Asia Tenggara
Asia

Persaingan Amerika vs China Pikat Kaum Muda di Asia Tenggara

Para siswa mendengarkan saat mantan Menlu AS John Kerry berbicara di Universitas Teknologi dan Pendidikan Ho Chi Minh, Kota Ho Chi Minh, Vietnam, pada 13 Januari 2017. (Foto: AP/Alex Brandon)
Berita Internasional >> Persaingan Amerika vs China Pikat Kaum Muda di Asia Tenggara

Amerika dan China saat ini mulai bersaing untuk memikat kaum muda di Asia Tenggara, misalnya dengan memperluas investasi di bidang pendidikan. Walau AS masih populer di negara-negara di Asia Tenggara, namun Washington telah mulai kehilangan posisinya di kawasan itu. Membangun dukungan domestik—khususnya di antara mahasiswa dan wirausaha muda yang sedang tumbuh—dapat membantu menentukan keberhasilan jangka panjang strategi AS di Asia Tenggara.

Baca juga: Belt and Nope: Negara Asia Tenggara Mulai Tak Percaya China

Oleh: Kristine Lee (World Politics Review)

Para pemimpin perusahaan global di Forum Ekonomi Dunia di Davos bulan lalu, memperingatkan bahwa China telah melampaui Amerika Serikat (AS) dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi baru lainnya, seperti nirkabel generasi kelima atau 5G.

“Hampir ada arus orang tanpa akhir yang muncul dan mengembangkan perusahaan baru,” CEO Blackstone Stephen Schwarzman mengatakan kepada satu panel tentang perjalanan rutinnya ke China. “Bisnis ventura di sana di perusahaan yang berorientasi AI benar-benar meledak dengan pertumbuhan pesat.”

Perhatian pada sektor teknologi China yang berkembang pesat telah membayangi bidang persaingan lain antara Beijing dan Washington, yang mungkin bergerak lebih lambat tetapi juga merupakan sebuah konsekuensi: persaingan untuk memperebutkan preferensi para pemuda.

Kompetisi untuk mendidik dan menarik generasi muda di mana pun tak seintens yang terjadi di Asia Tenggara, dengan demografinya yang muda, ekonomi yang tumbuh cepat, dan serangkaian titik api geopolitik.

Negara-negara seperti Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Filipina, di mana usia rata-rata berkisar sekitar 30 tahun, sedang mencari cara untuk memanfaatkan tenaga kerja muda dan berpendidikan mereka untuk pertumbuhan ekonomi dan menjadi pusat inovasi mereka sendiri.

Sebagai efek dari Pemilihan Presiden 2014 yang diperebutkan dengan ketat di Indonesia, para wirausahawan muda di sana mengembangkan platform crowdsourcing untuk menghitung suara dan melindungi sistem dari kecurangan pemilu. Selama dua tahun terakhir, mahasiswa universitas Vietnam yang berbakat telah berlomba-lomba mendapatkan beasiswa sains dan teknologi yang disponsori Samsung.

Tetapi dengan adanya dorongan wirausaha ini, muncul kebutuhan akan investasi, sementara pemasukan modal China ke wilayah ini semakin dipandang sebagai upaya mengabadikan korupsi tingkat tinggi tanpa memperkuat kapasitas lokal.

Di sinilah Amerika Serikat dan sekutu-sekutu utamanya, terutama Jepang, dapat ikut serta—mengembangkan sumber daya manusia untuk memperluas perdagangan dan investasi guna mempertahankan keunggulan kompetitif yang signifikan tetapi menyempit di kawasan ini, di mana Organization for Economic Cooperation and Development memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,4 persen selama empat tahun ke depan.

Semua yang Anda Ketahui tentang Tatanan Global Salah

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tiba pada jamuan makan malam kenegaraan di Aula Besar Rakyat pada 9 November 2017 di Beijing, China. (Foto: Getty Images/Thomas Peter)

Jepang berada di garis depan gerakan tersebut untuk membangun kemitraan lintas pemerintah, industri swasta, dan universitas lokal, yang tidak hanya memperluas pengetahuan teknis di Asia Tenggara, tetapi juga memberikan perusahaan Jepang tenaga kerja siap pakai untuk mendorong rantai pasokan mereka.

Pemerintah Vietnam dan Jepang, misalnya, baru-baru ini mendirikan program pascasarjana di Universitas Nasional Vietnam di Hanoi, di mana siswa Vietnam dapat memperoleh gelar master dalam kebijakan publik, ilmu lingkungan, nanoteknologi, dan mata pelajaran teknis lainnya di bawah naungan Universitas Vietnam-Jepang.

Meskipun universitas-universitas Amerika mempertahankan daya pikat yang bertahan lama di kawasan ini, upaya AS agak tersendat dan kekurangan sumber daya, dengan beberapa pengecualian.

Pada tahun 2017, Universitas Carnegie Mellon dan Institut Teknologi King Mongkut Ladkrabang—sebuah universitas teknik terkemuka di Thailand—mengumumkan kolaborasi jangka panjang untuk penelitian bersama dan program pendidikan dalam teknologi informasi, komputasi, dan teknologi otonom.

Lokakarya Startup Global Massachusetts Institute of Technology—yang mengumpulkan wirausahawan, pelajar, investor, dan pemangku kepentingan lainnya dari seluruh dunia ke Bangkok tahun lalu—juga merupakan contoh terkemuka dari universitas Amerika yang bergengsi yang menggunakan kekuatannya untuk meningkatkan pekerjaan para wirausahawan Asia Tenggara.

Baca juga: Asia Tenggara Khawatir terhadap China, Skeptis terhadap AS

Tetapi jika kehadiran universitas-universitas China yang berkembang di Asia Tenggara dapat memberikan petunjuk, Beijing dengan cepat berusaha untuk mengubah citra dirinya sebagai sumber pendidikan tinggi tingkat atas.

Seiring China memperdalam hubungannya dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara—termasuk melalui proyek-proyek infrastruktur dan pengembangan dari Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road)—China akan semakin menggunakan pendidikan sebagai alat kebijakan untuk memenangkan generasi muda.

Di luar komitmen untuk meningkatkan standar pendidikan di dalam perbatasannya sendiri, China telah memulai kampanye multidimensi untuk mengekspor model pendidikannya di seluruh Asia Tenggara. Kementerian Pendidikan China telah berjanji untuk mendirikan 10 pusat sains dan penelitian di negara-negara di kawasan ini pada tahun 2022, dan telah mendirikan tiga kampus universitas di Laos, Malaysia, dan Thailand.

Pada bulan April 2017, Universitas Tsinghua elit Beijing meluncurkan Aliansi Universitas Asia dengan keanggotaan awal 15 universitas di Asia Timur Laut dan Asia Tenggara. Mengumpulkan sumber daya dan memperkuat kerja sama penelitian ilmiah di seluruh universitas Asia dengan cara ini, dapat mendorong siswa untuk tinggal di wilayah tersebut, alih-alih mengajukan permohonan beasiswa ke Amerika Serikat.

Beijing juga secara aktif berusaha untuk mengekang pengaruh AS di universitas-universitas China, termasuk melarang kunjungan oleh para pejabat Amerika dan kelompok-kelompok budaya.

Kebijakan Bebas-Aktif

Melambaikan tangan kepada delegasi pada KTT para pemimpin Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik di Danang, Vietnam, pada 11 November tahun lalu (kiri bawah ke kanan): Presiden China Xi Jinping, Presiden Vietnam Tran Dai Quang, dan Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo, dan (kiri atas ke kanan) Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: AFP)

Walau Amerika Serikat tetap populer di kalangan masyarakat Asia Tenggara—khususnya di Vietnam, di mana survei Pew baru-baru ini menunjukkan bahwa 84 persen populasi memandang Amerika dengan baik—namun Washington telah mulai kehilangan pengaruhnya di wilayah tersebut.

Pemerintah, industri swasta, dan universitas AS semuanya memiliki posisi yang baik untuk bermitra dengan universitas lokal untuk menawarkan bisnis dan administrasi publik, teknik dan program pelatihan teknis, dan kejuruan lainnya.

Inisiatif Young Southeast Asian Leaders dari Departemen Luar Negeri AS dan inisiatif berbasis konsorsium lainnya, seperti Universitas Fulbright di Vietnam, telah menjadi model yang berhasil, tetapi AS perlu memperluas investasinya dalam jenis program ini. Inisiatif-inisiatif ini harus menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dan berkesinambungan untuk mendidik dan melatih generasi pemimpin berikutnya dari Indonesia hingga Vietnam, yang berkomitmen pada tata pemerintahan yang baik dan memelihara lembaga-lembaga demokratis.

Mendorong sekutu dan mitra regional untuk memihak AS dan China adalah kontraproduktif, mengingat potensi dampaknya. Sebagian besar negara-negara Asia Tenggara berfokus dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi mereka, dan mereka tidak dapat memutuskan hubungan dengan China, yang masih menjadi mitra dagang nomor satu untuk ASEAN—blok regional utama di Asia Tenggara.

Baca juga: Survei Buktikan Asia Tenggara Khawatirkan Inisiatif Sabuk dan Jalan China

Alih-alih, Amerika Serikat harus mengembangkan strategi seluruh pemerintah—yang melibatkan inisiatif pendidikan, penjangkauan bisnis, dan koordinasi dengan sekutu dekat seperti Jepang dan Korea Selatan—yang berfokus pada memperdalam hubungan dengan negara-negara kunci Asia Tenggara selama dekade berikutnya.

Membangun dukungan domestik—khususnya di antara mahasiswa dan wirausaha muda yang sedang tumbuh—dapat membantu menentukan keberhasilan jangka panjang strategi AS di Asia Tenggara.

Kristine Lee adalah rekan riset di Program Keamanan Asia-Pasifik di Center for a New American Security. Dia adalah penerima Beasiswa Fulbright dan menerima gelar sarjana dan magister dari Universitas Harvard.

 Keterangan foto utama: Para siswa mendengarkan saat mantan Menlu AS John Kerry berbicara di Universitas Teknologi dan Pendidikan Ho Chi Minh, Kota Ho Chi Minh, Vietnam, pada 13 Januari 2017. (Foto: AP/Alex Brandon)

Persaingan Amerika vs China Pikat Kaum Muda di Asia Tenggara

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top