Kampanye Calon Pemimpin Daerah untuk Pilkada 2018 Dimulai
Berita Politik Indonesia

Milenial di Politik Indonesia Masa Depan: Lebih Canggih tapi Lebih Konservatif?

Kampanye yang menyerukan pemilih Indonesia untuk memberikan suara pada Pemilu 2014. (Foto: AFP)
Berita Internasional >> Milenial di Politik Indonesia Masa Depan: Lebih Canggih tapi Lebih Konservatif?

Di bandingkan negara-negara demokrasi matang lainnya, para pemilih milenial Indonesia cenderung lebih tak peduli politik yang bagi mereka rumit dan membosankan. Bagi mereka, agama hanya menempati urutan ke-12 sebagai pertimbangan pemilihan—dua tempat di atas usia calon. Namun, 19,4 persen responden milenial mendukung negara syariah sementara 22,4 persen mengatakan mereka tidak akan memilih pemimpin non-Muslim.

Baca juga: Bagaimana Milenial Melihat Politik dan Pemilu di Indonesia

Oleh: John McBeth (Asia Times)

Untuk sesaat, sebelum dua pasangan calon presiden dan wakil presiden mulai adu kemampuan di debat pilpres pertama, 17 Januari 2019 lalu, pengusaha bisnis berusia 49 tahun, Sandiaga Uno, memberikan pandangan sekilas kepada para pemilih di Indonesia tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan di bawah pemimpin generasi baru dari latar belakang yang sangat berbeda.

Sebagai pasangan Prabowo Subianto, Sandi sebenarnya adalah Generasi X, tetapi ia telah menjadi jutawan di awal usia 30-an dan dicap sebagai ikon untuk 80 juta milenial yang akan memilih dalam pemilu presiden dan legislatif April.

Menurut salah satu survei riset pasar yang dilakukan tahun lalu, 95 persen dari kelompok demografis itu—yang berusia antara 24 dan 42—mengklaim mereka berniat untuk memilih pada 17 April nanti, dengan banyak yang mengatakan mereka menginginkan pemimpin yang tegas dan berpendirian kuat.

Jika memang begitu, Prabowo akan masih menjadi ancaman nyata bagi Presiden Joko Widodo, seperti pada tahun 2014 ketika Jokowi menjadi bintang politik yang sedang naik daun dari pedesaan Jawa.

Tapi itu lima tahun yang lalu. Tertinggal dalam jajak pendapat dan kekurangan dana, Prabowo kali ini lebih terkendali dan lebih memperhatikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan upayanya untuk mengesampingkan Golkar sebagai partai terbesar kedua di negara itu. Itu akan menjadi prestasi tersendiri.

Calon wakil presiden Sandiaga Uno dalam file foto. (Foto: Facebook)

Apa dampak milenial terhadap pemilu nanti masih belum bisa ditentukan ketika hanya minoritas yang cocok dengan citra seorang urban yang berpendidikan tinggi dan paham teknologi yang berada di tangga kepemimpinan perusahaan. Pada kenyataannya, sebagian besar hanya memiliki pendidikan dasar dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan seperti semua orang di Indonesia.

Jika bicara tentang blok suara monolitik, jumlah mereka yang memilih saat hari pemilu hanya 70-75 persen. Bahkan dulu, sebuah laporan IDN Research Institute menunjukkan hanya 23,4 persen dari milenial perkotaan berpendidikan dalam kelompok usia 20-35 yang mengikuti politik, sedikit berbeda dari negara-negara demokrasi matang lain.

“Bagi mereka, masalah politik terlalu berat, terlalu rumit, dan terlalu membosankan,” kata laporan itu, mencatat bahwa minat tertinggi ada di kalangan milenial yang lebih tua di Sulawesi (39,8 persen) dan Jawa (31 persen), dan yang terendah di Bali (16,7 persen), di mana tampaknya tidak ada yang berbicara tentang Jakarta dan politiknya sama sekali.

Penampilan mungkin juga bisa menjadi perhitungan. Bersifat progresif, pragmatis, dan awet muda, Sandi sangat kontras dengan Ma’ruf Amin, ulama Muslim berusia 75 tahun, yang dipasangkan dengan Jokowi oleh mitra koalisinya.

Seperti yang diharapkan, Ma’ruf mungkin telah membantu Jokowi mencapai tujuannya dalam menumpulkan beberapa oposisi anti-Jokowi di kalangan konservatif Islam, tetapi Ma’ruf tidak berperan lebih banyak dari itu. Sandi, di sisi lain, telah memberikan Prabowo dorongan yang signifikan, meskipun mungkin tidak cukup untuk melawan popularitas presiden.

Calon presiden Joko Widodo pada debat langsung televisi nasional, 5 Juli 2014. (Foto: AFP/Romeo Gacad)

Ma’ruf tidak banyak berbicara dalam debat presiden pertama minggu lalu. Tetapi kesenjangan generasi tampaknya akan terlihat pada sesi ketiga pada 17 Maret ketika hanya kandidat wakil presiden yang akan membahas masalah pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan budaya.

Yang pasti, Sandi mewakili masa depan, khususnya mengingat prospeknya yang sangat nyata untuk membawa spanduk Gerindra ke pemilu presiden 2024 ketika Prabowo tidak akan mencalonkan diri lagi dan keluarganya kehilangan penerus yang jelas.

Selama debat pekan lalu, tampaknya ada hubungan yang hangat antara pensiunan jenderal berusia 66 tahun itu dan pasangannya yang lebih muda, jauh berbeda dari hubungan canggung antara Jokowi dan Ma’ruf.

Tapi itu belum menyamarkan perbedaan pandangan mereka tentang masalah ekonomi. Sementara Prabowo telah menghidupkan kembali tema nasionalis yang sama yang digunakannya dalam kampanye 2014, sebuah agenda populis yang juga dianut Jokowi, Sandi memiliki pendekatan yang jauh lebih bernuansa dan pragmatis.

Sebagai wirausaha, Sandi memahami bahwa kebijakan yang kurang nasionalistis dan peraturan yang lebih sedikit akan membuat Indonesia tumbuh lebih cepat. Dan walaupun dia mendukung seruan swasembada, dia mempertanyakan mengapa harga komoditas begitu tinggi dan lapangan pekerjaan hanya sedikit.

Sandi tidak akan mudah untuk mendapatkan yang ia inginkan jika mencalonkan diri untuk tahun 2024. Putra mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti, adalah seorang milenial sejati yang masih menikmati profil yang lebih tinggi di panggung nasional daripada Sandi karena nama ayahnya.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan saat upacara pelantikan di Istana Presiden di Jakarta, 16 Oktober 2017. (Foto: Reuters/Beawiharta)

Gubernur Jakarta Anies Baswedan, 49 tahun, yang menolak kesempatan untuk bekerja sama dengan Prabowo, kemungkinan besar juga akan mencalonkan diri. Tapi dia perlu meningkatkan kemampuannya jika dia ingin mengikuti jejak Jokowi dan menggunakan jabatan gubernur sebagai batu loncatan ke istana presiden.

Menurut laporan IDN, 82 persen responden mengenali Agus dan hanya 71 persen yang dapat mencocokkan nama Sandi dengan fotonya, termasuk 42 persen yang harus diberi petunjuk terlebih dahulu. Namun, itu akan berubah seiring kampanye berlangsung.

Baca juga: Benci Politik Kotor, Generasi Milenial Indonesia Tidak Tertarik Memilih

Sudah ada perubahan generasi di jajaran parlemen. Usia rata-rata wakil rakyat sekarang 49 tahun—jauh di bawah rata-rata global 53 tahun—dengan 36 milenial dan 393 anggota parlemen berusia 40-an dan 50-an dipilih pada 2014.

Sayangnya, korupsi yang terus-menerus menunjukkan bahwa perubahan dalam generasi tidak membawa perubahan dalam budaya partai, dibuktikan dengan keterlibatan beberapa anggota parlemen muda yang paling menjanjikan dalam serangkaian skandal korupsi di masa lalu.

Seorang wanita memasukkan surat suaranya di kotak suara di TPS pada 15 Februari 2017.  (Foto: AFP/Chaideer Mahyuddin)

Menurut laporan IDN, kejujuran masih merupakan faktor terpenting yang dicari oleh pemilih milenial dalam kandidat politik, diikuti oleh seberapa dekat mereka dengan masyarakat, kompetensi dalam pekerjaan, dan kemampuan untuk membawa perubahan.

Secara signifikan, agama hanya menempati urutan ke-12 sebagai pertimbangan pemilihan—dua tempat di atas usia calon—tapi 19,4 persen responden milenial mendukung negara syariah sementara 22,4 persen mengatakan mereka tidak akan memilih pemimpin non-Muslim.

Kontradiksi-kontradiksi semacam itu menunjukkan bahwa ketika menyangkut generasi muda Indonesia, para pemimpin politik mungkin merasa diri mereka sendiri sama bingungnya dengan para pengumpul pendapat. Ponsel dan video game tidak selalu membawa perubahan.

 

Keterangan foto utama: Kampanye yang menyerukan pemilih Indonesia untuk memberikan suara pada Pemilu 2014. (Foto: AFP)

Milenial di Politik Indonesia Masa Depan: Lebih Canggih tapi Lebih Konservatif?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top