Pasca Brexit, Akankah Inggris Dilanda Bencana Kelaparan?
Eropa

Pasca Brexit, Akankah Inggris Dilanda Bencana Kelaparan?

Berita Internasional >> Pasca Brexit, Akankah Inggris Dilanda Bencana Kelaparan?

Pengecer makanan memperingatkan bahwa supermarket dan gerai makanan akan menjadi yang pertama merasakan dampak dari Brexit tanpa kesepakatan. Dengan kata lain: pemasok pangan tengah kehabisan kesabaran dan Inggris mungkin akan kekurangan makanan. Berikut ini penjelasan bagaimana isu pangan dan rantai makanan Inggris terpengaruh oleh Brexit no deal.

Oleh: Amie Tsang (The New York Times)

Pengecer makanan di Inggris memperingatkan anggota parlemen pekan ini bahwa Brexit berpotensi menimbulkan masalah pangan. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa perjanjian (no deal) akan memakan biaya dan membatasi pasokan, kata para eksekutif dalam sebuah surat publik. Mereka menambahkan: “Kami khawatir dengan gangguan signifikan dalam jangka pendek.”

Dengan kata lain: pemasok pangan tengah kehabisan kesabaran dan Inggris mungkin akan kekurangan makanan.

“Kami sangat prihatin bahwa pelanggan kami akan menjadi yang pertama mengalami realitas Brexit tanpa kesepkatan,” demikian bunyi surat itu, yang ditandatangani oleh para eksekutif dari rantai supermarket seperti Asda milik Walmart, bahkan gerai makanan cepat saji seperti McDonald. Berikut ini penjelasan bagaimana isu pangan dan rantai makanan Inggris terpengaruh oleh Brexit no deal.

Baca Juga: Brexit No Deal: Perusahaan Berencana Ramai-Ramai Tinggalkan Inggris

Bahan pangan segar

Hampir sepertiga dari makanan yang dikonsumsi di Inggris berasal dari Uni Eropa, dan sebagian besar melintasi perbatasan dengan mudah. Kekacauan yang diciptakan oleh negara itu dapat menyebabkan banyak bahan salad terjebak dalam kemacetan lalu lintas dan pemeriksaan bea cukai tambahan setelah tanggal 29 Maret 2019, ketika Inggris keluar dari blok tersebut.

Sekitar 90 persen dari selada, 80 persen tomat, serta 70 persen stroberi dan blueberry di Inggris berasal dari Uni Eropa pada musim itu setiap tahun. Bahan pangan segar seperti itu tidak dapat ditimbun, dan bahkan jika bisa, ruang penyimpanan dapat segera habis.

Para pengecer biasanya menyimpan pasokan bahan pangan tidak lebih dari dua minggu, menurut surat mereka. “Bagi konsumen, ini akan mengurangi ketersediaan dan daya simpan banyak produk di toko kami.”

Biaya makanan bisa naik secara signifikan karena tarif mendorong harga impor, menurut para pengecer. Inggris saat ini membayar tarif sekitar 10 persen dari makanan impornya. Jika terjadi Brexit tanpa kesepakatan, ada kemungkinan bahwa pemerintah Inggris dapat mencoba untuk meringankan kenaikan harga pangan dengan menurunkan tarif produk-produk dari Uni Eropa yang tidak tumbuh di Inggris. Buah sitrus-sitrusan, seperti jeruk, akan menjadi salah satu targetnya. Langkah ini akan membatasi beberapa tekanan pada harga, menurut Dmitry Grozoubinski, mantan negosiator perdagangan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Tetapi ada 60 hari tersisa sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa. Sementara itu, belum ada keputusan yang dibuat mengenai produk-produk tersebut.

Petani Inggris kemungkinan juga akan terpengaruh oleh Brexit tanpa kesepakatan karena domba mereka menjadi lebih mahal untuk diekspor. (Foto: The New York Times/Philip Moore)

Dampak bagi petani

Tarif yang dikenakan oleh Uni Eropa akan menghantam petani Inggris yang bergantung pada ekspor untuk mata pencaharian mereka. Misalnya, domba dari Inggris sekarang dijual di Uni Eropa tanpa tarif. Jika terjadi Brexit tanpa kesepakatan, harga pembelian domba Inggris oleh pembeli di Eropa dapat meningkat sebanyak 45 persen karena tarif baru.

Terdapat sistem kuota untuk penjual dari luar Uni Eropa, yakni bahwa sejumlah makanan yang dikirim ke Uni Eropa akan bebas dari tarif. Tetapi kualifikasi untuk bagian itu sangat kompetitif. Operasi-operasi yang lebih kecil, khususnya, dapat terbentur kesulitan dokumen.

Artinya, para petani yang terbiasa menjual sebagian besar produknya ke Uni Eropa harus mencari pasar baru dan pelanggan di luar Uni Eropa, yakni di negara-negara dengan perjanjian perdagangan bebas.

Tetapi hal ini juga akan harus memenuhi standar kesehatan yang tidak familiar dan belajar untuk bekerja di pasar baru, selain bersaing dengan pesaing yang lebih mapan. Seorang petani yang menjual domba, misalnya, “akan mencoba memasuki pasar ketiga di mana Australia, Selandia Baru, Argentina, dan negara-negara lainnya telah aktif untuk waktu yang lama dan mungkin akan memojokkan situasi pasar di Inggris,” jelas Grozoubinski.

Olahan ternak

Unggas, produk-produk seperti susu dan yogurt, bahkan madu dapat ditunda dalam perjalanan masuk dan keluar negara dengan sejumlah inspeksi baru. Pemeriksaan dokumen akan diterapkan pada semua produk hewani ketika memasuki Eropa. Pemeriksaan fisik akan dilakukan oleh staf di pos pemeriksaan perbatasan yang akan mengambil sampel dan memeriksa apakah produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Pemeriksaan ini akan diterapkan pada setengah dari produk olahan ternak.

Akibatnya, terdapat prediksi kemacetan pengiriman produk. Negara-negara seperti Prancis dan Belanda kini tengah memperluas infrastruktur, seperti pos inspeksi, yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan ini. Di pihak Inggris, pemerintah beberapa minggu lalu menciptakan kemacetan buatan untuk truk sebagai bagian dari persiapan Brexit. Upaya itu dikecam secara luas.

Kesulitannya mungkin akan terasa parah di perbatasan Irlandia. Para petani di Irlandia Utara mengirim susu segar ke selatan untuk dipasteurisasi di Republik Irlandia. “Alasan mereka berbagi produksi ini melintasi perbatasan adalah untuk skala ekonomi,” kata Katy Hayward, seorang sosiolog politik di Queen’s University Belfast.

Tetapi ekonomi-ekonomi itu dapat hilang jika Brexit tanpa kesepakatan menyebabkan semacam perbatasan yang keras. “Hal itu akan memerlukan infrastruktur fisik dan beban ekonomi bagi produsen,” kata Dr. Hayward. “Tidak ada fasilitas untuk itu saat ini.”

Perdana Menteri Inggris Theresa May ingin membuka kembali perundingan dengan para pemimpin Eropa pekan ini atas apa yang disebut rencana pertahanan Irlandia, kebijakan untuk menjaga barang-barang mengalir melintasi perbatasan Irlandia. Mereka telah mengatakan bahwa masalah tersebut tidak dapat diperdebatkan kembali.

Baca Juga: Referendum Brexit Kedua dapat Perburuk Kekacauan Politik Inggris

Mahalnya biaya distribusi

Gubernur Bank of England Mark Carney telah mengatakan kepada anggota parlemen Inggris bahwa harga makanan bisa naik mulai dari 5 hingga 10 persen jika terjadi Brexit tanpa kesepakatan.

British Retail Consortium memperkirakan sekitar seperlima dari semua keju di supermarket diimpor dari Uni Eropa dan konsumen akan membayar lebih untuk dokumen tambahan dan inspeksi yang diperlukan untuk memasukkan jenis produk tersebut ke Inggris. Pengecer dalam surat mereka memperingatkan bahwa akan ada “tekanan tak terhindarkan pada harga makanan dari biaya transportasi yang lebih tinggi, devaluasi mata uang, dan tarif.”

Amie Tsang adalah reporter bisnis penugasan umum yang berbasis di London, di mana ia meliput berbagai topik, termasuk kesenjangan upah antar gender, penerbangan, dan London Fatberg.

Keterangan foto utama: Harga makanan kemungkinan akan meningkat di Inggris jika kesepakatan Brexit tidak tercapai. (Foto: Getty Images/Agence France-Presse/Oli Scarff)

Pasca Brexit, Akankah Inggris Dilanda Bencana Kelaparan?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top