Pilpres 2019: Pertarungan Islam Konservatif vs Islam Moderat?
Berita Politik Indonesia

Pilpres 2019: Pertarungan Islam Konservatif vs Islam Moderat?

Presiden Indonesia Joko Widodo (kanan), yang mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, memeluk calon presiden, Prabowo Subianto selama deklarasi perdamaian untuk kampanye pemilihan umum di Monumen Nasional di Jakarta pada 23 September 2018. (Foto: Getty Images via The Asean Post)
Home » Berita Politik Indonesia » Pilpres 2019: Pertarungan Islam Konservatif vs Islam Moderat?

Terdapat pertanyaan yang muncul, apakah Pilpres 2019 mendatang akan kembali menjadi pertarungan Islam konservatif melawan Islam moderat? Jika iya, bagaimana hasilnya? Walau konservatisme sedang berkembang di Indonesia, namun Pemilu Presiden 2014 menunjukkan cerita yang berbeda. Joko Widodo yang lebih moderat dapat mengalahkan Prabowo yang didukung kelompok-kelompok konservatif. Bagaimanakah pemilu yang akan datang, pada akhirnya rakyat Indonesia sendirilah yang akan membuat keputusan terakhir.

Oleh: Sheith Khidhir (The Asean Post)

Pemilihan Presiden (Pilpres 2019) yang akan datang, Indonesia memiliki presiden penggemar berat metal Joko Widodo alias Jokowi—yang secara luas dianggap sebagai Muslim moderat—di satu sisi, dan Prabowo Subianto, mantan letnan jenderal, di sisi lain. Ini adalah kedua kalinya mereka akan berhadapan sejak tahun 2014, ketika Prabowo menggalang dukungan dari kaum Muslim konservatif di negara tersebut.

Tetapi sesuatu yang mendasar telah berubah kali ini.

Untuk Pilpres 2019 mendatang, Jokowi dan Prabowo tampaknya telah menerapkan strateginya, dan ini terlihat jelas dalam pilihan cawapres masing-masing. Jokowi telah memilih ulama konservatif berusia 75 tahun, Ma’ruf Amin sebagai pasangannya, sedangkan Prabowo memilih Sandiaga Uno, yang merupakan Wakil Gubernur Jakarta dan dipandang sebagai pengusaha yang moderat dan kaya. Pasangan Jokowi pada tahun 2014, Jusuf Kalla, juga seorang pengusaha.

Pilihannya sangat kontras dengan pemilu 2014 di mana Jokowi menang tipis. Pertanyaannya adalah, apa yang dipikirkan Jokowi dan Prabowo?

Baca Juga: Bencana Sulawesi Bisa Jadi Bencana bagi Jokowi Jelang Pilpres 2019

Pelajaran dari masa lalu

Para pengamat kebanyakan setuju bahwa kampanye untuk Pemilihan Presiden 2014 telah diwarnai dengan salah satu taktik terburuk yang pernah dilihat negara ini, dengan Jokowi menjadi target utama.

Media sosial dan tabloid cetak diberitakan menyerang Jokowi tanpa henti, melemparkan tuduhan seperti bahwa ibunya adalah seorang aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilarang. Banyak diberitakan bahwa beberapa kelompok seperti Forum Umat Islam (FUI) bahkan mengatakan bahwa dilarang bagi Muslim untuk memilih Jokowi.

Kampanye kotor terbesar berasal dari tabloid yang ditujukan untuk mendiskreditkan Jokowi dan diedarkan di antara pesantren di Jawa. Obor Rakyat menggambarkan Jokowi sebagai seorang non-Muslim keturunan China, korup, dan hanya “calon boneka” dari mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Terlepas dari tuduhan itu, Jokowi melanjutkan untuk memenangkan pemilihan presiden dengan margin tersempit dalam sejarah pemilihan umum Indonesia yang bebas. Komisi Pemilihan Umum memberi Jokowi kemenangan dengan 53,1 persen suara (mewakili 70,9 juta pemilih), melawan Prabowo dengan suara 46,8 persen (62,5 juta pemilih). Dua pemilu sebelumnya, pada tahun 2004 dan 2009, merupakan kemenangan besar bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pemilu tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat ultra-konservatisme, namun mayoritas masyarakat Indonesia memilih pria moderat, yang dikenal juga karena kecintaannya pada pemusik metal seperti Metallica dan Megadeth, mengenakan kaos Napalm Death hitam, dan mengacungkan tanda “tanduk setan” dengan tangannya. Prabowo juga memperhatikan ini.

partai partai politik

Surat suara Pilpres 2014. (Foto: AFP)

Bangkitnya konservatisme Islam

Melihat kondisi saat ini, situasi di Indonesia sepertinya telah mendukung konservatif. Sebuah survei yang dilakukan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute tahun lalu, tampaknya menunjukkan bahwa Islam konservatif sedang meningkat.

Survei tersebut menemukan bahwa 91 persen responden Muslim yang sangat banyak, berpikir akan ada berbagai manfaat bagi penerapan hukum Syariah di negara itu, dengan 67 persen mengatakan bahwa manfaat yang paling penting adalah dalam melindungi tatanan moral masyarakat. Hanya sembilan persen responden yang percaya bahwa manfaat hukum Islam “akan sangat terbatas atau bahkan tidak ada.”

“Dengan kata lain, hukum Syariah dilihat bukan sebagai pemberlakuan sistem sosio-legal tertentu, tetapi sebagai ukuran untuk menjaga nilai-nilai moral dalam masyarakat,” tulis Diego Fossati, Hui Yew-Foong dan Siwage Dharma Negara, para penulis dalam penelitian itu.

Baca Juga: Mengatasi Kemacetan Jakarta Bisa Buat Jokowi Menangkan Pilpres 2019

Survei tersebut juga menemukan bahwa 63 persen orang Indonesia mendukung hukuman untuk penistaan terhadap Islam. Dari jumlah tersebut, 58 persen juga merasa penting untuk memilih seorang pemimpin Muslim. Sementara itu, 82 persen menganggap pemakaian jilbab atau hijab Islami merupakan penanda yang penting dari religiusitas Islam bagi perempuan.

Survei ini dilakukan di seluruh 34 provinsi Indonesia antara tanggal 20 dan 30 Mei 2017, dan melibatkan sampel 1.620 responden.

Mungkin Jokowi memperhatikan ini dan memutuskan untuk memilih Ma’ruf sebagai pasangannya. Bisa jadi Jokowi juga ingin menghindari kampanye apa pun yang melawannya, yang sekarang sepertinya tidak akan terjadi, dengan Ma’ruf di sampingnya.

Namun, penemuan lain yang menarik dalam survei ini adalah, responden merasa bahwa tantangan terbesar bagi Islam tidak bersifat eksternal—seperti Kristenisasi atau pemimpin non-Muslim menjadi terlalu kuat—tetapi faktor yang menantang integritas internal Islam, seperti debat yang memecah belah dan keterlibatan para pemimpin Islam dalam politik.

Ini juga bisa menunjukkan mengapa Jokowi menang pada tahun 2014 dengan pengusaha Jusuf Kalla di sampingnya, sementara Prabowo kalah dengan Muhammad Hatta Rajasa—anggota Partai Amanat Nasional (PAN), partai Islam moderat—di sampingnya.

Walau para pengamat dan analis sangat setuju bahwa Islam akan memperoleh citra yang lebih konservatif di masa depan, namun pelajaran dari masa lalu telah menceritakan kisah yang berbeda. Pemilu yang akan datang akan mengungkapkan apakah para ahli sudah benar atau tidak. Namun, pada akhirnya rakyat Indonesia sendiri yang akan membuat keputusan terakhir.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Presiden Indonesia Joko Widodo (kanan), yang mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, memeluk calon presiden, Prabowo Subianto selama deklarasi perdamaian untuk kampanye pemilihan umum di Monumen Nasional di Jakarta pada 23 September 2018. (Foto: Getty Images via The Asean Post)

Pilpres 2019: Pertarungan Islam Konservatif vs Islam Moderat?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top