah Time, dan hadir di pengadilan.

Ressa tahu pekerjaannya sebagai editor dan advokat membuat marah orang-orang Filipina yang kuat, termasuk Presiden Rodrigo Duterte. Dia tetap melakukannya, terus maju dengan tulisannya dan berbicara di tengah ancaman yang terus meningkat.

Pada hari Jumat (8/2), petugas berpakaian sipil dari Biro Investigasi Nasional Filipina menangkapnya dengan surat perintah penangkapan atas “pencemaran nama baik di dunia maya” di kantornya, tepat sebelum jam 5 sore, yang merupakan batas waktu untuk memproses pembayaran jaminan.

Pengacaranya mencoba memproses jaminan di pengadilan malam sebelumnya tetapi ditolak oleh hakim. Alih-alih menyampaikan ceramah tentang kebebasan pers, seperti yang dia rencanakan, dia ditahan.

Siapakah Maria Ressa?

Ressa adalah salah satu jurnalis paling terkemuka di Filipina dan advokat vokal untuk kebebasan pers.

Dia menjabat sebagai kepala biro CNN di Manila dan kemudian mendirikan start-up media digital, Rappler, pada tahun 2012. Di tahun-tahun sejak itu, Rappler telah menjadi salah satu media berita berbahasa Inggris paling berpengaruh di Filipina.

Setelah pemilihan Duterte pada tahun 2016, Ressa dan Rappler adalah yang pertama membunyikan alarm tentang bagaimana berita palsu, terutama berita palsu di Facebook, mempengaruhi pemilihan Filipina.

Media berita ini juga berada di garis depan dalam meliput keputusan Duterte untuk menembak dan membunuh orang-orang yang diduga sebagai pengguna dan pengedar narkoba. Tim wartawannya telah menyelidiki tuduhan pelanggaran polisi dan menyoroti kurangnya keadilan bagi para korban dari operasi yang dipimpin polisi itu.

Salah satu penulis catatan harian Duterte yang paling mantap, Pia Ranada, akhirnya dilarang melapor dari, Istana Malaka, Gedung Putih-nya Filipina.

Baca Juga: 5 Anggota Abu Sayyaf Pelaku Bom Gereja Filipina Serahkan Diri

Bagaimana dia mendapat masalah dengan otoritas Filipina?

Duterte memiliki hubungan yang rumit dengan media berita. Seperti para pemimpin otoriter populis di negara lain, ia secara bergantian berjaga-jaga dalam sorotan dan menganggap wartawan sebagai penjaja “berita palsu”.

Duterte telah menjelaskan bahwa dia tidak menyukai Rappler. Dalam pidato kenegaraannya tahun 2017, ia menyebut nama media berita itu, menyiratkan, tanpa mengutip bukti, bahwa media berita itu milik asing.

Tidak lama kemudian, Komisi Sekuritas dan Bursa negara itu membuka penyelidikan ke dalam struktur kepemilikan perusahaan media berita tersebut. Komisi tersebut kemudian mencabut lisensi Rappler, sebuah keputusan yang dikecam oleh jurnalis dan kelompok hak asasi.

Pada bulan Desember tahun lalu, Ressa menyerahkan diri dengan tuduhan penggelapan pajak. Tuduhan itu, yang dia bantah, diajukan saat dia di luar negeri untuk menerima penghargaan kebebasan pers. Ketika dia kembali ke Manila, dia membayar uang jaminan, dan terhindar dari hukuman penjara.

Sekarang, ada lebih banyak tuduhan. Departemen Kehakiman Filipina minggu lalu merekomendasikan pengajuan tuduhan terhadap Ressa dan seorang mantan peneliti di bawah hukum pencemaran nama baik di dunia maya atas sebuah cerita yang diterbitkan pada Mei 2012. Namun, undang-undang itu tidak disahkan sampai September 2012.

Keluhan itu diajukan oleh seorang pengusaha, Wilfredo Keng, yang dilaporkan keberatan dengan liputan Rappler tentangnya. Dalam sebuah pernyataan, Rappler mengatakan Ressa tidak mengedit cerita yang bermasalah itu dan memperingatkan tuduhan itu bisa menjadi preseden yang meresahkan.

“Ini adalah preseden berbahaya yang menempatkan siapa pun—tidak hanya media—yang mempublikasikan apa pun secara online di dalam bahaya tuduhan pencemaran nama baik,” kata perusahaan itu. “Tidak ada yang aman.”

Apa artinya ini bagi kebebasan pers?

Pihak berwenang Filipina membantah ada motivasi politik di balik setiap langkah itu, tetapi baik di dalam maupun di luar Filipina, penargetan kritikus Duterte yang menonjol dipandang sebagai ujian demokrasi Filipina.

Sejak memenangkan kursi kepresidenan pada tahun 2016, Duterte telah mengkonsolidasikan kekuasaannya atas pasukan keamanan, Kongres, dan Mahkamah Agung. Pers bebas negara itu dipandang sebagai pengawas kritis atas kekuasaannya—seandainya pers dibiarkan bebas.

Ressa telah memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran tentang ancaman terhadap jurnalis di dalam dan luar negeri. Karena pekerjaannya, dia adalah salah satu wartawan yang dianugerahi Person of the Year 2018 oleh majalah Time. Dia juga salah satu dari beberapa orang yang diundang ke Times Square New York pada Malam Tahun Baru bersama Komite Perlindungan Jurnalis.

Apa pun hasil dari kasus-kasus itu, wartawan dan kelompok hak asasi khawatir bahwa kasus jurnalis paling berpengaruh di Filipina yang tengah dikawal ke penjara itu akan memiliki efek yang mengerikan di Filipina dan di seluruh wilayah itu, sebuah kemunduran dalam apa yang telah menjadi tahun yang berbahaya dan mematikan bagi jurnalis di seluruh dunia.

Dalam sebuah pernyataan, Rappler berjanji untuk melanjutkan pelaporannya. “Ini adalah salah satu dari beberapa upaya untuk mengintimidasi kita, itu tidak akan berhasil, seperti yang ditunjukkan oleh upaya sebelumnya. Maria Ressa dan Rappler akan terus melakukan pekerjaan kita sebagai jurnalis. Kami akan terus mengatakan yang sebenarnya dan melaporkan apa yang kami lihat dan dengar.”

Pernyataan itu ditutup dengan kutipan dari Ressa: “Kami tidak terintimidasi. Tidak ada jumlah kasus hukum, propaganda hitam, dan kebohongan yang dapat membungkam jurnalis Filipina yang terus memegang kendali.”

Baca Juga: Dua Warga Negara Indonesia Berada di Balik Serangan Bom Filipina

Keterangan foto utama: Seorang wartawan Rappler dan petugas polisi berdebat tentang upaya untuk merekam penangkapan Maria Ressa, 13 Februari di kantor pusat perusahaan di Filipina. (Foto: Rappler/Storyful/Aika Rey)

Mengapa Penangkapan Wartawan di Manila Akan Bergema ke Seluruh Dunia

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top