Tsunami
Berita Politik Indonesia

Analisis: Mengapa Tsunami (Selalu) Hantam Indonesia Tanpa Peringatan

Bahkan ketika pihak berwenang berjuang untuk menanggapi akibat tsunami di Palu, mereka dikritik karena gagal mempersiapkan wilayah tersebut untuk menghadapi bencana seperti itu sebelumnya. (Foto: Getty Images/Carl Court)
Berita Internasional >> Analisis: Mengapa Tsunami (Selalu) Hantam Indonesia Tanpa Peringatan

Seiring bantuan mulai mengalir ke wilayah Palu dan sekitarnya yang dilanda gempa dan tsunami, pemerintah dikritik karena gagal mempersiapkan wilayah tersebut sebelumnya dalam menghadapi bencana tsunami. Sistem peringatan tsunami Indonesia menggunakan lebih dari seratus sensor pasang surut, tetapi tidak ada yang cukup dekat ke Palu untuk menangkap gelombang lokal. Dua puluh dua buoy yang dipersiapkan tidak ada yang berfungsi, karena vandalisme dan kurangnya dana untuk pemeliharaan.

Baca juga: Apakah Sistem Peringatan Tsunami yang Lebih Baik akan Selamatkan Banyak Nyawa di Sulawesi?

Oleh: Doug Bock Clark (The New Yorker)

Empat belas tahun yang lalu, Indonesia menderita salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah modern, dengan gempa berkekuatan 9,1 Skala Richter (SR) yang menciptakan gelombang air laut setinggi enam puluh kaki, yang menewaskan sekitar 170 ribu orang, banyak di antaranya di provinsi utara Aceh.

Pada tahun-tahun berikutnya, pemerintah berinvestasi dalam mempersiapkan diri untuk bencana berikutnya. Pada tahun 2008, dewan penanggulangan bencana dibuat, yang—dengan bantuan pemerintah asing, termasuk Jerman dan Amerika Serikat (AS)—membangun sistem peringatan dini untuk tsunami, terdiri dari 22 buoy yang dipenuhi sensor, yang menghabiskan setengah juta dolar masing-masing, dan menciptakan sistem online pada tahun berikutnya.

Tidak lama, gerombolan ikan laut mulai berkumpul di medan listrik yang dipancarkan oleh komputer buoy, yang menarik para nelayan—di mana beberapa di antara nelayan itu memereteli peralatan tersebut untuk mengambil kabel tembaganya. Sensor lainnya segera rusak setelah adanya pemotongan dana pemeliharaan, yang menyebabkan kualitas pemeliharaan yang buruk. Pada tahun 2016, gempa bumi di Indonesia bagian barat, dekat Aceh, mengungkapkan bahwa tidak ada buoy yang masih berfungsi.

Saya pindah ke Aceh tujuh tahun setelah tsunami, dan salah satu hal pertama yang dilakukan pemandu saya setelah saya tiba adalah, menunjukkan rute pelarian ke bukit-bukit. Meskipun gelombang bantuan internasional sebagian besar telah membangun kembali kota tersebut, namun saya segera mengetahui bahwa masyarakatnya—yang hampir semuanya kehilangan teman atau keluarga karena tsunami—tidak pulih dengan mudah.

Bahkan guncangan kecil bisa memicu kilas balik yang menyedihkan. Ketika salah satu teman saya menghilang—seorang mahasiswa yang telah melihat ibu dan adiknya tersapu arus—orang-orang menduga bahwa dia telah melakukan bunuh diri. Ketenangan di Aceh tentang bahaya yang ada di bawah kaki penduduknya, sangat sulit didapatkan.

Sistem buoy disumbangkan ke Indonesia untuk mengirim peringatan tentang ancaman tsunami—tetapi tidak ada yang berfungsi saat ini. (Foto: Getty Images)

Jumat malam (28/9) lalu, sekitar lima puluh mil sebelah utara kota Palu di Indonesia, Survei Geologis Amerika Serikat mencatat gempa berkekuatan 7,5 SR di sepanjang patahan enam mil di bawah permukaan pulau Sulawesi. Para ahli telah menetapkan bahwa gempa bumi memicu tanah longsor bawah laut yang menyebabkan gelombang air yang sangat besar naik ke teluk yang panjang dan sempit, yang menyalurkannya langsung ke Palu, di mana 380 ribu penduduknya sedang menikmati akhir minggu itu, banyak dari mereka mempersiapkan festival pantai.

Sebuah video yang diunggah ke media sosial menunjukkan seorang pria di atas tempat parkir bertingkat yang berteriak dengan putus asa kepada orang-orang di jalan dan pantai di bawah, “Naiklah ke sini! Ada tsunami! Lari! Lari!”

Banyak yang mengabaikan seruannya, seiring tiga gelombang besar—yang tertinggi yang kemudian diperkirakan mencapai dua puluh kaki—menggelegar di teluk terdekat. Gelombang pertama menyapu deretan bangunan berlantai satu yang lepas dari fondasi mereka dan mobil-mobil tersapu lumpur. Saat gelombang kedua datang, pria di dek parkir menangis dan berteriak, “Innalillahi, Allah! Allah!” Lalu dia berbalik dan melarikan diri.

Gempa bumi dan tsunami mengurangi sebagian besar daratan Palu dan mengubahnya menjadi lahan berlumpur kosong yang dipenuhi serpihan beton yang hancur dan atap logam bengkok. Karena hanya sedikit alat berat yang tersedia, tim penyelamat berjuang untuk memindahkan lempengan beton dengan tangan, seiring orang-orang terperangkap di bawah meminta bantuan. Pada hari-hari sejak itu, jumlah korban tewas telah melonjak ratusan setiap harinya, mencapai lebih dari 1.400 korban jiwa pada Kamis (4/10) pagi.

Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia, telah memperingatkan bahwa korban tewas bisa melonjak hingga ribuan. Bantuan internasional dan domestik telah berjuang untuk mencapai kota yang tiba-tiba terisolasi tersebut, karena landasan pacu bandara dan banyak jalan masuk dan jembatannya telah hancur atau tidak dapat digunakan.

Di beberapa lingkungan, pihak berwenang telah menyiapkan layanan yang belum sempurna, tetapi di tempat lain mereka kehilangan kendali: lebih dari seribu narapidana telah melarikan diri dari tiga penjara, yang salah satunya terbakar, dan para penjarah telah menyerang ATM dengan beliung. Laporan baru mulai bermunculan dari desa-desa terdekat, beberapa di antaranya, tampaknya, hampir musnah.

Bahkan ketika pihak berwenang Indonesia berjuang untuk menanggapi bencana, mereka dikritik karena gagal mempersiapkan Palu secara memadai sebelumnya. Sistem peringatan tsunami Indonesia menggunakan lebih dari seratus sensor pasang surut, tetapi tidak ada yang cukup dekat ke Palu untuk menangkap gelombang lokal.

Dibangun dengan Susah Payah, Bencana Alam Hancurkan Kota Pelabuhan Indonesia

Daerah yang terkena bencana tsunami di pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. (Foto: EPA/Mast Irham)

Pihak berwenang telah merilis peringatan tsunami untuk daerah tersebut, berdasarkan pembacaan dari sensor seismografik, tetapi Gavin Sullivan—seorang profesor di Universitas Coventry yang mempelajari persiapan dan pemulihan bencana di Indonesia—mengatakan kepada saya, “Banyak orang di pantai dan di jalan samping laut tidak tahu ombak akan datang sama sekali.” Kota ini dilengkapi dengan sirene tsunami, tetapi gempa telah merontokkan kekuatan mereka, yang berarti bahwa penduduk, seperti pria di dek parkir, harus meneriakkan peringatan mereka sendiri.

Sebuah pesan teks peringatan dan sistem juga gagal diaktifkan, karena banyak menara telepon seluler telah dihancurkan. “Terdapat peluang bagi pemerintah Indonesia untuk lebih siap menghadapi bencana seperti ini,” ujar Louise Comfort, seorang ahli manajemen bencana di University of Pittsburgh yang memimpin sebuah proyek untuk membantu Indonesia bersiap menghadapi tsunami. “Itu membuat kehancuran saat ini semakin memilukan.”

Pada konferensi pers, Sutopo Purwo Nugroho, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan, “Ancaman bencana meningkat, bencana meningkat, tetapi anggaran menurun.” (Gempa 6,9 skala Richter menewaskan lebih dari empat ratus enam puluh orang-orang di pulau barat daya Sulawesi, pada bulan Agustus.) Dia mengakui bahwa dia telah mengetahui tentang tsunami Palu melalui media sosial dan televisi.

“Indonesia adalah negara berkembang, dan sulit untuk mengalokasikan sumber daya, tetapi kami harus siap untuk skenario terburuk,” ujar Saut Sagala, seorang profesor di Institut Teknologi Bandung dan seorang peneliti senior di Indonesian Resilience Development Initiative. Salah satu kemungkinan yang mengerikan adalah gempa bumi atau tsunami yang menghantam wilayah metropolitan yang lebih besar di ibu kota Indonesia, Jakarta, di mana sekitar 28 juta orang membebani infrastruktur yang sudah terbebani.

“Jika pemerintah tidak berinvestasi lebih banyak untuk pengurangan risiko bencana dan meningkatkan kesiapan masyarakat, kami tidak akan siap menghadapi bencana ini,” kata Sagala. Antara lain, katanya, pemerintah harus bekerja untuk mengedukasi para penduduk tentang kesiapsiagaan bencana, melengkapi bangunan dengan peredam kejut seismik, sumber persediaan, dan menggunakan perencanaan kota untuk mengarahkan orang-orang menjauh dari daerah rawan. Penduduk Indonesia yang paling siap menghadapi bencana, Sagala menambahkan, adalah mereka yang telah menderita.

Comfort, profesor dari University of Pittsburgh, mengatakan bahwa ketika dia mengunjungi Provinsi Aceh setelah tsunami 2004, dia merasa ngeri mendengar cerita tentang “orang-orang berlarian ke pantai untuk melihat semua ikan yang muncul ketika air surut setelah gempa bumi,” tidak memahami bahwa itu adalah tanda pertama dari tsunami yang akan datang. “Tentu saja, mereka terjebak dalam gelombang yang mendekat.”

Tim penyelamat menelusuri Hotel Roa Roa di Palu pada Selasa (2/10). Banyak orang diperkirakan terjebak di dalam. (Foto: AFP/Yomiuri Shimbun)

Namun, meskipun penduduk Aceh sekarang tahu untuk melarikan diri ke tempat tinggi setelah gempa bumi, pemerintah Indonesia tampaknya lebih cepat melupakan pelajaran dari bencana tersebut. Pengalaman Comfort dengan tsunami 2004 memberinya inspirasi—bersama dengan tim peneliti Amerika dan Indonesia—untuk mengembangkan jenis sensor baru untuk memberikan peringatan tsunami.

Tidak seperti buoy Jerman—yang mengirimkan data setiap lima belas menit, dan mungkin tidak akan dapat memberikan peringatan yang memadai tentang tsunami Palu bahkan jika mereka beroperasi—sensor baru ini akan memberikan pembaruan dalam satu hingga tiga menit.

Dan karena sensor ini terletak di dasar laut, sensor ini terlindung dari vandalisme. Pemerintah Indonesia pada awalnya tertarik untuk menggunakan sensor Comfort, tetapi pembangunan prototipe di Indonesia bagian barat baru-baru ini terhenti karena kurangnya pendanaan, dengan hanya beberapa kilometer kabel bawah laut lagi yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

Baca juga: Tsunami Sulawesi: Palu Dihantam ‘Skenario Terburuk’

“Terdapat rapat lebih dari seminggu sebelum tsunami,” kata Comfort. “Tetapi lembaga terkait memutuskan bahwa mereka tidak memiliki dana.”

Terlepas dari tragedi yang sedang berlangsung, Comfort masih memiliki harapan bahwa pemerintah Indonesia dapat lebih siap menghadapi bencana berikutnya. Data dari sistem yang dikembangkan timnya dapat membantu negara-negara lain yang menghadapi ancaman serupa, misalnya, yang mungkin cukup untuk meyakinkan masyarakat internasional untuk membantu sebagian dari biayanya.

“Tsunami adalah risiko global,” katanya. “Beberapa bagian dari Amerika Serikat, seperti Los Angeles dan Seattle, serta kota-kota lain, seperti Mumbai di India, dan Darwin di Australia, sama rentannya dengan Palu terhadap tsunami. Ketika populasi di seluruh dunia berkonsentrasi di kota-kota pesisir, semua orang perlu dipersiapkan.”

Doug Bock Clark adalah seorang penulis yang buku pertamanya, “The Last Whalers,” akan diterbitkan pada Januari 2019.

Keterangan foto utama: Bahkan ketika pihak berwenang berjuang untuk menanggapi akibat tsunami di Palu, mereka dikritik karena gagal mempersiapkan wilayah tersebut untuk menghadapi bencana seperti itu sebelumnya. (Foto: Getty Images/Carl Court)

Analisis: Mengapa Tsunami (Selalu) Hantam Indonesia Tanpa Peringatan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top