Putri Ubolratana
Asia

Pencalonan Putri Ubolratana, Momen Mengejutkan bagi Militer Thailand

Berita Internasional >> Pencalonan Putri Ubolratana, Momen Mengejutkan bagi Militer Thailand

Hari Jumat, terdapat kemungkinan bahwa junta militer di Thailand akan kehilangan kekuasaan setelah pengumuman Putri Ubolratana Rajakanya untuk mengikuti pemilihan umum. Tetapi setelah keputusan raja, posisi militer menjadi jauh lebih baik daripada sebelumnya. Pengumuman Ubolratana merupakan hal kontroversial karena mengancam kontrol politik Thailand oleh pemerintah militer di bawah perdana menteri dan mantan jenderal Prayuth Chan-Ocha.

Baca juga: Dekrit Raja Thailand Kurangi Risiko Ketegangan Pemilu

Oleh: Rodion Ebbighausen (Deutsche Welle)

Politik Thailand dipenuhi dengan kejutan tak terduga, salah satunya yang terjadi pada hari Jumat (8/2) lalu. Sesaat sebelum batas waktu, Putri Ubolratana Rajakanya mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri untuk posisi perdana menteri dari Partai Thail Raksa Chart dalam pemilihan umum bulan Maret 2019.

Partai itu dianggap dekat dengan keluarga Shinawatra, dengan salah satu anggotanya, Mantan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, digulingkan dalam kudeta bulan Mei 2014. Kepala keluarga Shinawatra adalah Thaksin Shinawatra, mantan PM Thailand yang telah tinggal di pengasingan selama bertahun-tahun.

Pada malam yang sama, saudara laki-laki Ubolratana, Raja Vajiralingkorn, menyatakan bahwa pencalonan saudara perempuannya tidak sah. Segera setelah itu, Partai Thai Raksa Chart membatalkan keputusan sensasional sang putri.

Pengumuman Ubolratana merupakan hal kontroversial karena mengancam kontrol politik Thailand oleh pemerintah militer di bawah perdana menteri dan mantan jenderal Prayuth Chan-Ocha. Konstitusi yang diadopsi oleh warga Thailand dalam referendum pada tahun 2017 menetapkan bahwa majelis nasional dapat menyarankan perdana menteri baru dengan mayoritas sederhana. Setelah itu, Raja hanya perlu mengangkatnya.

Menggagalkan strategi

Konstitusi ini berfungsi sebagai jaring kepastian bagi militer. Majelis nasional memiliki 750 kursi, termasuk 250 senator dan 500 anggota. Sebanyak 500 anggota akan dipilih oleh rakyat pada akhir bulan Maret. Sisanya, 250 senator akan ditentukan oleh komite yang ditunjuk oleh pemerintah militer, yang berarti bahwa pejabat militer akan berpartisipasi dalam pemilihan dengan memimpin 250 kursi untuk menentukan perdana menteri baru dan pemerintah. Bersama dengan suara partai pro-militer, di atas semuanya adalah Partai Palang Pracharat, harus ada cukup suara untuk mendapatkan kandidat yang paling disukai dari militer sebelum dapat menjabat.

Pencalonan Putri Ubolratana akan mempertanyakan strategi ini. Ketenaran sang putri dan pengaruh keluarga Shinawatra, yang disukai di wilayah utara dan timur laut Thailand yang lebih miskin, akan cukup untuk mendapatkan mayoritas koalisi di parlemen. Lebih jauh, kampanye pemilihan terhadap anggota keluarga kerajaan akan menjadi sangat sulit, karena dia harus dihormati secara tradisional maupun menurut hukum.

Teka-teki besar

Terlepas dari rumor mengenai efek itu di Thailand, pengumuman itu muncul sebagai kejutan besar, sehingga banyak pakar internasional dan jurnalis Thailand tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan, wakil perdana menteri junta militer menolak untuk mengambil sikap terbuka di depan pers tentang ambisi politik sang putri.

Langkah itu juga membingungkan karena merepresentasikan putusnya tradisi kerajaan Buddha. Agama Buddha Theravada di Thailand menetapkan pemisahan ketat duniawi dari spiritual. Politik, khususnya politik partai, dengan perebutan kekuasaan dan intriknya, dianggap kotor oleh banyak penganut kepercayaan Buddha. Dengan demikian, setiap umat Buddha yang baik akan menghindari politik.

Raja, yang juga dipandang sebagai pelindung tertinggi agama Buddha, menjauhkan diri dari politik, terlepas dari kenyataan bahwa ia adalah faktor yang berpengaruh secara politis, meskipun hanya di latar belakang.

Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha. (Foto: Reuters/A. Perawongmetha)

Posisi keluarga kerajaan

Karena itu, pertanyaan intinya adalah: bagaimana seseorang bisa mendamaikan pencalonan sang putri dengan monarki, dan apa pendapat Raja Maha Vajiralongkorn tentang hal itu?

Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah bahwa sang putri, yang menikah dengan seorang warga Amerika pada tahun 1972 sehingga harus melepaskan status kerajaannya, tidaklah tunduk pada standar tradisional keluarga kerajaan. Sehubungan dengan pertanyaan kedua, hampir semua pengamat berasumsi bahwa langkah semacam itu harus dibicarakan dengan Raja.

Baca juga: Mengapa Pemilu Thailand akan Menjadi Kemenangan bagi Junta Militer

Tetapi kemudian pada malam yang sama pada hari Jumat (8/2), bom kedua dijatuhkan: pada malam hari, sebuah dekrit dari Raja mengatakan bahwa keterlibatan anggota keluarga kerajaan yang berpangkat tinggi dalam politik, terlepas dari jenisnya, tidak dapat sejalan dengan tradisi, adat, dan budaya negara mereka dan karenanya tidak pantas.

Mimpi buruk itu berakhir dan sang putri kemudian membatalkan pencalonannya.

Episode singkat ini membuktikan bahwa perebutan kekuasaan internal di Thailand dan pembagian negara, yang ingin diselesaikan oleh pemerintah militer, dengan pengakuannya sendiri, masih ada. Rupanya, pembagian ini juga telah masuk ke dalam keluarga kerajaan, yang sampai sekarang adalah penjamin dan simbol persatuan nasional. Selain itu, Raja Vajiralongkorn, yang akan dimahkotai enam pekan setelah pemilihan, merongrong klaimnya atas kekuasaan dengan segera dan telah mengekang adiknya dengan sukses.

Konsekuensi untuk pemilihan

Lingkaran setan yang telah berlangsung beberapa dekade kembali terbayang pada hari Jumat (8/2). Pemilihan umum, di mana kubu Thaksin menang, diikuti oleh kudeta. Setelah kudeta, kaum konservatif yang terdiri dari para bangsawan, pejabat, dan militer menyerukan reformasi, mengubah sistem politik sesuai keinginan mereka tanpa meninggalkan sandiwara demokrasi sepenuhnya.

Lalu terdapat pemilihan, yang selalu dapat dimenangkan kubu Thaksin dengan partai politik yang terus berganti nama. Kali ini, militer ingin melakukannya dengan lebih baik, tetapi pencalonan sang putri akan merusak rencananya.

Baca juga: Pemberontak Muslim Thailand Kembali Bangkit

Thaksin terus berkreasi dalam hal kekuatannya sendiri. Namun, Thaksin tampaknya telah mengambil risiko yang terlalu besar. Kerusakan reputasi partainya melalui manuver berisiko ini sangat besar: bukan karena pemilih intinya, tetapi karena pemilih yang ragu-ragu, yang ia perlukan untuk mencapai mayoritas dalam majelis nasional. Dengan demikian, prospek kemenangan militer dalam pemilihan umum tanggal 24 Maret 2019 jauh lebih baik dari pada prospek pada hari Jumat (8/2).

Keterangan foto utama: Putri Ubolratana Rajakanya dari Thailand. (Foto: Getty Images/K. Dowling)

Pencalonan Putri Ubolratana, Momen Mengejutkan bagi Militer Thailand

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top